#9: Bre. Yogya. Luka

Itu mereka. Bukan. Tak mungkin. Hadi tak akan pernah melakukan ini. Tidak dengan perempuan itu. Jangan bodoh. Itu jelas-jelas mereka. Baiklah. Kenapa tidak kita buktikan saja, kalau begitu? Tidak. Gila, kamu. Jangan. Kamu tak ingin menyakiti dirimu sendiri. Kau tak akan tersakiti. Tak satupun bisa melukaimu sekarang, Risha. Tak seorangpun bisa. Ayo, berhentilah. Hadapi mereka, yakinlah tak akan terjadi apa-apa.
Suara-suara di kepalaku terus saja berdengung, menebak-nebak, saling memengaruhi, semua merasa paling benar. Tanpa berpikir lebih lama, aku meminta Pak Imam sopir kami berhenti beberapa meter di depan mereka, memintanya menunggu beberapa menit sebelum mengantarku pulang.

Entah kekuatan apa yang membuatku begitu tenang, nyaris mati rasa, ketika dengan langkah ringan aku menghampiri mereka, suamiku dan perempuan yang dengan mesra sedang memeluk pinggangnya. Aku melihat Hadi, suamiku, ayah anak-anakku, mengatakan sesuatu yang dijawab oleh perempuan itu dengan tersipu-sipu, rona merah di wajahnya yang putih.

“Papa? Hai, Andin. Apa kabar?”

Mereka membeku di tempat mereka berdiri, tak sempat lagi berkelit atau berpura-pura tak ada yang terjadi. Dan aku merasa kosong, tidak sedih, tidak marah, tidak juga perasaan lain. Kosong. Seharusnya bisa lebih dramatis kejadiannya, batinku, tertawa dalam hati. Mestinya aku meraung-raung histeris, memaki mereka berdua dengan kata-kata kotor dan menjadikan kami bertiga tontonan gratis bagi para pejalan kaki di sekitar situ. Tapi tidak, aku memang tak bisa merasakan apa-apa lagi.

“Ma, akan kujelaskan…”

Dengan mataku, aku mengisyaratkan bahwa Hadi tak perlu bicara apa-apa. Tidak sekarang.

It’s okay. Aku mengerti. Kita akan bicara nanti. Andin, aku pergi dulu, ya?”

Tersenyum, kulambaikan tangan kepada mereka berdua yang masih terpaku seolah-olah baru saja berpapasan dengan hantu.

Di rumah.

“Baby, tawaran berliburnya masih berlaku?”, tanyaku tanpa basa basi.

Bre di ujung telepon, tertawa renyah.

“Masih. Kenapa, sayang?”

“Ikut. Aku ikut.”

****************

Sheraton Mustika Hotel, Yogyakarta, tiga hari kemudian.

Bre membukakan pintu untukku, tersenyum lebar menyambutku yang tak sabar menghambur memeluknya, dan aku terpejam merasakan bibirnya di bibirku, menciumku penuh-penuh sampai nyaris tersedak kehabisan napas.

“Aku senang kamu mau datang, Risha”, bisiknya setelah satu ciuman panjang yang menerbangkanku ke awang-awang. Aku tertawa, membiarkan Bre tetap memelukku, tangannya membelai punggungku.

“Kupikir kamu marah kemarin waktu aku bilang aku tidak bisa pergi.”

“Aku marah, tapi sudahlah. You’re here, aku tidak ingin bertengkar lagi.”

“Aku juga. Dan kita akan…jalan-jalan?”

“Yup. Jalan-jalan, belanja, bersenang-senang, and we’ll make love. We’ll make love like never before,” katanya.

“Oh, shut up.”

Bre terbahak. Aku selalu suka mendengar caranya tertawa.

***************

Langit pukul lima sore masih menyisakan semburat keemasan yang menyilaukan, menembus kaca jendela kemudian memantul lembut, mengirimkan perasaan teduh dan hangat ke seluruh ruangan. Lama sekali sampai akhirnya Bre bersuara.

“Apa yang membawamu ke sini, Risha?”

Perlu beberapa saat sebelum aku berhasil mengumpulkan keberanian, menceritakan apa yang kulihat terjadi dan begitu nyata di depan mataku kemarin, di sebuah ruas jalan yang panas dan bising di Jakarta.

“Suamiku. Suamiku dan Andin. Mereka terlibat sesuatu, mungkin sudah sejak lama. Kamu ingat Andin, Bre? Kamu sempat berdansa dengannya malam itu di pesta ulang tahun suamiku, malam pertama kali aku mengenalmu”

“Andin? Andin yang itu? Oh, my God! Baby…” Bre memelukku lebih erat.

I know. Aku juga kaget. Tapi yang lebih mengejutkan, aku tidak merasakan apa-apa, bahkan sedikit cemburu pun tidak. Menurut kamu, ini normal, Bre?” aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menghalau kegelisahan dan rasa tidak nyaman, bercerita tentang pengkhianatan yang dilakukan Hadi, suamiku.

“Kamu cemburu, baby. Pasti. Kamu hanya takut mengakui bahwa suamimu tidur dengan perempuan lain.”

“Hmm. Mungkin. Tapi bukankah aku juga tidur dengan lelaki lain? Sepertinya cemburu sangat tidak masuk akal, ya? Konyol sekali,” aku tertawa getir, memainkan anak-anak rambut yang terjuntai di dahinya dengan penuh sayang.

Kerinduanku nyaris tak tertahan, tapi aku belum ingin bercinta sekarang. Itu bisa menunggu. Saat ini, aku hanya ingin berada dalam pelukannya, merasakan kulit kami bersentuhan, mendengar jantungnya yang berdegup kencang.

“Kemana kita setelah ini, Bre?” tanyaku, letih.

“Kamu tau kemana. Aku ingin kita menikah, Risha. Aku mencintaimu.”

“Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Tidak, Bre”.

Bre menghela napas, melepas lengannya yang melingkari tubuhku, menatapku tak mengerti.

“Kenapa? Apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya niat baikku?”

“Aku percaya, Bre. Aku sepenuhnya percaya. Tapi kenapa kita harus menikah?”

“Risha, apa sih, yang tidak kamu mengerti? I love you. Coba katakan, apa yang menahanmu sekarang setelah kamu tahu tentang Andin?”

“No, baby. Please. Kamu tau aku tak akan membiarkanmu mengambil keputusan yang akan sama-sama kita sesali satu hari nanti.”

“Menyesal? Apa maksudmu? Aku laki-laki, Risha. Aku cukup dewasa untuk tahu apa yang kuinginkan. Seluruh dunia boleh menertawai dan menganggapku gila, jatuh cinta kepadamu, tapi tak ada yang lebih kuinginkan selain memilikimu. Izinkan aku menjadi pemenang kali ini, baby.”

“Dan Arimbi. Bagaimana dengan dia?”

“Sudah berakhir. Dia menemukan foto-foto kita, call register dan sms-sms di hapeku. Dia tahu semuanya. Please, Risha. We’ve gone this far. Apa lagi yang kita tunggu?”

Lembut kusentuh pipinya, menatapnya penuh cinta, kemudian berkata dengan sangat hati-hati, berusaha sebisa mungkin menghentikan niat sintingnya tanpa harus melukai egonya.

“Bre, dengar. Kita tidak akan menikah. Aku empat puluh tiga tahun sebentar lagi. Tidak, Bre. Aku mencintaimu, tapi jawabanku tetap tidak. Kamu akan menemukan perempuan yang lebih pantas untukmu. Percayalah. Sssshh…dengar dulu,” aku mencegahnya menyela kalimatku.

“Kamu masih sangat, sangat muda. Berhentilah berpikir bahwa aku cinta sejatimu. Jalanmu masih sangat panjang. Kamu bisa dapatkan gadis mana saja yang kamu mau, Bre. Akan tiba saatnya kamu menemukan belahan jiwamu yang sesungguhnya.”

Sontak rautnya berubah. Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, dia bangkit dari tempat tidur dan terburu-buru menyalakan sebatang rokok kemudian berdiri membelakangiku. Sakit sekali melihatnya seperti itu. Rasanya seperti membelah jantungku sendiri, membiarkannya berdarah dan perlahan-lahan mati.

Beberapa menit berlalu. Dia diam, aku juga tak tahu harus bicara apa lagi. Menit-menit yang terasa pahit, keheningan yang mengintimidasi hingga akhirnya Bre mematikan rokok yang baru setengah batang dihisapnya, dan dengan ekspresi tak tertebak, kudengar lagi suaranya, nyaris berbisik.

“Pergilah, Risha. Aku tidak menginginkan kamu lagi. Tidak kalau aku hanya menjadi boneka mainanmu seperti ini. Pergilah. Aku tak ingin melihatmu di sini.”

“Mainan?! Mainan, kamu bilang??! How dare you! You know I love you, tapi menikah denganmu… Ini gila, Bre. Aku tidak bisa,” aku meledak, kesabaranku habis sudah.

Dia menatapku dingin. Hanya beberapa detik sebelum kemudian memalingkan muka, menghindari menatap mataku yang mulai basah.

“Pergilah. Jangan katakan apa-apa lagi. Please just leave.”

“Bre….”

“GO AWAY!” raungnya kasar, membelah udara dengan kebencian dan luka yang tak mampu dia sembunyikan.

Dan aku pergi. Aku pergi. Kujejalkan beberapa potong baju sekenanya ke dalam travel bag, dan tanpa berkata apa-apa lagi, sambil menyeka sudut mata dengan punggung tanganku yang sedingin es, aku meninggalkan Bre di sana, di sebuah kamar hotel yang mestinya kami tempati dua malam lagi.

note:
#1: cerita kemarin
#2: perempuan kedua
#3: senja di atas kereta
#4: kalah
#5: selamat ulang tahun, arimbi. aku pergi
#6: selamat ulang tahun, arimbi (flashback)
#7: batas
#8: batas?

“Gimana sih cara menghapus dendam? Dosa gak kalo saya masih menyimpannya jauuuuh banget di dalem?”

Belajarlah memaafkan, jawabku.

“Fiuhh…life sucks

Yeah it does sometimes. Yang sabar ya…, kataku lagi, berharap perbincangan selesai sampai di sini.

“Makasih. Saya ditemani bercangkir-cangkir kopi, setumpuk pekerjaan, U2, sesak di kepala, sakit jiwa…what a perfect night. Met istirahat, semoga malammu indah dan berbintang”

Hahah, malamku selalu berbintang. Selamat tidur, dear.

Yang kau tak pernah tau, kawan, di langitku malam ini tak ada bintang. Dan aku terbakar cemburu. Kekasihku lebih suka melewati malam bersama perempuan itu.

Perempuannya.

note: entry yang pernah saya proteksi karena agak sensitif dan agak2 gimana gitu. ga ada judulnya karena memang ga nemu judul yg pas, dan saya lagi males mikir. fiksi atau bukan, ya silakan diartiin sendiri aja lah. saya gak mau bilang. dibilangin lagi males mikir, hahahah…

#4: kalah

Pernah kau rasakan cinta yang begitu dalam, begitu kuat mencengkeram dan menguasai, yang membuatmu bahagia tapi di detik yang sama membuatmu perih seakan sebilah belati ditancapkan seseorang tepat di jantungmu? Pernah?

Aku mencintaimu, Risha. Cinta yang nyaris memuja dan membuatku bersedia melakukan apa saja untuk membuatmu mencintaiku dengan pemujaan yang sama. Barangkali terdengar konyol mirip sinetron-sinetron kejar tayang yang tak pernah kau tonton, tapi inilah yang kurasakan sekarang.

Kau matahariku, embun pagiku, mawar, oksigen, racun, pelangi, badai salju, malaikat, dan iblisku. Kau oase di teriknya siang, kemilau di gemerlap malam.

Risha, aku lelah. Aku bosan menjadi kekasih rahasiamu, aku benci harus terus menerus bersembunyi. Maafkan aku, tapi belakangan, ini semua membuatku merasa terhina, merasa kalah. Aku ingin dengan leluasa pergi berdua denganmu seperti yang dilakukan orang-orang lain. Nonton, makan, jalan-jalan, belanja, atau sekadar mengantarmu ke salon. Aku ingin dengan bangga memamerkanmu kepada dunia. Menggandeng mesra tanganmu, bahkan menciummu di tempat-tempat umum kalau perlu.

Maukah kau menikah denganku?

Perlahan kulipat kembali surat yang ditinggalkan Bre untukku sebelum dia pulang. Satu di antara sekian banyak surat-surat singkat, biasanya hanya berisi ungkapan-ungkapan cinta sederhana, ritual manis yang selalu dilakukannya di setiap akhir pertemuan. Dengan amat hati-hati dan tangan gemetar, kusimpan surat itu di dalam dompet untuk kubaca lagi nanti sebelum kusobek menjadi serpihan-serpihan kecil dan kubuang ke tempat sampah.

Menikah? Dia pasti sudah gila. Dia lupa, suatu saat dulu kami pernah sama-sama berjanji untuk tau diri dan tak meminta lebih dari apa yang bisa kami miliki. Memintaku menjadi istrinya sungguh suatu gurauan bodoh dan sama sekali tak lucu.

Dan sebelum aku sempat berpikir jernih dan mencerna semuanya, suara suamiku terdengar di balik pintu kamar.

“Ma? Buruan dikit, dong. Udah siang, nih.”

“Ya, ya. Dikit lagi beres. Lima menit lagi, ya?”

Sudah seminggu ini ketiga gadis kecilku menginap di rumah mertuaku di Bogor. Pagi ini kami akan menjemput mereka ke sana karena besok lusa mereka mulai masuk sekolah.

Anak-anakku. Kalau bukan karena mereka, pasti sudah sejak lama aku menyerah. Pada saat-saat terburuk, saat aku mulai berpikir untuk pergi meninggalkan semuanya, hanya suara dan tawa merekalah yang membuatku berpikir seribu kali lagi, menimbang-nimbang, untuk akhirnya pasrah. Aku tak bisa pergi. Tak mungkin kubunuh mimpi anak-anakku sendiri, tak akan sanggup kupadamkan keceriaan dan kepolosan di mata mereka. Kalau hidup memang soal pilihan, aku memilih untuk menyimpan sendiri semua masalah agar aku tetap bisa tertawa dan berpura-pura bahagia di depan mereka, malaikat-malaikat kecilku. Untuk anak-anakku, apapun akan kulakukan, bahkan jika harus kukorbankan kebahagiaan dan mimpi-mimpiku.

Dan Bre. Lelaki yang hampir setahun ini kutemui diam-diam, yang dengannya aku merasa kembali utuh sebagai perempuan. Tapi tentu tak bisa begitu saja kutinggalkan suamiku untuk seorang Bre, yang selisih usianya denganku nyaris dua puluh tahun. Aku mencintainya, tapi cinta saja tak cukup, bukan? Dan sekarang, sekarang dia bilang ingin menikahiku. Sinting. Padahal sudah berkali-kali kami bicara tentang ini. Hubungan seperti ini memang tak akan kemana-mana. Pasrah saja lah. Nikmati apa yang bisa kau nikmati, reguk semua kesenangan kalau perlu sampai muntah. Sejauh ini tak pernah ada masalah, kami sama-sama mengerti dan tak pernah menuntut atau menginginkan lebih. Sampai kemarin.

Masih di jalan tol yang tak terlalu ramai saat lamunanku terputus oleh getar handphone di tas tangan di atas pangkuanku. Sms. Pasti dari dia.

From: +6285659324266
Baby, lg dmn? Can I call you? Pls, we hv 2 talk.


To: +6285659324266
Jgn sekarang. I’ll call u. 15 mnt lg, k? Pls do not reply. He’s around.

Telapak tanganku basah oleh keringat dingin, tegang sekali menyadari bahwa lima belas menit dari sekarang, Bre akan memintaku menjawab pertanyaan ngawurnya yang dia sampaikan lewat surat kemarin. Aku tak tau harus menjawab apa. Dan dia tak akan berhenti bertanya sampai semuanya jelas. Aku kenal sekali wataknya.

Di toilet, saat keluarga besar suamiku sedang berkumpul di teras depan, dengan jantung berdegup tak karuan, aku menelepon Bre.

“Halo. Risha?”

“Bre, suratmu…kamu tau aku gak bisa, Bre.”

“Kenapa? I know you love me. Marry me, baby. Kita akan bahagia.”

“Bre, please….ngertiin dong, Bre..”

“Risha, aku memang masih muda, dan aku tidak sekaya suamimu, si brengsek itu. Tapi aku udah lulus kuliah, udah kerja, dan aku akan bisa menghidupi kamu dan anak-anakmu.”

“Ya Tuhan. You can’t do this to me, Bre..”

Do what? Aku ingin kita menikah. Aku capek begini terus, baby. Ngerti gak, sih?”

“Bre, listen…”

No. You listen. I’m asking you to marry me. Dan aku mau kamu menjawabnya sekarang.”

Sampai di sini pertahananku runtuh. Tangis yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh menjadi butir-butir air mata dan membuat suaraku pecah.

“Bre, maafkan aku. Kita pernah bicara soal ini, dan kamu tau banget, kita gak mungkin…”

Klik.

Bre sudah menutup teleponnya sebelum kalimatku selesai. Sebelum sempat kukatakan bahwa aku juga mencintai dan ingin bersamanya, dan bahwa aku tak ingin menyakiti anak-anakku dengan memisahkan mereka dari ayahnya. Anak-anakku berhak mendapat kebahagiaan dan masa kecil yang utuh. Perpisahan kedua orang tuanya akan menyisakan luka batin yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Seminggu kemudian, di sebuah kamar hotel, aku menunggunya. Menunggu Bre, kekasihku. Dia ingin kami bertemu dan bicara, barangkali untuk yang terakhir kali. Dan aku benar-benar tak mampu menahan kesedihan saat melihatnya melewati pintu kamar, berdiri menjulang di hadapanku dengan raut dan ekspresi terluka yang membuat dadaku nyeri. Lalu begitu saja aku menghambur ke dalam pelukannya, membiarkan diriku sendiri menangis sesenggukan dalam rengkuhannya yang begitu erat seolah tak ingin melepaskanku lagi. Dan aku merasakan Bre menangis, putus asa dan kalah, menyurukkan wajahnya ke rambutku.

“I love you, Baby. I’ve always loved you.”


“I love you, too, Bre. I love you so much it hurts.

I can’t lose you now, Risha. Aku gak bisa.”

Dan aku masih terus menangis saat perlahan-lahan dia menggiringku ke tempat tidur, merebahkanku dengan amat lembut seolah-olah khawatir sedikit saja gerakan yang terlalu kasar akan mematahkan tulang-tulangku. Kurasakan lidahnya menjelajahi leherku, dan aku masih terisak.

“Make love to me, Bre. Make love to me……..

**episode sebelumnya, baca di sini.