Dari Konser Avenged Sevenfold Live in Jakarta

Untuk pertama kalinya –dan semoga gak ada lagi kejadian busuk seperti ini– saya ngalamin yang namanya batal nonton konser. Begini ceritanya..

Sejak satu bulan yang lalu, saya udah niatin nonton Avenged Sevenfold Live in Jakarta. Asal harga tiketnya masih masuk di akal, saya pasti akan nonton. Udah janji sama precil gede juga, saya akan ngajakin dia nonton. Berdua.

Beruntung banget, seperti yang udah-udah, ada aja temen yang ngasi tiket gratisan. Kali ini, saya dapet tiket A7X dari Diana, temen yang penyiar KisFM. Saya dapet 2 (dua) tiket Festival B. Tapi karena precil saya pengen nonton di Festival A bareng temen-temen sekolahnya, urusan jadi sedikit ribet. Saya harus nyari temen yang mau nonton bareng saya, plus harus nyari tiket Festival A untuk si precil. Di H-1, precil kecil yang masih kelas 6 SD, merengek-rengek pengen ikut. Waduh. Bukan soal duitnya, tapi saya ngeri bawa anak sekecil itu nonton konser musik rock.

Masalahnya, saya tau si precil kecil ini juga nge-fans sama kelompok musik ini. Dia bahkan hapal hampir semua lagu mereka. Antara ngeri dan gak tega menolak permintaannya, saya akhirnya nekat ngajakin dia. Berharap konsernya tertib, gak ada dorong-dorongan, gak ada injek-injekan. Ngeri.

Masih di H-1, malam tanggal 30 April 2012. Saya janjian sama Diana, temen yang penyiar tadi, untuk ketemuan di Hotel Mulia buat ngambil tiket, setelah press conference konser ini selesai. Karena saya juga ribet di tempat lain sampai pukul 10 malam, janjian ini batal. Saya harus ngambil tiket keesokan harinya, di kantor KisFM. Sialnya, di sekitar sana ternyata lagi ada demo besar dalam rangka Hari Buruh. Makin ribet.

Singkat cerita, temen saya, Goenrock, akhirnya berhasil menembus kerumunan demo, entah gimana caranya, dan akhirnya dua tiket A7X sudah di tangan. Kami berempat berencana untuk berangkat ke lokasi acara pukul 3 sore, dari meeting point di Plasa Semanggi.

Pukul 4 sore lebih sedikit, kami sudah di parkiran Pantai Carnaval, Ancol. Aura bersenang-senang sudah sangat terasa. Ribuan calon penonton dengan kostum khas mereka, poster-poster A7X yang mereka bawa dan gelar di sana, lagu-lagu Avenged Sevenfold yang mereka nyanyikan bareng-bareng.

Ada satu hal aneh yang saya perhatikan di perjalanan menuju Ancol. Tidak seperti lazimnya pertunjukan musik yang lain, kali ini, di sepanjang perjalanan, tidak satu pun saya lihat umbul-umbul atau baliho, atau apa pun yang menunjukkan bahwa di Pantai Carnaval hari itu akan ada konser. Ini sangat sangat aneh. Tapi sudahlah, saya berusaha tidak berpikir jelek.

Tapi keanehan lain mulai terlihat.

1. Di lokasi acara, tidak terlihat satu pun crew atau petugas dengan kostum resmi promotor. Di depan ticket box yang gak ada orangnya, hanya ada beberapa petugas security.

2. Gate dan pagar yang membatasi penonton dan stage memang tidak terlalu tinggi. Wah, kok?

3. Dari kejauhan, stage terlihat kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, atau crew yang lalu lalang untuk memastikan konser akan segera dimulai.

Masih berusaha berbaik sangka, saya duduk menunggu di dekat antrean ticket box. Precil gede sudah berdiri, mengantre untuk beli 2 tiket tambahan. Goenrock di belakangnya, membawa dua voucher yang akan ditukar dengan tiket asli. Calon penonton semakin banyak berdatangan. Dari hasil mencuri dengar percakapan mereka, banyak banget yang sengaja datang dari luar kota untuk nonton konser ini. Bukan hanya dari kota-kota yang dekat dari Jakarta. Banyak juga yang datang jauh-jauh dari Surabaya, Malang, Bali, Kupang, bahkan Kalimantan. Hitung saja berapa biaya yang harus mereka relakan untuk bisa sampai ke Ancol.

Beberapa saat menunggu, ticket box yang menurut informasi akan dibuka pukul 5 sore, belum buka juga. Kerumunan penonton sudah memadati area di depan gate. Sisanya, mengantre di depan ticket box yang kosong, sebagian lagi duduk manis sambil nyanyi-nyanyi. Saya mulai curiga, terutama ketika membaca simpang siur kicauan di Twitter bahwa ada kabar konser ini dibatalkan.

Beberapa kali saya harus mondar mandir ke barisan depan dan belakang antrean untuk saling bertukar info dengan Goenrock dan precil. Linimasa semakin heboh, tapi belum ada satu pun berita yang mengkonfirmasi kebenaran kabar ini. Saya ngubek-ngubek Yahoo, Kompas, Detik, Vivanews. Nihil. Mulai sedikit panik, saya email mas Adib Hidayat, berharap mendengar kabar baik atau buruk, supaya tahu apa yang harus saya lakukan. Jika konser memang batal, saya harus segera pergi dari sana. Tidak ingin terjebak chaos atau keributan. Kalau saya ke sana sendiri, saya pasti akan tinggal dan melihat apa yang terjadi. Masalahnya, saya bawa anak yang masih kecil. Gak yakin saya bisa melindungi dia kalau terjadi apa-apa.

Pukul 5.15 sore, setelah berdiskusi singkat dengan Goenrock dan precil, kami putuskan untuk cabut. Dan benar saja, di tol, mereka berdua bergantian membacakan tweet konfirmasi dari beberapa pihak tentang batalnya konser ini. Saya nyetir dalam keadaan lapar dan capek, dan udah gak bisa marah. Cuma ketawa miris, bersyukur bahwa kami berempat sudah pergi dari sana, dan memilih untuk nongkrong aja di Citos.

Asli ini kejadian paling kacau dan bikin mood ngedrop gak karuan. Promotor acara ini, Entertainment Ranger, menurut saya, beneran minta dihukum cambuk. Kalo gak niat bikin konser, atau GAK MAMPU, jangan nekat dan ngerugiin sekian ribu orang yang udah bela-belain datang. Gila. Bukan hanya ngerugiin orang, mereka juga bikin malu kita semua. Konser kelompok musik sekelas Avenged Sevenfold? Batal? Bener-bener bikin malu dan tak termaafkan.

Saya kecewa? Oh, BANGET! Di jalan, anak saya bilang, “Yaela. Udah ngebayangin moshing abis-abisan di sana tadi.” I know, son. Me, too.

*tautan: ini dan ini

Pendidikan: Lebih Dari Sekadar Pintar

Kalau boleh sedikit sombong, saya sangat bersyukur dikaruniai dua anak laki-laki yang prestasi akademisnya selalu bagus. Tidak selalu di posisi paling atas di kelas mereka, tapi setidaknya gak pernah malu-maluin orangtuanya.

Soal nilai di sekolah, saya gak pernah rewel atau menuntut macam-macam. Namanya juga anak-anak. Kadang di semester awal mereka juara kelas, tapi saat kenaikan kelas, bisa jadi posisi mereka turun ke urutan dua atau tiga. Gak masalah. Saya juga gak mengharuskan mereka belajar sekian jam setiap hari. Dari awal, selalu saya tanamkan bahwa kalau mereka gak belajar lantas prestasi akademisnya jelek, mereka sendiri yang rugi. Alhamdulillah, sejauh ini mereka cukup paham, bahwa selalu ada konsekuensi tertentu dari apapun yang mereka pilih. Kalau pengen juara lagi, ya harus belajar. Kalau mau dapet sekolah yang bagus, ya usahanya harus lebih keras dari teman-teman mereka. Sesederhana itu.

Sekarang, precil gede udah kelas 1 SMA, dan adiknya mau masuk SMP tahun ini. Funny how time flies, no? Rasanya baru kemarin saya mengantar mereka di hari pertama masuk Taman Kanak Kanak. Sekarang, tiba-tiba mereka udah gede aja.

Bicara tentang sekolah menengah yang bagus, jujur saja saya heran ketika beberapa kawan mengaku stress karena anaknya tidak diterima di sekolah unggulan yang biaya masuknya puluhan juta. In my opinion, bukan mahal atau tidaknya sekolah yang membuat anak kita ‘jadi orang’. Sukses, menurut ukuran saya, adalah ketika kita bisa memberikan pendidikan yang baik secara utuh. Bukan hanya soal apakah nilai matematikanya bagus atau sedang-sedang saja, misalnya.

Browsing mencari-cari informasi tentang sekolah yang bagus, saya nyasar ke situs Sampoerna Academy, dan sangat tertarik dengan pendidikan holistik yang mereka tawarkan. Intinya, sistem pendidikan mereka bukan hanya mementingkan kemampuan akademis semata. Namun juga menekankan pentingnya pembentukan karakter, moral, dan kepribadian, yang akan melahirkan siswa siswi yang punya kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Keren!

Sampoerna Academy sebenarnya bukan nama baru di dunia pendidikan kita. Tapi saya baru tahu, bahwa mulai tahun 2012 ini, selain memberikan bantuan pendidikan (gratis) bagi calon siswa dari keluarga prasejahtera, Sampoerna Academy juga mulai membuka program pendidikan dengan sistem berbayar. Tentu saja akan ada proses seleksi yang cukup ketat untuk bisa bersekolah di sana. Soal biaya yang kelihatannya memang gak murah, kayaknya kok relatif ya. Untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang benar-benar bagus untuk anak kita, rasanya memang sekolah ini adalah salah satu yang terbaik.

Untuk tahun ini, pendaftaran dibuka 14-28 Mei 2012, jadi silakan meluncur ke situs resmi Sampoerna Academy, untuk tahu lebih banyak tentang sekolah ini. Bisa dibaca juga artikel-artikel inspiratif di blog Pak Putera Sampoerna untuk tambahan referensi, atau ikuti linimasa @psfoundation di Twitter.

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Ngerumpi Days Out 2012

Banyak sekali yang pengen saya ceritain soal Ngerumpi Days Out 2012, tanggal 20-21 April 2012 di fX kemaren. Saking banyaknya sampe bingung harus mulai dari mana.

Yang jelas, segala capek, ribet, stress selama beberapa minggu persiapan event ini, terbayar lunas. Kekhawatiran bahwa event ini akan ‘gak laku’, sama sekali tidak terbukti. Dengan 30 komunitas dan 16 media yang terlibat dan berpartisipasi di acara ini, dan hampir 25 ribu pengunjung selama dua hari berturut-turut, saya hanya bisa bersyukur dan berterimakasih kepada semua yang berada di balik kerebyekan ini. Nunik, sang Project Manager yang baru keliatan galaknya, Kopiholic, partner kami berdua mengelola Ngerumpi, kawan-kawan yang dengan sukarela bersedia jungkirbalik nyiapin event ini bareng-bareng, mas Aloy dan team, keluarga besar Salingsilang, para sponsor.

Gak mungkin nyebutin satu-satu kepada siapa rasa terima kasih harus saya sampaikan. Edan lah. Waktu persiapan yang mepet (ditambah saya yang masih tega jalan-jalan sementara temen-temen di sini lagi repot-repotnya). Team yang isinya hanya sedikit banget orang. Hey you guys, kalian gila mau ngerjain ini bareng kita lhoh, hahaha..

Dua hari yang heboh, sedikit kekurangan di sana sini, lupa ngundang beberapa komunitas yang padahal temen-temen sendiri. Doh! Edun lah, edun. Mudah-mudahan tahun depan Ngerumpi bikin event Days Out yang lebih gila lagi, yes? Amin.