Weird is when you realize that somewhere somehow, everytime the world brings you down, you always have a friend to run to. A real friend, or sometimes two.
Friends. They’re all I need. I won’t ask for more.
Saya pernah menulis itu beberapa waktu yang lalu. Now let me tell you the truth. The whole story.
Bicara tentang teman, sahabat, atau apa pun namanya, sebetulnya agak sulit mendefinisikan bentuk pertemanan kami berdua. Saya bahkan gak yakin, dia ada di list yang mana; sekadar teman, teman dekat, atau sahabat. Kami tidak sedekat dua orang yang benar-benar bersahabat. Tidak sedekat itu. Tapi di saat yang sama, dengan cara tertentu yang rasanya hanya kami berdua yang paham, barangkali dia adalah salah satu dari beberapa teman yang saya percaya.
Begini saya menggambarkannya.
Saya dan teman yang satu ini, bisa dibilang hampir tak pernah saling menelepon atau berkirim kabar. Kami bicara dalam bahasa yang berbeda. Saya benci beberapa hal tentang dia. Saya tidak suka dengan hal-hal tertentu yang dia suka atau percayai. Saya yakin, dia juga begitu. Hanya karena telah saling mengenal cukup lama, saya belajar untuk menutup telinga dan mata rapat-rapat, sekaligus menahan mulut saya untuk mengomentari apa pun yang sebetulnya, buat saya, cukup mengganggu.
See, kami tidak sedekat itu.
Di sisi lain, kadang-kadang saya merasa hanya dia satu-satunya kawan tempat saya berbagi cerita. Entah bagaimana, sepertinya dia selalu tahu ketika saya sedang butuh seseorang untuk mendengar sumpah serapah saya. Saat saya mengira sedang jatuh cinta, atau ketika saya tengah tersandung dan berdarah-darah, dia ada untuk saya. Selalu ada.
Suatu pagi, misalnya, dia tiba-tiba muncul dengan pertanyaan lancang, “I heard you broke up. Ada apa? Mau cerita?”
Lantas tumpahlah semuanya. Dengan dia, saya seperti buku yang terbuka. Saya tidak malu menceritakan ketakutan, kegelisahan, dan kemarahan saya. Dan dia, selama jam-jam yang panjang itu, ada di sana, mendengar semuanya. Menyediakan diri untuk jadi teman terbaik, memberikan tangannya untuk saya genggam, membiarkan saya menemukan kembali sedikit kekuatan.
Di waktu yang lain, malam-malam, tiba-tiba kami sudah duduk satu meja, tanpa benar-benar saling bicara. Pertemuan kesekian tanpa kami rencanakan. Hanya karena dia tahu saya sedang merasa kacau, kemudian, seperti tahu betul apa yang saya butuhkan, dia bilang, “Ya udah, ke sini aja. Aku anterin kamu jalan-jalan. Ke mana pun kamu mau.”
Padahal di sana, saya lebih banyak diam dan menikmati suara ombak di pantai, tepat di depan kami. Melihatnya mendekatkan botol bir ke mulutnya. Melewati sisa malam dengannya, dan bersyukur bahwa setelah sekian tahun, dia masih di sana. Masih seseorang yang bisa saya percaya.
Ya. Kami sedekat itu. Tapi soal apakah dia boleh disebut sebagai sahabat, rasanya memang sulit dijawab.
Now do I love this guy? Sepertinya tidak. I like being with him, tapi dia bukan kekasih saya. Saya hanya suka kebersamaan kami, dengan bahasa yang hanya kami berdua yang mengerti.
Ketika akhirnya saya memutuskan untuk pindah agama ke Android, banyak pertanyaan yang saya terima. Ini tentu sangat bisa dimengerti. Sejak beberapa tahun terakhir, saya, seperti jutaan orang lainnya, adalah ‘penganut fanatik’ Blackberry. Bisa kacau hidup dan pekerjaan saya tanpa mobile device yang daya sihirnya memang luar biasa ini.
Saya memuja, menghamba pada kemampuannya yang membuat dunia seolah-olah berada dalam genggaman. Betapa hidup jadi jauh lebih nyaman. Betapa serba gampang. Hampir semua jenis pekerjaan bisa saya selesaikan dengan jauh lebih cepat. Menulis, mengedit tulisan, berbalas email, mendiskusikan urusan pekerjaan, nego dengan klien lewat aplikasi hebat Blackberry Messenger, bermain-main dan berselancar di dunia digital. Apa yang tak bisa dilakukan oleh si Blackberry?
Ya. Apa yang tak bisa dia lakukan untuk saya, untuk kita?
Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya temukan jawaban dari pertanyaan di atas. Yang paling nyata adalah, perangkat ini tidak membuat saya bahagia. Dia bahkan –seolah-olah– merampas waktu dan kehidupan saya. Terang-terangan. Habis-habisan. Kecuali saat tidur dan sedang menyetir, saya nyaris tidak pernah lepas dari benda yang satu ini. Ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam? Mana bisa tanpa dia?
Bangun tidur, yang pertama kali saya cari-cari dengan mata masih setengah merem adalah Blackberry kesayangan. Memeriksa adakah email penting yang masuk selama saya terlelap tadi. Memastikan tak ada keluhan dari klien, atasan, atau siapa pun di lingkungan pekerjaan saya. Memaksa diri sendiri untuk, sesegera mungkin, menjawab dan memastikan bahwa semua berjalan seperti seharusnya. Oh, kalau saya katakan sesegera mungkin, yang saya maksud adalah SAAT ITU JUGA.
Kemudian, seperti masih punya banyak waktu, Twitter dan milis adalah salah satu menu wajib dalam sarapan. Melibatkan diri dengan suka rela dalam obrolan dan gosip pagi khas dunia maya. Cek mention. Cek direct message. Cek follower baru. Cek profile dan menimbang-nimbang, perlukah saya follow back mereka.
Sombong sekali. Sibuk sekali.
Belum lagi layanan Blackberry Messenger yang membuat kita ‘tak bisa ke mana-mana’. Jam berapa pun, dalam keadaan apa pun, semua orang seolah-olah punya hak penuh untuk masuk ke kehidupan saya. Sekadar menyapa, bertanya ini itu, bergunjing, mengirim broadcast message. Luar biasa. Hebat sekali saya ini, yang punya energi berlimpah untuk meladeni semua orang, nyaris dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.
Semoga belum terlambat jika baru sekarang saya merasa tertampar.
Saya rindu berada jauh dari keramaian. Hidup saya bukan hanya di dunia kerja dan di lingkungan kawan-kawan maya. Saya tidak ingin lagi terlalu mudah ‘ditemukan’.
Being well connected is great, I know. Tapi saat ini, saya hanya ingin memiliki waktu dan hidup saya lagi. Saya butuh sedikit ruang untuk bergerak. Tanpa Blackberry dan sihir mautnya itu, dunia toh tak akan berhenti berputar.
Hari ini tepat tujuh belas taun umurku. Bukan lagi bocah kecilmu yang lucu, bukan lagi perjaka cilik yang sembunyi-sembunyi memakai kemeja dan sepatumu yang tentu saja terlalu besar untuk tubuh mungilku lantas tertawa-tawa memandangi bayangan yang terpantul di cermin, membayangkan bahwa beberapa tahun lagi pastilah aku akan segagah dirimu. Dengan kemeja putih dan pantalon abu-abu yang terseterika rapi, sepatu mengkilat, dasi yang gaya dan tas kerja yang selalu membuatku berdecak kagum dan bangga memiliki ayah sepertimu.
Aku sudah punya pacar, ayah. Teman sekelasku, cantik dan pintar seperti ibu. Taukah ayah bahwa dia bukan cinta pertamaku? Taukah bahwa semasa masih anak laki-laki ingusan berseragam putih biru aku sudah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku? Ah, ayah pasti tak punya waktu bahkan untuk memperhatikan ketika malam itu aku mondar-mandir di depan ruang kerjamu, mencari cara agar bisa duduk di depanmu dan bercerita tentang cinta pertamaku yang patah. Padahal betapa ingin aku berbagi sedih dan kecewaku, membiarkan ayah melihat aku menangisi kekalahanku.
Tujuh belas taun, dan betapa sedih mengingat betapa panjang waktu kita terbuang. Betapa jauh jarak terbentang sekalipun kita begitu dekat. Aku berjanji, ayah. Jika suatu hari nanti aku menikah dan menjadi seorang ayah, tak akan kuulangi kesalahan yang sama seperti kau lakukan kepadaku, anak lelakimu. Aku akan selalu ada di dekat anak-anakku, memeluk mereka dan tak malu mengucapkan ‘I love you, son’, menemani dan membacakan dongeng tentang petualangan dan kisah-kisah hebat sepanjang masa, dan mengecup kening mereka sebelum mematikan lampu dan menutup pintu. Akan kugenggam tangan mereka sepenuh cinta, akan kutepuk pundak mereka dengan sayang dan meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja saat mereka kehilangan cinta pertamanya. I would definitely be there for my kids, all the time, and watch their first steps, their first loves, their first brokenhearts.
I love you, Ayah…
Bimo
Hanya ingin mengingatkan, jika suatu saat nanti jika kalian menjadi seorang ayah (atau sudah?), simpan ego lelaki dan kesombonganmu. Perlakukan anak-anakmu sebagai manusia kecil yang membutuhkan pelukanmu. Untuk mereka, malaikat-malaikat kecil itu,tak cukup hanya kasih sayang seorang ibu. Tak cukup hanya uang sekolah, baju mahal dan sekotak besar mainan yang kau jejalkan sebagai tanda cintamu.