venus to mars


 

‘cermin’ Category

SETELAH INONK PERGI

Monday, September 4th, 2006

Beberapa hari setelah kepergian mbak Inonk yang mengagetkan kita semua, masih saja sesekali pikiran tentang kematian wira-wiri di otakku. Benar, semua ada waktunya. Tak ada yang tau kapan giliran kita.

Coba kita merenung sejenak, beberapa menit saja. Kalau tiba saatnya kita berangkat menuju keabadian, menemui Kekasih yang sejati, bagaimana kita inginkan Dia ‘mengambil’ kita?

Aku selalu takut pada hal-hal yang menyangkut kematian, dan yang terjadi setelah itu. Jujur saja. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin pergi dengan cara yang sederhana dan indah. Di tempat tidur, ditemani orang-orang yang menyayangi dan aku sayangi, diantar dengan lantunan ayat-ayat Tuhan yang menyejukkan. Well, itu juga mungkin keinginan semua orang ya?
Satu lagi, aku ingin Tuhan mengambilku saat anak2 sudah dewasa, sudah jadi orang, dengan begitu lunas sudah hutangku sebagai seorang ibu.

Tapi apa bisa kita memilih? Apa kita punya hak untuk memilih, kapan dan bagaimana kita akan pergi? Sedang kita cuma debu

Dan kalau waktuku sudah tiba, aku ingin anak-anakku tau, bahwa aku selalu mencintai mereka. Cinta yang ‘tak harap kembali’ seperti kata lagu anak-anak jadul. One more thing, aku ingin suamiku memaafkan ketaksempurnaanku, memaafkan hatiku yang terbelah. Tak perlu dia tau kenapa dan pada siapa hati yang sebelah lagi kuberikan, karena tak akan pernah bisa aku jelaskan itu. Maafkan saja lah…

 



DIA ANAKKU JUGA…

Saturday, September 2nd, 2006

Seorang kawan menyarankan untuk bikin semacam pledoi, sebuah pembelaan. Ah, tapi kayaknya gak perlu juga ya? Buat apa? Tapi buat temen2 yang sempet gak setuju atau gak ngerti what’s between the lines-nya, silakan tanya langsung sama temen saya ini, yang udah kenyang saya kaploki meski cuma dalam hati :)

Ada yang pengen saya ceritain. Ini tentang pembicaraan saya di telepon, dengan ibu saya yang seorang guru esde di satu kampung miskin. Mayoritas murid2nya berasal dari keluarga yang sangat sangat sederhana kalo gak mau dibilang miskin. Ada anak tukang beca, anak buruh tani, yang gitu-gitu lah. Satu hari, sekolah tempat ibu saya mengajar ini berinisiatif untuk menambah kurikulum dengan bahasa inggris. Jadi beliau mem-fotocopy buku basic english buat anak esde, dengan pertimbangan, beli buku di toko buku pasti mahal dan memberatkan mereka.

Tau apa yang terjadi kemudian? Seorang anak perempuan datang untuk bertemu ibu saya di ruang guru. Anak ini, Kristin namanya, sudah gak punya bapak. Ibunya seorang penjahit yang, kata ibu saya, sangat miskin. Tau sendiri, sekarang daripada repot beli kain dan dijahitin ke tukang jahit, orang lebih suka beli baju di pasar atau di dept store. Tinggal pilih model dan ukuran yang cocok, bayar, pulang. Beres. Selesai semua urusan.

Kristin, begitu yang ibu ceritakan pada saya, lalu berkata sesuatu yang saya gak bisa lupa sampe sekarang. ” Bu guru, kata emak, boleh enggak bayar buku bahasa inggrisnya dicicil? ”
Dicicil, katanya. Dan buku yang cuma fotokopian itu harganya cuma Rp. 3.500,- !!

Lalu sesuatu membuat saya kehilangan kata-kata. Seperti dihantam sesuatu, tepat di ulu hati. Meninggalkan ngilu dan rasa marah yang saya sendiri bingung, kepada siapa saya harus marah. Ah, betapa miskinnya kita ternyata ya?

Malam itu saya berangkat tidur dengan sejuta pikiran memberatkan kepala. Tidur saya tanpa mimpi. Cuma ada Kristin, dan betapa ingin saya memeluk bocah ini, mengatakan padanya bahwa dia akan baik-baik saja, bahwa dia boleh memanggil saya ‘ibu’, seperti dua anak lelaki saya.

Itu kisah enam tahun lalu, pertama kali saya bersentuhan dengan sesuatu yang tak saya pahami sebelumnya. Rasa marah yang sangat. Mungkin juga saya marah pada diri sendiri.

‘Kemana saja selama ini ?!’

 



MENJADI ATAU TIDAK SAMA SEKALI

Wednesday, August 30th, 2006

Jadi merinding setelah baca beberapa entry di blog mas Yoyok. Kok tiba-tiba gw ngerasa pahit, sedih,gelap ya..*haiyyak*. Gw ngerasa, sekali lagi, cuma pecundang yang gak ada apa- apanya dibandingin mereka yang punya nyali, punya power, at least punya banyak waktu buat ngelakuin sesuatu buat orang lain. Buat anak-anak yang kisah hidupnya gak seindah, mungkin, anak-anak biologis kita. Mas Yoyok bilang, kita semua punya kekuatan. Ah, masa sih? Kok gw justru ngerasa bebal, guoblog poolll, karena sungguh, gw bukan siapa-siapa. Dibandingin mas Yoyok dan temen2nya, para pejuang pembebasan itu, sumpah, gw minder dan ngerasa ‘mati’. Gw cuma perempuan yang waktunya udah habis buat ngurus suami dan anak-anak. Perempuan yang sangat biasa, yang bukan siapa-siapa. Tau gak sih, ini bukan penyesalan. Cuma kadang-kadang, terlintas bahwa memang sungguh ‘gak enak’ jadi perempuan. Yang namanya perempuan, once she’s married, pelan-pelan dia akan mati. Hilang. Tidak menjadi. Ngerti gak? Bukan cuma namanya yang dilupakan ( Ani jadi bu Anu, Dewi jadi bu Dewo, yang gitu-gitu..). Ah, susah banget sih nulis ! Tadi ceritanya udah nulis cukup banyak dan cukup bagus ( kata gw siih..hihi…), eh tau-tau down, gak sengaja kehapus. Aduh, sayang banget, bitternessnya jadi gak kerekam deh..
Yah,pokoknya gitu deh sodara2, pagi ini gw ngerasa sedih, hopeless, karena gw cuma bisa kasian, prihatin, tapi gak nglakuin apa2 buat anak-anak yang ditulis mas kita tadi.
Selamat berjuang deh, teman-teman..

epilog;

lalu siapa kita ini? bukan siapa-siapa. tak pernah siapa-siapa. tak pernah menjadi. kita cuma ingin, dan sesekali membayangkan kita telah atau pernah menjadi sesuatu yang punya arti.
kemudian mati…