Bangkok Trip (2)

Day 2

Pagi-pagi jam 8, kami semua sarapan di coffee shop President Palace Hotel. Makanannya standar lah, makanan hotel. Tapi karena saya hanya makan makanan halal, harus agak hati-hati milih makanan di sana. Iya sih, sesekali saya minum yang haram-haram. Tapi untuk makanan, entah kenapa saya gak bisa makan pork dan sebagainya itu, hehe.

Hari ini, seharian fulllll…kami semua akan dibawa jalan-jalan ke tempat-tempat belanja yang hits di Bangkok. Kalau tadi malam kami dijemput bus pariwisata yang bagus, hari ini sengaja kami akan nyobain moda transportasi umum: BTS (sky train) dan MRT. Waaaah semangat banget! Gak sabar, penasaran kayak gimana bentuk dan rasanya. Bersih kah, banyak copet kah, dan sebagainya.

Destinasi pertama: Chatuchak Sunday Market. Pasar Chatuchak ini ngetop sebagai pasar minggu, tempat belanja yang murah meriah. Karenanya, tempat ini paling cocok buat wisatawan yang hendak berburu oleh-oleh.

Dari hotel, kami berjalan kaki ke Nana, stasiun BTS terdekat dari lokasi hotel. Saya (atau mungkin kami semua) yang terbiasa dengan ruwetnya transportasi publik di Jakarta, terkagum-kagum dengan keseriusan pemerintah Thailand menyediakan angkutan umum yang murah, bersih, dan rapi. Semua serba teratur dan gampang. Kita tinggal datang ke loket, beli tiket BTS berupa kartu sekali pakai, dan menunggu BTS-nya dateng. Di stasiun, ada papan rute stasiun yang berisi ‘peta’ jalur BTS, di mana saja kereta berhenti, dan tarif masing-masing, yang berbeda untuk tiap jarak tempuh. Dari Nana, jika hendak ke Chatuchak, harga tiketnya kurang lebih setara dengan Rp 12 ribu. Untuk angkutan umum seenak ini, harga segitu menurut saya cukup murah. Keretanya bersih, penumpangnya tertib, gak ada pedagang asongan, gak ada pengamen.

Saya lupa nama stasiun tempat kami turun. Yang jelas, dari sana kami tinggal berjalan kaki sedikit, dan sampailah ke JJ Mall yang letaknya di kawasan Chatuchak juga. Ini meeting point di mana nanti pukul 12 siang, kami semua harus berkumpul lagi setelah 2 jam keliling pasar, dan menuju tempat belanja selanjutnya.

Kemudian kehebohan pun dimulai.

Saya dan Fikri muter-muter di dalam pasar, puas-puasin mata, liat-liat barang lucu khas Thailand yang harganya murah abis. Saya sengaja gak belanja, karena harus ngirit juga buat trip bulan depan, bareng kedua anak saya, ke Singapore dan kalau sempat, ke Penang. Mau tau seberapa murah barang-barang yang ada di sana?

Gantungan kunci kecil, 10 baht. Gantungan kunci yang lebih besar, dengan kualitas yang lebih baik, 120 bath/set isi 6. Saya beli tank top putih buat ganti karena mulai kringetan, yang harganya cuma 75 baht (semuanya kaliin 300 rupiah aja biar gampang ngira-ngiranya). Di sebuah gang, saya nemu toko sandal punya orang Pakistan. Untuk sepasang sandal etnik warna warni yang lucu banget, saya dapet harga 150 baht saja. Wis, pokoke murah pol. Alhamdulillah saya gak bawa duit banyak. kayaknya berapapun yang saya bawa akan ludes dalam setengah jam kalau nurutin nafsu belanja mah.

Puas muterin Chatuchak, jam 12 siang lewat, kami beranjak ke Terminal 21 untuk makan siang. Mall ini biasa aja kalo kata saya. Tapi lucu, karena setiap lantai punya tema sendiri. Dari Terminal 21, kami pindah ke Platinum, sebuah pusat perbelanjaan yang gedenya ampun-ampunan. Kami ke sana naik MRT, yang lagi-lagi membuat saya dan temen-temen seperjalanan berdecak kagum sekaligus iri. Kenapa Jakarta gak punya yang seperti ini, ya? Apa yang bisa kita ‘jual’ ke wisatawan, kalo transportasi publik aja berantakan? Sedih dan iri, karena entah kapan kita bisa menikmati angkutan umum yang layak dan memanusiakan manusia, seperti yang kami lihat di Bangkok.

Nah, di Platinum, lagi-lagi saya gak belanja. Hanya beli T-shirt buat precil-precil saya. Selebihnya, saya hanya muter-muter, liat-liat, sesekali iseng nanya harga ini itu. Tadinya pengen beli boots. Tapi gak nemu model yang saya suka, yang maskulin tapi tetep cewek. Kayaknya kiblat mode cewek-cewek sana lebih ke Jepang atau Korea. Dari gaya pakaian, gaya dandanan, sampai ke model sepatu. Banyak banget sepatu dan boots keren (dan sekali lagi, MURAH GILAK!). Tapi kebanyakan boots-nya model Jepang yang berbulu-bulu. Not for me lah, jadinya saya gak beli. Untuk barang-barang lain, sumpah kalo misalnya saya tukang belanja (untungnya nggak), pasti udah kalap dan histeris gak karuan saking murahnya. Saya dapet top, khas Thailand warna putih tanpa lengan cuma seharga 100 bath (Rp 30 ribuan).

Kelar ngubek-ngubek Platinum sampai gempor, kami naik bus untuk makan malam di…aduh lupa namanya, euy. Ini satu mall lain lagi deket Kempinski. Mall gede dan bagus macam Grand Indonesia gitu. Nah, ini yang harus di-high light lagi. Di sana, makanan kok murah-murah banget ya? Padahal kita makan di food court mall sebesar dan sebagus itu, tapi tetep aja murah. Masing-masing kami dapet voucher senilai 200 baht. Makan dan minumnya milih sendiri, dan 200 baht itu harus habis. Saya nemu makanan halal, tom yum soup yang super enak (dan super pedas), minum iced Thai tea segelas besar, dan voucher saya masih nyisa 85 baht! Jadi sisa vouchernya saya beliin aja Cappucino dan Iced Chocolate buat diminum di bus, padahal perut udah begah kepenuhan. Itung deh, untuk porsi normal tom yum dan iced tea, total cuma 115 baht lhoh. Kaliin 300, totalnya hanya 34 ribuan. Di mall-mall Jakarta, mana dapet harga segitu?

Masih inget bar pinggir jalan di tulisan Bangkok Trip 1? Nah, malam itu, karena Fikri pengen jalan ke tempat lain yang gak perlu saya sebutin (dipentung Fikri, hahahah..), saya jalan ke Sevel, beli rokok dan bir. Kali ini saya nyobain bir Tiger, salah satu bir lokal, yang harga sebotolnya hanya 29 baht (9 ribuan). Saya berdiri aja di pinggir jalan, ngebir sambil motret-motret, sok turis (padahal emang turis). Bir habis tapi saya belum ngantuk, kemudian saya nongkrong di bar tempat saya nongkrong malam sebelumnya.

Ada cerita lucu di sini. Baht saya menipis, tinggal 120 lagi, plus beberapa puluh Sing Dollar. Duit segitu hanya cukup buat 1 bir atau 1 cocktail. Karena takut duitnya kurang, saya deketin bartender dan asistennya (belakangan saya tau nama mereka, Ung dan Mae). Aduh, mereka baiiiik banget. Saya bilang, “This is my last bath. I cant find my room mate so I cant borrow his money. Do you take Singapore dollar? What can I get with this 120?” Mereka ketawa, bilang “It’s ok”, dan mempersilakan saya duduk. Jadi saya duduk dan pesen dry martini seharga 120 baht. Pas banget sama jumlah duit yang tersisa.

Waktu gelas martini tinggal setengah, Mae, mbak asisten yang ramah itu nyamperin saya. “Are you okay? You can sit here and order anything you want. Dont worry about money.” Semakin bengong sekaligus terharu waktu saya mau bayar, mbak Ung, si bartender, nyodorin 2 lembar 20-an baht yang saya bayar untuk dry martini yang saya pesan tadi. “It’s okay, really. You need some money for taxi to go back to your hotel, right? Here, take this.” Lhaaaaah baik bener sih, mbak? Dengan halus, saya tolak dan bilang terima kasih berkali-kali. Saya jelasin bahwa saya gak naik taksi, karena saya hanya perlu jalan kaki beberapa meter ke hotel. Itu pun masih dipaksa, dan tetep saya tolak duitnya.

Hal-hal sepele seperti ini sangat menyentuh buat saya. Sebelum pulang, saya salami dan peluk mereka berdua. Dalam hati saya berjanji, kalau satu saat saya ke Bangkok lagi, saya akan datang ke tempat ini lagi dan bawain oleh-oleh buat mereka. *ngusap air mata*

Oh, ternyata gak cukup dua judul ya? Hari ketiga yang gak kalah heboh belum ditulis, hehe..

…to be continued…

29 thoughts on “Bangkok Trip (2)

  1. fairyteeth

    ya owoh… masih ada part 3 nya :lol:

    […Apa yang bisa kita ‘jual’ ke wisatawan, kalo transportasi publik aja berantakan? Sedih dan iri, karena entah kapan kita bisa menikmati angkutan umum yang layak dan memanusiakan manusia, seperti yang kami lihat di Bangkok.]

    semua salahkan foke mbok… :-|

    mboookkk itu booooottttssss bikin ngileeeer… *tapi tetep lebih ngiler sama koper2 dan kotak2 itu*

    Reply
  2. Ivan

    wah…. mupeng…. saya teh ada rencana okt ke thai… udah beli tiketnya… mau inta saran dong,,, tempat2 yang murah, asik, nan meyenangkan.

    Reply
  3. Mieke Manusama

    ada 1 hal lagi,jika kita berada di Thailand dan tidak tahu persis alamat yang akan kita tuju,maka dipersilahkan mengubungi police atw tukang ojekpun akan bersedia mengantar kita dengan jasa gratis,aku ngalamin sendiri

    Reply
  4. Linda Bintarawati

    Di akhir cerita menyentuh banget d…
    Jadi berharap akan ada keajaiban dan kebaikan yang menyelimutiku saat di Bangkok pertengahan November 2013 nanti.
    Makasih untuk cerita wisatanya… ini bermanfaat buat saya yang baru akan berlibur pertama kali ka Bangkok.

    Reply
  5. hotel murah di kuta bali

    We’ve been a group of volunteers in addition to starting off a different program inside our community. Your web site provided us valuable info in order to pictures in. You might have completed a good occupation in addition to our entire community is usually thankful to you.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>