Day #2

Minggu, 14 Agustus 2011.

Sudah terlalu lama saya menunggu kesempatan untuk pulang ke tanah kelahiran. Ke Probolinggo, sebuah kota kecil di pesisir utara pulau Jawa. Tanah yang menyimpan cerita masa kecil dan berjuta kenangan. Air yang menghidupi, udara yang mengalir dan memberikan nyawa. Bahkan setiap jenis aroma pedesaan yang masih –dan akan selalu– saya ingat. Tersimpan jauh, dari masa yang telah lama lewat, namun selamanya akan ada di sana.

Saya rindu dan ingin pulang. Ingin sekali sungkem, mencium punggung tangan ayah dan ibu yang pastilah sudah makin keriput dimakan usia.

Hari ini, kerinduan itu membuat saya nekat berburu tiket pesawat, supaya dapat menginjakkan kaki saya lagi di kota itu.

Dua tahun adalah waktu yang cukup lama, mengingat jarak dari tempat saya tinggal sekarang ke sana, kurang lebih hanya 900 kilometer. Masih di pulau yang sama, yang tidak mengharuskan saya menyeberang selat atau lautan untuk mencapainya. Toh ada saja alasan yang membuat saya harus mati-matian menahan keinginan untuk pulang.

Dua tahun.

Dengan sedikit sisa uang tabungan, saya memutuskan untuk mencari tiket mudik online. Pesawatnya boleh apa aja, dari maskapai apa aja. Yang penting pulang. Hanya itu yang ada di pikiran saya. Lebaran tahun ini, saya harus pulang. Harus.

From #7daysmarch

Sialnya, seperti sudah saya duga, hampir semua maskapai penerbangan mematok harga gila-gilaan. Tau aja kalau orang Indonesia punya budaya unik yang hanya dimengerti oleh sesama orang Indonesia: mudik. Lagi banyak duit kek, lagi jatuh miskin kek. Kalau sudah lebaran, ya wajib hukumnya untuk mudik ke kampung halaman.

Hampir frustrasi melihat harga tiket pesawat, saya dan anak-anak lantas memutuskan untuk gambling mencari tiket bus. Siapa tau masih kebagian, dan mudah-mudahan harganya masih masuk akal. Jadi, siang-siang, kami bertiga segera meluncur, menikmati kemacetan, diantar si Marchy ke pool bus antar kota di bilangan Lebak Bulus.

From #7daysmarch

Dasar gak jodoh, antara sebal sama diri sendiri dan pengen ketawa, kami pergi dari sana dengan kecewa. Selisih harga antara tiket pesawat yang batal dibeli dan harga tiket bus ternyata gak jauh beda. Lhah, ya mendingan saya bela-belain beli tiket pesawat yang beberapa ratus ribu lebih mahal, tapi gak harus capek sehari semalam duduk di bus, dong.

Sudah agak malam waktu kami bertiga nyampe rumah, dan tanpa menunggu lama, saya langsung nyalain laptop lagi. Tiket yang tadi hampir saya beli ternyata masih ada, dan harganya belum berubah.

Ah, akhirnya saya mudik juga. Akhirnya akan bisa sungkem ke bapak dan ibu lagi, setelah dua kali lebaran saya gak pulang.

Alhamdulillah…