#2: perempuan kedua

“Setan”, umpatku pelan.

Sudah tiga jam menunggu, tapi laki-laki sialan itu belum menelepon juga. Kemana sih, dia? Perlahan kusingkirkan cangkir berisi kopi dingin yang masih tersisa setengahnya, dan menyulut jatah rokok terakhir malam ini. Aku sebal menunggu. Tiga jam, bayangkan. Dia berjanji langsung mengabariku begitu kereta api yang ditumpanginya sampai di Surabaya. Mestinya sudah dari tadi dia berada di rumah.

Lampu kamar sudah kumatikan, dan seluruh ruangan kini bertabur sinar berwarna kuning pucat dari lampu meja kecil di sebelah tempat tidur yang belum sempat kurapikan. Tepatnya, sengaja tak kurapikan karena aku selalu menyukai aroma keringat lelaki sialan itu yang masih menempel di sprei dan sarung bantal yang kusut masai berantakan, seolah sengaja ia tinggalkan di situ, menjadi semacam jejak atau apalah namanya. Aku menyukainya. Membaui sisa-sisa percintaan kami tadi malam membuatku merasa…..nakal. Merasa bergairah, dan karena sesuatu yang tak terjelaskan, membuatku merasa menang. Menang atas apa, siapa, atau untuk apa, entahlah.

Dan layar monitor yang berkedip-kedip di meja kerja di depanku tiba-tiba saja membuatku muak. Baru juga mau masuk bab dua, tapi semua inspirasi mendadak seperti diterbangkan angin entah kemana. Di kejauhan, teriakan penjaja nasi goreng langgananku terdengar semakin samar-samar. Aduh, jam berapa sih, ini? Kenapa dia belum menelepon juga?

“Setan”, aku memaki lagi. Kali ini hanya dalam hati.

Baru saja merebahkan diri di sisi kanan ranjang, sisinya, sisi di mana lelaki itu tidur dalam dekapanku semalaman dan mencoba membayangkan lagi sosok dan wajah lucunya yang mebuatku mabuk, tiba-tiba telepon genggamku berteriak nyaring mengagetkan dan membuyarkan gambar-gambar yang mulai tersusun di benakku. Dan sebelum dering kedua, aku segera menyambar dan menjawab tergesa.

“Halo. Bre? Udah nyampe? Ini lagi di mana?”

“Hai. Udah di rumah, Baby. Baru juga nyampe.”

“Yaela. Jam segini? Emang keretanya telat, gitu?”

“Gak, sih. Cuma tadi aku langsung ke toko buku, nyari kado. Besok Arimbi ulang taun. Lupa?”

“Oh, okay.”

Dia pasti mendengar nada cemburu dalam ‘oh, okay’-ku tadi. Biarin. Sebel.

“Nah kan…ngambek lagi deh. Udah ah. Cape berantem mulu.”

“Yeeeee….gila ya pake ngambek-ngambekan? Gak lah. Udah makan?”

“Udah tadi di jalan. Kamu udah makan? Gak boleh sakit. Inget yang aku bilang tadi pagi, kan? Jangan sakit. Ya sayang, ya?”

Aku tersenyum. Cara bicaranya yang lembut selalu membuatku meleleh, lupa akan sekian jam kegelisahan yang menyesakkan dan kejengkelanku saat mendengar dia menyebut nama Arimbi.

“Udah, udah makan sedikit. Dipaksain nelen daripada kamu omelin”

Good. Udah ya? Besok kita ngobrol lagi. And baby….I love you

Love you, too. Bye, Bre”.

“Dan yang tadi malam, it was great

“Haha…sialan. Udah, sana. Bye.”

Aku masih sempat mendengar tawanya di ujung sana sebelum kututup telepon dan bangkit untuk menyalakan lampu kamar. Perlahan kubuka jendela dan membiarkan udara malam yang basah menerobos masuk, memenuhi paru-paruku, menikmati rasa hangat yang membuncah setelah pertemuan kesekian dengannya. Perjumpaan yang hanya satu malam, selalu hanya satu malam yang kami curi dari hidupnya dan dari kehidupanku sendiri. Hah, aku tertawa pahit. Satu malam yang tak cukup panjang untuk menuntaskan rinduku, atau barangkali juga rindunya padaku. Tapi benarkah dia rindu? Benarkah bukan sekadar keinginan menggebu untuk bercumbu dan melumat tubuhku yang membawanya ke sini setiap dua minggu sekali, mencari alasan-alasan berbeda setiap kali kepada Arimbi, kekasihnya?

Bre. Bre. Aku membisikkan namanya berkali-kali dan merasakan sensasi aneh yang seolah menguar dari pori-poriku tiap kali aku mengingatnya.

Bre.

Ah, aku butuh kopi. Dan rokok, walaupun aku benci merokok setelah menggosok gigi sebelum tidur.

Yak. Cangkir kopi kedua malam ini. Atau ketiga, ya? Aku lupa. Hmmm……kopi dan rokok. Perfect. Kemudian kunyalakan CD player di sudut kamar, mengatur volumenya supaya tak terlalu merusak keheningan malam. Splender. I Think God Can Explain.

There’s a lot of things I understand
And there’s a lot of things that I dont want to know
But you’re the only face I recognize
It’s so damn sweet of you to look me in the eyes

It’s all right, I’m ok
I think God can explain
I believe….

Damn! Lagu favorit kami berdua, lagu yang membuatku menahan napas tiap kali mendengarnya diputar.

Tuhan, bisikku.

Tuhan, kalau Kau memang ada di atas sana atau seperti mereka katakan Kau ada dan mengalir di tiap tetes darahku, jelaskan padaku, apa rencana-Mu? Apa yang membuatMu memutuskan untuk membuat kami bertemu dan tak sengaja berkenalan di sebuah pusat perbelanjaan pada suatu senja yang merah di Jakarta? Kenapa Kau biarkan kami jatuh dalam sesuatu yang tadinya kami sangka hanya cinta sesaat tapi kemudian kami sama-sama terlambat menyadari bahwa kami telah terjebak dalam hubungan aneh, cinta yang aneh, yang serupa pusaran air raksasa yang menyedot kami dengan deras dan tiba-tiba ke pusatnya tanpa kami bisa melawan? Apa mauMu, Tuhan? Kalau memang harus menjadi perempuan pendosa, kenapa harus kepada Bre aku jatuh cinta? Demi surga dan neraka, tak Kau lihatkah, bahkan kami pun jengah dan membenci perbedaan yang terbentang tanpa ampun di antara kami? Tak mungkin Kau lupa bahwa aku perempuan empat puluh dua taun dengan suami dan kehidupan yang mapan dan dia baru akan memasuki usia ke dua puluh tiga beberapa bulan lagi, bukan?

Kuhirup tegukan kopi terakhir tepat saat kudengar suara musik lembut, sms alert dari telepon genggam di depanku.

“Baru nyampe bandara. Ada makanan di rumah?”

Suamiku.

**yudhis, ayo buruan lanjutin, ga pake lama! hyahaha…emang enaakkk????

#1: no title

Hujan masih deras di luar. Tapi entahlah, sepertinya memang hujan, atau cuma gerimis, atau justru matahari sedang bersinar dengan garang, aku tak benar-benar tau. Tak peduli. Aku lebih suka bergelung di balik selimut, melindungi kulitku yang telanjang dari serbuan udara dingin AC kamar, meringkuk mencari kehangatan dalam pelukanmu yang nyaman sambil diam-diam menghitung dalam hati berapa menit lagi waktu tersisa sebelum malam jatuh dan memaksaku pulang. Telepon genggamku berdering-dering sejak tadi, dan kita pura-pura tak mendengar, membiarkan deringnya berhenti setelah beberapa kali tak mendapat jawaban.

“Siapa?”

“Gak tau, biarin aja.”

Dan kamu tersenyum, mencium lembut puncak kepalaku, membelai pipiku kemudian di bawah selimut tanganmu yang lain kembali menjelajah nakal, tak peduli protes pura-pura dan omelanku.

“Sayang…”

“Ya?”

“Aku gak pengen pulang”

“Kalo gitu gak usah pulang. Di sini aja. Berani?”

Pertanyaan yang kita sudah tau jawabannya. Pertanyaan yang membuatku menyembunyikan tangis dan berpura-pura sibuk mencari pakaian dalam yang terberai entah kemana, membiarkanmu menertawai serapahku. Tentu saja aku tak bisa tinggal. Aku harus pulang dan menyiapkan alasan paling masuk akal kemana saja aku pergi seharian.

“Baby..”

“Ya, sayang?”

“Inget gak, aku pernah bilang waktu itu. If loving you is wrong….”

“Then I don’t want to be right. Yang itu, kan? Iya, aku inget.”

Rasanya memang tak ada lagi yang harus kita ucapkan. Diamku, kebisuanmu telah menjelaskan semuanya. Kita jatuh cinta, dan akan memeliharanya sampai batas kesabaran kita. Dan kerelaan. Dan kebersediaan berkorban. Dan keinginan yang kuat untuk saling menunggu. Entah apa yang kita tunggu. Entah sampai kapan. Atau bagaimana kita akan melewati kesedihan di antara waktu-waktu di mana aku tak bisa menyentuhmu.

Kalau saja bisa…kalau saja kita punya kuasa menafikan sekian banyak perbedaan, melupakan kemungkinan bahwa semua mata akan memandang kita sebagai manusia-manusia aneh dan sakit jiwa karena jatuh cinta pada saat dan kepada orang yang sangat sangat sangat salah, aku ingin bersamamu malam ini, dan besok malam dan besok malamnya lagi. Aku bahkan rela meninggalkan rumah dan hidupku yang nyaman, terbang bertualang dan berjudi dengan hidup sekali lagi, bersamamu.

**to be continued. IF YOU’RE LUCKY *grins*

badan bagus dan hubungannya dengan…

wew.jpg

Ada hubungannya gak sih, badan besar (dan bagus dan perut six packs) dengan kemampuan laki-laki memuaskan pasangannya?

Saya gak terlalu yakin, dan dibawah ini hasil obrolan ngawur saya sama Jeng Tika. Sudah diedit supaya tidak terlalu mengganggu ketenangan hidup anda.

tikabanget: gak ada cowok cakep punya blog ya :-W
simbok: aku nunggu ariel peter pan aja ah :-$
tikabanget: si ariel itu sex appealnya gedhe banget ya emang :))
simbok: badannya juga gede =p~
tikabanget: padahal gak cakep, tapi guemes buwanget liat dia
simbok: rambutnya bagus :-|
tikabanget: pengen takremes remes
tikabanget: sama kayak si anu
tikabanget: kalo dah ketemu tuu…duoh :))
simbok: wooooo…setannnnnn :))
tikabanget: pernah gak mbok, ketemu cowok yang cuma deket deket aja tu, rasanya pengen meluk mulu? =))
tikabanget: godaannya gedhe gitu
simbok: sering :-|
tikabanget: sering???? waduoh :))
tikabanget: aku dulu pernah mbok, sama temen kuliahku
tikabanget: dah susah payah nahan diri, sohab ya sohab aja, gak boleh ada yang laen laen. eh, jebol juga l-)
simbok: trus2? :-ss
tikabanget: jadi lucu gitu. sama sama nahan diri… :))
tikabanget: itu cowok pertama yang bikin aku nglanggar prinsip
simbok: hayah, prinsip :))
tikabanget: NDAK BOLEH FLIRTING MA SOHAB!!!
NDAK BOLEH NGAPA2IN COWOK ORANG!!!
tikabanget: uh, maapken sayah… **sungkem ma ceweknya tu cowok**
simbok: emang ya tik.. godaan. hhhhhh…. :-|
tikabanget: jadi waktu dia blom punya cewek ,kita dah flirting2 gak karuan, lanjut blablabla… tapi gak jadian juga.. keburu aku direbut orang :)) **cowok bego**
tikabanget: eh, waktu reunian, getaran2 timbul, aku dah diem aja. dia nggodain mulu. udah deh :-|
tikabanget: uh, maapken sayah… **sungkem ma ceweknya tu cowok**
simbok: :-| jd bablasnya pas sm2 udah pacaran sm orang lain?
tikabanget: aku gak punya pacar, single tingting. dia dah punya. :-"
tikabanget: dan kita berdua ngaku ke masing2, kalo deket2 tu chemistry nya kuwat buwanget, mbok.. @-) susah banget nahan diri satu sama laen buwat ndak goda goda
simbok: itu namanya napsu. dan itu ndak pa2 :))
tikabanget: betul =))
tikabanget: lha jadi apa apa waktu si napsu diijinken ngapa2in :))
simbok: lhaaa..bablaassss :))
tikabanget: padahal NDAK MUASIN BABAR BLAS tuh dia ituh :-|
tikabanget: **plaakkK!!!!**
simbok: :))
tikabanget: aku ngomong apa ya tadi :-"

Kesimpulan sementara, memang ga ada korelasinya sama sekali. Lha yang keliatannya biasa-biasa aja, yang kalem dan sangat the boy next door, bisa lebih hebat dan membuat pasangannya……ARGHHHHHHHHH, SUDAHLAH!

Catatan: mohon maaf apabila terdapat kesamaan nama tokoh, peristiwa, dan link. kebenaran adalah rahasia semesta. gyahahahaha….