Iya, ini postingan menyebalkan.
Saya sedang mencoba keberuntungan, sekali lagi. Udah tau sih, gak hoki menang segala macam kontes atau lomba. Ikut lomba nulis, lomba blog, lomba apa lagi entah sudah berapa kali, tetep aja gak menang.


Jangankan yang hadiahnya ‘menyenangkan’ kayak gadget keluaran terbaru. Dapet kaos aja belum pernah. Cuma pernah sekali waktu, dulu, dapet hadiah dispenser air mineral di minimarket deket rumah. Itupun masih diminta bayar pajak hadiah, padahal nilai hadiahnya juga gak seberapa, hehe..
Nah, tadi pagi, antara ikut seneng bercampur iri yang membuncah *halah*, sekali lagi saya melihat salah seorang kawan menang kontes foto yang hadiahnya jalan-jalan gratis ke Itali. Wuaaaaah Itali! Dan karena itu juga, saya jadinya iseng ikutan kontes foto. Siapa tau kali ini menang. Siapa tau dapet tiket gratis ke mana gitu.
Bantuin vote, yak. Tinggal klik foto-foto di atas, dan langsung vote. Makasiiiiiihhh… *cium-cium brutal*
Tuhan yang saya maksud, adalah Tuhan saya. Saya tak tahu, apakah kita sedang menyembah Tuhan yang sama. Dan saya tidak peduli apakah memang Tuhan kita sama. Siapa Tuhan bagi Anda, atau banyak orang lain di luar sana, bukan urusan saya.

Ada suatu masa, ketika saya memilih untuk tidak memilih agama apa pun. Tidak Kristen, tidak Hindu, tidak juga Islam. Meski di KTP tetap tertulis Islam di kolom agama, saya dengan percaya diri mengaku ke semua orang bahwa saya agnostik. Tentu saya percaya bahwa Tuhan itu ada. Ia dekat, sangat dekat, lebih dekat bahkan dari batang leher kita. Saya tahu Tuhan melihat, dan selalu menjaga. Sesekali, saya dapat merasakan Tuhan sedang menertawai kebodohan-kebodohan saya. Ada saat-saat saya merasa harus datang kepada-Nya, dan bicara berdua saja. Menangis, mengadu, bertanya, tertawa-tawa. Berdua. Hanya saya dan Tuhan.
Pada satu titik, saya memilih untuk kembali meyakini Islam sebagai agama saya. Tanpa selebrasi, tanpa pesta, saya kembali menyebut Tuhan dengan ‘Allah’. Dengan logat Arab, bahasa yang dengannya kitab suci Al Qur’an dituliskan.
Tapi Dia tetap Tuhan yang sama. Teman bicara yang baik, yang menepuk-nepuk punggung dengan lembut ketika saya bersedih, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol saya dengan kalimat-kalimat indah.
Tuhan tidak pernah marah. Ia hanya tergelak ketika saya berbuat salah. Ia tersenyum penuh kasih, Ia menyambut dengan pelukan hangat, saat saya bersimpuh memohon ampun di kaki singgasananya yang agung.
Tuhan baik sekali. Ia mengasihi, bukan menghakimi. Ia mendengar, mendebat, bukan berteriak-teriak memaki. Ia membiarkan akal dan nalar saya memilih, apa pun yang saya yakini. Tuhan memberi saya waktu untuk berpikir, bermain-main dengan logika, memutuskan apa saja yang saya rasa paling benar. Tuhan saya tak pernah marah. Atau barangkali Dia marah, tapi Tuhan menunjukkan kemarahannya dengan cara yang paling elegan; lembut, penuh kasih. Tak pernah dengan pentungan. Belum pernah satu kali pun Dia membuat saya ketakutan.
Tuhan saya, mungkin Tuhan kalian juga, adalah Tuhan yang paling baik. Saya minta satu, diberinya saya tiga atau lima. Saya minta sepasang kaki yang kuat, diberinya saya sepasang sayap untuk terbang. Sayap yang kokoh, indah, seperti elang.

Maya Angelou’s words of wisdom. Di-compile dari rangkain tweet pagi ini.
A woman should have…
- enough money within her control to move out, and rent a place of her own, even if she never wants to or needs to
- something perfect to wear if the employer, or date of her dreams wants to see her in an hour
- a youth she’s content to leave behind
- a past juicy enough that she’s looking forward to retelling it in her old age
- a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black lace bra
- one friend who always makes her laugh, and one who lets her cry
- a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her family
- eight matching plates, wine glasses with stems, and a recipe for a meal that will make her guests feel honored
- a feeling of control over her destiny
Every woman should know…
- how to fall in love without losing herself
- how to quit a job, break up with a lover, and confront a friend without ruining the friendship
- when to try harder, and when to walk away
- that she can’t change the length of her calves, the width of her hips, or the nature of her parents
- that her childhood may not have been perfect, but its over
- what she would and wouldn’t do for love or more
- how to live alone, even if she doesn’t like it
- whom she can trust, whom she can’t, and why she shouldn’t take it personally
- where to go; be it to her best friend’s kitchen table, or a charming inn in the woods when her soul needs soothing
- what she can and can’t accomplish in a day, a month, a year
Questions: Are you that woman? Are we there yet?