surat buat kamu (lagi)

Tanpa saya sebut namamu pun saya yakin kamu pasti tau, kamulah perempuan itu.

Pesanmu saya baca dini hari tadi, saya lupa jam berapa tepatnya. Dan saya kembali kehilangan kata-kata, tak sanggup memberimu penjelasan apa-apa. Maafkan saya.

Bisa saja kita runut lagi dan mencari-cari apa yang salah dengan kita, atau apa yang membuat kita seolah saling menolak satu sama lain meski tau bahwa kita begitu saling merindukan, tapi saya belum yakin apakah ini akan ada gunanya.

Maafkan saya. Saya menjauh, barangkali karena saya terlalu sedih, atau terlalu marah. Tapi pada siapa, dan untuk apa saya marah sebenarnya? Saya terlalu bebal untuk memahami diri sendiri kadang-kadang. Kamu tau itu. Atau mungkin saya hanya marah dan membenci diri sendiri. Entahlah.

Dan seperti kamu juga, saya masih kerap menangis mengingatmu, tapi kamu sungguh tau bahwa saya tak punya cukup keberanian untuk sekadar menyapa dan bertanya apa kabarmu. Sudah terlalu lama, dan kita menjadi terlalu asing satu sama lain. Saya merasa belum siap memulai sesuatu. Saya, barangkali, takut dengan masa lalu.

Maafkan saya, nona. Maafkan saya.

save your children!

Saya gak ngerti apa pertimbangan mereka, para pengambil keputusan atau apalah namanya yang (seharusnya) bisa kita percaya di DIKNAS sana, tapi kabar yang saya dengar kemaren (dan hari ini semakin banyak dibahas di sana sini) bener-bener bikin saya sedih dan marah. Bagaimana mungkin mereka mengekspos data pribadi 36 juta pelajar Indonesia, online, yang dengan mudah dapat diakses siapa saja? Informasi pribadi yang seharusnya memang bersifat sangat pribadi seperti nama lengkap dan alamat siswa, (36 juta lebih pelajar di Indonesia, bayangkan!) dapat diintip dan diunduh dengan bebas oleh siapa saja dari mana saja.

Trus apa masalahnya? Bukankah ini era di mana informasi memang sesuatu yang mestinya bisa diperoleh semua orang? Informasi untuk semua, eh?

Memang. Tapi tunggu dulu. Bayangkan ini: dengan mengetahui nama lengkap seseorang, siapa pun tau, kita bisa melakukan banyak hal. Mencari alamat jurnal pribadinya (baca: blog), alamat flickr, friendster, facebook, dan sekian banyak layanan jejaring sosial lainnya. Apa susahnya? Berterima kasihlah kepada Google (dan mesin-mesin pencari lain) yang membuat semua jadi begitu mudah.

Udah kebayang? Sekarang tambahkan ini: nama lengkap PLUS alamat lengkap, dan….selamat! Kita telah dengan penuh kesadaran mengekspos anak-anak itu, menyerahkan keselamatan mereka hanya kepada faktor keberuntungan, barangkali. Dengan sangat gampang, seseorang, siapa pun itu, memiliki akses untuk menemukan mereka dan menjadikan mereka target operasi para pelaku kejahatan. Pedofil, penculik, pemerkosa, pembunuh, you name it.

Spread the news, people. Mari lakukan sesuatu untuk melindungi anak-anak kita. Sekarang.

Semoga pesan ini tersampaikan.

link terkait:
Diknas and Bakrie alert
THIS SHOULD BE STOPPED
Stupidity in the new media era?
Hentikan: data siswa Indonesia online!
Orang-orang pendidikan yang amat sangat bodoh
Untuk keamanan mereka

membunuh mimpi

Jika hidup tak lebih dari serangkaian drama yang di satu babak membuatmu tertawa namun pada babak yang lain ia memaksamu tersungkur menangisi kekalahan, coba ceritakan padaku: apa rasanya memeluk mimpimu dalam diam kemudian membiarkannya mati perlahan?

Bre, apa kabarmu sekarang?