note #1000

Kita sepakat, aku tau kita sepakati ini sejak bertahun-tahun lewat saat kamu memintaku berhenti menulis atau berpikir tentangmu. Semua tentangmu. Dan ya, aku sudah berhenti. Aku berhenti dan sungguh, sudah sejak lama aku membunuhmu, mencincangmu menjadi potongan-potongan kecil yang tak mungkin dikenali bahkan olehku sendiri.

Katakan ini surat atau catatan ke sekian ratus yang akan mengacaukan pagi atau malammu, siapa peduli? Aku sedang murka. Dan tentu saja aku boleh murka karena berkali-kali kamu melanggar batas kesabaran, ini yang kesekian.

Pikirkan ini. Apapun yang telah, sedang atau akan terjadi, kita mestinya tetap tinggal sebagai kawan baik. Seperti dulu. Dan kita punya sejarah, kalau kamu lupa. Kita punya sejarah, yang entah kenapa begitu kuat dan lekat sehingga kita selalu gagal meski puluhan kali kita berjanji untuk berhenti saling mencari. Kamu masih datang dan aku begitu tololnya masih selalu menginginkan kamu untuk datang, lagi dan lagi dan lagi.

Lantas ini yang terjadi. Kamu membuatku marah sekali lagi. Aku benci harus menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, tau bahwa semua yang keluar dari mulutku akan sia-sia. Percuma. Kamu terlihat begitu menikmati permainan, dipecundangi dan hebatnya lagi, kamu merasa menang.

Lelaki. Dan kamu selalu merasa lebih pintar, menganggapku berlebihan karena mendramakan semuanya? Hah! Bukankah memang itu esensi perempuan? Hidup memang drama bagi kebanyakan perempuan. Bodoh sekali memintaku berpikir selempeng kamu. Kalau aku selogis dan serealistis itu, tidakkah kamu akan merasa mengencani sesama lelaki?

Ah, sejarah. Begitu dekat dan sesekali masih bisa kusentuh, tapi juga begitu lampau, begitu jauh.

Sudahlah. Kamu kalah.

I try to say good bye

I try to say good bye and I choke
I try to walk away and I stumble
Though I try to hide it, it’s clear
My world crumbles when you are not near
Good bye and I choke
I try to walk away and I stumble
Though I try to hide it
It’s clear, my world crumbles when you are not near


Macy Gray ~ I Try To Say Good Bye

I plurk

Oh yes, I plurk. I PLURK. I don’t tweet, not anymore. Well, actually I uh, I have deleted my twitter account like, couple hundred years ago. Why not? I know some people think that Plurk is some kind of big joke. Gak cerdas. Gak jelas. Gak keren. Banyakan ngaconya.

Yeah yeah, whatever.

Oh, wait! Gak cerdas-gak jelas-gak keren-banyakan ngaconya??!! AND WHO THE HELL ARE YOU TO DECIDE WHAT’S COOL AND WHAT IS NOT?!! (p_idiot) (p_idiot)

PS: who needs twitter when you can have hell a lot of fun (and cool and funny friends as well) on plurk, anyway? Haha!