From #7daysmarch

Bali.

Meski saya pernah tinggal selama satu tahun di pulau yang cantik ini, dan dua tahun belakangan beberapa kali saya berkesempatan pergi ke sana, Bali tetaplah Bali. A place you can’t resist.

Karenanya, ketika undangan untuk menghadiri Asean Blogger Conference saya terima dari panitia, tanpa pikir panjang, saya menyatakan setuju untuk datang dan berpartisipasi. Meski jujur saja, saya tidak benar-benar tahu apa tugas saya, atau apa yang harus saya lakukan nanti di konferensi ini.

Nyaris tanpa bekal pengetahuan apa pun tentang konferensi blogger tingkat regional ini, atau tentang deklarasi yang sepintas lalu saya dengar, saya berangkat tanpa ekspektasi apa-apa. Saya ke sana karena, setidaknya, di ajang seperti ini, saya akan bertemu dengan rekan-rekan blogger lain, berkenalan dengan teman-teman baru, dan belajar sesuatu dari mereka. Apa pun itu.

Yang sama sekali di luar perkiraan, adalah padatnya jadwal acara, sampai-sampai nyaris kami para peserta tidak punya cukup waktu untuk beristirahat. Tadinya saya bayangkan bahwa setidaknya, kami akan punya kesempatan barang setengah jam atau satu jam untuk saling memperkenalkan diri dengan peserta dari daerah lain, atau dengan blogger ‘tamu’ dari negara-negara tetangga.

Terlalu padatnya jadwal ini yang tampaknya membuat kami semua kelelahan, dan wajah-wajah ngantuk –dan bosan– mulai terlihat di sana-sini, terutama pada beberapa sesi terakhir. Beberapa orang bahkan lebih suka melewatkan sharing session dengan topik-topik serius, dan memilih untuk ngobrol dan merokok di luar ruangan. Buat saya pribadi, justru presentasi singkat dari bapak Nukman lah yang paling menyenangkan. Ringan, apa adanya, dan ‘sangat blogger’. Beliau tidak bicara soal angka dan statistik, sama sekali tidak menyentuh ranah politik, tidak juga bicara tentang deklarasi dan hal-hal berat lainnya.

Oh, deklarasi itu hal yang ‘berat’?

Buat saya, sejujurnya, iya. I’m not into politics, saya bukan tipe orang yang suka berorganisasi, dan karenanya, saya merasa sedikit hilang arah ketika harus mulai bicara dan berdiskusi tentang draft deklarasi. Satu-satunya usulan saya pada saat group discussion adalah tentang blogger exchange program, yang sepertinya mendapat respon positif dari rekan-rekan lain.

Sebagai blogger yang percaya bahwa teori ‘blog adalah trend sesaat’ hanyalah omong kosong, saya tahunya ya hanya ngeblog dan nulis. Yang saya butuhkan untuk itu bukanlah poin-poin serius tentang tugas dan tujuan dibentuknya komunitas blogger Asean atau apa pun. Keinginan saya –sebagai blogger– sederhana saja: berikan kami koneksi internet yang murah dan bagus. Beri kami kebebasan menuangkan apa pun isi kepala kami ke dalam tulisan. Now do I sound shallow?

Perhelatan bergengsi –meski buat saya membingungkan– itu sudah berakhir. Dengan segala kekurangan di sana sini, kita semua tetap wajib memberikan penghargaan dan hormat setinggi-tingginya buat jajaran panitia yang sudah bekerja mati-matian demi terselenggaranya event ini. Juga kepada semua peserta; yang sangat bersemangat, yang sempat bosan, yang terkantuk-kantuk, atau yang bingung seperti saya. Terima kasih. We had a great time, didn’t we?