5 cm, and a new me
Sore ini, setelah menyelesaikan halaman terakhir ‘5 cm’-nya Donny Dhirgantoro, saya terdiam lama, dan…nangis, hehehe…
Saya bukan orang yang sangat religius. Biasa-biasa aja. Bahkan sholat pun (aduh, malu!) masih banyak bolongnya. Dan saya paling benci dituturi (bhs jawa = dinasehati) apalagi kalo udah bawa-bawa ayat dan cerita-cerita serem tentang surga neraka. Males banget deh. Tapi buku ini, entah bagaimana, membuat saya memandang dunia, hidup, dan segala sesuatu di sekitar saya, dengan cara yang berbeda. Cerita tentang persahabatan lima anak muda yang menjadi tokoh sentral dalam buku ini seakan membuka mata saya, membangunkan ’saya’ yang lain, yang bukan saya (halah males banget jadi ribet gini yak! kekekke).
Buku yang keren. Kocak, seru, menyentuh. Saya seperti diingatkan pada banyak hal yang sekian lama saya lupakan. Kisah perjalanan mereka berlima ke puncak Mahameru setelah mereka terpisah selama tiga bulan, benar-benar luar biasa. Dialog-dialog ancur dan gila-gilaan khas anak muda, penggalan lagu-lagu keren, dialog-dialog dari film-film bagus, banyak banget bertebaran dari awal sampe akhir cerita. Saya diingatkan, sekali lagi, tentang kekuatan dan keajaiban mimpi dan keyakinan. Dan bahwa kita tak perlu bukti dan hitungan dan rumus-rumus yang rumit untuk membuktikan keajaiban itu. Kita hanya harus mempercayainya.
- Udah? Gitu doang?
+ Udah. Kan emang bukan review. Cuma pengen cerita.
- Yeeeeeeee…..
Dan sore ini, beberapa menit menjelang maghrib, saya menikmati hujan dari balik jendela kamar saya, memandang dan mengagumi rintiknya. Langit yang sama, hujan yang sama. Tapi kenapa rasanya beda banget ya? Lalu saya tengadah menatap langit, sesenggukan, dan tersenyum membisikkan ‘terima kasih,Tuhan…’
semoga tak lupa
Gempa Jogja setaun yang lalu, barangkali sudah kita lupakan. Satu tahun sudah lewat, dan otak kita pastilah sudah penuh dengan hal-hal lain yang penting maupun gak penting. Betapa mudahnya kita lupa.
Tepat setaun sudah, dan saya cuma bisa berharap, semoga kita tak temasuk mereka yang amnesia. Semoga kita selalu mengingat bencana mengerikan yang masih menyisakan derita, bahkan sampai hari ini. Kita, barangkali tak bisa benar-benar merasakan kepedihan seperti yang mereka rasakan, karena kita tak ada di sana saat gempa itu terjadi, meluluhlantakkan nyaris seluruh kota Jogja dan kota-kota lain di sekitarnya.
Setidaknya mari kita lakukan sesuatu buat mereka yang hingga hari ini masih tinggal di tenda-tenda, buat anak-anak yang kehilangan buku-buku dan gedung sekolahnya. Supaya kita selalu ingat, bahwa saat alam murka, sungguh kita bukan siapa-siapa. Supaya kita tak lupa dan menjadi amnesia…..
Baca juga : 1 tahun sudah Jogjaku menangis dan Jogja, that day
akhir hari ini
Sederhana saja. Yang kuperlukan cuma mandi air hangat, berlama-lama dibawah pancuran dan menikmati sensasinya, menulikan telinga dari dering telfon yang menjerit-jerit tanpa kompromi. Kemudian apa? Oya, wangi Bvlgari yang kelembutan aromanya selalu kusukai, secangkir kopi tanpa gula, dan ‘Maroon 5′ yang diputar sampai batas toleransi gendang telinga, sepertinya cukup menyenangkan untuk mengobati penat hari ini.
Ya, ya. Beri aku secangkir kopi pahit dan musik bagus dan sedikit semprotan parfum kesukaan, dan aku tau aku akan baik-baik saja.
Taukah kamu? Sedikit nikotin sepertinya boleh juga, kata satu suara di kejauhan. Aha! Ide yang bagus. Ide yang sangat bagus…
Lampu padam, dan layar perlahan-lahan diturunkan. Akhir perjalanan hari ini. Besok, siapa yang tau apa yang Tuhan telah siapkan?
the power of a woman
![]()
Kata siapa wanita lebih lemah daripada laki-laki? Banyak yang bilang, selalu ada seorang perempuan super dibalik kesuksesan seorang laki-laki. Saya punya anekdot bagus tentang ini.
Di sebuah pom bensin, seorang konglomerat, sebut saja pak X, turun dari mobil mewahnya. Mau ngisi bensin, ceritanya ( ya iya lah, masa mau pipis? ). Istri si pengusaha kaya ini kaget. Laki-laki yang bertugas ngisi bensin di situ, sebut saja namanya Y, ternyata mantan pacarnya waktu kuliah di Jogja beberapa taun yang lalu. Pak X, istrinya, dan si tukang bensin sama-sama kaget, karena mereka bertiga dulunya satu almamater dan saling kenal. Setelah urusan ngisi bensin dan basa basi saling ber-hai hai selesai, meluncurlah mobil mengkilat milik pak X ke jalan raya.
Nyampe rumah, dengan bangga dan pedenya pak X bilang sama istrinya, “Ma, untung kamu dulu nikahnya sama aku ya? Coba dulu kamu milih si Y jadi suami, waaah…kamu gak ada di sini sekarang. Pasti kamu hidup pas-pasan, jadi istri penjaga pom bensin”.
Sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, si istri menjawab kalem,” Untung kamu dulu nikah sama saya. Kalo saya nikah sama si Y, pasti dia udah jadi konglomerat sukses sekarang, dan kamu cuma jadi penjaga pom bensin”.
Ah, sudah lah. Berdebat tentang siapa yang lebih kuat, laki-laki atau perempuan, pasti gak akan ada habisnya. Yang jelas, saya bangga jadi perempuan. Siapa bilang kami lemah? Kami gak manja seperti kalian para laki-laki.
Mau tau buktinya? Kami gak pernah netek pada perempuan dewasa karena kami bisa mandiri di atas kaki sendiri.
Hidoep perempoean !!!
*terinspirasi dari tulisan dokter evi tentang ‘women and their power’. sebagian isi tulisan saya kutip dari blog saya dan kawan-kawan saya.
**gambar, nyolong dari sini
GEMPA LAGI…
Gempa berkekuatan 6,5 skala Richter menguncang Kota Manado, Sulawesi Utara, Ahad (21/1) malam. Pusat gempa berjarak 160 kilometer sebelah tenggara Manado pada kedalaman 51 kilometer. Hingga saat ini belum diketahui adanya korban jiwa dan jumlah kerusakan akibat gempa.
Namun gempa membuat ribuan warga panik. Warga di sekitar pinggir pantai berlarian menuju dataran tinggi. Mereka takut adanya gelombang tsunami. Warga Manado Utara mengungsi ke permukiman Sospol yang ada di atas bukit. Sedangkan warga Manado Tengah menuju Jalan 17 Agustus.
Ketakutan masyarakat sekitar akan terjadinya gelombang tsunami ini tak terbukti. Namun demikian, penduduk di pengungsian tetap waswas. Bahkan, hingga dini hari tadi arus pengungsian masih terus berlangsung. Meski polisi mengumumkan tidak ada tanda-tanda gelombang tsunami, sebagian besar memilih tetap bertahan di pengungsian. Selain tsunami, warga takut adanya gempa susulan yang bisa terjadi setiap saat.
Gempa juga terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara. Lindu mengguncang ketika kota ini diguyur hujan lebat. Gempa terasa hingga Halmahera Timur, Halmahera Barat, dan Kota Tidore Kepulauan. Akibat guncangan, jalur informasi dan telekomunikasi di daerah tersebut lumpuh total.
Di atas adalah kutipan berita dari liputan 6. Tau gak sih apa yang ada di pikiran saya? Rasanya memang Yang Maha Segalanya lagi marah banget sama kita. Manusia kadang ngerasa tau semua, bisa ngitung dan ‘baca’ cuaca, ngitung kecepatan dan arah angin, hari ini hujan atau cuma mendung. Yang gitu-gitu. Kita merasa bisa menghandle alam, karena katanya teknologi kita udah begitu canggihnya dengan segala macam satelit dan peralatan untuk membaca kegiatan gunung berapi, misalnya. Kita punya alat untuk mendeteksi tsunami. Ada GPS untuk melihat apa dan siapa lagi ada di koordinat berapa.
Dan sekarang, alam menunjukkan bahwa kita salah. Mendengar berita tentang begitu banyak bencana belakangan ini; tsunami, banjir bandang, longsor, badai, gempa bumi, cuaca yang ekstrim yang mampu membuat adam air bagai lenyap tertelan bumi…saya seperti mendengar alam berbicara kepada kita.’Oh. So you think you know everything? Well, you don’t. Watch this!!’ Dan datanglah banjir dan longsor dan gempa…
*gambar diambil dari sini


My name is Venus, perempuan, istri, ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang pinter-pinter dan ganteng-ganteng.