“Gimana sih cara menghapus dendam? Dosa gak kalo saya masih menyimpannya jauuuuh banget di dalem?”
Belajarlah memaafkan, jawabku.
“Fiuhh…life sucks”
Yeah it does sometimes. Yang sabar ya…, kataku lagi, berharap perbincangan selesai sampai di sini.
“Makasih. Saya ditemani bercangkir-cangkir kopi, setumpuk pekerjaan, U2, sesak di kepala, sakit jiwa…what a perfect night. Met istirahat, semoga malammu indah dan berbintang”
Hahah, malamku selalu berbintang. Selamat tidur, dear.
Yang kau tak pernah tau, kawan, di langitku malam ini tak ada bintang. Dan aku terbakar cemburu. Kekasihku lebih suka melewati malam bersama perempuan itu.
Perempuannya.
note: entry yang pernah saya proteksi karena agak sensitif dan agak2 gimana gitu. ga ada judulnya karena memang ga nemu judul yg pas, dan saya lagi males mikir. fiksi atau bukan, ya silakan diartiin sendiri aja lah. saya gak mau bilang. dibilangin lagi males mikir, hahahah…
Pernah kau rasakan cinta yang begitu dalam, begitu kuat mencengkeram dan menguasai, yang membuatmu bahagia tapi di detik yang sama membuatmu perih seakan sebilah belati ditancapkan seseorang tepat di jantungmu? Pernah?
Aku mencintaimu, Risha. Cinta yang nyaris memuja dan membuatku bersedia melakukan apa saja untuk membuatmu mencintaiku dengan pemujaan yang sama. Barangkali terdengar konyol mirip sinetron-sinetron kejar tayang yang tak pernah kau tonton, tapi inilah yang kurasakan sekarang.
Kau matahariku, embun pagiku, mawar, oksigen, racun, pelangi, badai salju, malaikat, dan iblisku. Kau oase di teriknya siang, kemilau di gemerlap malam.
Risha, aku lelah. Aku bosan menjadi kekasih rahasiamu, aku benci harus terus menerus bersembunyi. Maafkan aku, tapi belakangan, ini semua membuatku merasa terhina, merasa kalah. Aku ingin dengan leluasa pergi berdua denganmu seperti yang dilakukan orang-orang lain. Nonton, makan, jalan-jalan, belanja, atau sekadar mengantarmu ke salon. Aku ingin dengan bangga memamerkanmu kepada dunia. Menggandeng mesra tanganmu, bahkan menciummu di tempat-tempat umum kalau perlu.
Maukah kau menikah denganku?
Perlahan kulipat kembali surat yang ditinggalkan Bre untukku sebelum dia pulang. Satu di antara sekian banyak surat-surat singkat, biasanya hanya berisi ungkapan-ungkapan cinta sederhana, ritual manis yang selalu dilakukannya di setiap akhir pertemuan. Dengan amat hati-hati dan tangan gemetar, kusimpan surat itu di dalam dompet untuk kubaca lagi nanti sebelum kusobek menjadi serpihan-serpihan kecil dan kubuang ke tempat sampah.
Menikah? Dia pasti sudah gila. Dia lupa, suatu saat dulu kami pernah sama-sama berjanji untuk tau diri dan tak meminta lebih dari apa yang bisa kami miliki. Memintaku menjadi istrinya sungguh suatu gurauan bodoh dan sama sekali tak lucu.
Dan sebelum aku sempat berpikir jernih dan mencerna semuanya, suara suamiku terdengar di balik pintu kamar.
“Ma? Buruan dikit, dong. Udah siang, nih.”
“Ya, ya. Dikit lagi beres. Lima menit lagi, ya?”
Sudah seminggu ini ketiga gadis kecilku menginap di rumah mertuaku di Bogor. Pagi ini kami akan menjemput mereka ke sana karena besok lusa mereka mulai masuk sekolah.
Anak-anakku. Kalau bukan karena mereka, pasti sudah sejak lama aku menyerah. Pada saat-saat terburuk, saat aku mulai berpikir untuk pergi meninggalkan semuanya, hanya suara dan tawa merekalah yang membuatku berpikir seribu kali lagi, menimbang-nimbang, untuk akhirnya pasrah. Aku tak bisa pergi. Tak mungkin kubunuh mimpi anak-anakku sendiri, tak akan sanggup kupadamkan keceriaan dan kepolosan di mata mereka. Kalau hidup memang soal pilihan, aku memilih untuk menyimpan sendiri semua masalah agar aku tetap bisa tertawa dan berpura-pura bahagia di depan mereka, malaikat-malaikat kecilku. Untuk anak-anakku, apapun akan kulakukan, bahkan jika harus kukorbankan kebahagiaan dan mimpi-mimpiku.
Dan Bre. Lelaki yang hampir setahun ini kutemui diam-diam, yang dengannya aku merasa kembali utuh sebagai perempuan. Tapi tentu tak bisa begitu saja kutinggalkan suamiku untuk seorang Bre, yang selisih usianya denganku nyaris dua puluh tahun. Aku mencintainya, tapi cinta saja tak cukup, bukan? Dan sekarang, sekarang dia bilang ingin menikahiku. Sinting. Padahal sudah berkali-kali kami bicara tentang ini. Hubungan seperti ini memang tak akan kemana-mana. Pasrah saja lah. Nikmati apa yang bisa kau nikmati, reguk semua kesenangan kalau perlu sampai muntah. Sejauh ini tak pernah ada masalah, kami sama-sama mengerti dan tak pernah menuntut atau menginginkan lebih. Sampai kemarin.
Masih di jalan tol yang tak terlalu ramai saat lamunanku terputus oleh getar handphone di tas tangan di atas pangkuanku. Sms. Pasti dari dia.
From: +6285659324266
Baby, lg dmn? Can I call you? Pls, we hv 2 talk.
To: +6285659324266
Jgn sekarang. I’ll call u. 15 mnt lg, k? Pls do not reply. He’s around.
Telapak tanganku basah oleh keringat dingin, tegang sekali menyadari bahwa lima belas menit dari sekarang, Bre akan memintaku menjawab pertanyaan ngawurnya yang dia sampaikan lewat surat kemarin. Aku tak tau harus menjawab apa. Dan dia tak akan berhenti bertanya sampai semuanya jelas. Aku kenal sekali wataknya.
Di toilet, saat keluarga besar suamiku sedang berkumpul di teras depan, dengan jantung berdegup tak karuan, aku menelepon Bre.
“Halo. Risha?”
“Bre, suratmu…kamu tau aku gak bisa, Bre.”
“Kenapa? I know you love me. Marry me, baby. Kita akan bahagia.”
“Bre, please….ngertiin dong, Bre..”
“Risha, aku memang masih muda, dan aku tidak sekaya suamimu, si brengsek itu. Tapi aku udah lulus kuliah, udah kerja, dan aku akan bisa menghidupi kamu dan anak-anakmu.”
“Ya Tuhan. You can’t do this to me, Bre..”
“Do what? Aku ingin kita menikah. Aku capek begini terus, baby. Ngerti gak, sih?”
“Bre, listen…”
“No. You listen. I’m asking you to marry me. Dan aku mau kamu menjawabnya sekarang.”
Sampai di sini pertahananku runtuh. Tangis yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh menjadi butir-butir air mata dan membuat suaraku pecah.
“Bre, maafkan aku. Kita pernah bicara soal ini, dan kamu tau banget, kita gak mungkin…”
Klik.
Bre sudah menutup teleponnya sebelum kalimatku selesai. Sebelum sempat kukatakan bahwa aku juga mencintai dan ingin bersamanya, dan bahwa aku tak ingin menyakiti anak-anakku dengan memisahkan mereka dari ayahnya. Anak-anakku berhak mendapat kebahagiaan dan masa kecil yang utuh. Perpisahan kedua orang tuanya akan menyisakan luka batin yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Seminggu kemudian, di sebuah kamar hotel, aku menunggunya. Menunggu Bre, kekasihku. Dia ingin kami bertemu dan bicara, barangkali untuk yang terakhir kali. Dan aku benar-benar tak mampu menahan kesedihan saat melihatnya melewati pintu kamar, berdiri menjulang di hadapanku dengan raut dan ekspresi terluka yang membuat dadaku nyeri. Lalu begitu saja aku menghambur ke dalam pelukannya, membiarkan diriku sendiri menangis sesenggukan dalam rengkuhannya yang begitu erat seolah tak ingin melepaskanku lagi. Dan aku merasakan Bre menangis, putus asa dan kalah, menyurukkan wajahnya ke rambutku.
“I love you, Baby. I’ve always loved you.”
“I love you, too, Bre. I love you so much it hurts.”
“I can’t lose you now, Risha. Aku gak bisa.”
Dan aku masih terus menangis saat perlahan-lahan dia menggiringku ke tempat tidur, merebahkanku dengan amat lembut seolah-olah khawatir sedikit saja gerakan yang terlalu kasar akan mematahkan tulang-tulangku. Kurasakan lidahnya menjelajahi leherku, dan aku masih terisak.
“Make love to me, Bre. Make love to me……..”
**episode sebelumnya, baca di sini.
“Setan”, umpatku pelan.
Sudah tiga jam menunggu, tapi laki-laki sialan itu belum menelepon juga. Kemana sih, dia? Perlahan kusingkirkan cangkir berisi kopi dingin yang masih tersisa setengahnya, dan menyulut jatah rokok terakhir malam ini. Aku sebal menunggu. Tiga jam, bayangkan. Dia berjanji langsung mengabariku begitu kereta api yang ditumpanginya sampai di Surabaya. Mestinya sudah dari tadi dia berada di rumah.
Lampu kamar sudah kumatikan, dan seluruh ruangan kini bertabur sinar berwarna kuning pucat dari lampu meja kecil di sebelah tempat tidur yang belum sempat kurapikan. Tepatnya, sengaja tak kurapikan karena aku selalu menyukai aroma keringat lelaki sialan itu yang masih menempel di sprei dan sarung bantal yang kusut masai berantakan, seolah sengaja ia tinggalkan di situ, menjadi semacam jejak atau apalah namanya. Aku menyukainya. Membaui sisa-sisa percintaan kami tadi malam membuatku merasa…..nakal. Merasa bergairah, dan karena sesuatu yang tak terjelaskan, membuatku merasa menang. Menang atas apa, siapa, atau untuk apa, entahlah.
Dan layar monitor yang berkedip-kedip di meja kerja di depanku tiba-tiba saja membuatku muak. Baru juga mau masuk bab dua, tapi semua inspirasi mendadak seperti diterbangkan angin entah kemana. Di kejauhan, teriakan penjaja nasi goreng langgananku terdengar semakin samar-samar. Aduh, jam berapa sih, ini? Kenapa dia belum menelepon juga?
“Setan”, aku memaki lagi. Kali ini hanya dalam hati.
Baru saja merebahkan diri di sisi kanan ranjang, sisinya, sisi di mana lelaki itu tidur dalam dekapanku semalaman dan mencoba membayangkan lagi sosok dan wajah lucunya yang mebuatku mabuk, tiba-tiba telepon genggamku berteriak nyaring mengagetkan dan membuyarkan gambar-gambar yang mulai tersusun di benakku. Dan sebelum dering kedua, aku segera menyambar dan menjawab tergesa.
“Halo. Bre? Udah nyampe? Ini lagi di mana?”
“Hai. Udah di rumah, Baby. Baru juga nyampe.”
“Yaela. Jam segini? Emang keretanya telat, gitu?”
“Gak, sih. Cuma tadi aku langsung ke toko buku, nyari kado. Besok Arimbi ulang taun. Lupa?”
“Oh, okay.”
Dia pasti mendengar nada cemburu dalam ‘oh, okay’-ku tadi. Biarin. Sebel.
“Nah kan…ngambek lagi deh. Udah ah. Cape berantem mulu.”
“Yeeeee….gila ya pake ngambek-ngambekan? Gak lah. Udah makan?”
“Udah tadi di jalan. Kamu udah makan? Gak boleh sakit. Inget yang aku bilang tadi pagi, kan? Jangan sakit. Ya sayang, ya?”
Aku tersenyum. Cara bicaranya yang lembut selalu membuatku meleleh, lupa akan sekian jam kegelisahan yang menyesakkan dan kejengkelanku saat mendengar dia menyebut nama Arimbi.
“Udah, udah makan sedikit. Dipaksain nelen daripada kamu omelin”
“Good. Udah ya? Besok kita ngobrol lagi. And baby….I love you”
“Love you, too. Bye, Bre”.
“Dan yang tadi malam, it was great”
“Haha…sialan. Udah, sana. Bye.”
Aku masih sempat mendengar tawanya di ujung sana sebelum kututup telepon dan bangkit untuk menyalakan lampu kamar. Perlahan kubuka jendela dan membiarkan udara malam yang basah menerobos masuk, memenuhi paru-paruku, menikmati rasa hangat yang membuncah setelah pertemuan kesekian dengannya. Perjumpaan yang hanya satu malam, selalu hanya satu malam yang kami curi dari hidupnya dan dari kehidupanku sendiri. Hah, aku tertawa pahit. Satu malam yang tak cukup panjang untuk menuntaskan rinduku, atau barangkali juga rindunya padaku. Tapi benarkah dia rindu? Benarkah bukan sekadar keinginan menggebu untuk bercumbu dan melumat tubuhku yang membawanya ke sini setiap dua minggu sekali, mencari alasan-alasan berbeda setiap kali kepada Arimbi, kekasihnya?
Bre. Bre. Aku membisikkan namanya berkali-kali dan merasakan sensasi aneh yang seolah menguar dari pori-poriku tiap kali aku mengingatnya.
Bre.
Ah, aku butuh kopi. Dan rokok, walaupun aku benci merokok setelah menggosok gigi sebelum tidur.
Yak. Cangkir kopi kedua malam ini. Atau ketiga, ya? Aku lupa. Hmmm……kopi dan rokok. Perfect. Kemudian kunyalakan CD player di sudut kamar, mengatur volumenya supaya tak terlalu merusak keheningan malam. Splender. I Think God Can Explain.
There’s a lot of things I understand
And there’s a lot of things that I dont want to know
But you’re the only face I recognize
It’s so damn sweet of you to look me in the eyes
It’s all right, I’m ok
I think God can explain
I believe….
Damn! Lagu favorit kami berdua, lagu yang membuatku menahan napas tiap kali mendengarnya diputar.
Tuhan, bisikku.
Tuhan, kalau Kau memang ada di atas sana atau seperti mereka katakan Kau ada dan mengalir di tiap tetes darahku, jelaskan padaku, apa rencana-Mu? Apa yang membuatMu memutuskan untuk membuat kami bertemu dan tak sengaja berkenalan di sebuah pusat perbelanjaan pada suatu senja yang merah di Jakarta? Kenapa Kau biarkan kami jatuh dalam sesuatu yang tadinya kami sangka hanya cinta sesaat tapi kemudian kami sama-sama terlambat menyadari bahwa kami telah terjebak dalam hubungan aneh, cinta yang aneh, yang serupa pusaran air raksasa yang menyedot kami dengan deras dan tiba-tiba ke pusatnya tanpa kami bisa melawan? Apa mauMu, Tuhan? Kalau memang harus menjadi perempuan pendosa, kenapa harus kepada Bre aku jatuh cinta? Demi surga dan neraka, tak Kau lihatkah, bahkan kami pun jengah dan membenci perbedaan yang terbentang tanpa ampun di antara kami? Tak mungkin Kau lupa bahwa aku perempuan empat puluh dua taun dengan suami dan kehidupan yang mapan dan dia baru akan memasuki usia ke dua puluh tiga beberapa bulan lagi, bukan?
Kuhirup tegukan kopi terakhir tepat saat kudengar suara musik lembut, sms alert dari telepon genggam di depanku.
“Baru nyampe bandara. Ada makanan di rumah?”
Suamiku.
**yudhis, ayo buruan lanjutin, ga pake lama! hyahaha…emang enaakkk????