jangan percaya logika saat kamu jatuh cinta
Iya, percaya apa kata hatimu saja, karena saat cinta meracuni otakmu, percayalah, akal sehat dan yang kalian sebut logika akan terang-terangan mengkhianatimu. Dan tiba-tiba saja kamu menjadi bebal, mendadak bego dan melakukan kebodohan-kebodohan memalukan seperti misalnya SALAH KIRIM sms nakal, salah tingkah dan tersipu-sipu najis seperti gadis belasan tahun saat laki-laki yang kamu cintai memandangimu dengan cara tertentu (entah memuja entah nafsu. beuh!), atau udara di sekitarmu tiba-tiba terasa beku dan DENGAN TOLOLNYA kamu bilang ‘makasih’ pada saat seharusnya kamu menjawab bisikan manisnya dengan ‘i love you, too’.
Tapi bukankah hanya cinta yang sanggup membuat pipimu merona dan kehilangan semua perbendaharaan kata ketika dia bertanya ‘bolehkah aku mengecup bibirmu?’, bukankah memang cinta dan hanya cinta lah yang mampu membuatmu bahagia, merasa sangat perempuan, dan entah bagaimana membuatmu menangis karena merasa cantik dan diinginkan? Dan apalagi selain cinta yang membuatmu bersedia melakukan apa saja hanya supaya kau bisa memeluk dan mendengar debar jantungnya? Untuknya, percayalah, kamu akan rela menembus macet dan hujan berjam-jam, melupakan betapa melelahkannya bercinta beberapa kali dalam rentang waktu yang tak sampai hitungan sehari semalam, atau betapa berbahaya dan tak sehatnya jika kamu nekat melewatkan jam-jam makan yang normal dan hanya mengkonsumsi selembar roti tawar dan secangkir kopi hanya karena kamu tak mampu mengatasi detak jantung yang degupnya kau rasakan begitu kencang, bukan lagi di dada melainkan sudah naik sampai ke tenggorokan, mencekikmu perlahan-lahan dan membuatmu mual.
Hhhhhhhhh…… Cinta dan logika. Kayaknya dari dulu memang musuhan, ya? Heran.
*hey you! I do love you, too…
taman menteng, kamu, dan sebuah lagu
Langit di atas Jakarta malam itu tanpa bintang. Aku tau betul karena sempat aku menengadah mencuri pandang berharap mendapati satu saja kerlip cahaya sesaat sebelum aku lebur dalam perbincangan, berbagi cerita dan tawa bersama mereka. Di sebuah sudut di kursi taman, kupejamkan mata sejenak, meresapi bau hujan yang tertinggal, udara yang basah, aroma tembakau bercampur dengan wangi parfum yang kental, dan suara-suara bersautan di sekelilingku. Beberapa detik keheningan yang selalu kucuri dari sebuah perjumpaan, atau ditengah keramaian. Hening yang hanya milikku, yang dengannya kubebaskan ruang batin dari hiruk pikuk dunia. Aku di sana, tapi sebagian jiwaku tak ada di sana. Kubiarkan ia mengembara meninggalkan kekosongan yang hanya aku yang tau cara menikmatinya.
Dalam cahaya obor samar-samar, beberapa orang berdiri di panggung dadakan, membawakan lagu-lagu manis yang sebagian tak kukenal namun diam-diam menyusupkan rasa hangat yang aneh dan akrab, seolah memeluk jiwaku dengan lengan-lengan yang tak terlihat. Lagi dan lagi, gumam kagum dan tepuk tangan sopan melayang-layang memenuhi udara di tengah manusia-manusia yang tak lelah berbincang, dalam kelompok-kelompok kecil bersama melewati malam di tengah kota yang tak hendak tidur meski waktu perlahan merayap semakin larut.
Kemudian sesuatu membuatku tersentak. Mereka, musisi-musisi itu, memainkan lagu yang selalu membawaku kembali ke suatu masa yang begitu berjarak. Lagu yang seolah berasal dari satu rentang waktu yang jauh, dari satu abad yang berbeda.
Salahku. Salahku tak mampu menghapus kenangan yang tertinggal dari hanya sebuah lagu, deret notasi indah yang masih dan akan selalu mengingatkan aku tentang kamu dan satu dimensi waktu yang abstrak dan tak terjangkau. Dengan tangan gemetar, kumatikan batang rokok kesekian yang masih terselip di jemariku. Dan tanpa bisa kubendung, dengan liar benakku menyusun kembali rangkaian cerita yang mestinya telah lama usai dan menyisakan berbagai pertanyaan tak terjawab, hal-hal yang susah payah berusaha kupahami karena kau memintaku untuk mengerti. Kemudian, seperti kesetanan, tiba-tiba saja aku menuliskan sesuatu, barangkali hanya sebuah catatan perjalanan, atau sepucuk surat yang tak akan pernah terkirimkan, untukmu.
I heard them play that song. And for a few seconds there, my world just seemed to stop spinning around. The thought of you made me smile in pain, and the next thing I knew was that pointless feeling coming out of nowhere. Once again, I helplessly whispered your name.
“Sweet thing….sweet thing…..”
Malam semakin tua. Hujan telah lama reda, dan di sana sini sesekali masih terdengar gelak tawa. Taman Menteng, Jakarta.
UPDATED:
* baca penjelasan Hedi tentang acara ini. silakan ke kamar sebelah.
perempuan di penghujung hari
Repost. Percakapan saya dengan seorang kawan, setaun yang lalu.
beberapa saat sebelum tengah malam…
saya: pernah gak, tiba-tiba merasa pengen mati aja?
dia: pengen mati? pernah. tapi terlalu pengecut untuk bunuh diri.
saya: capek, merasa kosong, bodoh, dan gak pengen apa-apa lagi.
……………..
saya: ada gak sih, cara bunuh diri yang prosesnya cepet, gak sakit, dan tetep keliatan cantik?
dia: ada, pake suntik aja. kan bisa pasang senyum manis sebelum mati. tapi jangan suntik KB ya..hehe…ono opo kiiiy?
saya: gpp. cuma lagi sedih dan pengen mati. i’ll be fine. thx, wi. g’night.
dia: i know u’ll be fine. syukurlah kita ini pengecut, yang mau gak mau musti berjuang selama masih hidup. karena memang kita tak punya kuasa untuk sebuah akhir. jangan berhenti, bu !
saya tau saya tak boleh berhenti. saya cuma ingin pergi menjilati luka sendiri. sehari, dua hari, tiga hari. mungkin saya akan kembali. siapa tau…
*makasih banyak buat dewi, perempuan di penghujung hari.
Begitulah. Setaun yang lalu saat saya merasa berada di salah satu titik terendah dalam hidup (di antara sekian titik yang lain, sebagian terekam sebagian lagi terabaikan), perbincangan aneh dan horor itu terjadi. Barangkali ini juga yang membuat saya selalu mencintai perempuan ini. Dan perjumpaan dengannya kemarin sore, seperti sudah saya duga, telah menutup dengan indah hari saya yang berantakan. One perfect happy ending.
Makasih banyak, Dew. I love you…
birthday
Susah sekali mencari bunga liar di tempat ini
Ini terbaik yang bisa kudapat
Walau bukan edelweis si bunga tangguh seperti dirimu
Selamat ulang tahun
Semoga surat ini bisa nyampe tepat waktu
(repost setaun kemaren)
Hari ini saya ulang taun. Sama sekali gak penting. Tapi makasih banyak buat temen-temen yang inget, yang gak inget, yang gak tau, yang lupa, atau yang saya paksa-paksa supaya inget bahwa hari ini saya ulang taun. Makasih buat Antobilang, Yoyok, Yati (itu doang kadonya yak?), Tito, Stey, dan Mas Mbilung sekeluarga. Dua nama terakhir, saya tetep mau bilang makasih banyak biar pun memori dan atau kalender di hape mengkhianati mereka. Kemaren pagi-pagi banget si Stey ngasi selamat lewat sms. Siangnya Mas Mbilung dengan suara yang seneng banget, pede banget, nelpon saya ngucapin selamat ulang taun. Aduh…..
Jadi ya Stey, mas Mbilung, yang bener 15 Januari, BUKAN 14.
Tapi ngemeng-ngemeng, selain sebagai ‘reminder’ yang tugasnya ngingetin bahwa jatah umur kita semakin berkurang, emang ulang taun artinya apaan sih? Saya kok malah merasa kosong, ya? D’oh!




My name is Venus, perempuan, istri, ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang pinter-pinter dan ganteng-ganteng.