<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane &#187; fiksi</title>
	<atom:link href="http://venus-to-mars.com/category/fiksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://venus-to-mars.com</link>
	<description>[sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane]</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:35:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>perempuan dan selendang warna pelangi</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2009/03/14/perempuan-dan-selendang-warna-pelangi/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2009/03/14/perempuan-dan-selendang-warna-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 02:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=852</guid>
		<description><![CDATA[From Drop Box Perempuan yang kabarnya mati sebagai kucing, tergilas roda mobil hitam milik entah siapa pada suatu malam, hingga berceceran darah dan serpihan dagingnya di permukaan aspal yang dingin, ia belum mati. Tak seorang pun di kota itu percaya tentang si perempuan, kecuali gelandangan tua itu tentu saja. Lelaki malang yang melewatkan hampir seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F03%2F14%2Fperempuan-dan-selendang-warna-pelangi%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F03%2F14%2Fperempuan-dan-selendang-warna-pelangi%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<table style="width:auto;">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/nUuyJBGdgX93czMEHlgbuA?authkey=Gv1sRgCOPzteuEgIOzUQ&#038;feat=embedwebsite"><img src="http://lh4.ggpht.com/_eBBktYdF0HY/SbsCu3xhYxI/AAAAAAAABQY/a5UwsXLYLG8/s400/rainbow_by_iamJolie.jpg" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="font-family:arial,sans-serif; font-size:11px; text-align:right">From <a href="http://picasaweb.google.com/venustovenus/DropBox?authkey=Gv1sRgCOPzteuEgIOzUQ&#038;feat=embedwebsite">Drop Box</a></td>
</tr>
</table>
<p>Perempuan yang kabarnya mati sebagai kucing, tergilas roda mobil hitam milik entah siapa pada suatu malam, hingga berceceran darah dan serpihan dagingnya di permukaan aspal yang dingin, ia belum mati.</p>
<p>Tak seorang pun di kota itu percaya tentang si perempuan, kecuali gelandangan tua itu tentu saja. Lelaki malang yang melewatkan hampir seluruh hidupnya berpindah dari satu emperan toko ke emperan toko lain, dari trotoar satu ke trotoar lain, yang tiap subuh menjelang, dengan sabar mengais-ngais tong sampah di depan rumah-rumah dan gedung-gedung megah yang dengan congkaknya bertebaran di empat penjuru kota. Hanya gelandangan tua itu yang percaya bahwa perempuan itu ada.</p>
<p>Sungguh, perempuan yang dikabarkan mati sebagai kucing itu belum mati. Ia hidup di kaki bukit tak jauh dari kota tempat ia terlihat terakhir kali. Dan ia tidak sendirian. Di rumah yang dibangunnya dari tanah lempung dan dia warnai dinding-dindingnya dengan darahnya, tinggal seorang laki-laki. Barangkali suaminya, entahlah. Bisa jadi begitu. Tapi siapa peduli? Perempuan itu bukan siapa-siapa, bahkan tak seorangpun tau namanya atau dari mana sesungguhnya dia datang.</p>
<p>Begitulah. Berbulan-bulan sudah perempuan itu, bersama si lelaki, tinggal dan menetap di sana, di rumah yang temboknya masih memancarkan bau amis darah yang sesekali tercium oleh sebagian penduduk saat angin bertiup terlalu kencang, mengalirkan udara lembab, kering, dan aroma anyir, dari kaki bukit hingga ke lorong-lorong gelap di seantero kota.</p>
<p>Rumahnya tidak terlalu istimewa, tapi rumah itu begitu dicintainya. Dia tanami pekarangannya dengan kembang sepatu, melati, dan kenanga. Dia bersihkan rumput pengganggu seminggu sekali, dan setiap pagi ketika matahari belum terlalu tinggi, disiraminya bunga-bunga kesayangannya dengan darahnya. Tetes demi tetes, setiap pagi. Perempuan itu bahkan menggali parit di sekeliling rumahnya yang sederhana, dan menemukan beberapa kuntum teratai ungu bermekaran di dalam parit itu pada suatu senja.</p>
<p>Perempuan itu bahagia, setidaknya begitulah kelihatannya. Rumah dan pekarangan yang asri, teratai ungu yang sesekali dipetiknya karena dia menyukai warna magenta, lelaki teman hidupnya, apa lagi yang dia cari? Dia bahagia. Hingga suatu pagi perempuan itu mendapati sisi ranjang tempat lelakinya biasa tidur memeluknya, kosong. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Perempuan itu kemudian tau, lelakinya tak akan pernah kembali. Dan ia tak pernah bertanya-tanya lagi, tak pernah berusaha mencari kemana lelakinya pergi. Perkara cinta telah lama dilupakannya. <em>Siapa butuh cinta jika aku bisa bahagia tanpanya?</em> Begitu selalu yang dia katakan kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Hari-hari berikutnya dia jalani biasa saja. Setiap pagi masih disiraminya kembang sepatu, melati, dan kenanga yang semakin subur dengan darahnya. Seminggu sekali, dengan penuh cinta dia bersihkan pekarangan rumahnya, mencabuti rumput-rumput liar yang masih saja tumbuh dan tumbuh lagi, tak bosan-bosan. Ketika musim penghujan tiba, perempuan itu sibuk memunguti helai-helai hujan yang berjatuhan, memintalnya menjadi selendang warna-warni yang sepintas terlihat seperti pelangi. Barangkali ia memang sedang menciptakan pelangi. Atau sekadar sesuatu yang mirip pelangi.</p>
<p>Hingga suatu hari ketika hujan baru saja reda dan perempuan itu kembali memintal selendang warna-warni yang benangnya dia dapatkan dari helai-helai hujan, menjuntai bertebaran nyaris memenuhi pekarangan rumahnya yang asri, ia melihat sosok seorang lelaki, berdiri menatapnya dari  seberang parit yang memisahkan rumah dengan dunia di luarnya. Ragu-ragu, perempuan itu membuka pintu, berjalan melintasi pekarangan yang masih berkilau dipenuhi helai hujan keperakan, menghampiri sosok asing yang baru kali ini dilihatnya.</p>
<p>Laki-laki itu tersenyum, dengan satu langkah lebar dilompatinya parit yang memisahkan mereka, lantas entah bagaimana mulanya, tak lama kemudian mereka sudah bertukar cerita dan tertawa-tawa, sesekali si perempuan terkikik sambil memilin-milin rambutnya. Malam itu mereka bercinta.</p>
<p>Esok paginya, laki-laki itu terbangun, tergeragap mencari perempuan yang dicumbuinya tadi malam. Kemudian, sesuatu membuat si lelaki membawa langkahnya ke pekarangan belakang. Helai-helai hujan sudah lama mencair, membuat tanah pekarangan menjadi lebih becek dan lembab. Dan di sana, perempuan itu berdiri membelakangi si lelaki, bagian depan tubuhnya menghadap ke arah matahari. Selendang warna-warni didekapnya erat dan lama, sebelum perlahan-lahan dilemparkannya ke udara. Selendang itu meliuk-liuk, melayang dengan anggun menjauhi bumi, lalu pada jarak tertentu ia berhenti. Warnanya terlihat lebih cemerlang sekarang. Merah, kuning, hijau, biru, jingga. Dan sebelum lelaki itu sempat memanggil si perempuan yang baru dia sadari kemudian bahwa dia belum tau namanya, tubuh perempuan itu pelan-pelan seperti meleleh, tangannya bukan lagi tangan manusia, sepasang tungkainya yang jenjang bukan lagi tungkai yang melingkari pinggang si lelaki tadi malam, dan rambutnya yang legam panjang membentuk sepasang sayap di punggungnya yang telanjang. Perempuan itu mewujud kupu-kupu, dengan lembut mengepakkan sayapnya semakin lama semakin cepat, kemudian perlahan terbang, menuju pelangi warna-warni yang telah selesai dipintalnya.</p>
<p><em>*terinspirasi dari <a href="http://amorningdew.wordpress.com/2009/02/19/perempuan-yang-mati-sebagai-kucing/">tulisan Ning</a>, kawan baik yang pernah begitu dekat tapi cukup lama menghilang.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2009/03/14/perempuan-dan-selendang-warna-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#13: Lovely Valerie</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2009/02/21/13-lovely-valerie/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2009/02/21/13-lovely-valerie/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 17:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=845</guid>
		<description><![CDATA[Hujan baru saja usai, dan wangi tanah sesudahnya memenuhi paru-paruku, bersaing dengan samar aroma kembang sedap malam yang sudah setengah layu namun belum sempat kuganti di vas kristal tinggi langsing di sudut meja rias, bersebelahan dengan botol-botol parfum yang kukoleksi sejak bertahun-tahun yang lalu. Menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan sebanyak-banyak oksigen kemudian menghembuskannya perlahan, tiba-tiba saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F02%2F21%2F13-lovely-valerie%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F02%2F21%2F13-lovely-valerie%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hujan baru saja usai, dan wangi tanah sesudahnya memenuhi paru-paruku, bersaing dengan samar aroma kembang sedap malam yang sudah setengah layu namun belum sempat kuganti di vas kristal tinggi langsing di sudut meja rias, bersebelahan dengan botol-botol parfum yang kukoleksi sejak bertahun-tahun yang lalu.</p>
<p>Menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan sebanyak-banyak oksigen kemudian menghembuskannya perlahan, tiba-tiba saja aku merasakan ngilu yang teramat sangat di ulu hati. Di mana dia saat ini? Di mana Bre, kekasihku? Dan seolah dituntun oleh sesuatu yang tak terlihat, begitu saja tanganku merogoh selembar foto yang tersimpan rapi, tersembunyi di antara tumpukan kertas kerjaku. Fotoku bersama Bre. Rasanya aku bahkan bisa mendengar tawa Bre saat dengan setengah memaksa ia mengabadikan gambar kami berdua dengan kamera ponselnya. Foto dengan kualitas gambar seadanya, tanpa mempedulikan sedikitpun nilai-nilai estetika dan teknik fotografi yang baik, namun juga yang begitu kusukai hingga aku mencetak dan menyimpannya diam-diam hingga kini.</p>
<p>Aku merekam semuanya dengan jelas di simpul-simpul saraf, mengingat bahkan hampir semua isi perbincangan kami, pertengkaran-pertengkaran kecil yang kini terasa lucu, hingga caranya membuatku kembali tersenyum dan akhirnya terkikik sembari mengomel panjang pendek karena celetukan-celetukan bodoh dan selera humornya yang aneh dan tak biasa, setidaknya untukku.</p>
<p>Berapa purnama sudah, Bre? Berapa lama sejak pertemuan terakhir kita di Jogja yang hingga detik ini masih menyisakan luka menganga? Darah mungkin tak lagi mengalir dari lukaku, tapi sesekali, sesekali nyerinya masih terasa. Perihnya masih tertinggal, merayap menebar racun ke setiap sudut ruang hati, lantas meninggalkanku terisak sendirian.</p>
<p>Berapa lama sudah? Sedikitpun tak ada kabar, dan dengan angkuh aku juga sengaja tak pernah berusaha mencari kabar tentangnya. Kami sudah selesai, dia memintaku pergi meski aku tak ingin pergi.</p>
<p>Hujan telah benar-benar berhenti sekarang. Dengan malas, kubuka jendela kamar, mematikan AC dan kembali duduk di depan komputerku,  berusaha menulis dengan otak yang sama sekali buntu. Telah lewat sepuluh menit dan aku belum sanggup menuliskan bahkan satu kalimat pendek untuk mengawali bab baru.</p>
<p>Setengah putus asa dan merasa bahwa malam ini akan berlalu sia-sia tanpa sedikitpun tulisan yang layak disimpan sebagai draft novel, kunyalakan sebatang rokok dan beringsut ke sudut kamar, berharap menemukan sebatang coklat atau makanan di kulkas. Sedikit asupan gula mungkin berguna, pikirku.</p>
<p>Dan tepat ketika kututup pintu lemari es dan dengan hati sedikit ringan mulai mengunyah manis-pahit  Toblerone hitam yang kutemukan di sana, jantungku mendadak seolah berhenti. Lamat-lamat suara gitar, intro sebuah lagu yang aku hapal di luar kepala karena Bre selalu menyanyikan lagu ini setiap ada kesempatan, membekukan seluruh sendi tubuhku dan membuatku lumpuh. Berusaha menguatkan hati, aku menunggu, sebelah tanganku tak lagi menggenggam sebatang coklat yang baru kucicipi ujungnya. Coklat itu terjatuh begitu saja, tergeletak dengan tololnya di dekat kaki kiriku. Sebelah lenganku berusaha meraih punggung kursi, bertumpu di sana sebelum aku benar-benar jatuh lemas.</p>
<p>Betul saja. Ya Tuhan&#8230;.itu Bre. Hanya Bre yang tau lagu ini karena dia menciptakannya untukku setaun yang lalu.</p>
<p><em>Just like a falling star, you came into my life<br />
brightening you are, mesmerizing in my eyes<br />
and just like that, I fell inlove with you<br />
I can&#8217;t take you out of my mind,<br />
I can&#8217;t take you out of my mind..</em></p>
<p><em>Can you tell me, &#8220;this is true..&#8221;<br />
when I fall in love with you<br />
can you tell me, is this true?</em></p>
<p><em>Cause I&#8217;ve fell in love with you,<br />
since the first day I met you<br />
take my hands, dance with me..</em></p>
<p>Aku ingat, Bre menggerutu waktu aku tak bisa menahan tawa ketika pertama kali mendengar dia memamerkan lagu ini.</p>
<p><em>&#8220;Ya ya, ketawain aja. I wrote this song for you. Ketawain aja kalo gak kasian. Ini buat kamu, tau&#8221;.</em></p>
<p><em>&#8220;Oh? Kalo gitu kenapa judulnya bukan Lovely You atau Lovely Alrisha? Kenapa Valerie? Emang Valerie siapa?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Yah, baby. Namanya juga&#8230; Waktu nulis lyricnya, yang kepikir pertama kali memang nama Valerie. Lebih romantis dan enak didengar daripada Lovely Alrisha&#8221;</em>, ujar Bre sambil menyandarkan gitarnya di sandaran sofa.</p>
<p>Masih tersenyum-tersenyum, kutuang kopi untuknya.</p>
<p><em>&#8220;Okay, lagunya boleh juga. Beneran itu lagu buat aku? Bukan buat Arimbi?&#8221;</em></p>
<p>Dengan gemas direngkuhnya pinggangku, menjatuhkan tubuhku di sofa, menahan kedua lenganku yang terentang di atas kepalaku dan terburu-buru membukai kancing blouse merahku.</p>
<p><em>&#8220;Stop it. Stop! Bre, udah!&#8221;</em>, protesku, berusaha melepaskan diri.</p>
<p>Usaha setengah hati yang sia-sia, karena segera saja tangan Bre dengan kasar mulai merayapi setiap jengkal tubuhku dan nafasnya terasa panas di leher, dada, kemudian perutku. Nafasku memburu.</p>
<p>Lamunanku terhenti tepat ketika lagu itu berakhir, dan setengah berlari sampai-sampai nyaris menabrak meja tamu, aku menghambur ke pintu depan, membukanya serampangan dan dengan hati tak karuan menemukan Bre berdiri di sana. Gitarnya tergeletak di lantai teras.</p>
<p><em>&#8220;Alrisha&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Baby&#8230;&#8221;</em>, suaraku basah dan gemetar. Telapak tanganku lembab oleh keringat padahal aku setengah mampus kedinginan.</p>
<p><em>&#8220;Risha, aku akan menikah. Bulan depan&#8221;</em>, matanya menatapku kosong.</p>
<p><em>&#8220;Bre&#8230;&#8221;</em>, aku bertanya lewat mataku yang diam. Bre tak menjawab, tapi aku menangkap kerinduan yang bergeletar memenuhi udara di sekitar kami. Wajah kami begitu dekat.</p>
<p>Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Bre memelukku kuat-kuat, terlalu kuat, dan menyeretku masuk ke dalam rumah, membanting pintu hingga berdebam menutup dengan sebelah kakinya, kemudian menggelandang tubuhku yang lemas oleh kekagetan tak kepalang karena kedatangannya yang tak terduga, menciumiku dengan kebuasan seekor binatang yang kelaparan, ke kamar.</p>
<p><em>*thanks to <a href="http://ipoet.net/log">Putra Nasution</a> untuk kiriman lagu &#8216;Lovely Valerie&#8217;, dan inspirasi yang menyertainya.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2009/02/21/13-lovely-valerie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#11: namaku alrisha</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/06/16/11-namaku-alrisha/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/06/16/11-namaku-alrisha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 10:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/06/16/11-namaku-alrisha/</guid>
		<description><![CDATA[I never knew perfection &#8217;til I heard you speak, and now it kills me Just to hear you say the simple things Now waking up is hard to do And sleeping is impossible too Everything&#8217;s reminding me of you What can I do? Itâ€™s not right, not OK Say the words that you say Maybe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F06%2F16%2F11-namaku-alrisha%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F06%2F16%2F11-namaku-alrisha%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/06/collage6.JPG' title='collage6.JPG'><img src='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/06/collage6.JPG' alt='collage6.JPG' /></a></p>
<p><em>I never knew perfection &#8217;til<br />
I heard you speak, and now it kills me<br />
Just to hear you say the simple things<br />
Now waking up is hard to do<br />
And sleeping is impossible too<br />
Everything&#8217;s reminding me of you<br />
What can I do?</p>
<p>Itâ€™s not right, not OK<br />
Say the words that you say<br />
Maybe weâ€™re better off this way<br />
Iâ€™m not fine, Iâ€™m in pain<br />
Itâ€™s harder everyday<br />
Maybe weâ€™re better off this way<br />
Itâ€™s better that we breakâ€¦</p>
<p>A fool to let you slip away<br />
I chase you just to hear you say<br />
Youâ€™re scared and that you think that Iâ€™m insane</p>
<p>The city looks so nice from here<br />
Pity I canâ€™t see it clearly<br />
While youâ€™re standing there, it disappears<br />
It disappears</p>
<p>Itâ€™s not right, not OK<br />
Say the word it should say<br />
Maybe weâ€™re better off this way<br />
Iâ€™m not fine, Iâ€™m in pain<br />
Itâ€™s harder everyday<br />
Maybe weâ€™re better off this way<br />
Itâ€™s better that we break</p>
<p>Saw you sitting all alone<br />
Youâ€™re fragile and youâ€™re cold, but thatâ€™s all right<br />
Life these days is getting rough<br />
Theyâ€™ve knocked you down and beat you up<br />
But itâ€™s just a rollercoaster anyway, yeah</p>
<p></em><br />
(Better That We Break &#8211; Maroon 5)</p>
<p>Namaku Alrisha, 42 tahun, menikah, jatuh cinta pada puisi, buku, gunung, hujan, dan Bre.  Sedang patah hati karena ia memintaku pergi, dan aku terlalu sombong untuk kembali. Bre bukan korban. Aku bukan pelaku kejahatan. Aku hanya perempuan yang jatuh cinta, tak kuasa lari mengingkari perasaan.<br />
<a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/06/13/matahari-padam-yogya-setelah-kamu-pergi/"><br />
*cerita sebelumnya&#8230;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/06/16/11-namaku-alrisha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#9: Bre. Yogya. Luka</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/06/13/9-bre-yogya-luka/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/06/13/9-bre-yogya-luka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 05:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[18 taun ke atas]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/06/13/9-bre-yogya-luka/</guid>
		<description><![CDATA[Itu mereka. Bukan. Tak mungkin. Hadi tak akan pernah melakukan ini. Tidak dengan perempuan itu. Jangan bodoh. Itu jelas-jelas mereka. Baiklah. Kenapa tidak kita buktikan saja, kalau begitu? Tidak. Gila, kamu. Jangan. Kamu tak ingin menyakiti dirimu sendiri. Kau tak akan tersakiti. Tak satupun bisa melukaimu sekarang, Risha. Tak seorangpun bisa. Ayo, berhentilah. Hadapi mereka, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F06%2F13%2F9-bre-yogya-luka%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F06%2F13%2F9-bre-yogya-luka%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Itu mereka. <em>Bukan. Tak mungkin. Hadi tak akan pernah melakukan ini. Tidak dengan perempuan itu.</em> Jangan bodoh. Itu jelas-jelas mereka. <em>Baiklah. Kenapa tidak kita buktikan saja, kalau begitu? </em>Tidak. Gila, kamu. Jangan. Kamu tak ingin menyakiti dirimu sendiri. <em>Kau tak akan tersakiti. Tak satupun bisa melukaimu sekarang, Risha. Tak seorangpun bisa. Ayo, berhentilah. Hadapi mereka, yakinlah tak akan terjadi apa-apa.</em><br />
Suara-suara di kepalaku terus saja berdengung, menebak-nebak, saling memengaruhi, semua merasa paling benar. Tanpa berpikir lebih lama, aku meminta Pak Imam sopir kami berhenti beberapa meter di depan mereka, memintanya menunggu beberapa menit sebelum mengantarku pulang. </p>
<p>Entah kekuatan apa yang membuatku begitu tenang, nyaris mati rasa, ketika dengan langkah ringan aku menghampiri mereka, suamiku dan perempuan yang dengan mesra sedang memeluk pinggangnya. Aku melihat Hadi, suamiku, ayah anak-anakku, mengatakan sesuatu yang dijawab oleh perempuan itu dengan tersipu-sipu, rona merah di wajahnya yang putih.</p>
<p>&#8220;Papa? Hai, Andin. Apa kabar?&#8221;</p>
<p>Mereka membeku di tempat mereka berdiri, tak sempat lagi berkelit atau berpura-pura tak ada yang terjadi. Dan aku merasa kosong, tidak sedih, tidak marah, tidak juga perasaan lain. Kosong. Seharusnya bisa lebih dramatis kejadiannya, batinku, tertawa dalam hati. Mestinya aku meraung-raung histeris, memaki mereka berdua dengan kata-kata kotor dan menjadikan kami bertiga tontonan gratis bagi para pejalan kaki di sekitar situ. Tapi tidak, aku memang tak bisa merasakan apa-apa lagi. </p>
<p>&#8220;Ma, akan kujelaskan&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan mataku, aku mengisyaratkan bahwa Hadi tak perlu bicara apa-apa. Tidak sekarang.</p>
<p>&#8220;<em>It&#8217;s okay</em>. Aku mengerti. Kita akan bicara nanti. Andin, aku pergi dulu, ya?&#8221;</p>
<p>Tersenyum, kulambaikan tangan kepada mereka berdua yang masih terpaku seolah-olah baru saja berpapasan dengan hantu.</p>
<p>Di rumah.</p>
<p>â€œBaby, tawaran berliburnya  masih berlaku?â€, tanyaku tanpa basa basi. </p>
<p>Bre di ujung telepon, tertawa renyah.</p>
<p>â€œMasih. Kenapa, sayang?â€</p>
<p>â€œIkut. Aku ikut.â€</p>
<p>                                         ****************</p>
<p><em>Sheraton Mustika Hotel, Yogyakarta, tiga hari kemudian.</em></p>
<p>Bre membukakan pintu untukku, tersenyum lebar menyambutku yang tak sabar menghambur memeluknya, dan aku terpejam merasakan bibirnya di bibirku, menciumku penuh-penuh sampai nyaris tersedak kehabisan napas.</p>
<p>â€œAku senang kamu mau datang, Rishaâ€, bisiknya setelah satu ciuman panjang yang menerbangkanku ke awang-awang. Aku tertawa, membiarkan Bre tetap memelukku, tangannya membelai punggungku.</p>
<p>â€œKupikir kamu marah kemarin waktu aku bilang aku tidak bisa pergi.â€</p>
<p>â€œAku marah, tapi sudahlah. <em>Youâ€™re here</em>, aku tidak ingin bertengkar lagi.â€</p>
<p>â€œAku juga. Dan kita akanâ€¦jalan-jalan?â€</p>
<p>â€œYup. Jalan-jalan, belanja, bersenang-senang, <em>and weâ€™ll make love. We&#8217;ll make love like never before</em>,â€ katanya.</p>
<p>â€œ<em>Oh, shut up</em>.â€</p>
<p>Bre terbahak. Aku selalu suka mendengar caranya tertawa.</p>
<p>                                                     ***************</p>
<p>Langit pukul lima sore masih menyisakan semburat keemasan yang menyilaukan, menembus kaca jendela kemudian memantul lembut, mengirimkan perasaan teduh dan  hangat ke seluruh ruangan. Lama sekali sampai  akhirnya Bre bersuara.</p>
<p>&#8220;Apa yang membawamu ke sini, Risha?&#8221;</p>
<p>Perlu beberapa saat sebelum aku berhasil mengumpulkan keberanian, menceritakan apa yang kulihat terjadi dan begitu nyata di depan mataku kemarin, di sebuah ruas jalan yang panas dan bising di Jakarta. </p>
<p>&#8220;Suamiku. Suamiku dan Andin. Mereka terlibat sesuatu, mungkin sudah sejak lama. Kamu ingat Andin, Bre? Kamu sempat berdansa dengannya malam itu di pesta ulang tahun suamiku, malam pertama kali aku mengenalmu&#8221;</p>
<p>&#8220;Andin? Andin yang itu? Oh, my God! Baby&#8230;&#8221; Bre memelukku lebih erat.</p>
<p>&#8220;<em>I know</em>. Aku juga kaget. Tapi yang lebih mengejutkan, aku tidak merasakan apa-apa, bahkan sedikit cemburu pun tidak. Menurut kamu, ini normal, Bre?&#8221; aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menghalau kegelisahan dan rasa tidak nyaman, bercerita tentang pengkhianatan yang dilakukan Hadi,  suamiku.</p>
<p>&#8220;Kamu cemburu, baby. Pasti. Kamu hanya takut mengakui bahwa suamimu tidur dengan perempuan lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm. Mungkin. Tapi bukankah aku juga tidur dengan lelaki lain? Sepertinya cemburu sangat tidak masuk akal, ya? Konyol sekali,&#8221; aku tertawa getir, memainkan anak-anak rambut yang terjuntai di dahinya dengan penuh sayang.</p>
<p>Kerinduanku nyaris tak tertahan, tapi aku belum  ingin bercinta sekarang. Itu bisa menunggu. Saat ini, aku hanya ingin berada dalam pelukannya, merasakan kulit kami bersentuhan, mendengar jantungnya yang berdegup kencang.</p>
<p>â€œKemana kita setelah ini, Bre?â€ tanyaku, letih.</p>
<p>â€œKamu tau kemana. Aku ingin kita menikah, Risha. Aku mencintaimu.â€</p>
<p>â€œKita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Tidak, Breâ€.</p>
<p>Bre menghela napas, melepas lengannya yang melingkari tubuhku, menatapku tak mengerti.</p>
<p>â€œKenapa? Apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya niat baikku?â€</p>
<p>â€œAku percaya, Bre. Aku sepenuhnya percaya. Tapi kenapa kita harus menikah?â€</p>
<p>â€œRisha, apa sih, yang tidak kamu mengerti? <em>I love you</em>. Coba katakan, apa yang menahanmu sekarang setelah kamu tahu tentang  Andin?â€</p>
<p>â€œ<em>No, baby. Please</em>. Kamu tau aku tak akan membiarkanmu mengambil keputusan yang akan sama-sama kita sesali satu hari nanti.â€</p>
<p>â€œMenyesal? Apa maksudmu? Aku laki-laki, Risha. Aku cukup dewasa untuk tahu apa yang kuinginkan. Seluruh dunia boleh menertawai dan menganggapku gila, jatuh cinta kepadamu, tapi tak ada yang lebih kuinginkan selain memilikimu. Izinkan aku menjadi pemenang kali ini, baby.â€</p>
<p>â€œDan Arimbi. Bagaimana dengan dia?â€</p>
<p>â€œSudah berakhir. Dia menemukan foto-foto kita, call register dan sms-sms di hapeku. Dia tahu semuanya. Please, Risha. <em>Weâ€™ve gone this far. </em>Apa lagi yang kita tunggu?â€</p>
<p>Lembut kusentuh pipinya, menatapnya penuh cinta, kemudian berkata dengan sangat hati-hati, berusaha sebisa mungkin menghentikan niat sintingnya tanpa harus melukai egonya.</p>
<p>â€œBre, dengar. Kita tidak akan menikah. Aku empat puluh tiga tahun sebentar lagi. Tidak, Bre. Aku mencintaimu, tapi jawabanku tetap tidak. Kamu akan menemukan perempuan yang lebih pantas untukmu. Percayalah. Sssshhâ€¦dengar dulu,â€ aku mencegahnya menyela kalimatku.</p>
<p>â€œKamu masih sangat, sangat muda. Berhentilah berpikir bahwa aku cinta sejatimu. Jalanmu masih sangat panjang. Kamu bisa dapatkan gadis mana saja yang kamu mau, Bre. Akan tiba saatnya kamu menemukan belahan jiwamu yang sesungguhnya.â€</p>
<p>Sontak rautnya berubah. Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, dia bangkit dari tempat tidur dan terburu-buru menyalakan sebatang rokok kemudian berdiri membelakangiku. Sakit sekali melihatnya seperti itu. Rasanya seperti membelah jantungku sendiri, membiarkannya berdarah dan perlahan-lahan mati.</p>
<p>Beberapa menit berlalu. Dia diam, aku juga tak tahu harus bicara apa lagi. Menit-menit yang terasa pahit, keheningan yang mengintimidasi hingga akhirnya Bre mematikan rokok yang baru setengah batang dihisapnya, dan dengan ekspresi tak tertebak, kudengar lagi suaranya,  nyaris berbisik.</p>
<p>â€œPergilah, Risha. Aku tidak menginginkan kamu lagi. Tidak kalau aku hanya menjadi boneka mainanmu seperti ini. Pergilah. Aku tak ingin melihatmu di sini.â€</p>
<p>â€œMainan?!  Mainan, kamu bilang??! <em>How dare you! You know I love you</em>, tapi menikah denganmuâ€¦ Ini gila, Bre. Aku tidak bisa,â€ aku meledak, kesabaranku habis sudah.</p>
<p>Dia menatapku dingin. Hanya beberapa detik sebelum kemudian memalingkan muka, menghindari menatap mataku yang mulai basah.</p>
<p>â€œPergilah. Jangan katakan apa-apa lagi. <em>Please just leave</em>.â€</p>
<p>â€œBre&#8230;.â€</p>
<p>â€œGO AWAY!â€ raungnya kasar, membelah udara dengan kebencian dan luka yang tak mampu dia sembunyikan.</p>
<p>Dan aku pergi. Aku pergi. Kujejalkan beberapa potong baju sekenanya ke dalam travel bag, dan tanpa berkata apa-apa lagi, sambil menyeka sudut mata dengan punggung tanganku yang sedingin es, aku meninggalkan Bre di sana, di sebuah kamar hotel yang mestinya kami tempati dua malam lagi.</p>
<p>note:<br />
<a href="http://venus-to-mars.com/2008/03/03/cerita-kemarin/">#1: cerita kemarin</a><br />
<a href="http://venus-to-mars.com/2008/03/04/perempuan-kedua/">#2: perempuan kedua</a><br />
<a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/03/05/senja-di-atas-kereta/">#3: senja di atas kereta</a><br />
<a href="http://venus-to-mars.com/2008/03/06/kalah/">#4: kalah</a><br />
<a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/04/02/selamat-ulang-tahun-arimbi-aku-pergi/">#5: selamat ulang tahun, arimbi. aku pergi</a><br />
<a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/05/27/selamat-ulang-tahun-arimbi-aku-pergi-2flashback/">#6: selamat ulang tahun, arimbi (flashback)</a><br />
<a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/06/02/batas/">#7: batas</a><br />
<a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/06/02/batas/">#8: batas?</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/06/13/9-bre-yogya-luka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#8: Batas?</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/06/11/8-batas/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/06/11/8-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 16:33:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/06/11/8-batas/</guid>
		<description><![CDATA[Try. Try to understand what I say when I say I can&#8217;t stay. message sending failed *cerita sebelumnya&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F06%2F11%2F8-batas%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F06%2F11%2F8-batas%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Try. Try to understand what I say when I say I can&#8217;t stay.<br />
<em>message sending failed</em></p>
<p><a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/06/02/batas/"><br />
*cerita sebelumnya&#8230;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/06/11/8-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lakon satu babak</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 17:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/</guid>
		<description><![CDATA[Ini dongeng pengantar tidurmu malam ini, tuan. Cerita perjalanan seorang perempuan. Telah lelah ia berlari mengejar pelangi. Ia berharap pada pagi, malam hingga pagi lagi, juga senja yang sejenak singgah hanya untuk mengantarnya, sekali lagi, mengarungi malam. Masih ditahankannya penat karena perempuan itu percaya, esok atau esoknya lagi akan digenggamnya selarik warna biru, hijau, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F26%2Flakon-satu-babak%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F26%2Flakon-satu-babak%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ini dongeng pengantar tidurmu malam ini, tuan. Cerita perjalanan seorang perempuan. Telah lelah ia berlari mengejar pelangi. Ia berharap pada pagi, malam hingga pagi lagi, juga senja yang sejenak singgah hanya untuk mengantarnya, sekali lagi, mengarungi malam. Masih ditahankannya penat karena perempuan itu percaya, esok atau esoknya lagi akan digenggamnya selarik warna biru, hijau, dan lila, menetes ke telapaknya, kemilau serupa permata, jelmaan titian para bidadari.</p>
<p>Kemudian suatu siang saat matahari begitu garang, nyaris membutakan, ketika ketika kedua kakinya tak kuasa menapak, sekujur tubuhnya basah bermandi peluh, dan disangkanya sedikit lagi ia akan sampai di akhir kehidupan, ia berpapasan dengan seseorang. Seorang lelaki, tuan. Yang konon lahir saat laut pasang dan ombak bergulung-gulung menghantam garis pantai, berwajah rupawan dengan otot dada dan lengan yang liat, yang kulitnya indah berwarna tembaga. Lelaki itu menangkapnya tepat sesaat sebelum si perempuan terpuruk jatuh di bentangan cadas yang panas terpanggang di padang gersang. Lamat-lamat didengarnya lelaki itu mendendangkan sebuah tembang, keindahan yang musykil dan abstrak, sebentuk suara asing yang seolah datang dari negeri yang jauh, dengan bahasa yang belum pernah didengarnya. Lelaki itu memeluk sembari terus membisikkan kidung ajaibnya. Dan perempuan itu jatuh hati begitu saja. Pada rautnya, kulitnya yang sewarna tembaga, barangkali juga lengan-lengannya yang kuat mendekap. Pada aroma tubuhnya.</p>
<p>Lakon selanjutnya, tuan pasti sudah paham. Perempuan itu, yang wajahnya pias oleh duka berabad-abad kembali merona oleh darah kehidupan yang lelaki itu tawarkan. Ia mabuk hanya dengan memandang matanya yang berpendar-pendar mengisyaratkan cinta. Yang perempuan itu lupa, mencintai bisa membuat mata hatinya buta. Lelaki itu seolah menggenapinya, membuat perjalanan terasa sempurna. Terlihat sempurna. Tanpa sedikit pun cela. Sampai suatu malam, berhembus kabar dari penjuru yang entah. Lelaki yang dipujanya, tuan, ternyata tak seelok wajahnya. Ia lahir bukan saat purnama dan laut pasang. Ia jelmaan api, terpercik dari pusat galaksi kemudian mewujud lelatu di pucuk pohon-pohon randu. Racunnya terasa madu, onak duri dibuatnya seindah rangkaian worawari. </p>
<p>Tertebakkah akhir cerita ini, tuan? Suatu pagi saat embun bahkan belum pergi, perempuan itu ditemukan tergeletak tak jauh dari ujung pelangi. Wajahnya lesi. Di jantungnya tertancap sebilah belati. Udara mendadak beku, menguarkan bau mayit dan kembang tujuh rupa yang menggigilkan tulang.</p>
<p>Berkubang darah, tergerus oleh ketololannya sendiri, perempuan itu&#8230;.mati.</p>
<p><em>*terima kasih buat <a href="http://ndorokakung.com/2008/04/23/senja-pecas-ndahe-3/">ndoro</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8230;</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/04/12/606/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/04/12/606/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 02:38:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[18 taun ke atas]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[insanity]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[lagi goblok]]></category>
		<category><![CDATA[sadness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/03/29/606/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Gimana sih cara menghapus dendam? Dosa gak kalo saya masih menyimpannya jauuuuh banget di dalem?&#8221; Belajarlah memaafkan, jawabku. &#8220;Fiuhh&#8230;life sucks&#8221; Yeah it does sometimes. Yang sabar ya&#8230;, kataku lagi, berharap perbincangan selesai sampai di sini. &#8220;Makasih. Saya ditemani bercangkir-cangkir kopi, setumpuk pekerjaan, U2, sesak di kepala, sakit jiwa&#8230;what a perfect night. Met istirahat, semoga malammu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F12%2F606%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F12%2F606%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<blockquote><p> &#8220;Gimana sih cara menghapus dendam? Dosa gak kalo saya masih menyimpannya jauuuuh banget di dalem?&#8221;</p>
<p>    Belajarlah memaafkan, jawabku.</p>
<p>    &#8220;Fiuhh&#8230;<em>life sucks</em>&#8221;</p>
<p>    <em>Yeah it does sometimes</em>. Yang sabar ya&#8230;, kataku lagi, berharap perbincangan selesai sampai di sini.</p>
<p>    &#8220;Makasih. Saya ditemani bercangkir-cangkir kopi, setumpuk pekerjaan, U2, sesak di kepala, sakit jiwa&#8230;<em>what a perfect night</em>. Met istirahat, semoga malammu indah dan berbintang&#8221;</p>
<p>    Hahah, malamku selalu berbintang. Selamat tidur, <em>dear</em>.</p></blockquote>
<p>Yang kau tak pernah tau, kawan, di langitku malam ini tak ada bintang. Dan aku terbakar cemburu. Kekasihku lebih suka melewati malam bersama perempuan itu. </p>
<p>Perempuannya.</p>
<p><em>note: entry yang pernah saya proteksi karena agak sensitif dan agak2 gimana gitu. ga ada judulnya karena memang ga nemu judul yg pas, dan saya lagi males mikir. fiksi atau bukan, ya silakan diartiin sendiri aja lah. saya gak mau bilang. dibilangin lagi males mikir, hahahah&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/04/12/606/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#4: kalah</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/03/06/kalah/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/03/06/kalah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Mar 2008 12:22:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[18 taun ke atas]]></category>
		<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/03/06/kalah/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah kau rasakan cinta yang begitu dalam, begitu kuat mencengkeram dan menguasai, yang membuatmu bahagia tapi di detik yang sama membuatmu perih seakan sebilah belati ditancapkan seseorang tepat di jantungmu? Pernah? Aku mencintaimu, Risha. Cinta yang nyaris memuja dan membuatku bersedia melakukan apa saja untuk membuatmu mencintaiku dengan pemujaan yang sama. Barangkali terdengar konyol mirip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F03%2F06%2Fkalah%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F03%2F06%2Fkalah%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Pernah kau rasakan cinta yang begitu dalam, begitu kuat mencengkeram dan menguasai, yang membuatmu bahagia tapi di detik yang sama membuatmu perih seakan sebilah belati ditancapkan seseorang tepat di jantungmu? Pernah? </p>
<p>Aku mencintaimu, Risha. Cinta yang nyaris memuja dan membuatku bersedia melakukan apa saja untuk membuatmu mencintaiku dengan pemujaan yang sama. Barangkali terdengar konyol mirip sinetron-sinetron kejar tayang yang tak pernah kau tonton, tapi inilah yang kurasakan sekarang. </p>
<p>Kau matahariku, embun pagiku, mawar, oksigen, racun, pelangi, badai salju, malaikat, dan iblisku. Kau oase di teriknya siang, kemilau di gemerlap malam. </p>
<p>Risha, aku lelah. Aku bosan menjadi kekasih rahasiamu, aku benci harus terus menerus bersembunyi. Maafkan aku, tapi belakangan, ini semua membuatku merasa terhina, merasa kalah. Aku ingin dengan leluasa pergi berdua denganmu seperti yang dilakukan orang-orang lain. Nonton, makan, jalan-jalan, belanja, atau sekadar mengantarmu ke salon. Aku ingin dengan bangga memamerkanmu kepada dunia. Menggandeng mesra tanganmu, bahkan menciummu di tempat-tempat umum kalau perlu.</p>
<p>Maukah kau menikah denganku?</em></p>
<p>Perlahan kulipat kembali surat yang ditinggalkan Bre untukku sebelum dia pulang. Satu di antara sekian banyak surat-surat singkat, biasanya hanya berisi ungkapan-ungkapan cinta sederhana, ritual manis yang selalu dilakukannya di setiap akhir pertemuan. Dengan amat hati-hati dan tangan gemetar, kusimpan surat itu di dalam dompet untuk kubaca lagi nanti sebelum kusobek menjadi serpihan-serpihan kecil dan kubuang ke tempat sampah.</p>
<p><em>Menikah?</em> Dia pasti sudah gila. Dia lupa, suatu saat dulu kami pernah sama-sama berjanji untuk tau diri dan tak meminta lebih dari apa yang bisa kami miliki. Memintaku menjadi istrinya sungguh suatu gurauan bodoh dan sama sekali tak lucu.</p>
<p>Dan sebelum aku sempat berpikir jernih dan mencerna semuanya, suara suamiku terdengar di balik pintu kamar.</p>
<p>&#8220;Ma? Buruan dikit, dong. Udah siang, nih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya. Dikit lagi beres. Lima menit lagi, ya?&#8221;</p>
<p>Sudah seminggu ini ketiga gadis kecilku menginap di rumah mertuaku di Bogor. Pagi ini kami akan menjemput mereka ke sana karena besok lusa mereka mulai masuk sekolah.</p>
<p>Anak-anakku. Kalau bukan karena mereka, pasti sudah sejak lama aku menyerah. Pada saat-saat terburuk, saat aku mulai berpikir untuk pergi meninggalkan semuanya, hanya suara dan tawa merekalah yang membuatku berpikir seribu kali lagi, menimbang-nimbang, untuk akhirnya pasrah. Aku tak bisa pergi. Tak mungkin kubunuh mimpi anak-anakku sendiri, tak akan sanggup kupadamkan keceriaan dan kepolosan di mata mereka. Kalau hidup memang soal pilihan, aku memilih untuk menyimpan sendiri semua masalah agar aku tetap bisa tertawa dan berpura-pura bahagia di depan mereka, malaikat-malaikat kecilku. Untuk anak-anakku, apapun akan kulakukan, bahkan jika harus kukorbankan kebahagiaan dan mimpi-mimpiku.</p>
<p>Dan Bre. Lelaki yang hampir setahun ini kutemui diam-diam, yang dengannya aku merasa kembali utuh sebagai perempuan. Tapi tentu tak bisa begitu saja kutinggalkan suamiku untuk seorang Bre, yang selisih usianya denganku nyaris dua puluh tahun. Aku mencintainya, tapi cinta saja tak cukup, bukan? Dan sekarang, sekarang dia bilang ingin menikahiku. Sinting. Padahal sudah berkali-kali kami bicara tentang ini. Hubungan seperti ini memang tak akan kemana-mana. Pasrah saja lah. Nikmati apa yang bisa kau nikmati, reguk semua kesenangan kalau perlu sampai muntah. Sejauh ini tak pernah ada masalah, kami sama-sama mengerti dan tak pernah menuntut atau menginginkan lebih. Sampai kemarin.</p>
<p>Masih di jalan tol yang tak terlalu ramai saat lamunanku terputus oleh getar handphone di tas tangan di atas pangkuanku. Sms. Pasti dari dia.</p>
<p><em>From: +6285659324266<br />
Baby, lg dmn? Can I call you? Pls, we hv 2 talk.</em><br />
<em><br />
To: +6285659324266<br />
Jgn sekarang. I&#8217;ll call u. 15 mnt lg, k? Pls do not reply. He&#8217;s around.</em></p>
<p>Telapak tanganku basah oleh keringat dingin, tegang sekali menyadari bahwa lima belas menit dari sekarang, Bre akan memintaku menjawab pertanyaan ngawurnya yang dia sampaikan lewat surat kemarin. Aku tak tau harus menjawab apa. Dan dia tak akan berhenti bertanya sampai semuanya jelas. Aku kenal sekali wataknya.</p>
<p>Di toilet, saat keluarga besar suamiku sedang berkumpul di teras depan, dengan jantung berdegup tak karuan, aku menelepon Bre.</p>
<p>&#8220;Halo. Risha?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bre, suratmu&#8230;kamu tau aku gak bisa, Bre.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?<em> I know you love me. Marry me, baby.</em> Kita akan bahagia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bre, <em>please</em>&#8230;.ngertiin dong, Bre..&#8221;</p>
<p>&#8220;Risha, aku memang masih muda, dan aku tidak sekaya suamimu, si brengsek itu. Tapi aku udah lulus kuliah, udah kerja, dan aku akan bisa menghidupi kamu dan anak-anakmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan. <em>You can&#8217;t do this to me</em>, Bre..&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Do what?</em> Aku ingin kita menikah. Aku capek begini terus, baby. Ngerti gak, sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bre, <em>listen</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>No. You listen. I&#8217;m asking you to marry me.</em> Dan aku mau kamu menjawabnya sekarang.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini pertahananku runtuh. Tangis yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh menjadi butir-butir air mata dan membuat suaraku pecah.</p>
<p>&#8220;Bre, maafkan aku. Kita pernah bicara soal ini, dan kamu tau banget, kita gak mungkin&#8230;&#8221;</p>
<p><em>Klik.</em> </p>
<p>Bre sudah menutup teleponnya sebelum kalimatku selesai. Sebelum sempat kukatakan bahwa aku juga mencintai dan ingin bersamanya, dan bahwa aku tak ingin menyakiti anak-anakku dengan memisahkan mereka dari ayahnya. Anak-anakku berhak mendapat kebahagiaan dan masa kecil yang utuh. Perpisahan kedua orang tuanya akan menyisakan luka batin yang akan mereka bawa hingga dewasa.</p>
<p>Seminggu kemudian, di sebuah kamar hotel, aku menunggunya. Menunggu Bre, kekasihku. Dia ingin kami bertemu dan bicara, barangkali untuk yang terakhir kali. Dan aku benar-benar tak mampu menahan kesedihan saat melihatnya melewati pintu kamar, berdiri menjulang di hadapanku dengan raut dan ekspresi terluka yang membuat dadaku nyeri. Lalu begitu saja aku menghambur ke dalam pelukannya, membiarkan diriku sendiri menangis sesenggukan dalam rengkuhannya yang begitu erat seolah tak ingin melepaskanku lagi. Dan aku merasakan Bre menangis, putus asa dan kalah, menyurukkan wajahnya ke rambutku.<br />
<em><br />
&#8220;I love you, Baby. I&#8217;ve always loved you.&#8221;</em><br />
<em><br />
&#8220;I love you, too, Bre. I love you so much it hurts.</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>I can&#8217;t lose you now</em>, Risha. Aku gak bisa.&#8221;</p>
<p>Dan aku masih terus menangis saat perlahan-lahan dia menggiringku ke tempat tidur, merebahkanku dengan amat lembut seolah-olah khawatir sedikit saja gerakan yang terlalu kasar akan mematahkan tulang-tulangku. Kurasakan lidahnya menjelajahi leherku, dan aku masih terisak.<br />
<em><br />
&#8220;Make love to me, Bre. Make love to me&#8230;&#8230;..</em>&#8221;</p>
<p>**episode sebelumnya, <a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/03/05/senja-di-atas-kereta/">baca di sini.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/03/06/kalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#2: perempuan kedua</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/03/04/perempuan-kedua/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/03/04/perempuan-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Mar 2008 13:10:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[18 taun ke atas]]></category>
		<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/03/04/perempuan-kedua/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Setan&#8221;, umpatku pelan. Sudah tiga jam menunggu, tapi laki-laki sialan itu belum menelepon juga. Kemana sih, dia? Perlahan kusingkirkan cangkir berisi kopi dingin yang masih tersisa setengahnya, dan menyulut jatah rokok terakhir malam ini. Aku sebal menunggu. Tiga jam, bayangkan. Dia berjanji langsung mengabariku begitu kereta api yang ditumpanginya sampai di Surabaya. Mestinya sudah dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F03%2F04%2Fperempuan-kedua%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F03%2F04%2Fperempuan-kedua%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>&#8220;Setan&#8221;, umpatku pelan.</p>
<p>Sudah tiga jam menunggu, tapi laki-laki sialan itu belum menelepon juga. Kemana sih, dia? Perlahan kusingkirkan cangkir berisi kopi dingin yang masih tersisa setengahnya, dan menyulut jatah rokok terakhir malam ini. Aku sebal menunggu. Tiga jam, bayangkan. Dia berjanji langsung mengabariku begitu kereta api yang ditumpanginya sampai di Surabaya. Mestinya sudah dari tadi dia berada di rumah.</p>
<p>Lampu kamar sudah kumatikan, dan seluruh ruangan kini bertabur sinar berwarna kuning pucat dari lampu meja kecil di sebelah tempat tidur yang belum sempat kurapikan. Tepatnya, sengaja tak kurapikan karena aku selalu menyukai aroma keringat lelaki sialan itu yang masih menempel di sprei dan sarung bantal yang kusut masai berantakan, seolah sengaja ia tinggalkan di situ, menjadi semacam jejak atau apalah namanya. Aku menyukainya. Membaui sisa-sisa percintaan kami tadi malam membuatku merasa&#8230;..nakal. Merasa bergairah, dan karena sesuatu yang tak terjelaskan, membuatku merasa menang. Menang atas apa, siapa, atau untuk apa, entahlah. </p>
<p>Dan layar monitor yang berkedip-kedip di meja kerja di depanku tiba-tiba saja membuatku muak. Baru juga mau masuk bab dua, tapi semua inspirasi mendadak seperti diterbangkan angin entah kemana. Di kejauhan, teriakan penjaja nasi goreng langgananku terdengar semakin samar-samar. Aduh, jam berapa sih, ini? Kenapa dia belum menelepon juga?</p>
<p>&#8220;Setan&#8221;, aku memaki lagi. Kali ini hanya dalam hati. </p>
<p>Baru saja merebahkan diri di sisi kanan ranjang, sisi<em>nya</em>, sisi di mana lelaki itu tidur dalam dekapanku semalaman dan mencoba membayangkan lagi sosok dan wajah lucunya yang mebuatku mabuk, tiba-tiba telepon genggamku berteriak nyaring mengagetkan dan membuyarkan gambar-gambar yang mulai tersusun di benakku. Dan sebelum dering kedua, aku segera menyambar dan menjawab tergesa.</p>
<p>&#8220;Halo. Bre? Udah nyampe? Ini lagi di mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hai. Udah di rumah, Baby. Baru juga nyampe.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaela. Jam segini? Emang keretanya telat, gitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gak, sih. Cuma tadi aku langsung ke toko buku, nyari kado. Besok Arimbi ulang taun. Lupa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, okay.&#8221;</p>
<p>Dia pasti mendengar nada cemburu dalam &#8216;oh, okay&#8217;-ku tadi. Biarin. Sebel.</p>
<p>&#8220;Nah kan&#8230;ngambek lagi deh. Udah ah. Cape berantem mulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yeeeee&#8230;.gila ya pake ngambek-ngambekan? Gak lah. Udah makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Udah tadi di jalan. Kamu udah makan? Gak boleh sakit. Inget yang aku bilang tadi pagi, kan? Jangan sakit. Ya sayang, ya?&#8221;</p>
<p>Aku tersenyum. Cara bicaranya yang lembut selalu membuatku meleleh, lupa akan sekian jam kegelisahan yang menyesakkan dan kejengkelanku saat mendengar dia menyebut nama Arimbi.</p>
<p>&#8220;Udah, udah makan sedikit. Dipaksain nelen daripada kamu omelin&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Good</em>. Udah ya? Besok kita ngobrol lagi. <em>And baby&#8230;.I love you</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Love you, too. Bye,</em> Bre&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dan yang tadi malam, <em>it was great</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha&#8230;sialan. Udah, sana. <em>Bye</em>.&#8221;</p>
<p>Aku masih sempat mendengar tawanya di ujung sana sebelum kututup telepon dan bangkit untuk menyalakan lampu kamar. Perlahan kubuka jendela dan membiarkan udara malam yang basah menerobos masuk, memenuhi paru-paruku, menikmati rasa hangat yang membuncah setelah pertemuan kesekian dengannya. Perjumpaan yang hanya satu malam, selalu hanya satu malam yang kami curi dari hidupnya dan dari kehidupanku sendiri. Hah, aku tertawa pahit. Satu malam yang tak cukup panjang untuk menuntaskan rinduku, atau barangkali juga rindunya padaku. Tapi benarkah dia rindu? Benarkah bukan sekadar keinginan menggebu untuk bercumbu dan melumat tubuhku  yang membawanya ke sini setiap dua minggu sekali, mencari alasan-alasan berbeda setiap kali kepada Arimbi, kekasihnya?</p>
<p><em>Bre. Bre.</em> Aku membisikkan namanya berkali-kali dan merasakan sensasi aneh yang seolah menguar dari pori-poriku tiap kali aku mengingatnya. </p>
<p><em>Bre.</em> </p>
<p>Ah, aku butuh kopi. Dan rokok, walaupun aku benci merokok setelah menggosok gigi sebelum tidur. </p>
<p>Yak. Cangkir kopi kedua malam ini. Atau ketiga, ya? Aku lupa. Hmmm&#8230;&#8230;kopi dan rokok. <em>Perfect</em>. Kemudian kunyalakan CD player di sudut kamar, mengatur volumenya supaya tak terlalu merusak keheningan malam. <em>Splender. I Think God Can Explain.<br />
</em><br />
<em>There&#8217;s a lot of things I understand<br />
And there&#8217;s a lot of things that I dont want to know<br />
But you&#8217;re the only face I recognize<br />
It&#8217;s so damn sweet of you to look me in the eyes</p>
<p>It&#8217;s all right, I&#8217;m ok<br />
I think God can explain<br />
I believe&#8230;.</em></p>
<p><em>Damn!</em> Lagu favorit kami berdua, lagu yang membuatku menahan napas tiap kali mendengarnya diputar. </p>
<p><em>Tuhan,</em> bisikku. <em></p>
<p>Tuhan, kalau Kau memang ada di atas sana atau seperti mereka katakan Kau ada dan mengalir di tiap tetes darahku, jelaskan padaku, apa rencana-Mu? Apa yang membuatMu memutuskan untuk membuat kami bertemu dan tak sengaja berkenalan di sebuah pusat perbelanjaan pada suatu senja yang merah di Jakarta? Kenapa Kau biarkan kami jatuh dalam sesuatu yang tadinya kami sangka hanya cinta sesaat tapi kemudian kami sama-sama terlambat menyadari bahwa kami telah terjebak dalam hubungan aneh, cinta yang aneh, yang serupa pusaran air raksasa yang menyedot kami dengan deras dan tiba-tiba ke pusatnya tanpa kami bisa melawan? Apa mauMu, Tuhan? Kalau memang harus menjadi perempuan pendosa, kenapa harus kepada Bre aku jatuh cinta? Demi surga dan neraka, tak Kau lihatkah, bahkan kami pun jengah dan membenci perbedaan yang terbentang tanpa ampun di antara kami? Tak mungkin Kau lupa bahwa aku perempuan empat puluh dua taun dengan suami dan kehidupan yang mapan dan dia baru akan memasuki usia ke dua puluh tiga beberapa bulan lagi, bukan?</em></p>
<p>Kuhirup tegukan kopi terakhir tepat saat kudengar suara musik lembut, <em>sms alert</em> dari telepon genggam di depanku.<br />
<em><br />
&#8220;Baru nyampe bandara. Ada makanan di rumah?&#8221;</em></p>
<p>Suamiku.</p>
<p><em>**<a href="http://tukangkopi.wordpress.com">yudhis</a>, ayo buruan lanjutin, ga pake lama! hyahaha&#8230;emang enaakkk????<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/03/04/perempuan-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#1: no title</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/03/03/cerita-kemarin/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/03/03/cerita-kemarin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Mar 2008 11:49:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[18 taun ke atas]]></category>
		<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/03/03/cerita-kemarin/</guid>
		<description><![CDATA[Hujan masih deras di luar. Tapi entahlah, sepertinya memang hujan, atau cuma gerimis, atau justru matahari sedang bersinar dengan garang, aku tak benar-benar tau. Tak peduli. Aku lebih suka bergelung di balik selimut, melindungi kulitku yang telanjang dari serbuan udara dingin AC kamar, meringkuk mencari kehangatan dalam pelukanmu yang nyaman sambil diam-diam menghitung dalam hati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F03%2F03%2Fcerita-kemarin%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F03%2F03%2Fcerita-kemarin%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hujan masih deras di luar. Tapi entahlah, sepertinya memang hujan, atau cuma gerimis, atau justru matahari sedang bersinar dengan garang, aku tak benar-benar tau. Tak peduli. Aku lebih suka bergelung di balik selimut, melindungi kulitku yang telanjang dari serbuan udara dingin AC kamar, meringkuk mencari kehangatan dalam pelukanmu yang nyaman sambil diam-diam menghitung dalam hati berapa menit lagi waktu tersisa sebelum malam jatuh dan memaksaku pulang. Telepon genggamku berdering-dering sejak tadi, dan kita pura-pura tak mendengar, membiarkan deringnya berhenti setelah beberapa kali tak mendapat jawaban.</p>
<p><em>&#8220;Siapa?&#8221;</em><br />
<em><br />
&#8220;Gak tau, biarin aja.&#8221;</em></p>
<p>Dan kamu tersenyum, mencium lembut puncak kepalaku, membelai pipiku kemudian di bawah selimut tanganmu yang lain kembali menjelajah nakal, tak peduli protes pura-pura dan omelanku.</p>
<p><em>&#8220;Sayang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku gak pengen pulang&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalo gitu gak usah pulang. Di sini aja. Berani?&#8221;</em></p>
<p>Pertanyaan yang kita sudah tau jawabannya. Pertanyaan yang membuatku menyembunyikan tangis dan berpura-pura sibuk mencari pakaian dalam yang terberai entah kemana, membiarkanmu menertawai serapahku. Tentu saja aku tak bisa tinggal. Aku harus pulang dan menyiapkan alasan paling masuk akal kemana saja aku pergi seharian.<br />
<em><br />
&#8220;Baby..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sayang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inget gak, aku pernah bilang waktu itu. If loving you is wrong&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Then I don&#8217;t want to be right. Yang itu, kan? Iya, aku inget.&#8221;</em></p>
<p>Rasanya memang tak ada lagi yang harus kita ucapkan. Diamku, kebisuanmu telah menjelaskan semuanya. Kita jatuh cinta, dan akan memeliharanya sampai batas kesabaran kita. Dan kerelaan. Dan kebersediaan berkorban. Dan keinginan yang kuat untuk saling menunggu. Entah apa yang kita tunggu. Entah sampai kapan. Atau bagaimana kita akan melewati kesedihan di antara waktu-waktu di mana aku tak bisa menyentuhmu.</p>
<p>Kalau saja bisa&#8230;kalau saja kita punya kuasa menafikan sekian banyak perbedaan, melupakan kemungkinan bahwa semua mata akan memandang kita sebagai manusia-manusia aneh dan sakit jiwa karena jatuh cinta pada saat dan kepada orang yang sangat sangat sangat salah, aku ingin bersamamu malam ini, dan besok malam dan besok malamnya lagi. Aku bahkan rela meninggalkan rumah dan hidupku yang nyaman, terbang bertualang dan berjudi dengan hidup sekali lagi, bersamamu.</p>
<p><em>**to be continued. IF YOU&#8217;RE LUCKY *grins*</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/03/03/cerita-kemarin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>68</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

