pen·du·lum n.
1. A body suspended from a fixed support so that it swings freely back and forth under the influence of gravity, commonly used to regulate various devices, especially clocks. Also called simple pendulum.
2. Something that swings back and forth from one course, opinion, or condition to another: the pendulum of public opinion.

Sepertinya hanya karena iseng, jika dua malam yang lalu, saya nyamber tweet seorang kawan yang punya kemampuan istimewa: membaca dengan Oracle Cards. Kartu, yang katanya, fungsinya mirip kartu tarot. Bedanya adalah, pada tarot, pengirim pesannya adalah semesta.

Ah, ini akan panjang penjelasannya, dan saya gak mudheng.

Singkatnya, malam itu, si kawan ini ngetweet sesuatu tentang pendulum. Kalimatnya menggantung, membuat saya penasaran dan iseng menanyakan kabarnya. Keesokan paginya, dia bercerita singkat tentang maksud kicauannya malam sebelumnya. Dia bilang, “kata pendulum, simbok minggu depan akan nraktir aku.”

Mak jleb.

Lagi-lagi, karena penasaran –dan iseng– saya tanya, kenapa saya harus nraktir ? Ulang tahun saya kan masih lama. And the story continues…

Menurut si kawan ini, saya akan…menikah enam minggu dari sekarang.

Mak jleb lagi.

Pada dasarnya, saya bukan orang yang percaya ramalan. Tapi di beberapa kesempatan, ada kejadian-kejadian tertentu yang membuat saya sadar, bahwa ada orang-orang yang memang diberi ketajaman pikiran dan mata hati, yang membuat mereka mampu melihat apa yang tak terlihat oleh orang lain.

Pada 2 Oktober tahun lalu, saya bertemu mbak Indah Ariani. Kisah pertemuan kami berdua yang sangat emosional –dan agak gak masuk akal karena terasa sekali bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan di sana– diceritakannya lewat sebuah surat yang juga emosional.

Dalam postingan pertengahan Maret 2011, saya menulis dengan yakin: he has found me. Pada bulan yang sama, saya menulis sesuatu yang lebih jujur, tentang laki-laki dari masa depan yang kepadanya, saya ingin menyerahkan hati saya. Untuk selamanya. Dan sekarang, tanpa basa basi, sama sekali tanpa tahu menahu kisah yang sebenarnya, seorang kawan mengatakan bahwa momen penting itu sudah di depan mata.

Enam minggu lagi? Is it, really? Bismillah…

*ilustrasi dari sini.