Bye Bye, Blackberry

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk pindah agama ke Android, banyak pertanyaan yang saya terima. Ini tentu sangat bisa dimengerti. Sejak beberapa tahun terakhir, saya, seperti jutaan orang lainnya, adalah ‘penganut fanatik’ Blackberry. Bisa kacau hidup dan pekerjaan saya tanpa mobile device yang daya sihirnya memang luar biasa ini.

Saya memuja, menghamba pada kemampuannya yang membuat dunia seolah-olah berada dalam genggaman. Betapa hidup jadi jauh lebih nyaman. Betapa serba gampang. Hampir semua jenis pekerjaan bisa saya selesaikan dengan jauh lebih cepat. Menulis, mengedit tulisan, berbalas email, mendiskusikan urusan pekerjaan, nego dengan klien lewat aplikasi hebat Blackberry Messenger, bermain-main dan berselancar di dunia digital. Apa yang tak bisa dilakukan oleh si Blackberry?

Ya. Apa yang tak bisa dia lakukan untuk saya, untuk kita?

Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya temukan jawaban dari pertanyaan di atas. Yang paling nyata adalah, perangkat ini tidak membuat saya bahagia. Dia bahkan –seolah-olah– merampas waktu dan kehidupan saya. Terang-terangan. Habis-habisan. Kecuali saat tidur dan sedang menyetir, saya nyaris tidak pernah lepas dari benda yang satu ini. Ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam? Mana bisa tanpa dia?

Bangun tidur, yang pertama kali saya cari-cari dengan mata masih setengah merem adalah Blackberry kesayangan. Memeriksa adakah email penting yang masuk selama saya terlelap tadi. Memastikan tak ada keluhan dari klien, atasan, atau siapa pun di lingkungan pekerjaan saya. Memaksa diri sendiri untuk, sesegera mungkin, menjawab dan memastikan bahwa semua berjalan seperti seharusnya. Oh, kalau saya katakan sesegera mungkin, yang saya maksud adalah SAAT ITU JUGA.

Kemudian, seperti masih punya banyak waktu, Twitter dan milis adalah salah satu menu wajib dalam sarapan. Melibatkan diri dengan suka rela dalam obrolan dan gosip pagi khas dunia maya. Cek mention. Cek direct message. Cek follower baru. Cek profile dan menimbang-nimbang, perlukah saya follow back mereka.

Sombong sekali. Sibuk sekali.

Belum lagi layanan Blackberry Messenger yang membuat kita ‘tak bisa ke mana-mana’. Jam berapa pun, dalam keadaan apa pun, semua orang seolah-olah punya hak penuh untuk masuk ke kehidupan saya. Sekadar menyapa, bertanya ini itu, bergunjing, mengirim broadcast message. Luar biasa. Hebat sekali saya ini, yang punya energi berlimpah untuk meladeni semua orang, nyaris dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu.

Semoga belum terlambat jika baru sekarang saya merasa tertampar.

Saya rindu berada jauh dari keramaian. Hidup saya bukan hanya di dunia kerja dan di lingkungan kawan-kawan maya. Saya tidak ingin lagi terlalu mudah ‘ditemukan’.

Being well connected is great, I know. Tapi saat ini, saya hanya ingin memiliki waktu dan hidup saya lagi. Saya butuh sedikit ruang untuk bergerak. Tanpa Blackberry dan sihir mautnya itu, dunia toh tak akan berhenti berputar.

So, baby. Good bye.

ilustrasi dari sini

29 thoughts on “Bye Bye, Blackberry

  1. desty

    yakin mbok bisa bebas dari jeratan hape? saya aja yg buat internet via hape pake third party,bangun tidur langsung sefera online kok.. :-)
    hanya faktor kebiasaan kok mbok. selama hapenya masih smartphone dan saudaranya ya sebelas dua belaslah..

    Reply
  2. DV

    Keputusan yang hebat., Mbok meski aku setuju dengan yg Desty bilang, 11-12 dgn smartphone lainnya.

    Aku juga ngga pake BB lagi sejak hari pertama anakku lahir, nyaris 2 taon silam. Aku tak bisa membayangkan kalau aku masih pake BB, pasti anakku akan kalah kuperhatikan ktimbang BB itu sendiri.

    Tapi aku mbayangin kamu tanpa BB dengan pekerjaanmu apa malah ngga jadi kontraproduktif? Kan kamu kerja sedikit banyak terelasi dengan internet?

    All the best :-) Jadi nomer Pin BB mu berapa? *eh

    Reply
  3. Pitra

    Jadi siklusnya nanti gini mbok: blackberry –> android –> iphone

    Tapi semua itu masalah kebiasaan sih. Saya dari dulu gak pernah pake BB, tapi tetep aja kemana2 smartphone saya bawa (kecuali ke toilet sih ya). Habit sih itu mbok.

    Reply
  4. goenrock

    Ihiiiy simbok! Akhirnya ikut memusiumkan BB. Jangan lupa instal Whatsapp ya mbok buat ngegantiin BBM. Tapi tenang mbok, di Whatsapp ga ada broadcast message kok :)) ))

    Ngopi-ngopi cantiknya yuk mbok. #salahajakan

    Reply
  5. nonamerah

    Selamat mbooook…
    BB ku udah kupindah tangankan ke orang lain pertengahan tahun ini, akibat dibilang Papa macem orang dzikir kalo udah pegang BB :))

    Balik lagi ke ‘agama’ lama sih, tapi masih tetep kepengen punya android. *elus Si Ege*

    Reply
  6. icit

    selamat pindah agama mbok…
    eh, walo aku gak pernah pake BB, tp sama si robot ijo ini seperti si mbok sama BBnya loh, android kayaknya lebih menarik :-p
    mudah2an tujuan si mbok ganti dr BB beneran tercapai :-)

    Reply
  7. nchaga

    Welcome home mbok! Kl masalah email dan teknologi, Android jauh lebih fleksibel mbok. Gag ada Bbm kan masih ada app whatsapp. Semangat mbok! Sukses selalu!
    *cium jauh robot*

    Reply
  8. Ceritaeka

    Menurutku sihini soal ngatur aja sih mbok :d

    Dulu aku gak pake BB malah pernah ngerasa overwhelmed ama inet jadi memutuskan menjauh sekitar sebulan. Dari situ bljr soal mengatur diri sendiri mbok.

    Jd Skr pake BB ya tinggal diatur aja, BB otomatis mati dari jam 10pm – 4am. Lalu semua notif dimatiin kecuali notif email :d jd gak ada suara2 cuma display notif aja itu pun diliat kalo sempat :d
    Dengan begitu aku yg ngatur waktuku krn gak merasa dikejar2 oleh suara2 notif yg blg ini ituh…
    No hp msh sama kan mbok? Siap2 colek di whatsapp hihi

    Reply
  9. stein

    sebenernya kalo menurut saya itu bukan salah BB-nya, kalo sudah kecanduan online biarpun make HP yang ndak smart pun tetep aja mata terus-terusan ke layar HP :lol:

    seperti yang biasa dikatakan orang-orang, mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat :mrgreen:

    Reply
  10. Rusa

    Hohoho, gak jauh beda sih mbok sama smartphone yg lain, kalau keranjingan socmednya masih sama.

    Kalau Rusa rasa sih, tergantung kita ngatur waktunya aja :d

    Reply
  11. meiy

    tiba2 ingat, kangen kamu mbok. mampir sini. masih & maik menggigit tulisan2 mu ya…

    aku sudah lama memilih tak diatur teknologi, tak diperhamba hehe, menikmati hidup ala jaman batu huaaa…tapi ada yg bilang aku sombong krn susah dihubungi. hati tetep terkoneksi kok. selamat menikmati waktu2 sendirian yg mewah sis. really I miss you venus :-)

    Reply
  12. meiy

    tiba2 ingat, kangen kamu mbok. mampir sini. masih & makin ‘menggigit’ tulisan2 mu ya…

    aku sudah lama memilih tak diatur teknologi, tak diperhamba hehe, menikmati hidup ala jaman batu huaaa…tapi ada yg bilang aku sombong krn susah dihubungi. hati tetep terkoneksi kok. selamat menikmati waktu2 sendirian yg mewah sis. really I miss you venus :-)

    Reply
  13. Poetra

    Aku tak bilang selamat datang di jalan yang benar, tapi aku mau salaman virtual dulu sama simbok untuk mengucapkan selamat datang di dunia baru ;-)

    *bersyukur karena berkurang satu orang lagi yang bakal nanya PIN BB berapa :)) *

    Next stop, 4s, mbok :d
    *cekikikan di sebelah pitra, goen dan suprie*

    Reply
  14. @reje_

    saya suka dengan komentar : jgn salahkan BB nya. saya setuju. masa awal ‘pacaran’ adalah saat2 terindah. bukan hanya BB. Facebook, twitter, awal kerja, awal kuliah, awal sekolah, bahkan awal pacaran. luar biasa magis nya. seperti yg sudah disebut di atas, waktu untuk diri sendiri menjadi mahal adanya. bukan ttg device nya, tapi bagaimana kita membagi waktu dan bagaimana kita menghormati ke’aku’an orang lain. namun bila device lain, dalam hal ini berpindah agama ke android, membantu menemukan ‘me-time’ tak ada salahnya untuk dilakukan. saya pun salah satu nya :-)

    Reply
  15. rendra

    tulisan yang sangat sehati. hanya saya sedikit berbeda. yang saya lakukan sekarang adalah menjadikan BB sebagai handheld kedua bukan yang pertama. hanya karena tuntutan kantor. semoga lebih banyak lagi yang segera menyadari. Btw, caranya share link artikel ini gimana ya?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>