Sekarang Saya Tahu

Sampai beberapa saat yang lalu, saya terbiasa ngisi bensin selang-seling. Kalau minggu ini saya pake premium, minggu depannya saya pakai pertamax. Minggu depannya lagi, balik ke premium lagi. Begitu seterusnya.

Alasan (atau pembenaran?) saya waktu itu adalah…ya ya; berhemat. Namanya juga ibu-ibu. Tau sendiri berapa jauh beda harga premium dan pertamax, kan ya? Pertamax, harga jualnya dua kali lipat lebih mahal. Jadi meskipun di balik tutup tanki bensin si angkot jelas-jelas tertulis “hanya untuk bahan bakar tanpa timbal”, tetep aja sesekali saya masih beli premium. Untuk alasan irit itu tadi.

Tapi sekarang, saya kapok.

Bukan. Bukan karena pernah denger sebuah lembaga ngeluarin fatwa bahwa premium itu haram. Itu sih cuma jadi bahan ketawaan di antara saya dan temen-temen. Apa hubungannya bensin dan halal-haram yak? Jauh bener kalo urusan bensin aja disambung-sambungin sama surga neraka. Hadeuh banget.

Saya mau cerita.

Dulu, saya yang buta otomotif dan taunya cuma nyetir ini, gak ngerti kenapa pada saat pindah gigi, sering denger bunyi tik-tik-tik yang ganggu. Tau sih, itu mungkin yang dibilang orang ‘mesinnya ngelitik’. Tapi gak pernah saya berusaha nyari tau apa penyebabnya, atau apa bahayanya kalo bunyi itu dibiarkan. Yang ada di kepala saya, ‘ah palingan karena telat mindahin gigi, atau sayanya yang gak mulus waktu ganti persneling’.

Belakangan, saya dapet banyak pencerahan *halah* dengan membaca-baca banyak artikel penting tentang mesin di sini. Sekarang saya tau, bunyi tik-tik-tik waktu itu adalah bunyi ledakan campuran bahan bakar yang meledak/terbakar lebih cepat dari yang seharusnya, karena saya pake bahan bakar beroktan rendah, yang katanya berpengaruh ke proses pembakaran. Efek jangka panjangnya, lama kelamaan piston akan menjadi cacat dan berlubang-lubang. Bahkan saat ngelitik terjadi berkelanjutan di suhu tinggi, bisa membuat piston menjadi meleleh dan bahkan bolong. Alamak, ini sih serem.

Dan beneran. Sudah hampir dua minggu ini saya cuma pake pertamax untuk ngebuktiin bedanya. Sekarang, gak pernah ada lagi yang namanya mesin si angkot ngelitik. Iya sih, pengeluaran buat beli bensin jadi lumayan lebih tinggi. Tapi saya mikirnya gampang aja. Daripada mau sok hemat tapi ujung-ujungnya harus ngeluarin duit lebih banyak kalo si mesin kenapa-napa, mendingan saya stop beli premium, dan beralih ke pertamax.

Bukan karena premium itu haram. Tapi karena sekarang saya tau, adalah bodoh, berusaha berhemat padahal sejatinya saya sedang merusak mesin mobil sendiri tanpa saya sadari.

Udah pada pindah ke pertamax, kan?

Memeluk Keajaiban

Memelukmu lagi kini, seperti menjadi saksi keajaiban. Ah, tak tepat seperti itu sebenarnya. Aku merasa kita sedang mencipta keajaiban. Menulis ulang cerita perjalanan, merangkum sekian belas taun yang tercerabut paksa dari hidup kita; seperti menemukan mata rantai yang hilang. Meraup setiap keping kenangan yang terserak acak lantas merapikannya lagi, membaca dan menikmatinya berdua perlahan-lahan.

Sudahkan kukatakan bahwa aku lupa kapan terakhir kali merasa bahagia? Hingga kini, ketika aku menemukanmu, menyentuhmu lagi. Seperti dulu.

Aku tak pernah benar-benar mengerti kenapa semesta menerbangkanmu pergi, lalu sekarang membawamu kembali. Tapi sudahlah. Temani saja aku melihat langit malam-malam, menatap bulan saat purnama penuh. Atau jika kau lebih suka bintang, kita akan bersama-sama belajar membedakan, mana Orion mana Casiopeia di antara puluhan konstelasi menakjubkan, yang tersebar indah di atas kita. Di langit Jakarta.

Kita Sekali Lagi

Secangkir earl grey tea. Sahabat-sahabat terdekat. Percakapan konyol dan kacau balau. Asap rokok dan lalu lalang manusia-manusia yang tak kukenal. Satu lagu yang puluhan kali kuputar ulang.

Lalu seperti janjimu, kamu datang.

Taukah kamu? Jakarta malam hari tak pernah seindah ini. Dan ciuman selamat malam yang kau lakukan di depan begitu banyak orang…

Bukan salahku jika lantas kugamit lenganmu, memeluk dan menciummu sekali lagi. Ciuman ringan, tak terburu-buru, yang membuat berpasang-pasang mata menatap kita tersenyum-senyum. Sebagian memalingkan wajah, tersipu.

Biar saja. Biarkan mereka cemburu.