Ngerumpi Days Out 2012

Banyak sekali yang pengen saya ceritain soal Ngerumpi Days Out 2012, tanggal 20-21 April 2012 di fX kemaren. Saking banyaknya sampe bingung harus mulai dari mana.

Yang jelas, segala capek, ribet, stress selama beberapa minggu persiapan event ini, terbayar lunas. Kekhawatiran bahwa event ini akan ‘gak laku’, sama sekali tidak terbukti. Dengan 30 komunitas dan 16 media yang terlibat dan berpartisipasi di acara ini, dan hampir 25 ribu pengunjung selama dua hari berturut-turut, saya hanya bisa bersyukur dan berterimakasih kepada semua yang berada di balik kerebyekan ini. Nunik, sang Project Manager yang baru keliatan galaknya, Kopiholic, partner kami berdua mengelola Ngerumpi, kawan-kawan yang dengan sukarela bersedia jungkirbalik nyiapin event ini bareng-bareng, mas Aloy dan team, keluarga besar Salingsilang, para sponsor.

Gak mungkin nyebutin satu-satu kepada siapa rasa terima kasih harus saya sampaikan. Edan lah. Waktu persiapan yang mepet (ditambah saya yang masih tega jalan-jalan sementara temen-temen di sini lagi repot-repotnya). Team yang isinya hanya sedikit banget orang. Hey you guys, kalian gila mau ngerjain ini bareng kita lhoh, hahaha..

Dua hari yang heboh, sedikit kekurangan di sana sini, lupa ngundang beberapa komunitas yang padahal temen-temen sendiri. Doh! Edun lah, edun. Mudah-mudahan tahun depan Ngerumpi bikin event Days Out yang lebih gila lagi, yes? Amin.

Backpackers Amatiran

Jadi ceritanya, tanggal 14-18 April kemarin, bertiga sama precil-precil, saya klayapan ke Singapur dan KL. Dulu beli tiketnya juga main beli aja, gak pake rencana. Gak dipikir dulu mateng-mateng. *halah*

Berangkat 14 April jam 2 siang, nyampe jam 5 sore waktu Singapur, dan dimulailah trip seru-seruan bertiga ini.

Kemana aja? Ya ke mana-mana. Ke mana pun kaki dan hati membawa, haha. Bikin itinerary sih sebelum berangkat, tapi begitu nyampe ya kita ngikutin kata hati aja.

Hari pertama, karena sampe sana udah sore, kita langsung ke hostel di kawasan Little India. Nyari makan di stall deket Mustafa Center yang ramenya bikin pusing, jalan lagi mblusuk-mblusuk, jam 11 malem baru masuk kamar.

Tanggal 15 pagi, abis sarapan langsung jalan lagi. Ke Orchard, Marina Bay, Esplanade, Merlion Park, Bugis. Lupa ke mana lagi. Kayaknya hampir semua spot yang wajib dikunjungi udah sih, kecuali museum-museum dan Universal Studio. Next time harus ke sana.

Tanggal 16, naik bus ke KL. Nyampe sana bingung soalnya busnya berhenti di tempat yang saya gak tau apa namanya. Tanya sana sini, akhirnya kita naik taksi ke Fernloft Hostel di Chinatown.

Kuala Lumpur gak senyaman Singapur, tapi seru juga. Jalan kaki lagi ke segala arah dengan ngawurnya, hanya berbekal peta dan buku Claudia Kaunang. Nginep dua malem, dan kita bertiga sempet ke Genting Highland, ke Twin Towers, Masjid Jame’ (saya ga bisa masuk karena pake cenala pendek, haha), ke Bukit Bintang, nongkrong minum kopi di Jalan Alor yang riuh rendah gara-gara kehujanan, ke Central Market, Petaling Street, ke Sri Maha Mariamman Temple yang lokasinya kebetulan persis di belakang hostel. Pokoknya kelayapan bermodal peta dan hati. Nyasar juga sedikit, salah naik monorail.

Tanggal 18 April jam 9 pagi, balik lagi ke Singapur naik bus. Busnya gak enak. Orangnya agak rese, jadinya semacam pengen nampol tapi ya sudahlah yaaa…nikmatin aja. Nyampe Singapur, karena masih siang, kita jalaaaaan lagi. Ke Marina Bay lagi, dan gak sengaja nemu Makan Sutra Glutton’s Bay, satu tempat makan murah meriah yang direkomendasiin Claudia di bukunya. Gak sengaja juga nyasar ke Helix Bridge. Kemaren nyari-nyari gak ketemu, padahal jembatannya gede. *traveler bego*

Yang sangat saya syukuri adalah, dua precil saya yang ganteng-ganteng itu enak banget diajakin jalan. Gak rewel, gak nyusahin. Yang gede malah udah kayak temen banget, sesekali dia yang jadi leader kalo saya capek, bete, laper, dan mulai gak bisa mikir. Dia sangat logis, bisa berpikir cepat dan jernih, teges, asik lah pokoknya. Rasanya gak kayak jalan sama anak umur 15 tahun.

Mereka berdua juga ngertiin bahwa ini jalan-jalan yang sangat low budget. On shoe string. Pokoknya duitnya harus dicukup-cukupin. Makan harus mau di stall pinggir jalan yang murah, di pasar, di mana aja. Sekali, precil kecil minta “Aku mau big mac!”. Lhaaaaah big mac sih di deket rumah juga ada, ahahaha… Seneng banget, mereka gak takut nyobain jenis-jenis makanan baru buat lidah mereka.

Mas Kemal, Rafi, untuk lima hari yang indah, terima kasih. Love you!

Dinding

Confirmed. I’m a bitter person.

Sejak kemarin, kalimat ini kusut muter-muter di kepala. Lumayan mengganggu, karena kemudian ini membawa ke kata ‘kenapa’, dan ‘sejak kapan’. Dua pertanyaan yang saya belum dapat jawabannya.

Ada saat-saat saya membenci diri sendiri, meski terus berpura-pura bahwa saya mencintai hidup saya. Saya membangun tembok tinggi-tinggi, memastikan tidak satu orang boleh masuk dan memorakporandakan ketentraman saya lagi. Saya menghindar dari segala yang berbau cinta, apapun yang berpotensi menyeret ke hubungan lelaki-perempuan yang lebih serius. Saya menjauh setiap kali seseorang mencoba mendekat. Saya tidak bisa bilang ‘I love you’. No more I love yous. Komitmen, lantas menjadi sesuatu yang menakutkan.

Dan itu, pada suatu titik, membuat saya –lagi-lagi– membenci diri sendiri. Karena toh ada saat ketika saya ingin punya seseorang untuk disayang-sayang, bahu yang kuat untuk bersandar. Saya hanya selalu mengingkari, menolak perasaan itu mati-matian. Dunia saya adalah keluarga kecil saya; anak-anak, beberapa sahabat (yang pun tak banyak jumlahnya). Sisanya, silakan duduk manis di luar dinding tinggi yang saya sudah bangun sejak lama.

Been through a lot, and yes, I am that bitter.