Sekadar renungan.
Hari ini Indonesia berduka. Ah, barangkali bukan hanya Indonesia tapi dunia pun mestinya menangisi nilai-nilai kemanusiaan yang kembali terluka.
Hari ini, Jakarta suatu pagi. Sebuah pagi yang seharusnya menjadi Jumat pagi yang menyenangkan. Dan kemudian, boom! Semua orang, setiap jiwa yang waras mengutuk ledakan yang menghilangkan nyawa mereka yang menjadi korban segelintir pengecut yang mengatasnamakan entah apa untuk membenarkan kedunguan mereka.
Indonesia menangis hari ini. Kita semua berduka. Dan mereka, siapa pun pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi pagi ini, barangkali sedang mengangkat gelas, tertawa-tawa merayakan kemenangan versi mereka.
Baiklah. Silakan berbangga diri dan menepuk dada, menasbihkan diri dan mungkin kelompok kalian sebagai pahlawan. Tapi sebentar. Tunggu dulu, bodoh . Tunggu. Kalian tidak sedang memenangkan apa-apa, tidak sedang mengalahkan siapa-siapa. Kalau kalian pikir kalian adalah pemenang dalam arena perang khayalan yang kalian ciptakan, kalian salah besar. Hanya pengecut yang bisa main kotor seperti ini. Hanya pecundang yang buta mata hatinya yang sanggup bertindak sebodoh ini.
Dan kalian pikir kalian membuat kami gentar? Kalian pikir kami akan takut dan tak punya nyali untuk melawan?
Catat ini:
KAMI. TIDAK. TAKUT.
Screw you, morons! Screw you.
*diambil dari ngerumpi.com
**ilustrasi: indonesia unite, karya nico wijaya.
Note: Dikopas sepenuhnya tanpa diedit sedikit pun dari tumblr seorang kawan. Sekadar berbagi…
Artikel ini gue copy paste dari facebook notesnya adik gue. Enggak cuman liat ke atas, sekali-kali kita juga harus liat ke bawah untuk bercermin.
Bahkan saat kita perlu untuk bersyukur.
PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
Salemba, Warta Kota
PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari,” ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.
Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.
Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia,” ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.
Karena bukan penggemar kotak kaca berjudul ‘televisi’, dalam sehari bisa dibilang paling banter hanya dua atau tiga jam saya nonton tivi. Itu pun biasanya karena gak sengaja lewat di depan rak tivi dan kebetulan lagi ada friends, atau oprah show, atau ellen degenereous show, dan saya tergoda untuk nonton. Lebih dari itu, saya agak-agak musuhan sama tivi. Kadang malah sampai berhari-hari gak tersentuh tivi. Ndeso yo ben.
Tapi barusan, beberapa puluh menit yang lalu saat sedang asik dengerin James Morrison sambil bebersih rumah (iya, memang gitu kejadian persisnya: dengerin musik sambil bebersih, bukan kebalikannya), si kotak dengan gambar bergerak itu lagi nyiarin Seputar Indonesia. Headline newsnya adalah, antara lain perkembangan kasus Prita Mulyasari yang hari ini memasuki putaran kedua persidangan yang entah kapan selesainya. Berita selanjutnya, nah ini menarik. Tulisan yang tertera besar-besar di bagian bawah layar adalah: Facebook juga?
Ternyata berita tentang seorang guru SMP di Sulawesi, namanya Indra Sutriadi Pipii. Beliau dituntut (dilaporkan) oleh walikotanya sendiri atas tuduhan pencemaran nama baik gara-gara notes di facebook yang menceritakan tentang pertemuan si yang terhormat bapak walikota dengan beberapa CPNS (calon PNS, masa gak tau sih?). Entah apa persisnya isi curhatan pak Indra di notes yang akhirnya berbuntut masalah hukum itu, yang tadi sekilas tertangkap di berita adalah, salah satunya Indra menuturkan bahwa walikota terlambat 2 jam dari waktu pertemuan yang dijanjikan, dan para calon PNS yang hadir di acara tersebut dipungut biaya masing-masing Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Uang sejumlah itu entah untuk apa pula, di berita tidak terlalu detil dijelaskan (atau saya yang kurang nyimak, entahlah).
Saya gemes, sumpah gemes. Saya bukan siapa-siapa, wartawan gosip juga bukan, tapi ngeliat yang beginian…aduuuh…apa lagi sih ini?!! Mereka pernah denger tentang citizen journalism gak sih? Kalau semua-semua haram, semua-semua gak boleh diangkat ke permukaan atas nama kebebasan bicara dan menyampaikan pendapat, semua-semua harus ditutup-tutupi demi kepentingan segelintir orang di lingkaran kekuasan (dan punya uang), lantas mau kemana kita? Gak boleh nulis, gak boleh curhat, haram mengungkap apa yang kita anggap kebenaran? Meh. Menyebalkan.
Ya sudah, itu aja. Muak, saya.
Ps: entry yang sama saya tulis juga di notes FB saya, semoga saya gak ditangkep dan dijemput jip juga besok pagi. damn.