Buzzer Itu Menyebalkan?

Riuh rendah soal blog, blogger, dan profesi sampingan para blogger, marak lagi beberapa hari terakhir ini. Ada yang pro, ada yang kontra dan sebal, ada yang menanggapinya biasa-biasa saja. Saya termasuk mereka yang menanggapi ini biasa-biasa saja.

Betul, saya juga bersedia menulis blog post pesanan. Berbayar, paid post, paid review, apa pun istilahnya. Saya juga lumayan sering menerima permintaan untuk membantu campaign brand-brand tertentu di twitter. Di sisi lain, saya juga sering memanfaatkan jasa kawan-kawan blogger dan temen-temen twitter untuk menyebarkan program terbaru klien-klien saya.

Jujur, saya gak ngerti apa yang salah dengan profesi buzzer, atau kenapa orang ribut ngomongin soal ini. Kalau dibilang para blogger ini menjual blog mereka, ah gak juga kok. Atau kalau ada yang menuduh para buzzer ini me-moneytize follower mereka di twitter, menjadikannya obyek yang setiap saat dicekoki iklan terselubung, rasanya nggak juga.

Dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, kita pernah mendengar istilah rain maker. Orang-orang yang dianggap influential, punya kemampuan memengaruhi opini orang lain. Karenanya, para rain maker ini kemudian laris manis dan panen postingan pesanan. Barangkali inilah cikal bakal lahirnya istilah buzzer yang kita kenal saat ini. Saya cukup beruntung menjadi salah satu dari mereka, buzzer generasi pertama, bahkan sebelum Twitter populer seperti sekarang.

Ada yang sinis mengatakan bahwa buzzer-buzzer ini sebenarnya gak ngapa-ngapain, gak melakukan apa-apa. Cuma modal lucu, modal tweet galau, nyinyir, puitis, dan sebagainya, lantas mereka punya puluhan ribu follower dan pasang harga tinggi untuk pekerjaan ini.

Sebentar, kawan. Anggapan bahwa mereka tidak melakukan apa-apa, sungguh kurang tepat menurut saya. Tampil lucu atau menjadi sosok lucu yang disukai di media sosial itu gak gampang, lho. Merangkai kalimat indah dalam 140 karakter atau kurang, itu juga bukan hal gampang yang bisa dilakukan semua orang. Coba aja kalau gak percaya. Butuh skill yang gak semua orang mampu. Bahkan mereka yang dikenal lucu di dunia nyata pun, belum tentu bisa bikin orang lain ketawa kalau kelucuan ditampilkan dalam bentuk teks, dengan jumlah karakter sangat terbatas pula.

Seorang temen blogger –saya gak akan sebut namanya karena takut beliau keberatan– mengatakan bahwa ini bukan hal yang perlu dinyinyirin. Ini cuma transaksi bisnis biasa. Para pemilik produk butuh corong, butuh media, butuh publisher. Para blogger dan buzzer menyediakannya. Pasar mempertemukan mereka. Lantas di mana letak salahnya?

Iya, saya sepenuhnya setuju dengan pendapat kawan saya ini. Bukan karena saya juga pemain, tapi memang penjelasan versi si kawan ini sangat masuk akal. Lagipula, saya yakin, temen-temen buzzer ini juga gak membabibuta ngambil semua tawaran pekerjaan, kok. Dan harap dicatat, siapa tau ada yang belum tau, ini gak melulu soal duit. Saya, misalnya, gak akan mau dibayar untuk produk yang saya gak suka, biar pun nilai kontraknya gede. Saya juga gak mau nulis tentang sesuatu yang saya gak paham, tentang software komputer atau anti virus, misalnya. Yang seperti itu, pasti dengan sopan akan saya tolak. Untuk program-program sosial yang memang gak ada duitnya, saya bersedia menulis atau ngetweet tanpa dibayar satu rupiah pun. Saya percaya saya gak sendirian. Banyak temen saya yang begitu. Paham maksud saya, ndak?

Terakhir, kalau ada yang sinis soal orang-orang yang mendadak jadi bintang di Twitter atau di mana pun, saya lebih suka menganggap bahwa itu memang sudah rejeki mereka. Kalau dibilang ‘cuma modal lucu’, ya rejeki mereka dikarunai bakat lucu. Emang gampang nulis lucu-lucuan? Kalo gak bakat melucu, yang ada malah garing. Kalau isi tweet mereka menarik justru karena mereka cerewet dan meriwili banyak hal, ya balik lagi, itu rejeki mereka. Menjadi nyinyir tapi tetep menarik itu susah. Riwil, menyebalkan, tapi juga mampu memancing orang untuk berinteraksi di twitter, itu juga bukan hal mudah. Jadi balik lagi, itu soal rejeki masing-masing orang.

Demikian. Halah jadi panjang begini, haha..

56 thoughts on “Buzzer Itu Menyebalkan?

  1. Chic

    hahahahahaha ini tulisanku bulan Maret kemaren pas lagi awal-awal banget ribut-ribut soal buzzer influencer apa lah, dan ngga pernah tak publish sama sekali. Eeeeng ntah apa yang ada di benak ku saat itu sampe ngga tak publish sama sekali, Masih ada di draft sampe hari ini. :))

    Well said, Mbok.. well said. :d

    Reply
  2. DV

    Venus: Lantas di mana letak salahnya?

    Ngga ada salahnya sampai pada akhirnya seorang terperosok karena informasi yang kurang valid disampaikan oknum buzzer. Kalau sudah sampai demikian, apa semua bisa diatasnamakan ‘Kan cuma ngikutin kontrak?’

    Buzzer boleh bilang banyak melakukan aksi sosial, tapi tanggung jawab sosial atas buzz nya, bisa dijelaskan, Mbok?

    Nuwun, Bek! *eh :))

    Reply
    1. venus Post author

      don, di pinggir jalan, ditempel di pohon2 ada banyak banget iklan gak jelas. gak semuanya harus dibaca, gak ada yg maksa siapa pun untuk percaya iklan2 itu. gak ada bedanya sama soal ini. kalau gak mau terperosok oleh info yg salah, ya harus mau nyari second opinion. apa kamu langsung percaya kalo aku bilang laptop A ini buuuagus dan gak ada cacatnya? kan nggak. kamu pasti nyari referensi di tempat lain sebelum memilih untuk percaya dan kemudian beli produknya, toh? :-p

      Reply
        1. venus Post author

          di pohon, di koran, di tivi. di mana2 ada iklan. kalo di blog gak boleh ya, don? blog kan bukan pohon. *makin jauh* :))

          Reply
  3. Abang Edwin SA

    Sebetulnya sama sekali gak ada alasan utk menyebut para buzzer itu menyebalkan atau komplen ttg apa yang mereka lakukan…..solusinya sudah ada kok, kalau memang merasa terganggu ya tinggal unfollow….unfriend….atau apapun namanya itu dan selesai sudah…. :-)

    Reply
  4. ifan

    Simboook!
    Hehe mengena banget tuh mbok tulisan ini . Terutama buat mereka yang suka nyinyir. Jangan mbok yg sudah menggeluti lama dunia per-buzzer-an. Yg baru terjun aja pada dinyinyirin. Kurang kerjaan ya? Hehe

    Reply
  5. arya

    aku setuju dgn ini “Ini cuma transaksi bisnis biasa. Para pemilik produk butuh corong, butuh media, butuh publisher. Para blogger dan buzzer menyediakannya. Pasar mempertemukan mereka.”
    tapi yang masih kurang dari buzzer2 di Indonesia adalah keberadaan etika yg ‘mengikat’ mereka. nyaris semua profesi ada kode etiknya. dokter, psikolog, wartawan, dll. di sinilah kemudian keberadaan etika akan mengatur para buzzer dan perilaku buzzing mereka biar nggak merugikan, menipu, mengeksploitasi, bahkan sampai melanggar hukum.
    misalnya di Inggris, setiap twit yg mengiklankan produk/jasa tertentu, harus ada tag #ads #ad atau #adv atau #spon. beberapa pemain bola terkenal sudah pernah diperingatkan gara2 tdk mencantumkan tag ini ketika ngetwit iklan.
    mengapa disclosure itu penting? karena untuk membedakan mana yg pendapat obyektif, mana yg pendapat berbayar (sekali lagi, nggak sedang ngomong benar salah, tapi untuk membedakan saja). biar para audiens bisa memilih mana opini yg akan dia pegang.
    kalau masih saja enggan mencantumkan penanda bahwa twit/blog postnya adalah berbayar, maka tuduhan “para buzzer ini me-moneytize follower mereka di twitter, menjadikannya obyek yang setiap saat dicekoki iklan terselubung.” itu berarti benar.
    siapa yg harus membuat kode etik para buzzer? ya para buzzer sendirilah.

    Reply
    1. anu

      Aku pernah ditawari utk mjd semacam buzzer gt & aku nanya, boleh ga pake #ads. Secara halus mrk menjawab tidak bisa. Aku paham sih, yg berkuasa ambil keputusan di sini adl si brand bukan agency. Ya udah, batal dpt rejeki.
      Itu kejadian bbrp kali. Tp kalo utk campaign yg sifatnya lomba/csr gitu2 ga masalah sih

      Reply
      1. devieriana

        Sama kaya Mbak Meth, aku dulu juga pernah nanya gitu, tapi dijawab nggak boleh.
        Ada juga yang aku nanya, boleh nggak misi jualan mereka aku alusin biar nggak terkesan jualan banget, jawabnya, “lho, justru kita ini jualan Mbak, nggak usah pake yang alus-alus” ;))

        Reply
    2. Adiitoo

      aku pernah baca bukunya Pandji.

      dia bercerita, setiap kali dia jujur akan satu produk yang dinilainya bagus, lalu dia memuji, banyak followersnya yang sini dan menganggap itu adalah bayaran.

      makanya, sekarang, dia dan beberapa temannya apabila beriklan di Twitter, diakhiri dengan hastag #SPON.

      kalau untuk blogger sendiri, yang pernah saya temui (blognya), hanya Trinity yang mencantumkan [ADV] di judul postingannya

      Reply
    3. Seseq

      Sebenernya yang lebih crucial itu perlu diilihat dulu kontennya.
      Dalam Etika Pariwara Indonesia, konten testimonial –even dilakukan oleh brand ambassador–hanya boleh dilakukan a.l sbb:

      – kesaksian konsumen harus mrpkn kejadian yg benar dialami tanpa maksud untuk melebih2kannya (Etika Pariwara Indonesia: Tata Krama, Isi Iklan, Testimoni 1.17.2)

      – kesaksian konsumen harus dapat dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh konsumen tersebut (Etika Pariwara Indonesia: Tata Krama, Isi Iklan, Testimoni 1.17.4)

      Tapi apakah content tweet buzzer semua bentuknya testimoni?
      Nah itu case by case kan?
      Kalo cuman ngasitau soal event apa iya dia mengeksploitasi? menipu?
      (bahkan kalo ngikutin etika, even sebuah testimonipun udah sah gak menipu & mengekslpoitasi asalkan ada bbrp syarat yg dipenuhi–silakan baca sendiri lengkapnya di EPI)

      Kemudian soal kode etik profesi.
      Kode etik profesi itu bisa ada apabila memang hukum mengharuskan, atau paling tidak ada asosiasi yang kuat.

      Lawyer, Jurnalis, Dokter dll punya.

      Tapi..gak usah jauh2 buzzer deh…
      (so-called) digital agency yang gak masuk P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) itu jumlahnya buanyak banget. :))

      Bahkan malah sebenernya …yang menyebut dirinya Digital Agency, terakhir yg gue tahu, gak sampe 5 biji yang terdaftar di P3I!
      (Jangan2 sebagian memang gak punya PT –dan gak bayar pajak jugak malah hahaha)

      Dengan konvergensi media dan juga melting pot-nya industri IT, PR, Advertising memang jadi semakin sulit untuk bikin asosiasi.
      Jadi boro2 bikin etika.
      Gimana mau menegakkan etika ketika gak ada pihak (asosiasi) yang punya power untuk menekan?

      Jadi bukan gue gak setuju sik.
      Tapi yg diomongin Arya itu sangat normatif dan masih di tataran teori ideal.
      Ketika turun dalam ranah praksis nyatanya gak akan semudah itu.

      Gue sama temen2 sebenrnya lagi mau ngusulin sistem chapter di P3I, yaitu chapter agency digital. Ya doain aja bisa tembus, jadi supaya rule of the gamenya juga bisa semakin jelas.

      Moga2 bisa nambah pencerahan yaaaa.
      Thx!

      SQ

      Reply
  6. iLLa

    bener mbok, riwil tapi tetap menyenangkan itu susah.. dan itu simbok :))
    sy follow simbok sejak jaman kapan ya, udah lama banget kayaknya, dan gak keganggu sm sekali kok sm “iklan” yg sesekali nyelip di twitnya mbok, soalnya emang lucu sih :d

    Reply
  7. gajah_pesing

    wa… panjang juga postingan ini ya? :d

    saia sangat paham dengan tulisan dibawah ini:
    “Untuk program-program sosial yang memang gak ada duitnya, saya bersedia menulis atau ngetweet tanpa dibayar satu rupiah pun. Saya percaya saya gak sendirian. Banyak temen saya yang begitu. Paham maksud saya, ndak?”

    Reply
  8. anu

    Soal buzzer aja kok repot. Semua profesi itu idealnya ya ada integritas. Dr presiden, CEO, sampe cleaning service. Semua kembali di pribadi masing2.

    Reply
  9. Meity

    Dulu sekitar taun 2008-an rame2 ngejar page rank supaya bisa ikutan ads sense, dapet duit dari nge-review produk. Sekarang trend bergeser, udah jarang kedengeran soal ads sense walaupun mungkin masih ada yang melakukannya.

    Trendnya sekarang buzzer dan influencer. Nah, copas kalimat diatas,“para buzzer ini me-moneytize follower mereka di twitter, menjadikannya obyek yang setiap saat dicekoki iklan terselubung.” Menurutku mah semua balik lagi, si follower akan menelan bulat2 dan percaya 100% informasi itu atau seperti yang simbok tulis juga diatas tentang mencari second opinion. Aku sih selama ini follow simbok ngga merasa di-moneytize kok, kalo butuh infonya ya aku klik fave, kalo ngga ya dilewat. Filternya kan kita, bukan begitu bukan?

    Menyusun kalimat yg menarik dengan batasan 140 karakter itu ngga gampang, serius deh … aku kalo udah diminta sama partner-in-crime ku untuk mulai nge-twit ttg charity project yg kita punya, harus mikir dulu dan kadang mati kamus.

    Reply
  10. kw

    di twitter emang unik,
    semua hal, ya semua hal pasti ada yang nyinyirin
    dan sekatrok apapun isi postingan pasti ada yang ngefans….

    oh ya aku dah sering teriak-teriak sebagai baser gratisan, tp tetap tak ada yang tertarik….sungguh tragis! :))

    Reply
  11. weirdaft

    Aku bukan buzzer, mbok.tapi sering nulis post pesanan dari temen2 yg sedang punya moment tertentu dan mereka kurang begitu bisa nulis. rasanya fun. dan gratisan. nah, gimana coba dengan yg nulis dan dibayar, pasti lebih fun :d

    Reply
  12. Ndoro Kakung

    buzzer itu memang menyebalkan sik. terutama bagi yang bukan buzzer. tapi menjadi buzzer itu sendiri lebih menyebalkan. kalau nggak dibayar-bayar maksudnya … huahahaha … :-H

    komentar serius: kita memang sedang belajar tentang fenomena buzzer ini. lama-lama pasti ada titik temu dan pemahaman baru di khalayak yang melahirkan nilai-nilai baru.

    Reply
  13. Pingback: Dan inilah tanggapan tentang tulisan menyoal buzzer tempo hari itu… — Donny Verdian

  14. meidy

    Mbak, saya juga mau loh dimanfaatkan untuk menyebarkan program terbaru klien-klien-nya mbak… saya kan matre mbak, hehehehe… ayo mbak, serius saya maaauuuuu…..!! :-)

    Reply
  15. Pingback: Buzzers, stop bitching out loud! « one·der·ful [?w?nd?f?l]

  16. GaL

    Lagi nyasar ke blognya simbok :d
    Kok ya langsung nyosornya ke postingan iki yo?
    *jangan jangan aku ditakdirkan jadi buzzer mbok? #halah

    Nice posting mbok.. :d

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>