<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane &#187; belajar menulis</title>
	<atom:link href="http://venus-to-mars.com/category/belajar-menulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://venus-to-mars.com</link>
	<description>[sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane]</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:35:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>cinta adalah&#8230;</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2009/11/15/cinta-adalah/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2009/11/15/cinta-adalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 19:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=893</guid>
		<description><![CDATA[  Cinta adalah sekeping senja yang basah, jalanan yang padat dan memaksaku berkali-kali memaki hujan yang tumpah. Tapi bagaimana bisa kita menyalahkan hujan? Aku menyukai dingin yang menyertai tiap helainya, dan pipiku memerah ketika tanpa sengaja tangan kita bersentuhan. Hujan. Kita menepi, menemukan sebuah sudut dengan kursi empuk yang nyaman dan menularkan kehangatan. Lampu-lampu gantung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F11%2F15%2Fcinta-adalah%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F11%2F15%2Fcinta-adalah%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<table style="width: auto;" border="0">
<tbody>
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/0K9Gn3Uz_oe0tY5ufRLP_g?authkey=Gv1sRgCIyrnJyDtNngnAE&amp;feat=embedwebsite"><img src="http://lh6.ggpht.com/_eBBktYdF0HY/Sv6nesQVXQI/AAAAAAAACFI/eoERyD_44Z4/s400/IMG_0249.JPG" alt="" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="font-family:arial,sans-serif; font-size:11px; text-align:right"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Cinta adalah sekeping senja yang basah, jalanan yang padat dan memaksaku berkali-kali memaki hujan yang tumpah.</p>
<p>Tapi bagaimana bisa kita menyalahkan hujan? Aku menyukai dingin yang menyertai tiap helainya, dan pipiku memerah ketika tanpa sengaja tangan kita bersentuhan.</p>
<p>Hujan. Kita menepi, menemukan sebuah sudut dengan kursi empuk yang nyaman dan menularkan kehangatan. Lampu-lampu gantung dengan sinarnya yang temaram. Aroma kopi, sekaleng bir yang kamu nikmati berlama-lama di tengah obrolan panjang, dim sum, dan senyummu yang teduh dan memabukkan.</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2009/11/15/cinta-adalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>jogja. kamu</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2009/05/10/jogja-kamu/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2009/05/10/jogja-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 12:24:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[From Drop Box Masih tentang Jogja, kota yang tak pernah bosan kukenang dan kuceritakan. Dan kamu. Lelaki yang terlambat datang, meremas jemariku diam-diam, memelukku berlama-lama, menciumi setiap inci tubuhku mengatasnamakan cinta dan segala pembenaran, tertawa-tawa berpura-pura bahwa kita bukan siapa-siapa saat pagi menjelang. Begitulah kita seharusnya: bukan siapa-siapa. Enam belas taun lewat, dan aku bermimpi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F05%2F10%2Fjogja-kamu%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F05%2F10%2Fjogja-kamu%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<table style="width:auto;">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/-3pahCnC3o4WOoVN33CXew?authkey=Gv1sRgCOPzteuEgIOzUQ&#038;feat=embedwebsite"><img src="http://lh3.ggpht.com/_eBBktYdF0HY/SgbF3rl2wCI/AAAAAAAABUg/GL-p0BY-JkA/s800/malioboro_by_dollydolful.jpg" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="font-family:arial,sans-serif; font-size:11px; text-align:right">From <a href="http://picasaweb.google.com/venustovenus/DropBox?authkey=Gv1sRgCOPzteuEgIOzUQ&#038;feat=embedwebsite">Drop Box</a></td>
</tr>
</table>
<p>Masih tentang Jogja, kota yang tak pernah bosan kukenang dan kuceritakan.</p>
<p>Dan kamu. Lelaki yang terlambat datang, meremas jemariku diam-diam, memelukku berlama-lama, menciumi setiap inci tubuhku mengatasnamakan cinta dan segala pembenaran, tertawa-tawa berpura-pura bahwa kita bukan siapa-siapa saat pagi menjelang. Begitulah kita seharusnya: bukan siapa-siapa.</p>
<p>Enam belas taun lewat, dan aku bermimpi tentangmu tadi malam. Maafkan, tapi bahkan membayangkan bertemu kembali denganmu sudah membuatku gemetar.</p>
<p><em>*maukah kau nyanyikan lagu kita sekali lagi jika nanti kau datang?</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2009/05/10/jogja-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perempuan dan selendang warna pelangi</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2009/03/14/perempuan-dan-selendang-warna-pelangi/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2009/03/14/perempuan-dan-selendang-warna-pelangi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 02:49:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=852</guid>
		<description><![CDATA[From Drop Box Perempuan yang kabarnya mati sebagai kucing, tergilas roda mobil hitam milik entah siapa pada suatu malam, hingga berceceran darah dan serpihan dagingnya di permukaan aspal yang dingin, ia belum mati. Tak seorang pun di kota itu percaya tentang si perempuan, kecuali gelandangan tua itu tentu saja. Lelaki malang yang melewatkan hampir seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F03%2F14%2Fperempuan-dan-selendang-warna-pelangi%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F03%2F14%2Fperempuan-dan-selendang-warna-pelangi%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<table style="width:auto;">
<tr>
<td><a href="http://picasaweb.google.com/lh/photo/nUuyJBGdgX93czMEHlgbuA?authkey=Gv1sRgCOPzteuEgIOzUQ&#038;feat=embedwebsite"><img src="http://lh4.ggpht.com/_eBBktYdF0HY/SbsCu3xhYxI/AAAAAAAABQY/a5UwsXLYLG8/s400/rainbow_by_iamJolie.jpg" /></a></td>
</tr>
<tr>
<td style="font-family:arial,sans-serif; font-size:11px; text-align:right">From <a href="http://picasaweb.google.com/venustovenus/DropBox?authkey=Gv1sRgCOPzteuEgIOzUQ&#038;feat=embedwebsite">Drop Box</a></td>
</tr>
</table>
<p>Perempuan yang kabarnya mati sebagai kucing, tergilas roda mobil hitam milik entah siapa pada suatu malam, hingga berceceran darah dan serpihan dagingnya di permukaan aspal yang dingin, ia belum mati.</p>
<p>Tak seorang pun di kota itu percaya tentang si perempuan, kecuali gelandangan tua itu tentu saja. Lelaki malang yang melewatkan hampir seluruh hidupnya berpindah dari satu emperan toko ke emperan toko lain, dari trotoar satu ke trotoar lain, yang tiap subuh menjelang, dengan sabar mengais-ngais tong sampah di depan rumah-rumah dan gedung-gedung megah yang dengan congkaknya bertebaran di empat penjuru kota. Hanya gelandangan tua itu yang percaya bahwa perempuan itu ada.</p>
<p>Sungguh, perempuan yang dikabarkan mati sebagai kucing itu belum mati. Ia hidup di kaki bukit tak jauh dari kota tempat ia terlihat terakhir kali. Dan ia tidak sendirian. Di rumah yang dibangunnya dari tanah lempung dan dia warnai dinding-dindingnya dengan darahnya, tinggal seorang laki-laki. Barangkali suaminya, entahlah. Bisa jadi begitu. Tapi siapa peduli? Perempuan itu bukan siapa-siapa, bahkan tak seorangpun tau namanya atau dari mana sesungguhnya dia datang.</p>
<p>Begitulah. Berbulan-bulan sudah perempuan itu, bersama si lelaki, tinggal dan menetap di sana, di rumah yang temboknya masih memancarkan bau amis darah yang sesekali tercium oleh sebagian penduduk saat angin bertiup terlalu kencang, mengalirkan udara lembab, kering, dan aroma anyir, dari kaki bukit hingga ke lorong-lorong gelap di seantero kota.</p>
<p>Rumahnya tidak terlalu istimewa, tapi rumah itu begitu dicintainya. Dia tanami pekarangannya dengan kembang sepatu, melati, dan kenanga. Dia bersihkan rumput pengganggu seminggu sekali, dan setiap pagi ketika matahari belum terlalu tinggi, disiraminya bunga-bunga kesayangannya dengan darahnya. Tetes demi tetes, setiap pagi. Perempuan itu bahkan menggali parit di sekeliling rumahnya yang sederhana, dan menemukan beberapa kuntum teratai ungu bermekaran di dalam parit itu pada suatu senja.</p>
<p>Perempuan itu bahagia, setidaknya begitulah kelihatannya. Rumah dan pekarangan yang asri, teratai ungu yang sesekali dipetiknya karena dia menyukai warna magenta, lelaki teman hidupnya, apa lagi yang dia cari? Dia bahagia. Hingga suatu pagi perempuan itu mendapati sisi ranjang tempat lelakinya biasa tidur memeluknya, kosong. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Perempuan itu kemudian tau, lelakinya tak akan pernah kembali. Dan ia tak pernah bertanya-tanya lagi, tak pernah berusaha mencari kemana lelakinya pergi. Perkara cinta telah lama dilupakannya. <em>Siapa butuh cinta jika aku bisa bahagia tanpanya?</em> Begitu selalu yang dia katakan kepada dirinya sendiri.</p>
<p>Hari-hari berikutnya dia jalani biasa saja. Setiap pagi masih disiraminya kembang sepatu, melati, dan kenanga yang semakin subur dengan darahnya. Seminggu sekali, dengan penuh cinta dia bersihkan pekarangan rumahnya, mencabuti rumput-rumput liar yang masih saja tumbuh dan tumbuh lagi, tak bosan-bosan. Ketika musim penghujan tiba, perempuan itu sibuk memunguti helai-helai hujan yang berjatuhan, memintalnya menjadi selendang warna-warni yang sepintas terlihat seperti pelangi. Barangkali ia memang sedang menciptakan pelangi. Atau sekadar sesuatu yang mirip pelangi.</p>
<p>Hingga suatu hari ketika hujan baru saja reda dan perempuan itu kembali memintal selendang warna-warni yang benangnya dia dapatkan dari helai-helai hujan, menjuntai bertebaran nyaris memenuhi pekarangan rumahnya yang asri, ia melihat sosok seorang lelaki, berdiri menatapnya dari  seberang parit yang memisahkan rumah dengan dunia di luarnya. Ragu-ragu, perempuan itu membuka pintu, berjalan melintasi pekarangan yang masih berkilau dipenuhi helai hujan keperakan, menghampiri sosok asing yang baru kali ini dilihatnya.</p>
<p>Laki-laki itu tersenyum, dengan satu langkah lebar dilompatinya parit yang memisahkan mereka, lantas entah bagaimana mulanya, tak lama kemudian mereka sudah bertukar cerita dan tertawa-tawa, sesekali si perempuan terkikik sambil memilin-milin rambutnya. Malam itu mereka bercinta.</p>
<p>Esok paginya, laki-laki itu terbangun, tergeragap mencari perempuan yang dicumbuinya tadi malam. Kemudian, sesuatu membuat si lelaki membawa langkahnya ke pekarangan belakang. Helai-helai hujan sudah lama mencair, membuat tanah pekarangan menjadi lebih becek dan lembab. Dan di sana, perempuan itu berdiri membelakangi si lelaki, bagian depan tubuhnya menghadap ke arah matahari. Selendang warna-warni didekapnya erat dan lama, sebelum perlahan-lahan dilemparkannya ke udara. Selendang itu meliuk-liuk, melayang dengan anggun menjauhi bumi, lalu pada jarak tertentu ia berhenti. Warnanya terlihat lebih cemerlang sekarang. Merah, kuning, hijau, biru, jingga. Dan sebelum lelaki itu sempat memanggil si perempuan yang baru dia sadari kemudian bahwa dia belum tau namanya, tubuh perempuan itu pelan-pelan seperti meleleh, tangannya bukan lagi tangan manusia, sepasang tungkainya yang jenjang bukan lagi tungkai yang melingkari pinggang si lelaki tadi malam, dan rambutnya yang legam panjang membentuk sepasang sayap di punggungnya yang telanjang. Perempuan itu mewujud kupu-kupu, dengan lembut mengepakkan sayapnya semakin lama semakin cepat, kemudian perlahan terbang, menuju pelangi warna-warni yang telah selesai dipintalnya.</p>
<p><em>*terinspirasi dari <a href="http://amorningdew.wordpress.com/2009/02/19/perempuan-yang-mati-sebagai-kucing/">tulisan Ning</a>, kawan baik yang pernah begitu dekat tapi cukup lama menghilang.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2009/03/14/perempuan-dan-selendang-warna-pelangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>#13: Lovely Valerie</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2009/02/21/13-lovely-valerie/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2009/02/21/13-lovely-valerie/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 17:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=845</guid>
		<description><![CDATA[Hujan baru saja usai, dan wangi tanah sesudahnya memenuhi paru-paruku, bersaing dengan samar aroma kembang sedap malam yang sudah setengah layu namun belum sempat kuganti di vas kristal tinggi langsing di sudut meja rias, bersebelahan dengan botol-botol parfum yang kukoleksi sejak bertahun-tahun yang lalu. Menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan sebanyak-banyak oksigen kemudian menghembuskannya perlahan, tiba-tiba saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F02%2F21%2F13-lovely-valerie%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2009%2F02%2F21%2F13-lovely-valerie%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Hujan baru saja usai, dan wangi tanah sesudahnya memenuhi paru-paruku, bersaing dengan samar aroma kembang sedap malam yang sudah setengah layu namun belum sempat kuganti di vas kristal tinggi langsing di sudut meja rias, bersebelahan dengan botol-botol parfum yang kukoleksi sejak bertahun-tahun yang lalu.</p>
<p>Menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan sebanyak-banyak oksigen kemudian menghembuskannya perlahan, tiba-tiba saja aku merasakan ngilu yang teramat sangat di ulu hati. Di mana dia saat ini? Di mana Bre, kekasihku? Dan seolah dituntun oleh sesuatu yang tak terlihat, begitu saja tanganku merogoh selembar foto yang tersimpan rapi, tersembunyi di antara tumpukan kertas kerjaku. Fotoku bersama Bre. Rasanya aku bahkan bisa mendengar tawa Bre saat dengan setengah memaksa ia mengabadikan gambar kami berdua dengan kamera ponselnya. Foto dengan kualitas gambar seadanya, tanpa mempedulikan sedikitpun nilai-nilai estetika dan teknik fotografi yang baik, namun juga yang begitu kusukai hingga aku mencetak dan menyimpannya diam-diam hingga kini.</p>
<p>Aku merekam semuanya dengan jelas di simpul-simpul saraf, mengingat bahkan hampir semua isi perbincangan kami, pertengkaran-pertengkaran kecil yang kini terasa lucu, hingga caranya membuatku kembali tersenyum dan akhirnya terkikik sembari mengomel panjang pendek karena celetukan-celetukan bodoh dan selera humornya yang aneh dan tak biasa, setidaknya untukku.</p>
<p>Berapa purnama sudah, Bre? Berapa lama sejak pertemuan terakhir kita di Jogja yang hingga detik ini masih menyisakan luka menganga? Darah mungkin tak lagi mengalir dari lukaku, tapi sesekali, sesekali nyerinya masih terasa. Perihnya masih tertinggal, merayap menebar racun ke setiap sudut ruang hati, lantas meninggalkanku terisak sendirian.</p>
<p>Berapa lama sudah? Sedikitpun tak ada kabar, dan dengan angkuh aku juga sengaja tak pernah berusaha mencari kabar tentangnya. Kami sudah selesai, dia memintaku pergi meski aku tak ingin pergi.</p>
<p>Hujan telah benar-benar berhenti sekarang. Dengan malas, kubuka jendela kamar, mematikan AC dan kembali duduk di depan komputerku,  berusaha menulis dengan otak yang sama sekali buntu. Telah lewat sepuluh menit dan aku belum sanggup menuliskan bahkan satu kalimat pendek untuk mengawali bab baru.</p>
<p>Setengah putus asa dan merasa bahwa malam ini akan berlalu sia-sia tanpa sedikitpun tulisan yang layak disimpan sebagai draft novel, kunyalakan sebatang rokok dan beringsut ke sudut kamar, berharap menemukan sebatang coklat atau makanan di kulkas. Sedikit asupan gula mungkin berguna, pikirku.</p>
<p>Dan tepat ketika kututup pintu lemari es dan dengan hati sedikit ringan mulai mengunyah manis-pahit  Toblerone hitam yang kutemukan di sana, jantungku mendadak seolah berhenti. Lamat-lamat suara gitar, intro sebuah lagu yang aku hapal di luar kepala karena Bre selalu menyanyikan lagu ini setiap ada kesempatan, membekukan seluruh sendi tubuhku dan membuatku lumpuh. Berusaha menguatkan hati, aku menunggu, sebelah tanganku tak lagi menggenggam sebatang coklat yang baru kucicipi ujungnya. Coklat itu terjatuh begitu saja, tergeletak dengan tololnya di dekat kaki kiriku. Sebelah lenganku berusaha meraih punggung kursi, bertumpu di sana sebelum aku benar-benar jatuh lemas.</p>
<p>Betul saja. Ya Tuhan&#8230;.itu Bre. Hanya Bre yang tau lagu ini karena dia menciptakannya untukku setaun yang lalu.</p>
<p><em>Just like a falling star, you came into my life<br />
brightening you are, mesmerizing in my eyes<br />
and just like that, I fell inlove with you<br />
I can&#8217;t take you out of my mind,<br />
I can&#8217;t take you out of my mind..</em></p>
<p><em>Can you tell me, &#8220;this is true..&#8221;<br />
when I fall in love with you<br />
can you tell me, is this true?</em></p>
<p><em>Cause I&#8217;ve fell in love with you,<br />
since the first day I met you<br />
take my hands, dance with me..</em></p>
<p>Aku ingat, Bre menggerutu waktu aku tak bisa menahan tawa ketika pertama kali mendengar dia memamerkan lagu ini.</p>
<p><em>&#8220;Ya ya, ketawain aja. I wrote this song for you. Ketawain aja kalo gak kasian. Ini buat kamu, tau&#8221;.</em></p>
<p><em>&#8220;Oh? Kalo gitu kenapa judulnya bukan Lovely You atau Lovely Alrisha? Kenapa Valerie? Emang Valerie siapa?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Yah, baby. Namanya juga&#8230; Waktu nulis lyricnya, yang kepikir pertama kali memang nama Valerie. Lebih romantis dan enak didengar daripada Lovely Alrisha&#8221;</em>, ujar Bre sambil menyandarkan gitarnya di sandaran sofa.</p>
<p>Masih tersenyum-tersenyum, kutuang kopi untuknya.</p>
<p><em>&#8220;Okay, lagunya boleh juga. Beneran itu lagu buat aku? Bukan buat Arimbi?&#8221;</em></p>
<p>Dengan gemas direngkuhnya pinggangku, menjatuhkan tubuhku di sofa, menahan kedua lenganku yang terentang di atas kepalaku dan terburu-buru membukai kancing blouse merahku.</p>
<p><em>&#8220;Stop it. Stop! Bre, udah!&#8221;</em>, protesku, berusaha melepaskan diri.</p>
<p>Usaha setengah hati yang sia-sia, karena segera saja tangan Bre dengan kasar mulai merayapi setiap jengkal tubuhku dan nafasnya terasa panas di leher, dada, kemudian perutku. Nafasku memburu.</p>
<p>Lamunanku terhenti tepat ketika lagu itu berakhir, dan setengah berlari sampai-sampai nyaris menabrak meja tamu, aku menghambur ke pintu depan, membukanya serampangan dan dengan hati tak karuan menemukan Bre berdiri di sana. Gitarnya tergeletak di lantai teras.</p>
<p><em>&#8220;Alrisha&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Baby&#8230;&#8221;</em>, suaraku basah dan gemetar. Telapak tanganku lembab oleh keringat padahal aku setengah mampus kedinginan.</p>
<p><em>&#8220;Risha, aku akan menikah. Bulan depan&#8221;</em>, matanya menatapku kosong.</p>
<p><em>&#8220;Bre&#8230;&#8221;</em>, aku bertanya lewat mataku yang diam. Bre tak menjawab, tapi aku menangkap kerinduan yang bergeletar memenuhi udara di sekitar kami. Wajah kami begitu dekat.</p>
<p>Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Bre memelukku kuat-kuat, terlalu kuat, dan menyeretku masuk ke dalam rumah, membanting pintu hingga berdebam menutup dengan sebelah kakinya, kemudian menggelandang tubuhku yang lemas oleh kekagetan tak kepalang karena kedatangannya yang tak terduga, menciumiku dengan kebuasan seekor binatang yang kelaparan, ke kamar.</p>
<p><em>*thanks to <a href="http://ipoet.net/log">Putra Nasution</a> untuk kiriman lagu &#8216;Lovely Valerie&#8217;, dan inspirasi yang menyertainya.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2009/02/21/13-lovely-valerie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perempuan. kepada senja.</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/12/05/perempuan-kepada-senja/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/12/05/perempuan-kepada-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=830</guid>
		<description><![CDATA[Pada sebuah senja, perempuan menitip sepotong cerita.Tentang taun-taun yang lewat. Tentang segala manis pahit getir, dan sesuatu tentang lelaki yang datang dari sebuah masa, lelaki yang kini dikenangnya dengan tawa dan kerjap mata yang menyimpan cinta. Lelaki yang, kau tau, bahkan aroma tubuhnya masih terekam jelas, dan sesekali perempuan itu mengingatnya saat tanpa sengaja sepenggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F12%2F05%2Fperempuan-kepada-senja%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F12%2F05%2Fperempuan-kepada-senja%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Pada sebuah senja, perempuan menitip sepotong cerita.Tentang taun-taun yang lewat. Tentang segala manis pahit getir, dan sesuatu tentang lelaki yang datang dari sebuah masa, lelaki yang kini dikenangnya dengan tawa dan kerjap mata yang menyimpan cinta. Lelaki yang, kau tau, bahkan aroma tubuhnya masih terekam jelas, dan sesekali perempuan itu mengingatnya saat tanpa sengaja sepenggal puisi atau denting-denting lagu tertentu membawanya kembali ke rentang waktu bertaun-taun yang lalu.</p>
<p>Apa, kenapa, dan ribuan tanya dijawabnya kemudian tanpa penuh dia pahami bagaimana mungkin seorang perempuan sanggup bercerita begitu runut pada sekeping senja yang asing. Terbata, tersenyum dan tertawa ia bersamanya, dengan mata yang, kau tau, selamanya akan menyimpan cinta.</p>
<p>Lelaki yang kau tanyakan, kata perempuan kepada senja, dia ada di sini. Perempuan menunjuk jantungnya sendiri, tak yakin senja mengerti. </p>
<p>Hidup memang musykil, abstrak sesekali. Tak semua hal di dunia ini musti kau mengerti, pun tak semua harus diamini, kata perempuan lagi, berlalu meninggalkan sekeping senja yang asing, yang selarik kilaunya, potongan terakhir dari sekeping yang tadi, lenyap bersama matahari yang perlahan-lahan mati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/12/05/perempuan-kepada-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dear girlfriend</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/11/25/dear-girlfriend/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/11/25/dear-girlfriend/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 03:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[lagi goblok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=823</guid>
		<description><![CDATA[Dear girlfriend, One day when you&#8217;re done with him (when he&#8217;s done with you?), we&#8217;ll hang out, just the two of us, and we&#8217;ll talk over coffee (or tea, or milk if you don&#8217;t drink coffee), and I promise you, I promise you I will tell you everything. Every secret, every lie. Everything. And then [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F11%2F25%2Fdear-girlfriend%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F11%2F25%2Fdear-girlfriend%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Dear girlfriend,</p>
<p>One day when you&#8217;re done with him (when he&#8217;s done with you?), we&#8217;ll hang out, just the two of us, and we&#8217;ll talk over coffee (or tea, or milk if you don&#8217;t drink coffee), and I promise you, I promise you I will tell you everything. Every secret, every lie. Everything. And then you&#8217;ll see why I always, always say &#8216;TRUST NO ONE&#8217;.</p>
<p>Until that day, you can live your life the way you choose. You can, of course, fool yourself, believing that it is a rabbit that he pulls out of his hat. He gives you rabbit because he knows you want to see a rabbit. He&#8217;s good. Pretty smooth, I&#8217;m telling ya. </p>
<p>Good luck, dear. Let&#8217;s just hope you&#8217;re not gonna have to go through what some girls went through. Pray, if you believe in God. </p>
<p>He doesn&#8217;t. I don&#8217;t.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/11/25/dear-girlfriend/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>membunuh mimpi</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/09/23/membunuh-mimpi/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/09/23/membunuh-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 20:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[sadness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=788</guid>
		<description><![CDATA[Jika hidup tak lebih dari serangkaian drama yang di satu babak membuatmu tertawa namun pada babak yang lain ia memaksamu tersungkur menangisi kekalahan, coba ceritakan padaku: apa rasanya memeluk mimpimu dalam diam kemudian membiarkannya mati perlahan? Bre, apa kabarmu sekarang?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F09%2F23%2Fmembunuh-mimpi%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F09%2F23%2Fmembunuh-mimpi%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/09/abused_by_kyra_eden.jpg'><img src="http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/09/abused_by_kyra_eden.jpg" alt="" title="" class="alignnone size-medium wp-image-789" /></a></p>
<p>Jika hidup tak lebih dari serangkaian drama yang di satu babak membuatmu tertawa namun pada babak yang lain ia memaksamu tersungkur menangisi kekalahan, coba ceritakan padaku: apa rasanya memeluk mimpimu dalam diam kemudian membiarkannya mati perlahan? </p>
<p><em><a href="http://tukangkopi.wordpress.com/2008/06/13/matahari-padam-yogya-setelah-kamu-pergi/">Bre</a>, apa kabarmu sekarang?</p>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/09/23/membunuh-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>elia adalah alaska</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/09/11/elia-adalah-alaska/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/09/11/elia-adalah-alaska/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 18:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[review?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sempat kecewa karena kemaren nyari-nyari tapi gak dapet CD Kompilasi Band Baru &#8211; All New Bands Inside keluaran EMI, salah satu major label, akhirnya tadi nemu juga album kompilasi ini di sebuah toko kaset (toko kaset??) di Cibubur Junction. Kenapa saya posting dan sok ngereview album kompilasi yang baru beberapa hari ini dirilis? Pertama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F09%2F11%2Felia-adalah-alaska%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F09%2F11%2Felia-adalah-alaska%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/09/cd-cover.jpg'><img src="http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/09/cd-cover-298x300.jpg" alt="" title="cd-cover" width="298" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-778" /></a></p>
<p>Setelah sempat kecewa karena kemaren nyari-nyari tapi gak dapet <em>CD Kompilasi Band Baru &#8211; All New Bands Inside</em> keluaran EMI, salah satu <em>major label</em>, akhirnya tadi nemu juga album kompilasi ini di sebuah toko kaset (toko kaset??) di Cibubur Junction. </p>
<p>Kenapa saya posting dan sok ngereview album kompilasi yang baru beberapa hari ini dirilis? </p>
<p>Pertama, karena ada dua lagu dari Alaska di album ini, yang vokalisnya adalah salah satu temen blogger saya, <a href="http://beerntv.blogspot.com/">Elia Bintang</a>. Kedua, karena saya memang sok tau dan pengen coba-coba nulis review walau pun harus saya akui, tulisan ini pasti agak-agak subyektif dan ngasal, karena saya bukan orang musik, gak bisa main musik (bisa sih dikit-dikit main gitar, lumayan buat ngamen di prapatan), hanya penikmat dan pendengar. Ketiga, jujur saja, karena Elia. Dia blogger (yay! hidup blogger!!), masih sangat muda, dan baru memulai langkahnya menyumbangkan karya untuk dunia musik tanah air, dan sudah selayaknya kita semua mengapresiasi semangatnya agar tak patah di tengah jalan. Harap dicatat, industri musik di Indonesia bisa dibilang ajaib. Hanya yang beruntung dan punya semangat tinggi yang bisa <em>survive</em>. </p>
<p>Yuk, mulai.</p>
<p>Secara keseluruhan, album ini bisa dibilang lumayan. Tidak jelek, tapi juga tidak terlalu istimewa. Dari empat belas lagu, saya suka Cahaya (Alaska), dan empat lagu lain dari M.I.G.I dan Kaktoos. Dua band yang saya sebut terakhir, M.I.G.I dan Kaktoos, punya warna yang agak berbeda. Masih nge-pop, tapi karakter vokal penyanyi kedua band ini (yang di telinga saya terdengar mirip dan agak susah dibedain, entahlah) lumayan matang, dan teknik <em>falsetto</em>nya halus. </p>
<p>Kembali ke Alaska, lagu bertajuk Cahaya terasa sejuk, <em>easy listening</em>, dengan lirik yang agak serius dibandingin Masuk Kuping Kiri Keluar Kuping Kanan (astaga, judulnya panjang bener). Sedikit sentuhan string membuat lagu ini terasa manis. Pada lagu Masuk Kuping Kiri Keluar Kuping Kanan, kita bisa menikmati petikan gitar akustik Elia dan suara perkusi yang cukup dominan. Pilihan yang bagus, karena menurut saya warna vokal Elia memang pop banget. Ringan, <em>range</em>nya tidak terlalu luas, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat dia akan berani lebih mengeksplorasi teknik bernyanyinya dan menjajal nada-nada tinggi atau membawakan lagu-lagu yang lebih <em>up beat</em>, misalnya.</p>
<p><a href='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/09/elia.jpg'><img src="http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/09/elia.jpg" alt="" title="elia" width="161" height="214" class="alignnone size-medium wp-image-779" /></a></p>
<p>Bagaimanapun juga, Elia dan Alaska telah memulai langkah pertamanya menapaki karier di industri musik Indonesia. Album kompilasi yang menurut pengakuannya dikebut dan makan waktu hanya tiga bulan sejak proses <em>take, mixing, mastering</em>, hingga rilis di pasaran, mudah-mudahan akan terus berlanjut. Semoga taun depan Alaska benar-benar merilis album mereka. Kita doakan saja.</p>
<p>Good luck, El! Berkaryalah terus, dan jangan biarkan siapapun mematahkan semangatmu untuk terus bermusik, seperti tersirat di taglinemu yang keren.<br />
<em><br />
Life is a game. Have fun with it. Say what you wanna say, do what you wanna do, regret nothing, and don&#8217;t let people who don&#8217;t matter bring you down.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/09/11/elia-adalah-alaska/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bukan puisi cinta</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/04/28/bukan-puisi-cinta/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/04/28/bukan-puisi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 15:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[lagi goblok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/04/28/bukan-puisi-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[kau tak pernah bertanya, tapi biar kuberi jawabnya :kamu lah api, anggur, gelombang pasang, angin puting beliung yang meluluhlantakkan seantero negeri kamu matahari di bulan juni jangan tanya apa rasanya saat kau katakan kau butuh sedikit ruang aha! ruang, ya? ya ya, rasanya tak mengapa juga kuberikan kau ruang agar kita tak saling kehilangan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F28%2Fbukan-puisi-cinta%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F28%2Fbukan-puisi-cinta%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/04/kiss3.jpg' title='kiss3.jpg'><img src='http://venus-to-mars.com/wp-content/uploads/2008/04/kiss3.jpg' alt='kiss3.jpg' /></a></p>
<p>kau tak pernah bertanya, tapi biar kuberi jawabnya</p>
<p>:kamu lah api, anggur, gelombang pasang,<br />
angin puting beliung yang meluluhlantakkan seantero negeri<br />
kamu matahari di bulan juni</p>
<p>jangan tanya apa rasanya saat kau katakan kau butuh sedikit ruang<br />
aha!<br />
ruang, ya?<br />
ya ya, rasanya tak mengapa juga<br />
kuberikan kau ruang agar kita tak saling kehilangan<br />
dan saat kau kembali<br />
kita akan berkelana sekali lagi<br />
bertemu lalu bercinta di sudut-sudut gelap kota<br />
dan hey,<br />
bukankah yang terburuk pun telah kita lewati?</p>
<p>jadi begitulah<br />
kau boleh pergi<br />
bawa saja separuh hatiku<br />
tanpamu, sepertinya aku tak membutuhkannya lagi</p>
<p><em>*sungguh, ini bukan puisi cinta. hanya sedikit catatan tentang hari ini. percakapan yang tak selesai. cerita yang belum (barangkali memang tak harus dan tak akan pernah) usai. tentang <a href="http://hayaaahhh...mau tau aja!">kamu</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/04/28/bukan-puisi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lakon satu babak</title>
		<link>http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/</link>
		<comments>http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 17:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>venus</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/</guid>
		<description><![CDATA[Ini dongeng pengantar tidurmu malam ini, tuan. Cerita perjalanan seorang perempuan. Telah lelah ia berlari mengejar pelangi. Ia berharap pada pagi, malam hingga pagi lagi, juga senja yang sejenak singgah hanya untuk mengantarnya, sekali lagi, mengarungi malam. Masih ditahankannya penat karena perempuan itu percaya, esok atau esoknya lagi akan digenggamnya selarik warna biru, hijau, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F26%2Flakon-satu-babak%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fvenus-to-mars.com%2F2008%2F04%2F26%2Flakon-satu-babak%2F&amp;source=venustweets&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Ini dongeng pengantar tidurmu malam ini, tuan. Cerita perjalanan seorang perempuan. Telah lelah ia berlari mengejar pelangi. Ia berharap pada pagi, malam hingga pagi lagi, juga senja yang sejenak singgah hanya untuk mengantarnya, sekali lagi, mengarungi malam. Masih ditahankannya penat karena perempuan itu percaya, esok atau esoknya lagi akan digenggamnya selarik warna biru, hijau, dan lila, menetes ke telapaknya, kemilau serupa permata, jelmaan titian para bidadari.</p>
<p>Kemudian suatu siang saat matahari begitu garang, nyaris membutakan, ketika ketika kedua kakinya tak kuasa menapak, sekujur tubuhnya basah bermandi peluh, dan disangkanya sedikit lagi ia akan sampai di akhir kehidupan, ia berpapasan dengan seseorang. Seorang lelaki, tuan. Yang konon lahir saat laut pasang dan ombak bergulung-gulung menghantam garis pantai, berwajah rupawan dengan otot dada dan lengan yang liat, yang kulitnya indah berwarna tembaga. Lelaki itu menangkapnya tepat sesaat sebelum si perempuan terpuruk jatuh di bentangan cadas yang panas terpanggang di padang gersang. Lamat-lamat didengarnya lelaki itu mendendangkan sebuah tembang, keindahan yang musykil dan abstrak, sebentuk suara asing yang seolah datang dari negeri yang jauh, dengan bahasa yang belum pernah didengarnya. Lelaki itu memeluk sembari terus membisikkan kidung ajaibnya. Dan perempuan itu jatuh hati begitu saja. Pada rautnya, kulitnya yang sewarna tembaga, barangkali juga lengan-lengannya yang kuat mendekap. Pada aroma tubuhnya.</p>
<p>Lakon selanjutnya, tuan pasti sudah paham. Perempuan itu, yang wajahnya pias oleh duka berabad-abad kembali merona oleh darah kehidupan yang lelaki itu tawarkan. Ia mabuk hanya dengan memandang matanya yang berpendar-pendar mengisyaratkan cinta. Yang perempuan itu lupa, mencintai bisa membuat mata hatinya buta. Lelaki itu seolah menggenapinya, membuat perjalanan terasa sempurna. Terlihat sempurna. Tanpa sedikit pun cela. Sampai suatu malam, berhembus kabar dari penjuru yang entah. Lelaki yang dipujanya, tuan, ternyata tak seelok wajahnya. Ia lahir bukan saat purnama dan laut pasang. Ia jelmaan api, terpercik dari pusat galaksi kemudian mewujud lelatu di pucuk pohon-pohon randu. Racunnya terasa madu, onak duri dibuatnya seindah rangkaian worawari. </p>
<p>Tertebakkah akhir cerita ini, tuan? Suatu pagi saat embun bahkan belum pergi, perempuan itu ditemukan tergeletak tak jauh dari ujung pelangi. Wajahnya lesi. Di jantungnya tertancap sebilah belati. Udara mendadak beku, menguarkan bau mayit dan kembang tujuh rupa yang menggigilkan tulang.</p>
<p>Berkubang darah, tergerus oleh ketololannya sendiri, perempuan itu&#8230;.mati.</p>
<p><em>*terima kasih buat <a href="http://ndorokakung.com/2008/04/23/senja-pecas-ndahe-3/">ndoro</a>.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://venus-to-mars.com/2008/04/26/lakon-satu-babak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

