Ayah,
Hari ini tepat tujuh belas taun umurku. Bukan lagi bocah kecilmu yang lucu, bukan lagi perjaka cilik yang sembunyi-sembunyi memakai kemeja dan sepatumu yang tentu saja terlalu besar untuk tubuh mungilku lantas tertawa-tawa memandangi bayangan yang terpantul di cermin, membayangkan bahwa beberapa tahun lagi pastilah aku akan segagah dirimu. Dengan kemeja putih dan pantalon abu-abu yang terseterika rapi, sepatu mengkilat, dasi yang gaya dan tas kerja yang selalu membuatku berdecak kagum dan bangga memiliki ayah sepertimu.
Aku sudah punya pacar, ayah. Teman sekelasku, cantik dan pintar seperti ibu. Taukah ayah bahwa dia bukan cinta pertamaku? Taukah bahwa semasa masih anak laki-laki ingusan berseragam putih biru aku sudah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku? Ah, ayah pasti tak punya waktu bahkan untuk memperhatikan ketika malam itu aku mondar-mandir di depan ruang kerjamu, mencari cara agar bisa duduk di depanmu dan bercerita tentang cinta pertamaku yang patah. Padahal betapa ingin aku berbagi sedih dan kecewaku, membiarkan ayah melihat aku menangisi kekalahanku.
Tujuh belas taun, dan betapa sedih mengingat betapa panjang waktu kita terbuang. Betapa jauh jarak terbentang sekalipun kita begitu dekat. Aku berjanji, ayah. Jika suatu hari nanti aku menikah dan menjadi seorang ayah, tak akan kuulangi kesalahan yang sama seperti kau lakukan kepadaku, anak lelakimu. Aku akan selalu ada di dekat anak-anakku, memeluk mereka dan tak malu mengucapkan ‘I love you, son’, menemani dan membacakan dongeng tentang petualangan dan kisah-kisah hebat sepanjang masa, dan mengecup kening mereka sebelum mematikan lampu dan menutup pintu. Akan kugenggam tangan mereka sepenuh cinta, akan kutepuk pundak mereka dengan sayang dan meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja saat mereka kehilangan cinta pertamanya. I would definitely be there for my kids, all the time, and watch their first steps, their first loves, their first brokenhearts.
I love you, Ayah…
Bimo
Hanya ingin mengingatkan, jika suatu saat nanti jika kalian menjadi seorang ayah (atau sudah?), simpan ego lelaki dan kesombonganmu. Perlakukan anak-anakmu sebagai manusia kecil yang membutuhkan pelukanmu. Untuk mereka, malaikat-malaikat kecil itu,tak cukup hanya kasih sayang seorang ibu. Tak cukup hanya uang sekolah, baju mahal dan sekotak besar mainan yang kau jejalkan sebagai tanda cintamu.
Mereka, anak-anakmu, membutuhkanmu.
*pernah dipublish di ngerumpi.com, 6 Juli 2009


iya mbooook, posting ini jangan dihapus ya, agar suatu saat aku membacanya lagi
Ah, untunglah suami dan Papaku nggak ego, Mbok. Banyak ngalahnya….
postingannya sukses membuat air mata mengembang di mata kemudian mengingat 25 tahun yang lewat tanpa ada belaian seorang ayah yang sesungguhnya
jadi sepertinya saya bapak pertama yang komen ya mbok?
makasih sudah mengingatkan, kadang polah mereka nganyelke, mbikin emosi, tapi saat jauh, atau waktu liat mereka tidur… *menghela nafas panjang*
Hmm menyentuh… catatan untukku… untuk selalu punya waktu…
Ayahku super introvert, kaku & sama sekali gak ekspresif
Thanks Mbok….
Aaaakkk….. *mewek*
So far sih suami aku sepertinya bukan orang yang malu mengumbar kata sayang ke anaknya… Mudah2an bukan cuma pas anaknya baby aja sih… Semoga pas anaknya udh dewasapun, suamiku ga sungkan menjadi teman curhat anak lanangnya….
Insya Allah akan jadi sahabat terbaik buat anak-anak saya
Salam kenal Mbok

Artikelnya jangan dihapus.. biar nanti kalo sy khilaf ada yg mengingatkan..
Trimakasih
aku kangen bapakku