Kurang lebih satu tahun yang lalu, Ngerumpi.com pernah mengundang mas Aidil Akbar, financial planner yang gantengnya keterlaluan itu, untuk berbagi sedikit ilmu mengenai asuransi dan produk-produk investasi. Buat masyarakat Indonesia pada umumnya (termasuk saya), ngomongin asuransi rasanya agak-agak gimanaaa gitu. Sedikit serem, karena belum apa-apa, yang terbayang adalah suasana rumah sakit, bau khas yang tercium di ruangan dokter, lalu lalang perawat yang mendorong-dorong brankar di koridor masuk ke ruang UGD. Sumpah serem.

Kalimat pembuka obrolan malam itu, setahun yang lalu itu, saya masih inget banget, adalah ini:

“Udah punya plan kapan pengen pensiun? Udah tau kapan situ mati?”

Aduh, manalah kita tau kapan kita akan sakit dan butuh ke dokter, atau kapan kita akan ‘diambil’. Horor sekali topiknya.

Semakin ke sini, setelah dengan sadar saya merelakan diri menjadi ‘pasien’ mas Aidil, semakin banyak yang saya tau –meski juga gak pinter-pinter dan masih bandel ngatur duit– tentang pentingnya asuransi kesehatan. Terutama nih, terutama banget, untuk pekerja lepas alias freelancer seperti saya dan banyak teman lain di luar sana.

Seorang kawan dekat, beberapa minggu yang lalu, harus menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit di Bandung. Yang membuat saya kaget sekaget-kagetnya, adalah ketika saya tanya berapa jumlah uang yang dia keluarkan untuk biaya operasi dan perawatan sesudahnya. Dia bilang, “sekitar 15 juta, mbok, untuk operasi dan biaya rawat inap selama 4 hari di ruang kelas 3.”

Saya yang seorang ibu tunggal, sontak berpikir jauh. Alhamdulillah sampai saat ini saya dan anak-anak jarang sekali sakit. Sesekali flu, batuk pilek, biasalah. Tapi kalau sakit yang sampai butuh penanganan khusus atau rawat inap, alhamdulillah –amit-amit jabang bayi, semogalah kami semua selalu dilindungi– belum pernah. Jangan deh. Jangan. Tuh kan, serem lagi saya jadinya mikirin ini.

Tapi logikanya, tak ada yang tahu kapan kita atau anggota keluarga kita akan butuh perawatan medis yang butuh dana agak besar, cukup besar, atau bahkan sangat besar seperti yang dialami temen saya di Bandung tadi, kan? Kalau satu saat saya yang sakit dan harus ngeluarin Rp 15 juta, dari mana saya dapet duit segitu gede untuk ukuran saya? Masa harus jual barang di rumah buat nutup biaya rumah sakit? Masa harus merelakan si angkot yang setia nganterin kemana-mana itu ke tangan orang lain? Ah, jangan ya Tuhan, jangan…

Setelah dipikir-pikir, kali ini dengan sedikit takut karena sadar betapa memiliki asuransi itu wajib hukumnya, saya memutuskan untuk mulai memilih-milih produk asuransi apa yang harus saya miliki. Jujur aja nih, bingung juga mau pake yang mana. Karena ternyata produk asuransi pun banyak sekali jenisnya. Bahasa yang digunakan para agen asuransi juga sering mirip dan membingungkan. Ada asuransi yang –katanya– sekaligus investasi, ada asuransi pendidikan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, dan lain-lain. Banyak, dan kalau gak ati-ati, bisa-bisa kita salah pilih produk.

Di Obrolan Langsat dengan topik Berani Bicara Asuransi kemarin, mas Aidil menjelaskan panjang lebar, bahwa intinya, produk asuransi yang paling kita butuhkan adalah asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Karena balik lagi, kita gak tahu kapan kita harus ke dokter karena sekadar batuk pilek atau bahkan karena harus operasi usus buntu, dan kapan kita mati. Soal matinya sih semua orang juga akan ke sana akhirnya. Tapi apa jadinya anak-anak dan keluarga yang kita tinggalkan, kalau kita pergi tanpa mempersiapkan perlindungan finansial untuk kelanjutan hidup mereka yang kita sayangi ini?

Ya sudahlah ya, mulai sekarang, mau gak mau saya harus nurut dan praktekin buku perencanaan keuangan yang udah dibikinin Dini, salah satu associate mas Aidil. Musti disiplin dan strict dengan post-post penting: dana darurat, asuransi, dana pensiun, tabungan, investasi. Entah gimana caranya, tapi saya yakin dan harus bisa ngatur pengeluaran dari sekarang. Kemaren-kemaren masih ngeles kalo ditanya udah punya asuransi atau belum, udah mulai invest atau belum. Sekarang gak berani. Paling tidak, step pertama, saya harus melindungi anak-anak saya dari kemungkinan buruk jika sesuatu yang buruk terjadi pada saya. Sakit, misalnya.

Dan ternyata gak semua produk asuransi itu mahal dengan premi yang juta-juta lhoh. Baru tau, ternyata besaran premi pun bisa kita pilih yang sesuai dengan kebutuhan dan jumlah penghasilan kita. Jumlahnya ternyata gak menakutkan. Di Cigna Indonesia, misalnya, ada yang preminya cuma beberapa puluh ribu rupiah per bulan, tergantung jenis perlindungan, dan tentu saja usia kita saat mulai membeli produk asuransi.

Jadi sudahkan anda punya rencana keuangan yang rapi, termasuk mempertimbangkan untuk memiliki produk asuransi? Saran saya yang ilmunya cetek ini, pinter-pinterlah milih. Jangan yang asal mahal, asal namanya sering kita dengar, tapi belum tentu bisa dipercaya. Kita semua butuh hidup dan bekerja dengan tenang tanpa kuatir dengan kesejahteraan keluarga kita ketika terjadi apa-apa, kan?

Mari.