If you’re not the one then why does my heart feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?

Beberapa tahun yang lalu, saya sebel setengah mati jika tak sengaja mendengar lagu Daniel Beddingfield – If You’re Not the One diputar di tivi atau radio. Dinyanyikan oleh seorang laki-laki, hemat saya waktu itu, lagu ini sungguh keterlaluan lebaynya. Get a life, dude! Ngotot banget sih, mencintai seseorang sampe segitunya. Kayak yang gak laku aja. Kayak gak ada perempuan lain aja.

Tapi cinta, memang, adalah soal hati. Soal rasa. Cinta, sungguh, adalah soal mengalami. Tak ada penjelasan yang cukup logis untuk menerangkan, kenapa ada cinta yang begitu kuat, ngotot, begitu lebay seperti di lagu ini.

Sejak umur belasan, entah berapa puluh kali sudah saya merasakan jatuh cinta. Dari level sekadar suka tapi saya pikir itu cinta, hingga yang absurd, seperti jatuh cinta pada sosok yang hanya saya lihat penampakannya di majalah atau di televisi. Dari yang terlihat alim, pinter, hingga yang tampilannya berantakan dan urakan.

Tapi betulkah ada cinta yang lebay?

Ah. Saya aja yang sotoy waktu itu. Cinta ya cinta. Mau dipaksa untuk gak cinta pun ya percuma. Mau dijelasin sampe jungkir balik bahwa si anu itu brengsek, jelek, kurang ajar, kalau sudah cinta, kita mau bilang apa?

Love is love is love is love. Nothing else matters.

Pada akhirnya, saya belajar. Bahwa memang ada cinta yang begitu kuat dan tangguh. Rasa yang tak pernah mati, meski diam-diam kita berharap rasa itu mati. Ada cinta yang terlalu pekat . Begitu pekatnya, hingga ia tak lelah menunggu, tak kenal kata bosan. Cinta yang tak takut terhadap apa pun.

Saya mengalami –dan terpaksa mengakui– bahwa rasa yang seperti itu, ada.

“We’ve planned it, we’ll do it. Could be anytime now..” *message received*