Have You Had Coffee Today?

Saya kadang berpikir, kenapa ngopi bisa sangat membudaya dalam gaya hidup masyarakat modern. Kita tak selalu ingin hura-hura, nonton, main biliar, tapi hampir semua orang akan bilang “ya” jika mendengar kata kopi.

Itu pula yang saya dan kekasih lakukan malam minggu kemarin: ngupi-ngupi.

Bakoel Koffee Cikini menjadi pilihan kami. Suasananya homey, membuat tempat ini pas untuk menjauh dari hingar-bingar ibu kota. Kami duduk bersisian di atas kursi kayu yang nyaman. Pencahayaan ruangan berasal dari beberapa lampu sorot berwarna kuning, seperti yang kerap dijumpai di galeri-galeri seni.

Di meja, kopi espresso dan caramel menemani percakapan kami yang mengalir deras tentang berbagai hal yang terjadi seminggu terakhir. Sesekali saya melihat cahaya rembulan yang keperakan melalui ventilasi, lalu kembali menatap wajah kekasih yang tak kalah bercahaya.

Kopi sekali lagi membuktikan kesetiaannya menemani hidup kami yang tentu tak hanya cinta-cintaan. Dia ada saat kami bertemu pertama kali di Regal Pondok Indah Mall hampir setahun silam. Dia pun ada tatkala kami bertengkar di Anomali Setiabudi One beberapa minggu yang lalu. Dan semalam, dia masih ada saat kami bersantai di Bakoel Koffee.

Kita pindah tempat, yuk.”

Terdengar suara pintu berderit karena bergesekan dengan lantai ketika kami keluar dari tempat itu dan berjalan menuju parkiran mobil. Di langit, mega-mega berarak di sekitar rembulan yang masih bercahaya keperakan.

Begitulah hidup terus bergulir, seperti cinta kami yang terus bergerak maju. Dan, kami masih selalu bilang “ya” tatkala mendengar kata kopi. So, have you had coffee today?

sekotak cokelat

Tadinya saya gak pengen nulis tentang Valentine’s Day. Tapi sesuatu membuat saya –meski terdengar lebay– meleleh dan kehabisan kata-kata.

Cuaca yang lagi gak karuan dan kondisi badan yang lagi ngedrop membuat saya nyerah, melewatkan malam minggu di rumah dan gak jadi pergi ke pesta ulangtaun temen abege saya, si Benazio (dia yang abege, bukan saya). Trus pas lagi di dapur bikin kopi, tiba-tiba precil saya yang masih klas 4 SD nyodorin sesuatu.

“Ibu, ini buat ibu.”

Beberapa detik saya bengong, gak ngeh, cuma ngeliatin bungkusan rapi mirip kado bergambar strawberry di tangan anak saya.

“Eh? Ini apa, sayang?”

“Kado Valentine.”

“Buat ibu? Beneran? Dari kamu sama mas Kemal, ya?”

“Gak. Aku beli sendiri kok. Kita buka di kamar, yuk..”

Hanya karena gak mau dia liat saya nangis, saya tahan-tahan air mata sebisanya dan nurut aja waktu dia tarik tangan saya ke kamar, dan saya biarkan dia membuka bungkusan kado sambil mendengar dia ngoceh tentang sekotak cokelat berbentuk hati yang dia beli seharga lima belas ribu rupiah di ibu guru sekolahnya.

Barangkali inilah Valentine’s Day termanis dalam hidup saya. Dengan kepolosan kanak-kanaknya, lelaki kecil ini mengajari saya satu hal: cinta ternyata begitu sederhana. Sebentuk cokelat lima belas ribuan pun sanggup membuat saya merasa menjadi perempuan paling sempurna.

Happy Valentine’s Day, people. Katakan cinta kepada orang-orang yang kalian sayangi. Sekarang. Say it while you can, while you’ve still got time. Gak perlu sesuatu yang ribet atau hadiah-hadiah mahal untuk membuat mereka bahagia, kok. Just a simple ‘I love you’ will do.

a note #6

the_kiss_by_encrypted_sanity.png

“I love you because I know no other way”

~ Pablo Neruda ~