Dari kemarin kepikiran perkataan seorang sahabat tentang hidupnya.

Am I a late-bloomer? I’m 28 years old, dan umur segini masih di sini-sini aja, baru memulai ini dan itu, yang seharusnya udah aku lakukan bertahun-tahun yang lalu.”

Kalimatnya bukan persis seperti itu, tapi begitulah kira-kira. Ucapan yang lantas saya jawab sekenanya.

Nah, you’re not. Look at me. I’m 42 turning 43, dan aku baru mulai kerja (lagi) waktu umurku udah 40 tahun.”

Jauh di dalam hati, kadang terbersit juga pertanyaan yang sama. Kalau boleh jujur, pertanyaan itu selalu disertai sedikit rasa rendah diri, sedikit penyesalan akan tahun-tahun yang saya lewati tanpa melakukan apa-apa. Tahun-tahun saat seharusnya saya masih sangat produktif, badan masih sekuat macan betina. Atau ketika kulit saya belum keriput yang menandakan jejak usia, saat mata belum rabun.

Life teaches me the hard way.
Dengan kondisi saat itu, di masa-masa yang saya bilang saya lewati tanpa melakukan apa-apa tadi, memang tak ada cara untuk melakukan apa-apa.Apa pun yang membuat hidup saya terasa lebih punya arti buat manusia lain, di luar keluarga dan anak-anak.

Menyesalkah saya sekarang?

Nope. Not a bit. Karena saya percaya, saya harus melewati semua yang telah saya lalui sebelum sampai di titik ini, saat saya mulai tau apa keinginan saya, atau apa yang saya bisa lakukan untuk membawa manfaat dan kebaikan. Buat diri sendiri, keluarga, dan sesama.

Perhatikan kata ‘mulai’ yang saya tulis miring.

Semoga tidak terkesan sok bijak. Mudah-mudahan belum bosan mendengar cerita bahwa saya benar-benar baru mulai memasuki dunia kerja (lagi) setelah usia saya sampai di angka 40. Belasan tahun menjalani peran sebagai ibu rumah tangga sepenuhnya. Menjadi seorang istri, dan ibu buat anak-anak saya.

Hanya keajaiban yang membuat saya akhirnya masuk ke dunia kerja yang lebih luas, berkenalan dan mencoba jenis-jenis pekerjaan yang saat ini saya jalani. Menulis, ngajarin orang nulis, belajar tentang digital media. Semua berangkat dari titik nol. Ibarat bayi, saya harus merangkak dan belajar berjalan perlahan-lahan.

Dan usia saya, waktu itu, sudah 40 tahun.

Saat ini, saya ingin mengejar mimipi-mimpi saya yang lain. Pengen jadi kontributor tetap di sebuah majalah. Pengen jalan-jalan ke kota-kota yang belum pernah saya kunjungi. Ingin berbuat sebanyak-banyak kebaikan dengan peran yang saya lakoni sekarang. Sebelum saya mati.

Am I a late-bloomer? I don’t think so. Maybe. Maybe not, I never know.

*ilustrasi dari sini.