Pahlawan.

Siapakah sesungguhnya pahlawan, selain nama-nama yang kita kenal dari buku-buku pelajaran sekolah?

Setiap hari, pukul tujuh pagi, dia selalu muncul di depan pagar rumah saya. Selalu tepat di jam yang sama. Setiap hari dia datang, bahkan hari sabtu dan minggu karena dia menolak untuk libur. Di rumah juga nggak ngapa-ngapain, begitu alasannya dulu waktu saya tanya.

Namanya mbak Tini. Usianya terpaut beberapa tahun di bawah saya. Badannya kurus, kedua tungkainya kuat, begitu juga kedua lengannya. Saya tahu pasti, karena tahun ini adalah tahun ke-sembilan mbak Tini bekerja di rumah saya. Jarang sekali sakit, dan sama sekali belum pernah saya dengar dia mengeluh capek.

Buat saya, dialah pahlawan.

Tentu berat untuk seorang ibu dari dua bocah balita, harus bekerja dari pagi sampai menjelang magrib, di beberapa rumah sekaligus. Setiap hari. Nyaris tanpa libur.

Betul, anda tidak salah baca. Mbak Tini yang sedang saya bagi kisahnya ini, memang tidak hanya bekerja di rumah saya saja. Dia datang pukul tujuh pagi, mulai bebenah dan bersih-bersih rumah, mencuci piring kotor, mencuci setumpuk baju, memasak untuk saya dan anak-anak.

Kurang lebih pukul sebelas, mbak Tini akan pamit untuk mengerjakan hal yang sama di rumah tetangga sebelah. Kemudian ke rumah sebelahnya lagi. Jam tiga sore, mbak Tini kembali ke rumah saya. Mencuci piring kotor bekas makan siang kalau ada. Mengangkat jemuran dan mulai menyetrika. Kadang menggoreng pisang untuk camilan sore jika saya minta.

Mbak Tini tidak pernah saya dengar mengeluh macam-macam. Padahal saya tahu betul, pagi-pagi sebelum berangkat, di rumah kontrakannya, ia masih harus memasak untuk suami dan anak-anaknya. Mencuci baju. Barangkali memandikan dan menyuapi kedua anak itu juga.

Karenanya, buat saya, orang-orang seperti mbak Tini adalah pahlawan. Bukan hanya karena ia pencari nafkah utama dalam keluarga kecilnya yang sederhana. Mbak Tini yang selalu tersenyum, adalah kepada siapa saya –dan keluarga serta ibu-ibu yang lain di komplek kami—wajib menghaturkan ucapan terima kasih sebesar dan setulus-tulusnya. Tanpa dia, tanpa mbak-mbak Tini yang lain, barangkali kita semua akan kerepotan membagi waktu antara tugas rumah dan pekerjaan. Akan berlipat-lipat kekhawatiran para orangtua yang harus meninggalkan anak-anaknya untuk mencari nafkah di luar rumah.

Mbak Tini. Yang pendiam, nrimo, dan yang wajahnya selalu tersenyum ketika berkata-kata. Dialah pahlawan. Dia, dan ribuan asisten rumah tangga seperti dirinya.

Selamat hari pahlawan. Siapakah pahlawan versi anda?