
Jika hidup tak lebih dari serangkaian drama yang di satu babak membuatmu tertawa namun pada babak yang lain ia memaksamu tersungkur menangisi kekalahan, coba ceritakan padaku: apa rasanya memeluk mimpimu dalam diam kemudian membiarkannya mati perlahan?
Bre, apa kabarmu sekarang?

Setelah sempat kecewa karena kemaren nyari-nyari tapi gak dapet CD Kompilasi Band Baru – All New Bands Inside keluaran EMI, salah satu major label, akhirnya tadi nemu juga album kompilasi ini di sebuah toko kaset (toko kaset??) di Cibubur Junction.
Kenapa saya posting dan sok ngereview album kompilasi yang baru beberapa hari ini dirilis?
Pertama, karena ada dua lagu dari Alaska di album ini, yang vokalisnya adalah salah satu temen blogger saya, Elia Bintang. Kedua, karena saya memang sok tau dan pengen coba-coba nulis review walau pun harus saya akui, tulisan ini pasti agak-agak subyektif dan ngasal, karena saya bukan orang musik, gak bisa main musik (bisa sih dikit-dikit main gitar, lumayan buat ngamen di prapatan), hanya penikmat dan pendengar. Ketiga, jujur saja, karena Elia. Dia blogger (yay! hidup blogger!!), masih sangat muda, dan baru memulai langkahnya menyumbangkan karya untuk dunia musik tanah air, dan sudah selayaknya kita semua mengapresiasi semangatnya agar tak patah di tengah jalan. Harap dicatat, industri musik di Indonesia bisa dibilang ajaib. Hanya yang beruntung dan punya semangat tinggi yang bisa survive.
Yuk, mulai.
Secara keseluruhan, album ini bisa dibilang lumayan. Tidak jelek, tapi juga tidak terlalu istimewa. Dari empat belas lagu, saya suka Cahaya (Alaska), dan empat lagu lain dari M.I.G.I dan Kaktoos. Dua band yang saya sebut terakhir, M.I.G.I dan Kaktoos, punya warna yang agak berbeda. Masih nge-pop, tapi karakter vokal penyanyi kedua band ini (yang di telinga saya terdengar mirip dan agak susah dibedain, entahlah) lumayan matang, dan teknik falsettonya halus.
Kembali ke Alaska, lagu bertajuk Cahaya terasa sejuk, easy listening, dengan lirik yang agak serius dibandingin Masuk Kuping Kiri Keluar Kuping Kanan (astaga, judulnya panjang bener). Sedikit sentuhan string membuat lagu ini terasa manis. Pada lagu Masuk Kuping Kiri Keluar Kuping Kanan, kita bisa menikmati petikan gitar akustik Elia dan suara perkusi yang cukup dominan. Pilihan yang bagus, karena menurut saya warna vokal Elia memang pop banget. Ringan, rangenya tidak terlalu luas, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat dia akan berani lebih mengeksplorasi teknik bernyanyinya dan menjajal nada-nada tinggi atau membawakan lagu-lagu yang lebih up beat, misalnya.

Bagaimanapun juga, Elia dan Alaska telah memulai langkah pertamanya menapaki karier di industri musik Indonesia. Album kompilasi yang menurut pengakuannya dikebut dan makan waktu hanya tiga bulan sejak proses take, mixing, mastering, hingga rilis di pasaran, mudah-mudahan akan terus berlanjut. Semoga taun depan Alaska benar-benar merilis album mereka. Kita doakan saja.
Good luck, El! Berkaryalah terus, dan jangan biarkan siapapun mematahkan semangatmu untuk terus bermusik, seperti tersirat di taglinemu yang keren.
Life is a game. Have fun with it. Say what you wanna say, do what you wanna do, regret nothing, and don’t let people who don’t matter bring you down.

kau tak pernah bertanya, tapi biar kuberi jawabnya
:kamu lah api, anggur, gelombang pasang,
angin puting beliung yang meluluhlantakkan seantero negeri
kamu matahari di bulan juni
jangan tanya apa rasanya saat kau katakan kau butuh sedikit ruang
aha!
ruang, ya?
ya ya, rasanya tak mengapa juga
kuberikan kau ruang agar kita tak saling kehilangan
dan saat kau kembali
kita akan berkelana sekali lagi
bertemu lalu bercinta di sudut-sudut gelap kota
dan hey,
bukankah yang terburuk pun telah kita lewati?
jadi begitulah
kau boleh pergi
bawa saja separuh hatiku
tanpamu, sepertinya aku tak membutuhkannya lagi
*sungguh, ini bukan puisi cinta. hanya sedikit catatan tentang hari ini. percakapan yang tak selesai. cerita yang belum (barangkali memang tak harus dan tak akan pernah) usai. tentang kamu.