Kata orang, hidup adalah semata soal pilihan. Dan hanya masing-masing kitalah yang paham dengan apa pun pilihan kita. Bukan orang lain.

Dan inilah saya sekarang. Setelah lebih dari dua tahun menimbang-nimbang, mencari dan bertanya ke sana sini, mencoba menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terbersit di hati, dengan keyakinan penuh, akhirnya saya putuskan untuk melepas jilbab. Setelah penantian dan pencarian yang panjang. Sama seperti ketika saya memilih untuk berjilbab, sekian belas tahun yang lalu.

Tak ada yang memaksa saya melakukan keduanya. Oh well, ketika memutuskan berjilbab, memang ada sedikit intervensi dari luar diri saya. Saya tak punya banyak pilihan saat itu. Dan setelah membaca-baca, mendengar, belajar, saya memantapkan hati untuk membiasakan diri menutup bagian kepala, sekaligus tidak memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang lain kecuali wajah dan telapak tangan.

Bahagiakah saya?

Ya, pada awalnya. Tampil ‘tertutup’ seperti itu membuat saya merasa ‘bersih’ dan terlindung. Saya merasa aman.

Tapi waktu terus berjalan, dan saya membuktikan betapa keputusan menutup anggota tubuh seperti itu, tidak membuat saya menjadi manusia yang lebih baik. Saya tidak menjadi semakin beriman karenanya. Di luar pergolakan batin yang saya alami, saya juga menyaksikan hal-hal besar yang membuat saya semakin kuat mempertimbangkan untuk melepas jilbab. Yang seluruh tubuhnya tertutup rapat dari ujung kepala sampai ujung kaki, yang jenggotan dan sehari-hari mengenakan celana panjang yang sedikit terlalu pendek, sama sekali bukan jaminan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang lebih baik daripada yang lain.

Barangkali saya yang salah, atau mungkin memang ilmu saya teramat sangat dangkal sehingga lama kelamaan, saya mulai berpikir ulang. Sekali lagi bertanya ke sana kemari –bahkan lewat twitter–, browsing, dan semua saya lakukan supaya saya tidak merasa telah melakukan kesalahan besar. Saya tidak ingin salah memilih, tidak mau gegabah memutuskan sesuatu yang buat saya cukup krusial.

Beberapa kawan terang-terangan menentang keinginan saya. Oh, tentu saja. Ketika image adalah segalanya, pendapat orang lain tentang kitalah yang terpenting. Tak peduli apakah kita bahagia atau tersiksa karenanya. Padahal, kalau mau ngomong pahit, sesungguhnya tak ada yang benar-benar peduli, kok. Seminggu dua minggu, orang mungkin sibuk bicara jelek, berbisik-bisik di belakang punggung kita. Setelah dua minggu lewat, mereka juga akan lupa. Semua orang akan kembali sibuk dengan hidup dan masalah masing-masing.

Seorang kawan yang lain, menjawab keraguan saya dengan kalimat yang membuat saya semakin ragu.

“Seseorang dinilai dari apa yang dia lakukan untuk dirinya sendiri dan orang lain.”

Singkatnya, setelah pemikiran panjang dan lama, saya memilih untuk meyakini pilihan saya ini. Lantas apakah saya merasa bahagia atau setidaknya lega? Iya. Sangat. Setidaknya saya merasa menemukan diri saya sendiri. Merasa menjadi saya yang memang saya. Tanpa topeng. Tanpa kepura-puraan. Tanpa sedikit pun tendensi untuk memancing komentar orang, buruk atau pun baik.

Yang sedikit ekstrim dan membuat saya kadang merasa terganggu adalah, kemana-mana saya suka sekali pakai tank top. Dan dengan tato berukuran lumayan besar di bagian lengan, kadang-kadang ini merugikan. Padahal tak ada niat sedikit pun untuk pamer. Ah, cuma tato ini. Apa yang mau dipamerin, sih? Fashion statement juga bukan. Saya buta fashion dan bukan pesolek. Taunya cuma pake jeans, kaos, kemeja. Tas perempuan pun saya gak pernah pakai. Kemana-mana cuma nenteng ransel. Toh tampak luar yang seperti itu seringkali memancing orang untuk bereaksi yang –buat saya– berlebihan. Di Surabaya kemarin, pergi ke mana pun, saya dapat merasakan ruangan yang seketika hening ketika saya masuk dan melewati orang-orang di ruangan itu. Menyebalkan ketika sadar bahwa mereka berhenti saling berbicara, berhenti menyuap makanan ke mulut mereka hanya untuk menatap aneh ke arah saya. Menyebalkan, dan rasanya pengen teriak keras-keras, “APA LIAT-LIAT??!!”.

Suami saya, ehm…calon suami, selalu suka melihat saya dengan pakaian seperti itu. Dia bilang, “I love the way you look. Kamu cocok pake itu. Bahu dan punggung kamu bagus, tatonya juga bagus.”

Tapi satu saat saya pernah juga marah-marah. Kita janjian makan malam, dan dia telat datang. Maka nongkronglah saya di coffee shop sebuah hotel. Segelas, dua gelas, dan berbatang-batang rokok sudah habis, yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Dan mbak waitressnya nyamperin saya buat nawarin minum lagi.

“Lagi nunggu tamu, ya mbak?”

Ya ampun, nadanya itu seolah-olah saya ini ayam yang sedang menunggu pelanggan.

People. So judgemental. Saya tidak terlalu peduli sekarang orang mau bilang apa. Terserah deh. Veil or unveil, it’s still me. Suka ya alhamdulillah, gak suka ya terserah. Your problem, not mine.

Have a great weekend, everyone!

*photo by Ndorokakung