kuinginkan mulut yang haus
dari lelaki yang kehilangan masa remajanya
di antara pasir-pasir tempat ia menyisir arus
Saman ~ Ayu Utami
*another repost, I know. bosen ya udah, saya gak pernah bosen sama buku Ayu Utami dan puisi yang ini.
kuinginkan mulut yang haus
dari lelaki yang kehilangan masa remajanya
di antara pasir-pasir tempat ia menyisir arus
Saman ~ Ayu Utami
*another repost, I know. bosen ya udah, saya gak pernah bosen sama buku Ayu Utami dan puisi yang ini.
Rindu itu telah mengalahkan tawaran minum kopi,
Yang tiap hari kujalani berlama-lama, tanpa jemu.
Ah, rindu telah menenggelamkan ketidakjemuan, memacu
deru jari mengetik pada tuts laptop
: terkadang, tak sabar….
Rindu telah mengalahkan percintaan jarum pendek
dan jarum panjang, yang senantiasa
berciuman lama pada angka dua belas,
mengubah letak pelukan ke percintaan yang lain
Membiarkannya menyelingkuhi rindu
: adakah rindu telah membiru?
Ataukah malah jadi jelaga dan mengelam,
karena rindu begitu telanjang…..
Atau,
Rindu seperti kopi tanpa gula
: Pahit, tapi penuh aroma………..
bergelinjang di dasar cangkir, gelap….
Membiarkan rindu menadah geram
: salahkah?the sultan, 23.07.wib
untuk R
Kiriman puisi dari seseorang yang saya terima beberapa menit yang lalu, saya temukan di email inbox saya.
Buat kamu yang udah repot-repot nulis ini, makasih banyak. Whatever it means, or whoever you are, saya tetep bilang makasih. This is sweet. Dan mengerikan. D’oh!
aku pergi, bintang
meski pernah kujanjikan kita tak ‘kan saling kehilangan
maaf harus menyerah
pagi ini mataharimu patah