dari (musisi) indonesia untuk dunia
Sedikit saja kepedulian, barangkali ibarat debu yang nyaris tanpa arti di padang pasir yang maha luas. Tapi yang sedikit inilah yang nampaknya ingin disumbangkan oleh para seniman Indonesia untuk bumi yang kita pinjam dari anak cucu kita ini.
Sebuah single bertema ‘hijau’ diluncurkan siang kemarin di Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Lagu karya Nugie, dinyanyikan oleh hampir delapan puluh musisi dan pekerja seni Indonesia yang menamakan dirinya United Voices of Indonesia, di antaranya Pongki Jikustik, Edo Kondologit, Katon Bagaskara, Marcell, Andien, Tere, Titi DJ, Dea Mirella, Nina Tamam, Joel Achmad, Fadli, Sherina, Ariel Peterpan, Once, Pas Band, Ipang BIP, dan lain-lain ini didukung oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia, dan dipersembahkan dalam rangka menyambut UN Climate Change Conference 2007 yang digelar di Bali awal Desember ini.
Yang sedikit ini, semoga punya arti.
lihat di sana, rimba hijau pun menjadi gurun
tersentuhkah hatimu
lihat di sana mereka sesak bertahan hidup
terusikkah jiwamu
dan di sini semua ada
bilakah bertahan jika tak mulai dari sekarang…
(sepenggal lyric lagu ‘Berbagilah’, karya Nugie)
FSTAJ (Festival Seni dan Teknologi Anak Jalanan) 2007
Lihatlah wajah mereka. Anak-anak tangguh, bocah-bocah hebat, yang entah bagaimana terdampar di kerasnya kehidupan jakarta sebelum waktunya. Kita bertemu dan melihat mereka setiap hari. Mengamen di lampu merah, mengumpulkan beberapa ribu rupiah untuk menyambung hidup dengan menjadi penyemir sepatu, penjual asongan di jalanan Jakarta. Bertahan hidup dengan cara yang mungkin tak terbayangkan oleh kita.
Kita melihat mereka setiap hari, tapi tak semua kita benar-benar membuka mata. Barangkali anda melihat seorang bocah enam atau tujuh taun mengetuk kaca mobil anda tadi? Atau anda melihatnya sedang mengamen di metromini dalam perjalanan anda ke kantor pada suatu pagi? Nah, itu pasti mereka. Anak-anak jalanan, sahabat dan ‘guru kehidupan’ kami di kks_melati.
Saya dan teman-teman mengundang anda semua untuk melihat anak-anak ini mementaskan cerita-cerita rakyat Indonesia, insya Allah pada tanggal 2 Desember 2007 di acara Festival Seni dan Teknologi Anak Jalanan 2007. Lokasi acara di SMPN 71, Jl. Rawa Kebo Cempaka Putih, Jakarta Timur, jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Anak-anak dari sekitar 21 Rumah Singgah di Jakarta akan meramaikan acara ini.
Tiket seharga Rp. 30.000,- dapat anda peroleh dengan menghubungi Prima 08129405322 atau Diah 08128797258.
Untuk informasi lebih lengkap, silakan hubungi:
KKS Melati
Jl. Ampera II RT 005/09 No. 17A
Jakarta Selatan 12550
Email: kks_melati@yahoo.com
Website: www.kksmelati.org
Mudah-mudahan kita tak lupa bahwa mereka ada. Mereka, anak-anak kita juga.
Ps: Uyo, makasih informasinya. Udah lama saya kehilangan kamu. Udah lama juga saya gak bilang bahwa saya sayang dan bangga sama kamu. Now let me tell you again. I love you, and I’m so very proud of you. You remember that, wonder boy..
perempuan dengan tiga hati
Blogger abal-abal seperti saya ini sering gak kreatif. Suka blank, bingung mau nulis apa, tapi sekalinya baca blog orang lain dan nemu topik yang menarik, jadi terpancing untuk komentar sepanjang-panjangnya. Lebih parah lagi, biasanya saya jadi terinspirasi untuk membahas topik yang serupa di blog saya sendiri. Gak kreatif banget, kan? Kalo ibarat penyakit, ke-tidakkreatif-an saya sudah sampai pada level ‘mengkhawatirkan’ kalo gak mau disebut ‘memalukan’. Yah, namanya juga…. Read the full post »
giving is…
Langsung aja. Jadi gini ceritanya. Temen saya, Mr Cholex yang nyentrik ini kebetulan lagi KKN di desa Srihardono, Pundong, Bantul (bener nama desanya ya, mas?), salah satu desa korban gempa Jogja setaun yang lalu. Dan berikut adalah beberapa foto Masjid Nurul Hidayah (sumpah, ini mesjid!), yang sampe sekarang masih begitu menyedihkan keadaannya. Barangkali ini cuma salah satu dari sekian ratus tempat ibadah yang bener-bener butuh bantuan kita semua supaya cukup layak untuk disebut sebagai rumah Allah. Tapi yah…ga tau deh, take a look aja lah. Pusing, saya.
Bukannya mau sok baik ya. Boleh-boleh aja kita punya budget tetap buat nonton, jalan, nongkrong di tempat-tempat yang gaya seperti Citos, misalnya (hai semuaaaaaa….). Yang masih doyan belanja, atau masih kecimpringan sibuk merencanakan kejahatan buat ketemuan sama selingkuhan misalnya, itu biarlah jadi urusan masing-masing aja. Tapi mudah-mudahan kita semua juga gak sayang menyisihkan sebagian rejeki buat bantuin sodara-sodara kita nun di Jogja sana.
Ini bukan hoax. Bantuan bisa disalurkan melalui transfer ke :
MANDIRI
Cabang Adisucipto Yogyakarta
A/N ABDUL KHOLIK
Rek 137 000 516803 0
atau ke ;
BCA no rek 0372411706 a/n ABDUL KHOLIK
atau silakan hubungi mas Cholex, Y!m id-nya cholex8mata, nomer hape 0815 787 262 15
Wis to, percaya aja. Kalo dia bohong dan uangnya dipake buat macem-macem, ya itu urusan dia. Biar dia direbus sampe mateng di neraka, iyo gak, mas?
Sayang sekali saya gak pernah bisa ada di frontline, bantu-bantu dengan turun langsung ke lokasi. Zam dan komunitas cahandong, mungkin? Ayo, Zam, jangan misuh-misuh soal telematika, coding dan metadata terus. Bantuin kek!
5 cm, and a new me
Sore ini, setelah menyelesaikan halaman terakhir ‘5 cm’-nya Donny Dhirgantoro, saya terdiam lama, dan…nangis, hehehe…
Saya bukan orang yang sangat religius. Biasa-biasa aja. Bahkan sholat pun (aduh, malu!) masih banyak bolongnya. Dan saya paling benci dituturi (bhs jawa = dinasehati) apalagi kalo udah bawa-bawa ayat dan cerita-cerita serem tentang surga neraka. Males banget deh. Tapi buku ini, entah bagaimana, membuat saya memandang dunia, hidup, dan segala sesuatu di sekitar saya, dengan cara yang berbeda. Cerita tentang persahabatan lima anak muda yang menjadi tokoh sentral dalam buku ini seakan membuka mata saya, membangunkan ’saya’ yang lain, yang bukan saya (halah males banget jadi ribet gini yak! kekekke).
Buku yang keren. Kocak, seru, menyentuh. Saya seperti diingatkan pada banyak hal yang sekian lama saya lupakan. Kisah perjalanan mereka berlima ke puncak Mahameru setelah mereka terpisah selama tiga bulan, benar-benar luar biasa. Dialog-dialog ancur dan gila-gilaan khas anak muda, penggalan lagu-lagu keren, dialog-dialog dari film-film bagus, banyak banget bertebaran dari awal sampe akhir cerita. Saya diingatkan, sekali lagi, tentang kekuatan dan keajaiban mimpi dan keyakinan. Dan bahwa kita tak perlu bukti dan hitungan dan rumus-rumus yang rumit untuk membuktikan keajaiban itu. Kita hanya harus mempercayainya.
- Udah? Gitu doang?
+ Udah. Kan emang bukan review. Cuma pengen cerita.
- Yeeeeeeee…..
Dan sore ini, beberapa menit menjelang maghrib, saya menikmati hujan dari balik jendela kamar saya, memandang dan mengagumi rintiknya. Langit yang sama, hujan yang sama. Tapi kenapa rasanya beda banget ya? Lalu saya tengadah menatap langit, sesenggukan, dan tersenyum membisikkan ‘terima kasih,Tuhan…’






My name is Venus, perempuan, istri, ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang pinter-pinter dan ganteng-ganteng.