Sejatinya, tidak ada seorang pun yang layak menyebut dirinya pemenang dalam suatu pertempuran. Tak peduli siapa yang lebih dulu jatuh dan terluka, atau siapa yang terakhir kali tertawa. Keduanya, buat saya, adalah pecundang.
Yang tertawa, sesungguhnya ia kalah oleh egonya. Dia yang jatuh, adalah manusia menyedihkan, karena memilih untuk terlibat dalam pertikaian yang sia-sia.
Bukankah waktu terlalu berharga? Bukankah hidup ini indah, bahkan untuk jiwa-jiwa yang buta?
Entah siapa saya, pemenang ataukah pecundang. Sebab dengan sadar, saya memutuskan untuk pergi dari lingkaran yang memaksa saya ambil bagian dalam sebuah peperangan.
Karena hidup terlalu indah, bahkan untuk jiwa-jiwa yang pernah dibutakan.

Tadinya saya gak pengen nulis tentang Valentine’s Day. Tapi sesuatu membuat saya –meski terdengar lebay– meleleh dan kehabisan kata-kata.
Cuaca yang lagi gak karuan dan kondisi badan yang lagi ngedrop membuat saya nyerah, melewatkan malam minggu di rumah dan gak jadi pergi ke pesta ulangtaun temen abege saya, si Benazio (dia yang abege, bukan saya). Trus pas lagi di dapur bikin kopi, tiba-tiba precil saya yang masih klas 4 SD nyodorin sesuatu.
“Ibu, ini buat ibu.”
Beberapa detik saya bengong, gak ngeh, cuma ngeliatin bungkusan rapi mirip kado bergambar strawberry di tangan anak saya.
“Eh? Ini apa, sayang?”
“Kado Valentine.”
“Buat ibu? Beneran? Dari kamu sama mas Kemal, ya?”
“Gak. Aku beli sendiri kok. Kita buka di kamar, yuk..”
Hanya karena gak mau dia liat saya nangis, saya tahan-tahan air mata sebisanya dan nurut aja waktu dia tarik tangan saya ke kamar, dan saya biarkan dia membuka bungkusan kado sambil mendengar dia ngoceh tentang sekotak cokelat berbentuk hati yang dia beli seharga lima belas ribu rupiah di ibu guru sekolahnya.
Barangkali inilah Valentine’s Day termanis dalam hidup saya. Dengan kepolosan kanak-kanaknya, lelaki kecil ini mengajari saya satu hal: cinta ternyata begitu sederhana. Sebentuk cokelat lima belas ribuan pun sanggup membuat saya merasa menjadi perempuan paling sempurna.
Happy Valentine’s Day, people. Katakan cinta kepada orang-orang yang kalian sayangi. Sekarang. Say it while you can, while you’ve still got time. Gak perlu sesuatu yang ribet atau hadiah-hadiah mahal untuk membuat mereka bahagia, kok. Just a simple ‘I love you’ will do.
Udah lama banget blog ini kehilangan fungsinya sebagai online journal. Kadang pengen juga nulis semaunya, numpahin apa aja yang lagi menuh-menuhin kepala, tapi pernah ada yang bilang, pinter-pinterlah jaga kelakuan karena ini ranah publik.
Oiya, saya juga tau kalo soal itu mah. Masalahnya, gak gampang menjaga behaviour dan tetap tenang kalo saya lagi marah banget dan kepala rasanya nyaris meledak saking sebelnya. Lha dikira saya malaikat, apa? Gak lah. Segala label yang dilekatkan orang dengan semena-mena tentang perempuan tangguh misalnya, sumpah bukan saya yang mau.
Halah. Perempuan tangguh my ass. Saya juga manusia biasa. Boleh dong saya tereakin sopir angkot yang motong jalan seenaknya dan nyaris bikin saya celaka. Boleh dong saya tersinggung dan sakit hati kalo ngerasa gak dianggep terutama oleh orang-orang terdekat saya.
Okay. Cukup intronya. Sekarang kita mulai. Saya pengen ngomong sesuatu tentang sebuah kata sederhana. Teman. Apa definisi kata teman buat kalian, sih?
Buat saya, seperti saya tulis di tempat lain tadi malam, teman adalah…‘kalo kamu lagi down, mereka ada. Kamu lagi sendirian dan butuh seseorang untuk berbagi gelisahmu, mereka ada. Kamu stres, mereka memberimu pelukan. Kamu nangis, mereka sediakan pundak mereka untukmu’. Yup, saya tau, mungkin gak tepat seperti itu juga sih, tapi kalimat yang jauh dari indah inilah yang saya pikir lumayan nyambung dan mewakili perasaan dan sakit hati saya kemarin.
Ya maaf, kalo cuma temen online yang baru kenal dan intensitas pertemanannya hanya sebatas saling say hi di blog dan di ruang-ruang maya yang lain, saya gak akan menyebut mereka temen saya. Oh, soal temen online, ada satu cerita. Saya pernah kecelakaan, nabrak mobil orang dari belakang pas saya lagi bego dan telat nginjek rem di tol. Gak lama setelah itu, beberapa temen blogger bahkan yang di luar Jawa dan sama sekali belum pernah ketemu, nelpon dan mastiin bahwa saya gak pa-pa. Nah ini beda lagi kasusnya. Saya bisa bedain, meskipun hanya temen online, saya tau mereka gak basa basi dan sok perhatian, karena selain saya kenal mereka cukup lama lewat blog masing-masing, mereka dan saya sebenernya ada di lingkaran pertemanan yang sama. Artinya, beberapa temen mereka adalah temen saya, online dan offline. Ngerti gak, sampe sini?
Trus ini poinnya apa ya?
Saya mau bilang, ati-ati. Be extra careful, people. Jangan jadi orang bodoh yang rela kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga hanya demi orang-orang yang kalian sebut teman tadi. Teman-teman gak jelas seperti itu akan selalu ada, datang dan pergi. Yang tetap tinggal menemani apapun keadaanmu, bahkan sering kali tanpa pamrih bersedia melakukan nyaris apa pun untuk kalian (catat ini: NYARIS APA PUN), siapa pun pasti setuju, itulah teman sebenar-benarnya teman yang kalian butuhkan.
Iya, saya marah dan merasa disepelekan. Jeleknya (eh atau malah bagus buat kesehatan jiwa saya, ya?), ada kondisi tertentu yang membuat saya mendadak punya kemampuan luar biasa untuk switch off dan membuat diri saya sendiri mati rasa. Pride and dignity, kadang saya tempatkan di atas segalanya.
Gak percaya? Try me, dan kalian akan tau bahwa saya juga bisa dengan entengnya bilang “tell them they can go fuck themselves. I dont fuckin care.”