Day #6
Kamis, 18 Agustus 2011
Paling sebel kalau skedul berantakan. Seperti yang terjadi hari ini.
Seharusnya sore ini saya datang ke Sampoerna Strategic Square di Jalan Sudirman untuk berbuka puasa. Undangan untuk buka bareng dengan rekan-rekan media, anak-anak yatim dari sebuah panti asuhan, dan beberapa teman blogger, sudah saya terima sejak beberapa hari yang lalu.
Dari tadi malam, dengan semangat tinggi, saya kerjakan tumpukan tugas yang harus selesai siang ini. Menulis, bikin weekly report untuk klien, menulis lagi. Hampir semuanya beres kecuali beberapa revisi yang bisa saya susulkan malam harinya.
Maka, diantar si Marchy, berangkatlah saya ke kantor kurang lebih pukul 2 siang untuk mengurus beberapa hal, sebelum meluncur ke Sudirman. Udah dandan rapi, udah wangi, dan udah seneng membayangkan akan bertemu temen-temen blogger dan orang-orang baru.
Sampai di kantor, sambil menunggu sore, saya memantau mailing list dan linimasa Twitter. Mencoba mencari tahu, siapa saja teman yang akan datang ke acara yang sama, dan siapa yang batal datang. Yakin bahwa jam-jam segitu Sudirman pastilah macet luar biasa, saya putusin untuk naik taksi aja ke sana.
Entah kenapa, mendadak saya ragu setelah tahu bahwa beberapa teman membatalkan rencana karena berbagai alasan. Beberapa orang lagi mengaku masih terjebak macet, dan belum pasti apakah mereka akan sampai di venue tepat waktu. Waduh..
Terbiasa mengikuti kata hati jika sedang merasa bingung dan mentok, akhirnya saya putuskan untuk gak pergi. Sudah lah, saya buka puasa bareng temen-temen kantor aja. Kebetulan sedang ada acara bukber kecil-kecilan juga di kantor, mengundang beberapa orang penting dari perusahaan dan komunitas-komunitas online.
Keputusan yang sangat tepat dan saya syukuri. Di Twitter, semua orang mengomel panjang pendek karena macet terjadi di hampir semua ruas jalan. Jadi kalau misalnya saya tadi jadi berangkat, entah bagaimana jadinya. Marchy memang jagoan dan sangat bisa diandalkan di jalanan yang padat kendaraan. Ini sudah beberapa kali saya buktikan selama Marchy menginap di rumah saya. Tapi tetep aja, kalo macetnya udah keterlaluan, sebaiknya saya gak kemana-mana. Macet selalu sukses membuat mood saya berantakan, soalnya.
Dan skedul yang kacau berubah menjadi sebuah kesenangan tersendiri hari ini. Baru sekali ini saya berbuka bareng temen-temen kantor. Seru banget ternyata. Dan banyak banget makanan enak, yang berpotensi membuat diet semua orang gagal total.
P.s: Dalam perjalanan pulang, saya baru nyadar betapa iritnya si Marchy ini. Udah saya pakai selama 6 hari, dibawa jalan kemana-mana, tapi indikator bahan bakar masih menunjukkan bahwa bensin masih tersisa sepertiga tangki.
Day #5
Rabu, 17 Agustus 2011
#17an. Satu tujuan. One goal. Bhinneka Tunggal Ika. Unity in diversity.
Rabu pagi.
Saya mengawali hari ini dengan rasa kecewa terhadap diri sendiri. Dari kemarin sudah berencana untuk ikutan upacara bendera dalam rangka hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang diadakan oleh masyarakat social media di fX, dan rencana itu gagal karena alasan konyol: saya bangun kesiangan.
Padahal udah janji akan membawa kedua anak saya ke sana. Dan karena terlambat bangun, mereka berdua jadi gak mau pergi. Keributan kecil khas antara ibu dan anak tidak bisa dihindari, dan sukses membuat mood saya ngedrop. Syukurlah, meski si bungsu tetap membatalkan rencana untuk ikut ke sana, kakaknya masih bisa diajak kompromi. Dan jadilah saya pergi berdua dengan si kakak.
Sadar bahwa upacara bendera sudah selesai bahkan sebelum kami berangkat dari rumah, akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan aja. Kalau masih ada teman-teman komunitas Salingsilang yang di sana ya syukur, kalau udah sepi ya udahlah.
Alhamdulillah, di atrium lantai 1 fX di kawasan Senayan, masih tersisa beberapa orang temen kantor. Tapi upacaranya bener-bener udah lewat. Acara selanjutnya adalah nonton performance beberapa kelompok artis di panggung di tengah atrium. Toh sejak tadi malam sampai paginya, saya sudah ikut meramaikan tagar #17an lewat Twitter. Pembenaran ini membuat rasa bersalah saya sedikit berkurang. Setidaknya saya sudah menyumbangkan sesuatu sesuai kemampuan, meskipun hanya virtual.
Ngomong-ngomong tentang panggung dan artis yang tampil siang tadi, ada satu kelompok anak muda yang cukup menarik perhatian saya. Terdiri dari tujuh orang yang kalau dilihat dari penampilan fisiknya, sebagian besar dari mereka berasal dari etnis Cina. Kulit mereka bening, mata mereka sipit. Mereka membawakan beberapa lagu. Yang sangat membuat saya merinding dan terharu, adalah ketika kelompok ini menyanyikan lagu ‘Rayuan Pulau Kelapa’. Dengan beat yang enak didengar, ringan, namun sekaligus apik dan terasa kental dengan luapan cinta yang tulus, Rayuan Pulau Kelapa terlantun manis.
Melambai-lambai nyiur di pantai
Berbisik-bisik raja klana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku, Indonesia…
Dirgahayu, Indonesia! Negeri yang kucinta sepenuh jiwa…
Day #4
Selasa, 16 Agustus 2011
Sebenarnya pengen banget nulis review tentang performa si Marchy, city car mungil keluaran Nissan Motor Indonesia. Sayangnya, saya gak ngerti otomotif dan buta mesin. Taunya hanya nyetir. Urusan mesin dan perawatan mobil, saya pasrahkan semuanya ke bengkel resmi si angkot.
Nah, ngomong-ngomong soal nyetir, rasanya kemampuan saya membawa mobil juga gak memalukan. Lumayan lah. Tapi, ini jujur, saya juga gak mau ngaku-ngaku bahwa saya pengemudi yang sangat jago, atau punya nyali untuk iseng balapan di jalan tol.
Jadi kali ini, saya coba nulis review sok tau berdasarkan pengalaman jalan-jalan bareng Marchy beberapa hari ini saja.
makanan sehari-hari: macet
Barangkali kurang adil jika saya bandingkan Marchy dengan si angkot, mobil kecil buatan Jepang yang saya pakai selama ini. Head to head-nya nggak dengan si angkot. Dari sisi mesin, kedua mobil ini juga beda. Angkot saya 1500 cc dengan 4 silinder. Marchy adalah city car yang dirancang lebih simpel, 1200 cc dengan 3 silinder. Ruang kabinnya sedikit lebih kecil, meski jika dilihat sepintas, ukuran keduanya tidak jauh berbeda.
Yang saya rasakan waktu pertama kali mengemudikan si Marchy adalah, tarikannya halus, enteng, dan suspensinya keren. Melintasi jalan berlubang, bahkan yang terbilang parah seperti di daerah tempat tinggal saya, Marchy tenang-tenang saja. Gak bikin badan terguncang-guncang.
Poin lain yang cukup penting adalah, sistem pendingin udaranya bagus. Kadang malah terlalu dingin, barangkali karena ukuran kabinnya juga kecil. Bareng si angkot, kadang saya harus menurunkan temperatur sampai mentok, dan naikin blower AC ke angka 2 jika Jakarta sedang panas-panasnya dan matahari serasa tepat di atas kepala.
Hari ini, kebetulan saya ada jadwal meeting jam 2 siang di Citos. Seperti biasa, lalu lintas Jakarta yang semrawutnya sudah mencapai level absurd dan tidak bisa diprediksi, membuat saya kembali harus bersabar. Sabar, sekaligus ketar ketir takut telat.
Hebatnya si Marchy, di jalanan yang ruwet seperti itu, dia dengan mudah melakukan manuver-manuver cantik. Menyalip, meliuk-liuk genit di antara deretan mobil dan motor yang memadati ruas jalan. Tanpa perlu usaha keras, saking enteng dan gampangnya, dengan mulus Marchy menyusup di tengah-tengah beberapa kendaraan yang saling berebut seolah tak ada yang mau mengalah. Jangan lupa, ini Jakarta. Kota di mana semua orang ingin menjadi yang tercepat sampai di tempat tujuan.
Marchy lulus ujian hari ini, dengan nilai sempurna. Dengan sangat mulus, dia melewati segala kerumitan sepanjang Cileungsi-Citos. Dan pukul dua kurang dua menit, saya sampai ke lokasi meeting.
Oiya, ada satu keinginan yang belum kesampaian, yakni menjajal kesaktian si Marchy sampai batas maksimal. Seberapa canggih, sih? Atau mampukah dia tetap perform, stabil, dan gak nyusahin pada kondisi jalan apa pun, di kecepatan berapa pun?
Wanna do it, Marchy? Say like, tomorrow?