jangan percaya logika saat kamu jatuh cinta
Iya, percaya apa kata hatimu saja, karena saat cinta meracuni otakmu, percayalah, akal sehat dan yang kalian sebut logika akan terang-terangan mengkhianatimu. Dan tiba-tiba saja kamu menjadi bebal, mendadak bego dan melakukan kebodohan-kebodohan memalukan seperti misalnya SALAH KIRIM sms nakal, salah tingkah dan tersipu-sipu najis seperti gadis belasan tahun saat laki-laki yang kamu cintai memandangimu dengan cara tertentu (entah memuja entah nafsu. beuh!), atau udara di sekitarmu tiba-tiba terasa beku dan DENGAN TOLOLNYA kamu bilang ‘makasih’ pada saat seharusnya kamu menjawab bisikan manisnya dengan ‘i love you, too’.
Tapi bukankah hanya cinta yang sanggup membuat pipimu merona dan kehilangan semua perbendaharaan kata ketika dia bertanya ‘bolehkah aku mengecup bibirmu?’, bukankah memang cinta dan hanya cinta lah yang mampu membuatmu bahagia, merasa sangat perempuan, dan entah bagaimana membuatmu menangis karena merasa cantik dan diinginkan? Dan apalagi selain cinta yang membuatmu bersedia melakukan apa saja hanya supaya kau bisa memeluk dan mendengar debar jantungnya? Untuknya, percayalah, kamu akan rela menembus macet dan hujan berjam-jam, melupakan betapa melelahkannya bercinta beberapa kali dalam rentang waktu yang tak sampai hitungan sehari semalam, atau betapa berbahaya dan tak sehatnya jika kamu nekat melewatkan jam-jam makan yang normal dan hanya mengkonsumsi selembar roti tawar dan secangkir kopi hanya karena kamu tak mampu mengatasi detak jantung yang degupnya kau rasakan begitu kencang, bukan lagi di dada melainkan sudah naik sampai ke tenggorokan, mencekikmu perlahan-lahan dan membuatmu mual.
Hhhhhhhhh…… Cinta dan logika. Kayaknya dari dulu memang musuhan, ya? Heran.
*hey you! I do love you, too…
sisi lain
Kesalahan terbesarmu adalah, kau mengira pengkhianatan adalah semata-mata perkara laki-laki lain yang kau ijinkan memasuki tubuhmu, membuatmu terengah kepayahan menahan teriakan sesaat sebelum orgasme kesekian. Padahal saat kau membiarkan pikiran tentangnya menguasai benak, membuatmu berkhayal tentang pertemuan-pertemuan rahasia, menyita dua puluh empat jam waktumu setiap hari dengan kebodohan memalukan seperti menggumamkan namanya dalam hati di setiap tarikan nafasmu, aku menyebutnya juga pengkhianatan.
Tapi begini. Coba kita lihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bagaimana kalau laki-laki kedua itu yang memulainya, menawarkan mimpi, debar-debar, manisnya bahaya dan berjudi dengan kemungkinan-kemungkinan? Atau barangkali mereka hanya menginginkan sedikit petualangan, menikmati momen-momen sederhana, beberapa jam kebersamaan yang bukan sepenuhnya milik mereka tapi menyenangkan karena mereka tau mereka selalu bisa saling menjaga dan membahagiakan, berpura-pura bahwa hidup tak sepahit kau bayangkan dan setiap saat mencari pembenaran, menganggap semua orang layak sesekali mendapat secuil kesenangan? Kau tak pernah tau, bukan?
Sekadar mengingatkanmu, kawan. Perempuan itu tidak berdansa sendirian.
toys for you
Kalo laki-laki dianggap wajar melakukan aktivitas seksual menggunakan tangannya dan alat bantu lain (sabun atau body lotion misalnya) dengan alasan ‘daripada jajan’, mestinya kita juga nyante aja kalo perempuan melakukan hal yang serupa, ya? Boleh dong, perempuan menikmati kegiatan yang satu itu sendiri aja, sekali-sekali? Kenapa engga? Lha daripada jajan?
Ya, silakan berpendapat apa aja. Saya cuma mau ngucapin selamat buat HT (hi, HT!) yang dengan berani memulai bisnis mainan khusus dewasa. Eh jangan ngeres dulu. Ini murni bisnis dan dikelola dengan serius, lhoh! Imported goods, kualitas bagus. Katanya sih dia ngambil barang dari Hongkong gitu deh. Soal harga, ga gitu mahal juga sih menurut saya. Kurang lebih dua ratus ribuan, anda tinggal order by phone atau email, barang dianter sampe rumah. Lucu, ada yang dari beling, eh pyrex dhing…(ngeri gak sih? kalo pecah di dalem begimana? huaaaa……)
Anjrit! Jangan-jangan ntar dikira saya yang jualan ya? Hahahaa… Bodo ah! Sekali lagi, congrats on your new store ya, booooo….
tika
Kurang lebih satu taun ngeblog, rasanya saya udah lumayan kenyang ‘dituduh’ macem-macem. Dari yang lucu dan bikin saya dan temen-temen saya ngakak (seperti gosip kalo saya ada apa-apa sama mbilung atau bahkan ndorokakung, misalnya), sampai yang bikin saya marah semarah-marahnya saking ngawurnya mereka itu. Tapi saya gak pernah tau kalo dunia cyber bisa jahat banget. Sampai pagi ini, saya asli ketawa gak berenti-berenti pas baca blog Tika. Hah?? Tika bispak??? Mwahahahaha….
Saya gak terlalu kenal dia secara pribadi sebenernya, tapi setau saya, si Tika ini biasa-biasa aja. Bukan ‘anak lampu’ yang gak bisa hidup tanpa mirror ball (tau mirror ball, kan?), bukan cewe yang badannya langsung gatel-gatel kalo seminggu aja gak hang out sampe tepar.
Trus gimana ceritanya ya, sampe di kaskus ada foto, profile, bahkan NOMER HAPE si Tika? Gak cukup sampe situ aja. Beberapa hari setelah fotonya ada di deretan cewe-cewe yang ‘bisa dipake’ di forum tersebut, ada sms dari seseorang. “Gw malem ini ke jogja, 300 ribu semalam, bisa gak?” Dan si Tika dengan tololnya membalas sms itu, “haloww, ini syapa yaaa?”. Dijawab lagi,”gimana, bisa gak segitu?”
Set dah! Tiga ratus ribu, bo! Jahat gak sih??!! Kurang ajar bener. Saking keselnya denger cerita temen kita ini, saya bilang sama dia, “Murah banget?! Kenapa kamu gak bilang sama orang yang sms itu, kalo cuma 300 ribu semalem sih, KITA YANG BAYAR DIA! Setan!”
lovers

Postingan yang tertunda beberapa hari, soal selingkuhan online. Tau maksud saya, kan?
Jadi gini situasinya.
Sabtu sore kemaren, sambil nemenin precil-precil les renang, sendirian di pinggir kolam renang sambil browsing, menikmati A mild menthol dan secangkir kopi pahit (wuah indahnyaaaa…), saya sempet chatting di messenger dengan seorang kawan yang suka ngaku-ngaku sebagai ‘piaraan’ saya. Seperti biasa, kita ngobrol tentang banyak hal, sampai akhirnya nyampe juga ke obrolan ‘edisi curhat’. Intinya, kita sepakat bahwa ternyata memang hampir semua orang, terutama di lingkaran kita, punya atau setidaknya pernah punya selingkuhan online. Ada yang keberatan dengan istilah selingkuhan? Oke, kita sebut aja temen deket online atau apa lah istilahnya, kalo gitu.
Saya dan temen saya ini, anak muda umur dua puluhan, ‘orang media’, tinggal di Semarang, ngobrolin mulai dari kenapa banyak banget kejadian kayak gini di sekitar kita, apa dan gimana bentuk hubungan virtual itu, dan sejauh mana biasanya hati dan rasa terlibat di dalamnya, atau bagaimana seharusnya memanage hubungan seperti ini agar tak melukai perasaan siapa-siapa. Menyakiti diri sendiri, juga terutama orang-orang di sekitar kita. Keluarga, misalnya.
Beberapa jam sebelumnya, seorang kawan yang lain tiba2 ngebuzz ..
dia: nanya (astagaaa…bilang hallo dulu kek..)
saya: ya?
dia: saya pantes gak sih kena weblove? secara saya tipikal cowo dengan orientasi fisik.
saya: heh?? weblove gimana?
dia: platonis gitu, mbok. jatuh cinta dengan orang yg tdk pernah saya temui.
saya: oooh, maksudnya…terjerat cinta hitam di cyberspace?
dia: hiyaaaahhh..benerrr. diterusin gak mbok, enaknya?
Kemarennya, saya ngobrol dengan temen yang lain. Dua hari sebelumnya, dengan temen yang lain lagi. Masih topik yang sama, temen deket online. Nah. Dari hasil ngobrol-ngobrol itu, saya (makin) tau bahwa ternyata issue ini sama sekali bukan lagi hal yang aneh. Setidaknya saya kenal beberapa orang yang, dari pengakuan mereka sendiri, pernah atau sedang terlibat kisah cinta virtual. Dan yang lebih dahsyat, gak ada lagi batasan umur atau status. Di semua golongan dan kelompok, ini beneran terjadi. Laki-laki, perempuan, anak kuliahan, para professional, golongan pekerja kantoran, ibu rumah tangga. Gila gak sih?
Coba lihat ini. Selain dua teman yang ngobrol sama saya di awal cerita, saya punya daftar yang meski mungkin anonim, tapi percayalah, data ini valid, bukan cuma karangan saya.
- Perempuan, thirty something, ibu 3 anak, status bersuami. Dari pengakuannya, dia pernah punya ‘pacar online’ hampir dua tahun lamanya. Gak pernah ketemu karena selain jarak tempat tinggal mereka ribuan kilometer jauhnya, dia gak punya keberanian untuk itu, dan akhirnya bubar. Si perempuan kembali ke keluarganya, dan mantan pacarnya balik lagi ke tunangannya dengan hati patah. Jangan ketawa dulu, ini beneran. Mantan gebetan online si ibu ini bener-bener patah hati karena perpisahan mereka.
- Perempuan lagi, umur tiga puluhan, seorang istri dan ibu dua anak, pekerja kantoran. Beberapa bulan terakhir dia terlibat sesuatu dengan seseorang, yang walaupun dia bilang ‘cuma iseng, buat temen ngobrol, sayang2an, dan temen berantem kok..’, tapi jelas, ini masuk kategori selingkuhan online, kan?
- Perempuan, bekerja, punya suami dan 3 anak. Temen yang saya kenal udah cukup lama ini, setidaknya sudah 4 taun lebih terlibat hubungan virtual yang kompleks dengan seseorang. Saya katakan kompleks, karena mereka berdua sama-sama sudah menikah, belum pernah ketemuan, tapi begitu yakinnya bahwa ‘dia itu soulmateku, walaupun aku sangat mencintai suamiku’. Lebih aneh lagi, pasangan resmi mereka, bahkan anak2 mereka berdua tau kedekatan mereka, bahkan saling kenal.
- Perempuan (lagi), bekerja, ibu dari satu anak. Usia pernikahannya belum lagi lima tahun, tapi sudah berkali-kali berganti pasangan kencan, yang tentu saja dikenalnya dari internet. Bahkan katanya nih, biasanya setelah beberapa kali pertemuan dan temen kita ini mulai bosen dan merasa gak ada tantangan lagi, udah ga ada deg2annya lagi, temen2 kencannya ini “aku tendang-tendangin aja, mbok”.
- Perempuan, umur dua puluhan, karyawan swasta. Beberapa tahun yang lalu pernah jatuh cinta dengan seseorang, temen chattingnya. Hubungan mereka cukup intens, dia menggambarkannya sebagai ‘indah tapi aneh dan gak masuk akal’. Amat sangat saling mencintai satu sama lain, tapi entah apa alasannya mereka gak pernah ketemu (dan ini bikin saya gemes, sebetulnya), sampai akhirnya salah satu dari mereka menikah dengan orang lain.
Pertanyaan saya sekarang, kalau anda kebetulan ada di posisi mereka, apa yang akan anda lakukan? Maksud saya, kalau anda punya kesempatan ketemu dengan teman dekat anda di dunia maya yang sepertinya memang menjadikan jarak tak ada artinya lagi, anda berani? Anda berani, misalnya, menbawa hubungan anda ke level yang lebih serius? Ketemu, kemudian menjadikan kekasih maya anda ini pacar offline, menyerahkan hati anda kepadanya, mencoba setia, dan melakukan hal-hal seperti layaknya orang pacaran? Tell me people, how far would you go?
*fian, saya gak punya banyak brondong (gila kamu, yaaa???), gak doyan, dan gak pernah nyari-nyari brondong. edan!
update: ada sms dari seseorang, “i’ve read your post. yang jadi pertanyaan, kenapa para selingkuhers itu ngadunya sama simbok??? mau nyari info dari yang lebih pengalaman?” Salah banget, young man! Mereka berani curhat because they trust me. Mereka percaya rahasia mereka aman, saya mau dengerin cerita mereka tanpa sedikitpun niatan ngejudge dan nyalahin siapa2. I’m a damn good listener, you have to admit it! And believe me, their sex life, or YOURS, is none of my business! Happy now??!!


My name is Venus, perempuan, istri, ibu rumah tangga dengan dua anak laki-laki yang pinter-pinter dan ganteng-ganteng.