November 29th, 2011
by venus
1 Comment
700 views
Sampai sekarang, saya masih takjub dengan betapa manusia bisa punya banyak wajah. Banyak sisi. Yang terlihat di permukaan, adalah sisi wajah yang ingin mereka tampilkan. Sisi baik, citra yang mereka ingin orang rekam.
Dari sudut sebelah sana, atau jika kita bersedia membuka hati, jika saja kita mau jujur mengakui, bahwa yang kita lihat selama ini adalah sisi baik yang sungguh ingin kita percaya…
Selamat datang di dunia nyata. Tempat iblis paling busuk dapat mewujud manusia-manusia berbudi. Sebuah ruang maha luas, tempat lelaki dan perempuan-perempuan yang atas nama cinta dan kebodohan, begitu saja mampu ditipu oleh wajah-wajah palsu yang permukaan; bening, indah, tulus. Lalu mereka, lelaki-lelaki dan perempuan-perempuan itu, hanya bisa tertawa pahit, menyadari bahwa yang dilihatnya tadi adalah hasil permainan cahaya. Gelap, terang, atau jika diibaratkan sesi pemotretan, ini hanya soal sudut pengambilan gambar. Ketika cahaya luruh, yang tersisa adalah sosok asing yang tak pernah mereka kenal, bahkan di dalam khayalan: gelap, keruh, mengerikan.
Pergilah jauh. Tempatmu bukan di sini.
ilustrasi dari sini.
Bali.
Meski saya pernah tinggal selama satu tahun di pulau yang cantik ini, dan dua tahun belakangan beberapa kali saya berkesempatan pergi ke sana, Bali tetaplah Bali. A place you can’t resist.
Karenanya, ketika undangan untuk menghadiri Asean Blogger Conference saya terima dari panitia, tanpa pikir panjang, saya menyatakan setuju untuk datang dan berpartisipasi. Meski jujur saja, saya tidak benar-benar tahu apa tugas saya, atau apa yang harus saya lakukan nanti di konferensi ini.
Nyaris tanpa bekal pengetahuan apa pun tentang konferensi blogger tingkat regional ini, atau tentang deklarasi yang sepintas lalu saya dengar, saya berangkat tanpa ekspektasi apa-apa. Saya ke sana karena, setidaknya, di ajang seperti ini, saya akan bertemu dengan rekan-rekan blogger lain, berkenalan dengan teman-teman baru, dan belajar sesuatu dari mereka. Apa pun itu.
Yang sama sekali di luar perkiraan, adalah padatnya jadwal acara, sampai-sampai nyaris kami para peserta tidak punya cukup waktu untuk beristirahat. Tadinya saya bayangkan bahwa setidaknya, kami akan punya kesempatan barang setengah jam atau satu jam untuk saling memperkenalkan diri dengan peserta dari daerah lain, atau dengan blogger ‘tamu’ dari negara-negara tetangga.
Terlalu padatnya jadwal ini yang tampaknya membuat kami semua kelelahan, dan wajah-wajah ngantuk –dan bosan– mulai terlihat di sana-sini, terutama pada beberapa sesi terakhir. Beberapa orang bahkan lebih suka melewatkan sharing session dengan topik-topik serius, dan memilih untuk ngobrol dan merokok di luar ruangan. Buat saya pribadi, justru presentasi singkat dari bapak Nukman lah yang paling menyenangkan. Ringan, apa adanya, dan ‘sangat blogger’. Beliau tidak bicara soal angka dan statistik, sama sekali tidak menyentuh ranah politik, tidak juga bicara tentang deklarasi dan hal-hal berat lainnya.
Oh, deklarasi itu hal yang ‘berat’?
Buat saya, sejujurnya, iya. I’m not into politics, saya bukan tipe orang yang suka berorganisasi, dan karenanya, saya merasa sedikit hilang arah ketika harus mulai bicara dan berdiskusi tentang draft deklarasi. Satu-satunya usulan saya pada saat group discussion adalah tentang blogger exchange program, yang sepertinya mendapat respon positif dari rekan-rekan lain.
Sebagai blogger yang percaya bahwa teori ‘blog adalah trend sesaat’ hanyalah omong kosong, saya tahunya ya hanya ngeblog dan nulis. Yang saya butuhkan untuk itu bukanlah poin-poin serius tentang tugas dan tujuan dibentuknya komunitas blogger Asean atau apa pun. Keinginan saya –sebagai blogger– sederhana saja: berikan kami koneksi internet yang murah dan bagus. Beri kami kebebasan menuangkan apa pun isi kepala kami ke dalam tulisan. Now do I sound shallow?
Perhelatan bergengsi –meski buat saya membingungkan– itu sudah berakhir. Dengan segala kekurangan di sana sini, kita semua tetap wajib memberikan penghargaan dan hormat setinggi-tingginya buat jajaran panitia yang sudah bekerja mati-matian demi terselenggaranya event ini. Juga kepada semua peserta; yang sangat bersemangat, yang sempat bosan, yang terkantuk-kantuk, atau yang bingung seperti saya. Terima kasih. We had a great time, didn’t we?
November 11th, 2011
by venus
7 Comments
1,014 views
Pahlawan.
Siapakah sesungguhnya pahlawan, selain nama-nama yang kita kenal dari buku-buku pelajaran sekolah?
Setiap hari, pukul tujuh pagi, dia selalu muncul di depan pagar rumah saya. Selalu tepat di jam yang sama. Setiap hari dia datang, bahkan hari sabtu dan minggu karena dia menolak untuk libur. Di rumah juga nggak ngapa-ngapain, begitu alasannya dulu waktu saya tanya.
Namanya mbak Tini. Usianya terpaut beberapa tahun di bawah saya. Badannya kurus, kedua tungkainya kuat, begitu juga kedua lengannya. Saya tahu pasti, karena tahun ini adalah tahun ke-sembilan mbak Tini bekerja di rumah saya. Jarang sekali sakit, dan sama sekali belum pernah saya dengar dia mengeluh capek.
Buat saya, dialah pahlawan.
Tentu berat untuk seorang ibu dari dua bocah balita, harus bekerja dari pagi sampai menjelang magrib, di beberapa rumah sekaligus. Setiap hari. Nyaris tanpa libur.
Betul, anda tidak salah baca. Mbak Tini yang sedang saya bagi kisahnya ini, memang tidak hanya bekerja di rumah saya saja. Dia datang pukul tujuh pagi, mulai bebenah dan bersih-bersih rumah, mencuci piring kotor, mencuci setumpuk baju, memasak untuk saya dan anak-anak.
Kurang lebih pukul sebelas, mbak Tini akan pamit untuk mengerjakan hal yang sama di rumah tetangga sebelah. Kemudian ke rumah sebelahnya lagi. Jam tiga sore, mbak Tini kembali ke rumah saya. Mencuci piring kotor bekas makan siang kalau ada. Mengangkat jemuran dan mulai menyetrika. Kadang menggoreng pisang untuk camilan sore jika saya minta.
Mbak Tini tidak pernah saya dengar mengeluh macam-macam. Padahal saya tahu betul, pagi-pagi sebelum berangkat, di rumah kontrakannya, ia masih harus memasak untuk suami dan anak-anaknya. Mencuci baju. Barangkali memandikan dan menyuapi kedua anak itu juga.
Karenanya, buat saya, orang-orang seperti mbak Tini adalah pahlawan. Bukan hanya karena ia pencari nafkah utama dalam keluarga kecilnya yang sederhana. Mbak Tini yang selalu tersenyum, adalah kepada siapa saya –dan keluarga serta ibu-ibu yang lain di komplek kami—wajib menghaturkan ucapan terima kasih sebesar dan setulus-tulusnya. Tanpa dia, tanpa mbak-mbak Tini yang lain, barangkali kita semua akan kerepotan membagi waktu antara tugas rumah dan pekerjaan. Akan berlipat-lipat kekhawatiran para orangtua yang harus meninggalkan anak-anaknya untuk mencari nafkah di luar rumah.
Mbak Tini. Yang pendiam, nrimo, dan yang wajahnya selalu tersenyum ketika berkata-kata. Dialah pahlawan. Dia, dan ribuan asisten rumah tangga seperti dirinya.
Selamat hari pahlawan. Siapakah pahlawan versi anda?