To most people, the sky is the limit. To those who love aviation, the sky is home.

Quote di atas membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Kalimat yang indah, sekaligus lucu. Apa jadinya kalau beneran sky is home, ya? Kalimat, yang seketika membuat saya membayangkan seseorang, yang detik ini barangkali tengah terlelap dan bermimpi tentang rumah sejatinya: langit tanpa batas.
Malam sedang gerhana. Bulan lenyap. Saya berdoa untuknya.
Safe flight, capt! You know when you’re sick and tired of something called home, come back down. I’m here.
Oktober 2010, saya pernah menulis di blog dan di situs The Marketeers tentang social media. Artikel yang agak sotoy, karena pengetahuan saya tentang hal ini juga gak banyak-banyak amat. Hanya kebetulan, karena saya nguli di industri ini, boleh dong saya berbagi ilmu yang sedikit banget ini buat temen-temen semua.

Tulisan kali ini, sedikit banyak ada hubungannya dengan artikel yang saya ceritakan tadi. Juga masih bisa disambung-sambungin dengan postingan tentang passion beberapa waktu yang lalu.
Saya lupa kapan tepatnya mulai nyemplung –atau tepatnya tercebur– di dunia yang disebut-sebut sebagai media baru ini. Setahun lebih. Hampir dua tahun, barangkali.
Mengawali sesuatu, meski menyenangkan, selalu terasa berat. Apalagi jika kita berangkat dari sama sekali buta dan gak tau apa-apa. Masih ingat bagaimana senang dan bersyukurnya ketika seorang kawan lama, namanya Tika, menawari saya untuk bekerja sebagai tenaga outsource di kantornya. Salah satu keajaiban yang selalu membuat saya takjub, bahwa memang, Tuhan tak pernah alpa menjaga umatnya. Penawaran itu datang, tepat saat saya mulai merasa bahwa saya tidak akan bisa menjalani hidup sebagai single parent. Tepat ketika saldo di rekening tabungan hampir nol, dan bulan depannya saya belum tau dengan apa harus membayar uang sekolah anak-anak saya.
Dari satu kerjaan, dateng lagi kerjaan lain. Lagi, dan lagi, dan lagi. Masih dari kantor yang sama. Alhamdulillah, setidaknya saya tidak perlu lagi kuatir besok harus makan apa. Keajaiban ini, pertolongan dari Tuhan lewat tangan kawan saya ini, selalu saya syukuri.
Tapi seperti setiap perjalanan yang lain, ada saatnya kita harus tau kapan harus jeda, kapan harus sedikit mengurangi kecepatan, kapan beristirahat meluruskan kaki, dan kembali meneruskan perjalanan, yang memang tak boleh berhenti.
Perjalanan yang hampir dua tahun itu, rasanya memang harus segera berakhir. Dengan berat hati, tapi sekaligus juga berbunga-bunga, akhirnya saya memutuskan untuk pamit, dan pindah ke kantor baru.
Eh, kantor?
Iya. Meski tanpa kubikel-kubikel, tempat kerja baru ini saya sebut kantor. Gak ada bedanya dengan pekerjaan kemarin yang bisa saya kerjakan di mana saja, yang ini juga begitu. Kantor saya masih di rumah, masih di mana saja yang penting ada kopi, gak ada larangan merokok, dan ada koneksi internet.
Yang paling seru dan membuat saya sangat sangat sangat bersemangat, adalah tugas-tugas baru, ilmu baru yang harus saya pelajari dengan kecepatan tinggi. Meski masih di situ-situ juga, masih muter-muter di social media, tetep aja saya deg-degan. Tugas baru, jobdesc baru. Dan seperti di tempat yang lama, kali ini deg-degannya juga karena saya sama sekali buta dan gak tau apa-apa. Saya gak ngerti marketing dan istilah-istilahnya, saya masih tergagap-gagap bikin strategi supaya jualan saya laku. Aduh, bener-bener merasa betapa saya ini bodohnya gak ketulungan tiap kali menemukan satu istilah baru yang saya gak paham.
Ah, doain aja saya cepet bisa dan gak lemot. Doain bisa perform dan gak malu-maluin. Doain saya mampu menjaga amanah dan komitmen dengan kawan-kawan di kantor baru ini, dan paling penting, doain supaya saya pinter membawa diri. Karena seperti pernah saya bilang, sejago apa pun seseorang, kalo gampang puas dan attitude-nya ancur, siap-siap jatuh aja lah.
Eh, tapi ngomong-ngomong, kalo memang sama sekali gak ngerti apa-apa, kenapa juga saya terima tantangan yang lumayan berat ini ya? Nah, soal itu, kita bahas di tulisan selanjutnya aja.
*ilustrasi dari sini*
My momma always said, “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.” Forrest Gump (1994)

Hidup, sesungguhnya memang seperti sekotak cokelat. Persis apa yang dikatakan Forrest Gump –diperankan dengan sangat cantik oleh Tom Hanks– dalam film berjudul sama.
Sekotak cokelat.
Kita tahu apa isi kotak yang disodorkan ke tangan kita. Kotak yang tanpa banyak pertanyaan lantas kita terima, kita dekap erat. Berharap hanya kejutan indah yang kita temukan di dalamnya.
Itu yang saya lakukan sekarang. Saya memeluk erat sekotak cokelat yang ditawarkan oleh kehidupan. Tanpa bertanya. Tanpa mengeluh kenapa kepingan-kepingan cokelatnya sebagian terasa terlalu pahit untuk lidah saya yang jawa. Karena sejak lama saya tahu, bahwa di muka bumi ini memang tak ada yang sempurna.
Sekotak cokelat. Hidup. Ketaksempurnaan. Kasih. Saya bersyukur memilikinya.
*ilustrasi dari sini