Body Language

disclaimer: isi postingan ini saya dapet dari ngumpulin tweets seorang kawan, Lex dePraxis. sangat random, dan soal bener enggaknya saya juga gak tau. bisa jadi ini serius atau cuma buat lucu-lucuan.

Bahasa tubuh seseorang saat sedang berbicara atau berinteraksi dengan orang lain, konon menggambarkan apa yang sedang dia rasakan. Berikut adalah beberapa contoh:

Memandang orang dari atas ke bawah: menilai daya tarik seksual (buat saya, itu cara memandang yang sangat kurang ajar).

Banyak berkedip: sedang dalam tekanan atau menutupi sesuatu (lha kalo kelilipan, masa gak boleh kedip-kedip?)

Membuang muka: mencari jarak karena harus berpikir, atau  sedang merasa tidak nyaman.

Tangan masuk ke kantong celana, jari jempol menyembul keluar: ini menunjukkan rasa superioritas atau kepercayaan diri.

Berjabat tangan dengan dua tangan: bersahabat dan dominan. Menjabat tangan seseorang dengan cara ini juga akan membuat orang lain lebih percaya dan nyaman dengan Anda.

Menggaruk telinga: ragu, berpikir dua kali, atau sedang menutupi sesuatu.

Menyentuh hidung: berpikir dua kali atau menutupi sesuatu.

Tangan tergantung di samping: semakin jauh dari tubuh, semakin tinggi tingkat percaya dirinya.  Semakin dekat jarak tangan ke tubuh, semakin tertutup, protektif, dan rendah rasa percaya dirinya

Pupil mata membesar: tertarik, berminat, senang.

Membenahi kancing atau kerah baju: cemas, khawatir

Ada sedikit saran. Sedikit banget…

1. Jangan membersihkan debu/kotoran dari pakaian Anda ketika sedang bicara dengan orang lain, karena itu dapat membuat mereka merasa ditolak.

2. Sering-seringlah melatih senyum terbaik anda di depan cermin. Senyum yang tulus adalah senyum yang melibatkan mata, jadi perhatikan baik-baik senyum orang di depan anda. Aslikah, palsukah? Lihat matanya, bukan gerak bibirnya.

Menjaga Bara

-: Why do you love me?
+: I don’t know, and I don’t care.

Love simply is.

Kurang lebih dua tahun lalu, saya menemukan potongan dialog antara Athena dan kekasihnya di salah satu halaman The Witch of Portobello karya Paulo Coelho, kemudian mengutipnya ke dalam satu tulisan lama di salah satu blog lama saya.

Jatuh suka itu mudah. Buat beberapa orang, proses dari jatuh suka ke tahap jatuh cinta juga bukan sesuatu yang perlu waktu lama. Setelah itu, ketika masa-masa manis berakhir –kekasih saya menyebutnya fase dongeng– dimulailah perjalanan cinta yang sesungguhnya. Setiap pasangan pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang tidak selamanya manis. Pada level ini, biasanya mulai muncul masalah-masalah kecil, sedang, sampai masalah besar yang bisa saja tidak termaafkan.

Untuk hampir semua pasangan, fase ini adalah perjuangan terberat. Bagaimana kita memperlakukan pasangan kita, menjaga perasaan dan egonya, dan seberapa mampu kita memberi ruang gerak dan jarak buat orang yang kita kasihi ini, sedikit banyak akan menentukan mulus tidaknya perjalanan itu sendiri.

Ada satu hal yang seringkali terlupakan. Karena hari-hari penuh madu telah berlalu, kadang kita lalai menjaga supaya api yang menjadi sumber energi setiap hubungan ini tidak padam. Hal-hal remeh, kejutan-kejutan menyenangkan, dan berbagai bentuk perhatian lain yang seharusnya sederhana dan tidak sulit dilakukan, dianggap tidak lagi penting. Permintaan sederhana dari pasangan bisa saja memicu pertengkaran karena dianggap mengada-ada dan berlebihan.

Di berbagai tulisan, saya mengumpamakan cinta seperti api. Atau bahkan matahari. Jika kita menyepelekan hal-hal kecil seperti ini, artinya hanya satu: hubungan yang bahkan telah berjalan puluhan tahun pun tinggal menunggu waktu.

Jangan pedulikan apimu, biarkan bara itu menyala seadanya, dan setelah itu…selesai.

Kalian usai.

Internet Super Cepat. Kapan?

Hari Senin tanggal 21 Juni 2010 pagi, seharusnya saya dateng ke acara uji coba produk baru teknologi mobile network generasi baru di Wisma Mulia, jalan Gatot Subroto, Jakarta. Tapi karena temen saya, Sabai, mendadak masuk rumah sakit dan melahirkan anak keduanya sekitar jam 5 pagi, mau gak mau saya harus gantiin dia meeting sama calon klien di Cakung di jam yang kurang lebih sama dengan event yang tadinya udah saya niatin mau dateng ini.

Nyesel gak nyesel sih, sebenernya. Dari cerita temen-temen yang dateng ke acara itu, teknologi yang mereka sebut dengan Long Term Evolution (LTE) ini gila bener. Saya gak tau angka pastinya, tapi dari ngubek-ngubek di google dan wikipedia, disebut-sebut bahwa speed yang ditawarkan oleh LTE ini dapat mencapai 172 Mbps. LTE Advance bahkan menawarkan kecepatan hingga 300Mbps, 600Mbps, bahkan 1 Gbps dengan teknologi Multi Carrier dan MIMO 4×4.

Teknis banget, ya? Saya juga gak begitu ngerti maksudnya, tapi prakteknya, konon jika kita ingin mengunduh data sebesar 5 MB misalnya, hanya dibutuhkan kurang lebih 1 detik hingga proses download selesai. Untuk download film dengan ukuran file 750 MB, misalnya, diperlukan kurang dari 3 (tiga) menit sampai film selesai diunduh.

Ini sih –secara teori– bener-bener surga buat orang-orang yang sehari-harinya berkutat dengan teknologi ini, ya? Di rumah, saya pakai koneksi internet dari satu provider tertentu. Tapi ya gitu deh, gak selalu bisa diandalkan. Dan sialnya, ini bukan yang pertama. Saya udah coba hampir semua kartu dan koneksi internet, tapi hampir semuanya kualitasnya gitu-gitu aja; kadang bagus kadang ancur. Dua hari yang lalu bahkan saya sama sekali gak bisa kerja karena koneksi inet mati total, dan jam 4 sebelum subuh saya nekat nyari wifi di sekitar Cibubur, tapi terpaksa harus pulang lagi karena beberapa spot yang biasanya menyediakan wi-fi gratisan ternyata juga mati.

Saya gak tau kapan teknologi selular paling canggih (untuk saat ini) ini akan diluncurkan, tapi mudah-mudahan sih secepatnya. Amin.