*dimuat di majalah Rolling Stone, edisi 75, Juli 2011

Musik, adalah soal selera. Tak ada yang salah jika kita, misalnya, lebih suka mendengar alunan lagu cinta dengan nada- nada yang kental dengan irama melayu, ketimbang menikmati denting-denting indah dalam satu komposisi cantik musik klasik. Ibarat sebuah toko serba ada, industri musik menyediakan apa pun yang kita butuhkan. Dangdut, keroncong, blues, reggae, pop, jazz. You name it. Lagi-lagi, karena ini memang soal selera, publik punya otoritas penuh untuk memilih jenis musik yang paling cocok untuk telinga mereka.

Suka tak suka, beberapa tahun belakangan, pasar musik kita nyaris jenuh dengan gelontoran musik berirama pop Indonesia ‘rasa Melayu’. Mereka menyerbu tanpa ampun. Dan dengan bantuan media –cetak dantelevisi– penetrasi musik dari genre ini gila-gilaan dan hampir tak terbendung.

Beberapa dekade silam, kita tahu, musik beraliran rock pernah berjaya di negeri ini. Siapa pula yang tak kenal nama Edane, Boomerang, dan kelompok-kelompok lain di jalur sejenis? Pun, tak ada yang tak mengenal nama besar produser sekaligus promotor legendaris asal Surabaya, Log Zhelebour.

Wolfgangs, sebuah grup musik beraliran rock metal –demikianlah mereka menyebutnya—baru saja meluncurkan album pertama mereka yang bertajuk Wolfgangs #1, awal Maret lalu, di MU café di bilangan Jakarta Selatan. Dan jangan salah, meski ini album pertama dari kelompok musik yang baru kita dengar namanya, empat personil dalam grup ini sebetulnya adalah ‘muka-muka lama’.

Sebut saja Edos Manggala, yang pada tahun 1998 pernah mendirikan Barong, grup musik cadas yang sempat menelurkan dua buah album sebelum akhirnya bubar. Kemudian ada Robbie Matulandi, eks vokalis Edane setelah era Ecky Lamoh dan Trison. Masih bersama Edane, lengkingan gahar vokalis berdarah campuran Indonesia dan Ukraina ini bisa kita nikmati dalam album kompilasi OST Spiderman II.

Pada bass, ada Arya Setyadi, yang dikenal orang dengan teknik slap and tap-nya. Selain mengajar di Institut Musik Indonesia, mendirikan komunitas street bass, dan aktif di berbagai klinik musik di sekolah-sekolah dan kampus-kampus di seluruh pelosok negeri, sejak tahun 2003, Arya adalah bass player Indonesia yang di-endorse oleh produsen alat musik Ibanez, sampai sekarang. Bersama para pembetot bass kelas atas lainnya, ia juga terlibat dalam album Bass Heroes, album kompilasi yang melambungkan namanya ke jajaran musisi Indonesia yang wajib diperhitungkan.

Last but not least, ada Elmond Gultom, personil termuda dalam ‘gerombolan serigala’ ini. Seorang lawyer yang hingga kini masih bekerja di sebuah law firm di kawasan Kalibata, namun juga memilih setia kepada cintanya yang lain: musik.

Pada suatu sore yang hangat, di Avra Studio di daerah Rawamangun, Jakarta, penulis melewati dua jam sesi wawancara dengan empat personil Wolfgangs. Ditemani beberapa cangkir kopi, meski awalnya sedikit tegang, lambat laun, obrolan mulai mengalir santai. Berikut sedikit cuplikannya.

Penulis (P): Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk ngumpulin personil sampai lengkap, ngumpulin materi lagu, kemudian rekaman, mixing, dan mastering sampai album Wolgangs dirilis?

Wolfgangs (W): Total satu tahun dari mulai bikin band sampai kelar mastering.

P: Sepintas, musik Wolfgangs mirip Metallica atau Pantera. Gak takut dibilang kalo musik kalian gak orisinil?

W: Wah, kalo mau jujur, mana ada sih yang bener-bener orisinil? Jadi kalo ada yang ngomong Wolfgangs mirip ini atau mirip itu, biarin aja. Tapi ya emang inilah musik kita. Inilah Wolfgangs.

P: Kenapa pilih rock metal? Bukannya ini sedikit nekat dan melawan arus, ya?

W: Sebenernya gak juga. Kita justru pengen membuka mata pecinta musik Indonesia, bahwa musik-musik seperti ini justru masih rame peminat, terutama di daerah. Jangan salah, kualitas permainan mereka bagus-bagus, lhoh. Tapi karena mereka lebih banyak underground dan gak mau terikat dengan label besar, jadi memang gak terlalu kedengeran gaungnya.

P: Selama proses pembuatan album, latihan, rekaman, pernah gak kalian berantem atau setidaknya ada tabrakan ide, gitu?

W: Gak sih, standar aja. Nyante kita mah. Kalo ada yang gak asik ya diomongin bareng-bareng.

P: Udah ada rencana untuk promo tour? Kemana aja?

W: Sementara kita akan keliling Jawa-Bali. Start awal Juni.

P: Lagu ‘Terluka’ yang klipnya diputer di tivi, itu lagu cinta tapi terdengar serem. Pesannya adalah?

W: Kita pengen nunjukin bahwa cinta gak harus disampein dengan cara yang drama kayak di lagu-lagu cinta yang ada di pasaran saat ini. Cinta juga bisa diutarakan lewat music rock metal.

Jadi berhati-hatilah. Di tangan empat musisi yang penampilan live-nya membuat seantero café malam itu larut dalam histeria khas panggung musik rock, bahkan lagu berjudul ‘Satu’ akan membuat kita lupa, bahwa yang sedang kita dengar adalah sebuah lagu cinta.