selamat jalan, bebek!
“Berita duka. Telah meninggal, Susiawan Wijaya (bebek) krn kecelakaan d laut aceh tgl 2 sept 07. Jnzh sudah dimakamkan di Jember. Mhn dimaafkan segala kekhilafannya dan smoga semua amal ibadahnya ditrima olehNya”.
Begitu bunyi sms yang saya terima dari Adi di Jogja. Beberapa menit sebelumnya, si Eva di Sulawesi juga telpon saya, ngabarin kabar duka ini. Eva bahkan sempat mencoba menghubungi nomor telpon si bebek untuk konfirmasi. Gagal mencoba menghubungi temen-temen komunitas BHI, saya coba telpon si Hedi yang juga bingung dan belum denger kabar apa-apa. Kemudian berturut-turut mas Mbilung, Eny, Gita, dan Rara telpon saya. Masih sambil gemetar dan belum mau percaya kabar duka ini, saya telpon ke nomer hape si bebek, yang ngangkat si Anton, adiknya. Dan benar, Anton bilang temen kita itu udah meninggal, dan udah dimakamin di Jember tanggal 2 kemarin.
Selamat jalan, Bek! Semoga kamu mendapatkan tempat paling indah di sana.
*Foto-foto pas gathering temen-temen blogger termasuk almarhum di Citos beberapa bulan yang lalu, ada di sini.
emotional eating
Girls, this one’s for you!
What is the single, most common problem that most dieters face when trying to lose weight? Will power? Nah. Temptation? Sometimes. Emotional eating? Bingo! That’s why it takes so much more than good intentions and information about nutrition and exercise to be successful. The ability to manage difficult situations and feelings effectively—without turning to food and eating—is a necessary foundation for a successful weight loss plan and healthy lifestyle.
Halah! Pake bahasa Indonesia aja kali ya? Lebih gampang buat yang baca, dan terutama, jauuuuh lebih gampang buat yang nulis, hahah…
Ada yang punya masalah dengan pola makan yang jadi berantakan saat mood anda gak bener? Saya engga. Maksud saya, saya bukan orang yang cenderung ‘lari ke makanan’ buat ngilangin stress atau depresi yang kadang gak bisa kita hindari. Yah, namanya juga perempuan, ada aja yang bikin suasana hati jadi kacau, kan? PMS, bosen gak jelas, bete gak jelas, sedih gak jelas, you name it.
Tapi tetep aja pas mood saya kacau gini, ada kuatirnya dikit. Dan tadi malem, jalan ke Tebet nganterin precil-precil belanja ke distro, saya berkali-kali ngaca di fitting room. Gemukan gak ya? Gemukan gak ya? Keliatannya sih engga, tapi nyampe rumah, saya tanya juga sama juragan, “aku gendutan gak sih? biasanya abis sakit aku jadi makan lebih banyak”. Dia bilang,“gendut? gendut dari hongkong? bagus kok, Nu.”
Tapi bete dan sedihnya kenapa gak ilang-ilang ya?Arggghhhhhhhhhh………
*nunggu si zam yang katanya udah bikinin ‘blue venus’, template baru buat blog saya, nunggu telpon dari epat yang katanya mau ngajakin nongkrong-ngopi-cengengesan berdua dan minjemin buku2 baru, nunggu mbak laras yang mestinya udah dateng dari KL dan ngajakin ketemuan minggu depan.
giving is…
Langsung aja. Jadi gini ceritanya. Temen saya, Mr Cholex yang nyentrik ini kebetulan lagi KKN di desa Srihardono, Pundong, Bantul (bener nama desanya ya, mas?), salah satu desa korban gempa Jogja setaun yang lalu. Dan berikut adalah beberapa foto Masjid Nurul Hidayah (sumpah, ini mesjid!), yang sampe sekarang masih begitu menyedihkan keadaannya. Barangkali ini cuma salah satu dari sekian ratus tempat ibadah yang bener-bener butuh bantuan kita semua supaya cukup layak untuk disebut sebagai rumah Allah. Tapi yah…ga tau deh, take a look aja lah. Pusing, saya.
Bukannya mau sok baik ya. Boleh-boleh aja kita punya budget tetap buat nonton, jalan, nongkrong di tempat-tempat yang gaya seperti Citos, misalnya (hai semuaaaaaa….). Yang masih doyan belanja, atau masih kecimpringan sibuk merencanakan kejahatan buat ketemuan sama selingkuhan misalnya, itu biarlah jadi urusan masing-masing aja. Tapi mudah-mudahan kita semua juga gak sayang menyisihkan sebagian rejeki buat bantuin sodara-sodara kita nun di Jogja sana.
Ini bukan hoax. Bantuan bisa disalurkan melalui transfer ke :
MANDIRI
Cabang Adisucipto Yogyakarta
A/N ABDUL KHOLIK
Rek 137 000 516803 0
atau ke ;
BCA no rek 0372411706 a/n ABDUL KHOLIK
atau silakan hubungi mas Cholex, Y!m id-nya cholex8mata, nomer hape 0815 787 262 15
Wis to, percaya aja. Kalo dia bohong dan uangnya dipake buat macem-macem, ya itu urusan dia. Biar dia direbus sampe mateng di neraka, iyo gak, mas?
Sayang sekali saya gak pernah bisa ada di frontline, bantu-bantu dengan turun langsung ke lokasi. Zam dan komunitas cahandong, mungkin? Ayo, Zam, jangan misuh-misuh soal telematika, coding dan metadata terus. Bantuin kek!
jangan bubarkan IPDN
Mereka ngeroyok orang sampe mati! Hebat, ya? Jadi inget, waktu rame-rame kasus meninggalnya praja IPDN Cliff Muntu, beberapa kawan blogger berinisiatif bikin petisionline untuk pembubaran IPDN. Saat itu suasana sempet panas, karena selain banyak yang mendukung, banyak juga yang skeptis bahkan sinis dengan apa yang coba kami lakukan. Kami diserang dari kanan kiri. Saya dikatain latah, dan petisi itu menurut mereka terlalu emosional, reaksional, dan gak ngasih solusi apa-apa. Mereka bilang ‘yang salah dan harus dibubarin bukan institusinya, tapi system-nya yang harus diubah. HANYA systemnya.’ Padahal kita semua tau, Cliff bukan korban pertama.
Dan sekarang, mereka mengeroyok seorang tukang ojek sampe mati. Ah udahlah, ga bisa ngomong apa-apa lagi. Saya bukan siapa-siapa, cuma blogger pengangguran, ibu-ibu bodoh yang gak punya power dan ga ngerti apa-apa, bisanya cuma ngeblog dan ngamuk-ngamuk denger berita kayak gini. Udah ga bisa nangis lagi. Percuma. Lagian saya baru nyadar sekarang, petisionline yang kami lempar ke publik waktu itu ternyata memang salah, kok. Kita-kita yang bikin petisi itu goblok semua. Goblok, sok pinter, dan nekat, hare gene mau sok jadi pahlawan kesiangan. Ternyata orang-orang yang waktu itu ngetawain dan ngotot menentang petisi itulah yang benar. Iya. Kalian menang. Selamat ya? Kalian bener banget bilang bahwa IPDN ga perlu bubar karena ada ribuan praja di tempat itu yang harus dipikirin nasib, pendidikan, dan masa depannya. Ga usah mikirin Cliff Muntu. Cliff udah mati, ga bakalan hidup lagi walaupun institusi itu ditutup.
Jadi gimana? Apa perlu kita bikin petisi anti pembubaran IPDN sekarang? Serius, jangan bubarkan IPDN! Kasian praja-praja itu, gimana nanti nasib mereka? Gimana masa depan mereka? Gak usah dibubarin. Biarin aja mereka bunuh-bunuhan atau matiin tukang ojek atau siapa kek. Lumayan, gak usah repot nyari cara buat ngurangi jumlah penduduk. Itung-itung ngurangin populasi, dan dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia mungkin ga butuh lagi program Keluarga Berencana. Dan kalo udah lulus dan jadi pejabat( ini dengan asumsi mereka gak mati terbunuh sampe hari mereka diwisuda lho ya? ) , mereka boleh bunuh-bunuhin kita semua. Saya, kalian yang baca postingan ini, tetangga kita, anak-anak tetangga kita, sodara kita, bunuh aja semuanya.
Update : kalo ada yg kepikiran pengen bunuh diri, udah bosen hidup, ga usah repot-repot beli baygon atau tambang, kali yaaaa…minum baygon, matinya jelek melet-melet, gantung diri pasti sakit dan ga enak. lewat aja di depan kampusnya sana sore-sore, nyari gara-gara dikit, mancing-mancing keributan dikit, tahlilan deh besokannya…
ruang
Saya butuh ruang untuk bernapas. Keramaian sungguh menyesakkan, ternyata. Menyenangkan pada awalnya, nyaris memabukkan. Saya rindu menikmati kesendirian. Sungguh saya rindu, seperti dulu. Karena perlahan-lahan, saya merasa dunia berusaha menelan saya dengan segala keriuhan dan hiruk pikuk yang membuat saya limbung.
Saya rindu berada dalam kesendirian, di ruang sepi tanpa suara. Saya ingin sendiri, sembunyi, menangis diam-diam di sudut paling gelap, menyembuhkan diri seperti binatang yang terluka. Atau merayakan kemenangan, menertawakan kekalahan, bahkan tertawa-tawa menikmati kegilaan sesaat.
Dulu rasanya begitu nyaman bisa menulis tanpa beban, menabrak aturan-aturan estetika tanpa takut melakukan kesalahan, tak peduli di mana harus menempatkan tanda baca, titik dan koma dan tanda tanya. Sungguh melelahkan saat kita tau tak ada lagi ruang tersisa untuk menjadi diri sendiri, bukan? Menyebalkan, seperti sex yang terputus sebelum sempat kau rasakan puncak ekstase dan orgasme yang melegakan. Ffiuhh…
Saya jadi mengerti kenapa Kurt Cobain memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Dia kesepian, tak berdaya dan hancur perlahan-lahan di tengah ingar bingar dunia yang tak mau mengerti bahwa semua orang, setiap orang butuh sedikit ruang untuk dinikmatinya, sendiri saja.
Fuck! I do need some space…



My name is Venus, perempuan, istri, ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang pinter-pinter dan ganteng-ganteng.