Sebuah ajakan sederhana. Pengingat bagi semua, untuk menunjukkan cinta kepada ibu kita, selagi mereka masih ada..
Seringkali, ide untuk melakukan sesuatu, datang tanpa diduga.
Berawal dari mas Harry Setiawan, yang pada suatu hari mengirim pesan pendek tentang keinginannya membuat sebuah gerakan sosial. Idenya sederhana, yakni mengajak kita semua untuk sesering mungkin menelpon ibu kita, jika kita masih punya ibu.
Kita acapkali lupa melakukan hal kecil yang pastilah sangat berarti untuk seorang perempuan mulia, yang dari rahimnya kehidupan kita bermula. Mengirim sms berkali-kali dalam sehari kepada orang-orang dekat; teman, sahabat, rekan kerja, pacar, calon pacar, suami atau istri, adalah hal biasa. Namun mari kita ingat-ingat lagi, sudahkah kita melakukan hal yang sama kepada ibu kita?
Berbincang cukup lama dengan mas Harry dan Tika sore tadi, membuat saya tak henti merutuki diri sendiri. Betapa saya pun lupa, bahwa ibu yang alhamdulillah masih saya miliki, barangkali merasakan kesepian dan kerinduan besar terhadap saya, putrinya. Barangkali, di tengah celoteh cucu-cucunya, ibu mengingat saya, dan berharap saya menelpon beliau, sesekali saja.
Tak perlu setiap hari. Beberapa hari sekali, kalau saja saya menyediakan sedikit waktu untuk bercakap dengan beliau, itu sudah akan membuatnya bahagia. Siapa tahu, satu atau dua menit percakapan lewat telepon antara kami berdua, akan membuat harinya lebih indah, akan membuatnya senyumnya lebih cerah.
Tak seorang pun tahu rahasia Sang Waktu. Jadi kenapa tidak menelpon ibu sekarang, selagi beliau masih bersama kita?



jadi inget michael bloomberg yg pengusaha kaya raya dan walikota NYC. sesibuk apapun dia, dia selalu menyempatkan diri menelpon ibunya setiap hari….
*ambilHP
*nelponnyokap
Kalian udah nelpon nyokap hari ini?
nelpon bokap ngga ya mbok ?
hu uh, mumpun beliau masih ada , ayuh di telpon sekarang
#nasibyatimpiatu qeqeqeqeqe
Udah gak punya nyokap… Makanya suka sedih kalau ada yang berantem sama nyokapnya sampe marah-marahnya gak enak didenger T___T
Berarti ini khusus yg tinggal jauh dr ibunya, ya?
Aku minimal sekali seminggu pasti nelpon ke rumah, sih.
Aku termasuk yang beruntung karena setiap hari masih bisa ngobrol bareng beliau, walaupun cuma lewat telpon. Kadang aku yg nelpon, tak jarang pula ibu yg nelpon aku.
Aku jg beruntung bgt masih bisa denger ‘celoteh’nya tentang ‘anak-anak’ yg kutitipkan pada beliau : 5ekor kucing lucu2.
Pada dasarnya, ibu seneng cerita. Dan apapun yg diceritakan setiap hari, walaupun mungkin kisah yg sama, selalu membuatku tersenyum dan membayangkan proyeksi diriku beberapa puluh tahun ke depan saat aku di posisinya.
Ah, simbok marai mbrambang…
Semenjak jauh merantau ke Jakarta intensitas ngobrol sama Nyokap lumayan terpantau dan lancar walapun cuma beberapa hari sekali. Kata beliau, cukup dengan mendengarkan suara anaknya yg satu ini sudah cukup menghibur hati. Beliau pun nelpon tak jarang cuma nanya ‘sudah makan blm?’ atau sore sblm pulang kantor sering nelpon buat menggingatkan ‘hati-hati ya di jalan’. Kalau bagi orang lain itu mungkin terkesan biasa tapi buat anak yang jauh dari orang tua macam saya..itu tak ternilai harganya.
Thank you, Mbok udah diingatkan lagi.
Ayo yang belum telpon Nyokap…jgn kelamaan nunggu, telpon sekarang. Hehehe…!
Even better.. I dropped by at her house yesterday
i called mom eight years ago, on her last birthday in this world
Saya masih serumah dengan nyokap, dan hubungan kami tidak begitu baik. Tapi saat saya pergi jauh berbulan-bulan, hubungan kami malah tambah buruk karena kepercayaan beliau pada saya kecil sekali. Ntahlah mbok…
. Beliau pun nelpon tak jarang cuma nanya ‘sudah makan blm?’ atau sore sblm pulang kantor sering nelpon buat menggingatkan ‘hati-hati ya di jalan’.
. Kalau bagi orang lain itu mungkin terkesan biasa tapi buat anak yang jauh dari orang tua macam saya..itu tak ternilai harganya.
Udah kemaren nelpon nyokap… ngobrol sana sini denger laporan kalau pohon rambutan di rumah sudah mulai berbuah dan akan panen sebentar lagi..
[...] udah nelpon nyokap? Tweet « Previous Post Next Post » [...]
[...] udah nelpon nyokap? [...]