Memelukmu lagi kini, seperti menjadi saksi keajaiban. Ah, tak tepat seperti itu sebenarnya. Aku merasa kita sedang mencipta keajaiban. Menulis ulang cerita perjalanan, merangkum sekian belas taun yang tercerabut paksa dari hidup kita; seperti menemukan mata rantai yang hilang. Meraup setiap keping kenangan yang terserak acak lantas merapikannya lagi, membaca dan menikmatinya berdua perlahan-lahan.
Sudahkan kukatakan bahwa aku lupa kapan terakhir kali merasa bahagia? Hingga kini, ketika aku menemukanmu, menyentuhmu lagi. Seperti dulu.
Aku tak pernah benar-benar mengerti kenapa semesta menerbangkanmu pergi, lalu sekarang membawamu kembali. Tapi sudahlah. Temani saja aku melihat langit malam-malam, menatap bulan saat purnama penuh. Atau jika kau lebih suka bintang, kita akan bersama-sama belajar membedakan, mana Orion mana Casiopeia di antara puluhan konstelasi menakjubkan, yang tersebar indah di atas kita. Di langit Jakarta.


Bundaaa…..Pa Kabar..? lama neh ga mampir kesini…ntar jalan-jalan ke rumah saya yah…blom berubah alamat saya…hehehehe
Mbok… kamu tahu… memeluk (keajaiban) itu adalah kewajiban.. dimana dunia ini acapkali sarat dengan segudang kekecewaan… dan sederet urusan sakit kepala dan hati… tidak terlalu berlebihan bila (keinginanmu) untuk memeluk keajaiban perlu sebuah tekad yang kuat agar dia benar-benar ada dan datang menghampirimu…
Salam hangat dari negeri carut-marut ini yang sudah pasti butuh keajaiban besar baik bagi negeri dan warganya yang didera kekerasan berdekade ini…
. selamat pagi
. sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih udah mau berbagi cerita
. dan cerita cukup nya menarik jga
. salam kenal iya mas.
memeluk keajaiban? aku belum pernah. tapi kurasa saat waktu itu datang, aku akan bilang, “begini saja sudah cukup.”
salam kenal!
simbokkk, di mana, sih, bisa lihat bintang di Jakarta?

boleh ngga ngrusuhi ikut lihat
Siang mbak, saya suka sekali sama post ini.
Mohon minta izin utk share di blog saya ya
Terima kasih sebelumnya!
http://www.imogenation.multiply.com