venus to mars


 

‘cermin’ Category

GEMPA LAGI…

Monday, January 22nd, 2007


Gempa berkekuatan 6,5 skala Richter menguncang Kota Manado, Sulawesi Utara, Ahad (21/1) malam. Pusat gempa berjarak 160 kilometer sebelah tenggara Manado pada kedalaman 51 kilometer. Hingga saat ini belum diketahui adanya korban jiwa dan jumlah kerusakan akibat gempa.

Namun gempa membuat ribuan warga panik. Warga di sekitar pinggir pantai berlarian menuju dataran tinggi. Mereka takut adanya gelombang tsunami. Warga Manado Utara mengungsi ke permukiman Sospol yang ada di atas bukit. Sedangkan warga Manado Tengah menuju Jalan 17 Agustus.

Ketakutan masyarakat sekitar akan terjadinya gelombang tsunami ini tak terbukti. Namun demikian, penduduk di pengungsian tetap waswas. Bahkan, hingga dini hari tadi arus pengungsian masih terus berlangsung. Meski polisi mengumumkan tidak ada tanda-tanda gelombang tsunami, sebagian besar memilih tetap bertahan di pengungsian. Selain tsunami, warga takut adanya gempa susulan yang bisa terjadi setiap saat.

Gempa juga terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara. Lindu mengguncang ketika kota ini diguyur hujan lebat. Gempa terasa hingga Halmahera Timur, Halmahera Barat, dan Kota Tidore Kepulauan. Akibat guncangan, jalur informasi dan telekomunikasi di daerah tersebut lumpuh total.

Di atas adalah kutipan berita dari liputan 6. Tau gak sih apa yang ada di pikiran saya? Rasanya memang Yang Maha Segalanya lagi marah banget sama kita. Manusia kadang ngerasa tau semua, bisa ngitung dan ‘baca’ cuaca, ngitung kecepatan dan arah angin, hari ini hujan atau cuma mendung. Yang gitu-gitu. Kita merasa bisa menghandle alam, karena katanya teknologi kita udah begitu canggihnya dengan segala macam satelit dan peralatan untuk membaca kegiatan gunung berapi, misalnya. Kita punya alat untuk mendeteksi tsunami. Ada GPS untuk melihat apa dan siapa lagi ada di koordinat berapa.

Dan sekarang, alam menunjukkan bahwa kita salah. Mendengar berita tentang begitu banyak bencana belakangan ini; tsunami, banjir bandang, longsor, badai, gempa bumi, cuaca yang ekstrim yang mampu membuat adam air bagai lenyap tertelan bumi…saya seperti mendengar alam berbicara kepada kita.’Oh. So you think you know everything? Well, you don’t. Watch this!!’ Dan datanglah banjir dan longsor dan gempa…

*gambar diambil dari sini

 



SEBELUM RAMADHAN TIBA

Thursday, September 21st, 2006

Sekali ini, mumpung mau masuk bulan suci, cobalah berhenti sebentar saja. Sedikit berkontemplasi, merenungkan apa yang telah atau belum sempat kau lakukan. Mengingat mereka yang ingin kau lupakan. Menghadirkan lagi kenangan yang sungguh ingin kau kubur dalam-dalam. Kalau mungkin, segala yang bernama sejarah, dan sekotak besar gambar-gambar yang berasal dari masa lalu. Hitam putih. Abu-abu.

Aku melakukannya tadi malam. Benar-benar sendiri, sambil menunggu pagi yang terasa lama datangnya. Dan aku bertemu Tuhan. Atau mungkin, Tuhan yang menemukan aku.

Benar ternyata, Dia ada di sini. Menungguku terjaga dari mimpi-mimpi yang melenakan. Aku yang tertidur dan lupa berterima kasih. Lalai mensyukuri nikmatNya. Menginginkan yang bukan milikku. Sibuk sendiri, bersusah payah mencoba mengurai arti mimpiku yang tak pernah berwarna.

Begitulah aku. Begitulah kita, ya?

Ah, ini postingan apa maksudnya sih? Gak ada yang istimewa, sebenarnya. Cuma bagian dari self healing yang aku bilang kemaren. Benar, menulis ternyata bisa menjadi obat, semacam terapi saat hidup terasa penuh dan menyesakkan. Loaded.

Ada lagi. Terima kasih buat kalian, teman-teman yang rajin menemaniku berselancar di dunia maya ;). Pakde yang bukan cuma ndobospol tapi juga lucupol. Yati yang mengerti dan tak banyak bertanya, yang sengaja memberi ruang saat aku ingin sendiri dan malas untuk sekedar bertukar sapa.
“kenapa, mbak? lagi pengen sendiri ya, mbakku sayang? ya udah..cepet sembuh ya…”
Dan bocah ini, yang tulus merelakan bahunya untuk tempatku menangis.
“ada apa, mbok? sini..sini…ini pundak untuk kau menangis..”
He really did say that, and i really cried… hahaha..
Juga Meiy, yang tau hanya dari tulisanku, bahwa sesuatu sedang terjadi. Baik sekali dia, sempet2nya ninggalin offline message, cuma untuk bertanya ‘ada apa sama kamu?’. Mengatakan bahwa dia siap menjadi tempat berbagi. Ah, Meiy…

Mereka, teman-teman yang kutemukan atas nama keajaiban yang berjudul teknologi. Terima kasih ya…

Dan kamu, yang di sana. Sepertinya sedikit penjelasan dan kata ‘maaf’ yang tak kau ucapkan, tak kan banyak lagi gunanya, ya? Kamu sudah kumaafkan. Lihat, aku selalu berusaha mengerti, bukan? Aku selalu memaafkan tanpa kau minta:)

Last but not least, selamat menjalankan ibadah puasa buat semuanya. Maaf lahir batin, mudah-mudahan puasa benar-benar membersihkan kita ya? :)

 



PERDA EDAN !!

Sunday, September 17th, 2006

Tadi pagi dapet imel dari milis anu. Isinya, berita di koran ‘Radar Yogya’ tentang perda wajib jilbab yang, katanya nih, sangat mendesak untuk segera diberlakukan. Di Jogja, tentu saja. Aha..serius looo? Gak lucu banget ya? Aneh dan terlalu mengada-ada. Ini Indonesia, gitu loh. Katanya bhinneka tunggal ikaaaa…lha kok sekarang, apa2 harus seragam, harus ini harus itu.. Pliss deh. Ini kan soal keyakinan ya..bukan sesuatu yg bisa dipaksain. Emangnya dikira kita ini goblog apa?

FYI, people..gw pake jilbab alhamdulillah udah 12 taunan terakhir. Jujur aja, gw ini religius banget juga enggak, dibilang sekuler juga enggak kayaknya. Biasa-biasa aja. Yang penting, menurut pemikiran gw nih, berusaha berbuat baik dan gak ngerugiin orang laen aja lah.

Uuh, kalo denger yg beginian, gemeeesss banget. Lha kalo alasan bikin perda wajib jilbab, katanya, untuk menghindari kejahatan dan kekerasan seksual, mbok ya itu para laki2 yg dibikinin perda ‘wajib tahan hawa napsu’. Kalo nekat, masih iseng colek2 perempuan,suka suit2 ga sopan, apalagi sampe ngelakuin kejahatan yang lebih parah dari ’sekedar’ pelecehan kayak gini, udaaah sikat aja. Potong itunya kek biar yang laen kapok!

Maaf kalo gw gak pinter jelasinnya ya. Tapi buat gw pribadi sih, soal pake atau ga pake jilbab, biar itu jadi urusan masing2 aja lah. Ini kan soal keyakinan. Lha kalo kitanya belum yakin, belom pengen nutup aurat, belom sreg, atau gak tau kenapa harus berjilbab, yo wis tho, biarin aja. Kok dipaksa. Biarin aja napa? Badan badan gueee…terserah dong gw mau pake apa. Asal gak mondar-mandir pake bikini di jalan ajah. Ya kan? Aneh kalo masih ada pemaksaan2 yg pake alasan agama dan segala macem kyk gini. Kayak yg bikin peraturan udah pasti masuk surga aja. Belom tentu lageee…:-D

 



SAMPAH, SEKALI LAGI SAMPAH!!

Friday, September 8th, 2006

Berita-berita kek gini nih yg bikin saya paling males nonton berita di tivi. Gak napsu baca koran. Isi beritanya ga jauh-jauh dari hal-hal yg bikin eneg. Sorry aja, bukannya ga punya social awareness kek temen saya ini ya. Bukan juga ga pedulian, ga concern sama yang terjadi di sekitar kita. Tapi gimana ya? Susah juga jelasinnya. Udah cape, saya!
Tadi pagi denger berita tentang sampah yg longsor juga dari temen. Kalo gak, mana saya tau? Saya lebih suka nonton film, atau melototin yang bagus-bagus di Channel (V). Mendingan gitu daripada marah-marah sendiri kan?

“Ooo, beneran? Sampah longsor di Bantar Gebang? Lagi?”

Trus kepala saya mulai cenut-cenut, mulai deg-degan, ngeri ngebayangin orang-orang yang lari-larian menghindari gunung sampah yang ambrol… Detik berikutnya, kemarahan mulai merajalela deh.

Kenapa sih kita ini? Guoblognya pol ya? Ngatasin masalah sampah aja ga beres-beres. Ga kapok-kapok. Ga malu sama diri sendiri. Ga malu sama negara lain, apa? Wtf !! What the f#@* !!

Capek, saya !!

 



SETELAH INONK PERGI

Monday, September 4th, 2006

Beberapa hari setelah kepergian mbak Inonk yang mengagetkan kita semua, masih saja sesekali pikiran tentang kematian wira-wiri di otakku. Benar, semua ada waktunya. Tak ada yang tau kapan giliran kita.

Coba kita merenung sejenak, beberapa menit saja. Kalau tiba saatnya kita berangkat menuju keabadian, menemui Kekasih yang sejati, bagaimana kita inginkan Dia ‘mengambil’ kita?

Aku selalu takut pada hal-hal yang menyangkut kematian, dan yang terjadi setelah itu. Jujur saja. Tapi kalau boleh memilih, aku ingin pergi dengan cara yang sederhana dan indah. Di tempat tidur, ditemani orang-orang yang menyayangi dan aku sayangi, diantar dengan lantunan ayat-ayat Tuhan yang menyejukkan. Well, itu juga mungkin keinginan semua orang ya?
Satu lagi, aku ingin Tuhan mengambilku saat anak2 sudah dewasa, sudah jadi orang, dengan begitu lunas sudah hutangku sebagai seorang ibu.

Tapi apa bisa kita memilih? Apa kita punya hak untuk memilih, kapan dan bagaimana kita akan pergi? Sedang kita cuma debu

Dan kalau waktuku sudah tiba, aku ingin anak-anakku tau, bahwa aku selalu mencintai mereka. Cinta yang ‘tak harap kembali’ seperti kata lagu anak-anak jadul. One more thing, aku ingin suamiku memaafkan ketaksempurnaanku, memaafkan hatiku yang terbelah. Tak perlu dia tau kenapa dan pada siapa hati yang sebelah lagi kuberikan, karena tak akan pernah bisa aku jelaskan itu. Maafkan saja lah…