Memelukmu lagi kini, seperti menjadi saksi keajaiban. Ah, tak tepat seperti itu sebenarnya. Aku merasa kita sedang mencipta keajaiban. Menulis ulang cerita perjalanan, merangkum sekian belas taun yang tercerabut paksa dari hidup kita; seperti menemukan mata rantai yang hilang. Meraup setiap keping kenangan yang terserak acak lantas merapikannya lagi, membaca dan menikmatinya berdua perlahan-lahan.

Sudahkan kukatakan bahwa aku lupa kapan terakhir kali merasa bahagia? Hingga kini, ketika aku menemukanmu, menyentuhmu lagi. Seperti dulu.

Aku tak pernah benar-benar mengerti kenapa semesta menerbangkanmu pergi, lalu sekarang membawamu kembali. Tapi sudahlah. Temani saja aku melihat langit malam-malam, menatap bulan saat purnama penuh. Atau jika kau lebih suka bintang, kita akan bersama-sama belajar membedakan, mana Orion mana Casiopeia di antara puluhan konstelasi menakjubkan, yang tersebar indah di atas kita. Di langit Jakarta.