
Postingan yang tertunda beberapa hari, soal selingkuhan online. Tau maksud saya, kan?
Jadi gini situasinya.
Sabtu sore kemaren, sambil nemenin precil-precil les renang, sendirian di pinggir kolam renang sambil browsing, menikmati A mild menthol dan secangkir kopi pahit (wuah indahnyaaaa…), saya sempet chatting di messenger dengan seorang kawan yang suka ngaku-ngaku sebagai ‘piaraan’ saya. Seperti biasa, kita ngobrol tentang banyak hal, sampai akhirnya nyampe juga ke obrolan ‘edisi curhat’. Intinya, kita sepakat bahwa ternyata memang hampir semua orang, terutama di lingkaran kita, punya atau setidaknya pernah punya selingkuhan online. Ada yang keberatan dengan istilah selingkuhan? Oke, kita sebut aja temen deket online atau apa lah istilahnya, kalo gitu.
Saya dan temen saya ini, anak muda umur dua puluhan, ‘orang media’, tinggal di Semarang, ngobrolin mulai dari kenapa banyak banget kejadian kayak gini di sekitar kita, apa dan gimana bentuk hubungan virtual itu, dan sejauh mana biasanya hati dan rasa terlibat di dalamnya, atau bagaimana seharusnya memanage hubungan seperti ini agar tak melukai perasaan siapa-siapa. Menyakiti diri sendiri, juga terutama orang-orang di sekitar kita. Keluarga, misalnya.
Beberapa jam sebelumnya, seorang kawan yang lain tiba2 ngebuzz ..
dia: nanya (astagaaa…bilang hallo dulu kek..)
saya: ya?
dia: saya pantes gak sih kena weblove? secara saya tipikal cowo dengan orientasi fisik.
saya: heh?? weblove gimana?
dia: platonis gitu, mbok. jatuh cinta dengan orang yg tdk pernah saya temui.
saya: oooh, maksudnya…terjerat cinta hitam di cyberspace?
dia: hiyaaaahhh..benerrr. diterusin gak mbok, enaknya?
Kemarennya, saya ngobrol dengan temen yang lain. Dua hari sebelumnya, dengan temen yang lain lagi. Masih topik yang sama, temen deket online. Nah. Dari hasil ngobrol-ngobrol itu, saya (makin) tau bahwa ternyata issue ini sama sekali bukan lagi hal yang aneh. Setidaknya saya kenal beberapa orang yang, dari pengakuan mereka sendiri, pernah atau sedang terlibat kisah cinta virtual. Dan yang lebih dahsyat, gak ada lagi batasan umur atau status. Di semua golongan dan kelompok, ini beneran terjadi. Laki-laki, perempuan, anak kuliahan, para professional, golongan pekerja kantoran, ibu rumah tangga. Gila gak sih?
Coba lihat ini. Selain dua teman yang ngobrol sama saya di awal cerita, saya punya daftar yang meski mungkin anonim, tapi percayalah, data ini valid, bukan cuma karangan saya.
- Perempuan, thirty something, ibu 3 anak, status bersuami. Dari pengakuannya, dia pernah punya ‘pacar online’ hampir dua tahun lamanya. Gak pernah ketemu karena selain jarak tempat tinggal mereka ribuan kilometer jauhnya, dia gak punya keberanian untuk itu, dan akhirnya bubar. Si perempuan kembali ke keluarganya, dan mantan pacarnya balik lagi ke tunangannya dengan hati patah. Jangan ketawa dulu, ini beneran. Mantan gebetan online si ibu ini bener-bener patah hati karena perpisahan mereka.
- Perempuan lagi, umur tiga puluhan, seorang istri dan ibu dua anak, pekerja kantoran. Beberapa bulan terakhir dia terlibat sesuatu dengan seseorang, yang walaupun dia bilang ‘cuma iseng, buat temen ngobrol, sayang2an, dan temen berantem kok..’, tapi jelas, ini masuk kategori selingkuhan online, kan?
- Perempuan, bekerja, punya suami dan 3 anak. Temen yang saya kenal udah cukup lama ini, setidaknya sudah 4 taun lebih terlibat hubungan virtual yang kompleks dengan seseorang. Saya katakan kompleks, karena mereka berdua sama-sama sudah menikah, belum pernah ketemuan, tapi begitu yakinnya bahwa ‘dia itu soulmateku, walaupun aku sangat mencintai suamiku’. Lebih aneh lagi, pasangan resmi mereka, bahkan anak2 mereka berdua tau kedekatan mereka, bahkan saling kenal.
- Perempuan (lagi), bekerja, ibu dari satu anak. Usia pernikahannya belum lagi lima tahun, tapi sudah berkali-kali berganti pasangan kencan, yang tentu saja dikenalnya dari internet. Bahkan katanya nih, biasanya setelah beberapa kali pertemuan dan temen kita ini mulai bosen dan merasa gak ada tantangan lagi, udah ga ada deg2annya lagi, temen2 kencannya ini “aku tendang-tendangin aja, mbok”.
- Perempuan, umur dua puluhan, karyawan swasta. Beberapa tahun yang lalu pernah jatuh cinta dengan seseorang, temen chattingnya. Hubungan mereka cukup intens, dia menggambarkannya sebagai ‘indah tapi aneh dan gak masuk akal’. Amat sangat saling mencintai satu sama lain, tapi entah apa alasannya mereka gak pernah ketemu (dan ini bikin saya gemes, sebetulnya), sampai akhirnya salah satu dari mereka menikah dengan orang lain.
Pertanyaan saya sekarang, kalau anda kebetulan ada di posisi mereka, apa yang akan anda lakukan? Maksud saya, kalau anda punya kesempatan ketemu dengan teman dekat anda di dunia maya yang sepertinya memang menjadikan jarak tak ada artinya lagi, anda berani? Anda berani, misalnya, menbawa hubungan anda ke level yang lebih serius? Ketemu, kemudian menjadikan kekasih maya anda ini pacar offline, menyerahkan hati anda kepadanya, mencoba setia, dan melakukan hal-hal seperti layaknya orang pacaran? Tell me people, how far would you go?
*fian, saya gak punya banyak brondong (gila kamu, yaaa???), gak doyan, dan gak pernah nyari-nyari brondong. edan!
update: ada sms dari seseorang, “i’ve read your post. yang jadi pertanyaan, kenapa para selingkuhers itu ngadunya sama simbok??? mau nyari info dari yang lebih pengalaman?” Salah banget, young man! Mereka berani curhat because they trust me. Mereka percaya rahasia mereka aman, saya mau dengerin cerita mereka tanpa sedikitpun niatan ngejudge dan nyalahin siapa2. I’m a damn good listener, you have to admit it! And believe me, their sex life, or YOURS, is none of my business! Happy now??!!

My name is Venus, perempuan, istri, ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang
pinter-pinter dan ganteng-ganteng.