cinta adalah…

 

Cinta adalah sekeping senja yang basah, jalanan yang padat dan memaksaku berkali-kali memaki hujan yang tumpah.

Tapi bagaimana bisa kita menyalahkan hujan? Aku menyukai dingin yang menyertai tiap helainya, dan pipiku memerah ketika tanpa sengaja tangan kita bersentuhan.

Hujan. Kita menepi, menemukan sebuah sudut dengan kursi empuk yang nyaman dan menularkan kehangatan. Lampu-lampu gantung dengan sinarnya yang temaram. Aroma kopi, sekaleng bir yang kamu nikmati berlama-lama di tengah obrolan panjang, dim sum, dan senyummu yang teduh dan memabukkan.

 

 

jogja. kamu

From Drop Box

Masih tentang Jogja, kota yang tak pernah bosan kukenang dan kuceritakan.

Dan kamu. Lelaki yang terlambat datang, meremas jemariku diam-diam, memelukku berlama-lama, menciumi setiap inci tubuhku mengatasnamakan cinta dan segala pembenaran, tertawa-tawa berpura-pura bahwa kita bukan siapa-siapa saat pagi menjelang. Begitulah kita seharusnya: bukan siapa-siapa.

Enam belas taun lewat, dan aku bermimpi tentangmu tadi malam. Maafkan, tapi bahkan membayangkan bertemu kembali denganmu sudah membuatku gemetar.

*maukah kau nyanyikan lagu kita sekali lagi jika nanti kau datang?

perempuan dan selendang warna pelangi

From Drop Box

Perempuan yang kabarnya mati sebagai kucing, tergilas roda mobil hitam milik entah siapa pada suatu malam, hingga berceceran darah dan serpihan dagingnya di permukaan aspal yang dingin, ia belum mati.

Tak seorang pun di kota itu percaya tentang si perempuan, kecuali gelandangan tua itu tentu saja. Lelaki malang yang melewatkan hampir seluruh hidupnya berpindah dari satu emperan toko ke emperan toko lain, dari trotoar satu ke trotoar lain, yang tiap subuh menjelang, dengan sabar mengais-ngais tong sampah di depan rumah-rumah dan gedung-gedung megah yang dengan congkaknya bertebaran di empat penjuru kota. Hanya gelandangan tua itu yang percaya bahwa perempuan itu ada.

Sungguh, perempuan yang dikabarkan mati sebagai kucing itu belum mati. Ia hidup di kaki bukit tak jauh dari kota tempat ia terlihat terakhir kali. Dan ia tidak sendirian. Di rumah yang dibangunnya dari tanah lempung dan dia warnai dinding-dindingnya dengan darahnya, tinggal seorang laki-laki. Barangkali suaminya, entahlah. Bisa jadi begitu. Tapi siapa peduli? Perempuan itu bukan siapa-siapa, bahkan tak seorangpun tau namanya atau dari mana sesungguhnya dia datang.

Begitulah. Berbulan-bulan sudah perempuan itu, bersama si lelaki, tinggal dan menetap di sana, di rumah yang temboknya masih memancarkan bau amis darah yang sesekali tercium oleh sebagian penduduk saat angin bertiup terlalu kencang, mengalirkan udara lembab, kering, dan aroma anyir, dari kaki bukit hingga ke lorong-lorong gelap di seantero kota.

Rumahnya tidak terlalu istimewa, tapi rumah itu begitu dicintainya. Dia tanami pekarangannya dengan kembang sepatu, melati, dan kenanga. Dia bersihkan rumput pengganggu seminggu sekali, dan setiap pagi ketika matahari belum terlalu tinggi, disiraminya bunga-bunga kesayangannya dengan darahnya. Tetes demi tetes, setiap pagi. Perempuan itu bahkan menggali parit di sekeliling rumahnya yang sederhana, dan menemukan beberapa kuntum teratai ungu bermekaran di dalam parit itu pada suatu senja.

Perempuan itu bahagia, setidaknya begitulah kelihatannya. Rumah dan pekarangan yang asri, teratai ungu yang sesekali dipetiknya karena dia menyukai warna magenta, lelaki teman hidupnya, apa lagi yang dia cari? Dia bahagia. Hingga suatu pagi perempuan itu mendapati sisi ranjang tempat lelakinya biasa tidur memeluknya, kosong. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Perempuan itu kemudian tau, lelakinya tak akan pernah kembali. Dan ia tak pernah bertanya-tanya lagi, tak pernah berusaha mencari kemana lelakinya pergi. Perkara cinta telah lama dilupakannya. Siapa butuh cinta jika aku bisa bahagia tanpanya? Begitu selalu yang dia katakan kepada dirinya sendiri.

Hari-hari berikutnya dia jalani biasa saja. Setiap pagi masih disiraminya kembang sepatu, melati, dan kenanga yang semakin subur dengan darahnya. Seminggu sekali, dengan penuh cinta dia bersihkan pekarangan rumahnya, mencabuti rumput-rumput liar yang masih saja tumbuh dan tumbuh lagi, tak bosan-bosan. Ketika musim penghujan tiba, perempuan itu sibuk memunguti helai-helai hujan yang berjatuhan, memintalnya menjadi selendang warna-warni yang sepintas terlihat seperti pelangi. Barangkali ia memang sedang menciptakan pelangi. Atau sekadar sesuatu yang mirip pelangi.

Hingga suatu hari ketika hujan baru saja reda dan perempuan itu kembali memintal selendang warna-warni yang benangnya dia dapatkan dari helai-helai hujan, menjuntai bertebaran nyaris memenuhi pekarangan rumahnya yang asri, ia melihat sosok seorang lelaki, berdiri menatapnya dari seberang parit yang memisahkan rumah dengan dunia di luarnya. Ragu-ragu, perempuan itu membuka pintu, berjalan melintasi pekarangan yang masih berkilau dipenuhi helai hujan keperakan, menghampiri sosok asing yang baru kali ini dilihatnya.

Laki-laki itu tersenyum, dengan satu langkah lebar dilompatinya parit yang memisahkan mereka, lantas entah bagaimana mulanya, tak lama kemudian mereka sudah bertukar cerita dan tertawa-tawa, sesekali si perempuan terkikik sambil memilin-milin rambutnya. Malam itu mereka bercinta.

Esok paginya, laki-laki itu terbangun, tergeragap mencari perempuan yang dicumbuinya tadi malam. Kemudian, sesuatu membuat si lelaki membawa langkahnya ke pekarangan belakang. Helai-helai hujan sudah lama mencair, membuat tanah pekarangan menjadi lebih becek dan lembab. Dan di sana, perempuan itu berdiri membelakangi si lelaki, bagian depan tubuhnya menghadap ke arah matahari. Selendang warna-warni didekapnya erat dan lama, sebelum perlahan-lahan dilemparkannya ke udara. Selendang itu meliuk-liuk, melayang dengan anggun menjauhi bumi, lalu pada jarak tertentu ia berhenti. Warnanya terlihat lebih cemerlang sekarang. Merah, kuning, hijau, biru, jingga. Dan sebelum lelaki itu sempat memanggil si perempuan yang baru dia sadari kemudian bahwa dia belum tau namanya, tubuh perempuan itu pelan-pelan seperti meleleh, tangannya bukan lagi tangan manusia, sepasang tungkainya yang jenjang bukan lagi tungkai yang melingkari pinggang si lelaki tadi malam, dan rambutnya yang legam panjang membentuk sepasang sayap di punggungnya yang telanjang. Perempuan itu mewujud kupu-kupu, dengan lembut mengepakkan sayapnya semakin lama semakin cepat, kemudian perlahan terbang, menuju pelangi warna-warni yang telah selesai dipintalnya.

*terinspirasi dari tulisan Ning, kawan baik yang pernah begitu dekat tapi cukup lama menghilang.