Konser Cinta #BetaMaluku

Tadi malam, setelah perjuangan berburu tiket yang lumayan berat *halah, yang berburu sih temen saya, thanks to Raynia*, akhirnya bisa nonton juga konser cinta #BetaMaluku yang disutradarai Glenn Fredly di Taman Ismail Marzuki.

Saya gak begitu tertarik tadinya. Gak ada rencana nonton. Tapi di Obsat beberapa malam yang lalu, seketika saya berubah pikiran, lantaran melihat semacam ‘preview’ dari konser ini. Malam itu, di Langsat, sekelompok anak muda yang datang jauh-jauh dari Maluku –mereka menamakan kelompok mereka Maluku Hip Hop Community– diminta tampil membawakan beberapa lagu yang akan mereka nyanyikan di konser cinta #BetaMaluku.

Eh gilaaaaaa…saya jatuh cinta sama penampilan mereka. Dan jadilah saya dan beberapa orang temen bertekad akan mencari tiket ini sampai dapat.

Bukan apa-apa. Konon kabarnya, tiket pertunjukan katanya udah habis dari jauh-jauh hari. Kalau akhirnya kami bisa nonton, itu berkat usaha sinting temen saya. Usaha yang berbuah manis, karena akhirnya, lima lembar tiket VVIP berhasil menjadi milik kami.

Dari kacamata seseorang yang bukan penikmat teater, konser cinta ini tidak terlalu istimewa. Di awal pertunjukan, penari latar tampak keteteran menyamakan langkah, dan penampilan mereka lumayan berantakan dan terkesan maksa.

Tapi tentu tidak adil jika kita membandingkan konser #BetaMaluku dengan pertunjukan musik teatrikal serupa. Yang saya dengar dari Iphank, salah satu dari rombongan anak-anak Maluku ini –dan kebetulan, dia juga warga Ngerumpi, horeeeeee…– latihan mereka sangat kurang. Baru bener-bener latihan total setelah mereka nyampe di Jakarta, dan bertemu dengan performers yang lain (apa sih, bahasa Indonesia performers?).

Pun, tak bisa disangkal, ide gila dan semangat ke-Indonesia-an mereka sangat layak dan wajib diapresiasi dan jadi contoh untuk anak-anak muda Indonesia yang lain.

Tuh, mereka bisa. Mereka SANGAT BISA bikin pertunjukan keren, yang menggabungkan tari, musik, teater, dan komedi. Meski dengan tata panggung yang terlihat seadanya, blocking panggung yang menurut saya masih kurang bagus, tapi cara mereka menunjukkan cinta yang demikian besar terhadap negeri ini, sungguh mengharukan.

Merinding menonton penampilan Iphank yang lewat sebuah narasi panjang, menggambarkan konflik mengerikan yang membunuh tak terhitung jiwa-jiwa tak berdosa di sana.

Beberapa jam sebelum konser dimulai, saya sempat ngobrol lama bareng Iphank, di pelataran dekat kios-kios makanan. Kami bicara tentang politik, konflik ambon, hidup, sejarah. Berbicara dengan dia, saya jadi malu dan merasa bersalah. Ternyata sudah terlalu lama saya dibutakan oleh apa yang saya temui sehari-hari. Ternyata Indonesia bukan hanya Jakarta yang gemerlap, sibuk, dan angkuh. Jauh di sana, Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat sangat sederhana, miskin, tak kenal internet. Indonesia adalah sekelompok besar manusia yang setiap pagi keluar rumah sambil menenteng cangkul dan dagangan demi menyambung hidup, untuk sehari itu saja.

Bravo dan standing ovation untuk Glenn Fredly, Mas Butet dan komunitas budaya Indonesia Kita, Mas Agus Noor, Om Samuel Wattimena, Mas Djaduk, dan semua pendukung konser cinta #BetaMaluku.

Saya malu kalau tak bisa berbuat apa-apa, seperti kalian yang telah menyumbangkan sesuatu yang begitu indah.

Memberi Kaki Untuk Mimpi

Gampang-gampang susah kalau diminta bicara tentang passion. Saya sendiri tidak benar-benar tahu, lebih ke arah mana passion saya sebenarnya. Menulis, tentu saja saya sangat sangat suka. Saya menikmati setiap menit ketika harus menuangkan kata-kata menjadi sebuah tulisan, apa pun namanya. Puisi, cerpen, review, artikel serius, liputan, laporan perjalanan. Bahkan nulis ngasal pun, saya juga doyan. Yang gak ada isinya, yang cuma remeh temeh seputar curhat gak penting, itu juga menyenangkan.

Pekerjaan yang saya tekuni sekarang, yang bahasa kerennya –katanya– di social media, saya juga suka. Berangkat dari hobi ngeblog, yang lantas membuat saya punya kesempatan untuk mengenal banyak sekali orang pintar dan hebat di bidang masing-masing, membawa saya ke dunia kerja yang satu ini.

Saya yang sama sekali buta marketing, cara berpikir pun boleh dibilang sama sekali tidak terstruktur –karena terbiasa menjadi orang rumahan selama belasan tahun– mau tak mau harus belajar dari nol. Senang sekali rasanya belajar dan menekuni hal-hal yang sama sekali baru. Meski harus kesandung-sandung, nyusruk, dan ada kalanya saya merasa lelah mental dan hilang akal saking banyaknya yang harus dipelajari dengan cepat, saya suka pekerjaan saya.

Nah, jadi apa sebenarnya passion saya? Jawabannya masih seperti tadi: saya tidak benar-benar tahu. Atau barangkali, saya hanya belum menemukan jawaban yang tepat. Atau mungkin, saya memang terlalu banyak mau ini dan itu.

Saya ingin berbagi sedikit saja sesuatu yang mungkin berguna. Tentang bagaimana menjadi individu yang bahagia dengan hidup dan pekerjaan yang dilakoni. Tentang bagaimana cara mencari dan menemukan jalan untuk ke sana. Monggo disimak kalo mau. Kalo males baca ya gak usah.

Know Your Passion

Hanya kita yang paling tahu minat dan kebisaan kita. Suka menjahit, menyulam, berkreasi dengan pernak pernik yang ada hubungannya dengan pekerjaan tangan seperti di sekolah dasar? Tekuni hobi ini. Mulailah mencari referensi sebanyak-banyaknya tentang bagaimana memulai toko atau butik online, misalnya.

Atau anda sangat suka membaca, menulis, riwil dan kepo dengan segala sesuatu di sekitar anda? Barangkali dunia tulis menulis adalah takdir anda. Mulai ngeblog, berlatih menulis lebih sering, membaca lebih banyak, bergabung di komunitas orang-orang dengan minat serupa. Gaul, gaul, gaul. Beredar. Jangan menunggu orang lain mengenal anda. Perkenalkan diri anda kepada dunia.

Know Your Limits

Bagaimana pun juga, ada hal-hal yang tak bisa diingkari. Bahwa setinggi apa pun mimpi kita, tetap saja sesekali kita harus tahu kapan harus berhenti mencoba. Kita sendiri lah yang paling tahu seberapa batas kemampuan kita. Contoh gampang, saya seneng banget berkhayal, membayangkan satu plot cerita dalam benak, kemudian menuliskannya. Dulu, saya juga pernah bermimpi ingin menjadi novelis dengan buku-buku best seller karya saya berjajar di rak-rak toko buku terkemuka. Seiring berjalannya waktu, saya tahu, ternyata kemampuan saya gak seheboh mimpi saya. Saya suka menulis. Betul. Saya bisa menulis? So far, saya merasa bisa. Tapi mimpi menjadi novelis terkenal, dengan sadar sudah saya lupakan. Hmm, bukan begitu tepatnya. Saya hanya tahu bahwa saya tidak secanggih itu, jadi ikhlaskan saja.

Find The Right Crowd

Menemukan, bertemu, berinteraksi dengan orang-orang yang tepat, buat saya adalah kunci penting jika anda ingin jadi sesuatu, jadi seseorang seperti yang ada dalam mimpi anda. Sudah tak terhitung berapa orang teman yang menjadi korban kenyinyiran saya soal ini, kalau kita lagi ngomongin kerjaan. Keywordnya adalah networking. Balik lagi ke ‘gaul, gaul, gaul’. Jangan jadi jago di kandang sendiri. Jangan buang-buang waktu, cengengesan gak jelas dengan orang yang itu-itu aja. Go out, make friends. Berkawanlah dengan sebanyak mungkin orang. ‘Orang’ di sini, tentu saja bukan asal orang atau siapa pun yang kita temui di jalan.

Kalau anda ingin jadi penulis, atau ingin belajar menulis, dekati orang-orang yang memang kompeten di bidang ini. Kalau minat terbesar anda adalah dunia film, ya berkenalanlah dengan orang-orang film. Ada banyak cara untuk menemukan dan masuk ke lingkaran yang anda inginkan. Silakan bosan, tapi sampai saat ini, saya selalu menyarankan kepada semua orang, untuk memanfaatkan kesaktian twitter. Temukan mereka, bergurulah, curi ilmunya. Bukan mencuri dalam arti harafiah. Bahasa kasarnya seperti itu.

Be Good

Last but not least. Dan bahkan, ini adalah poin yang paling penting kalau menurut saya. Behave. Be good. Bahasa jawanya, unggah-ungguh. Toto kromo. Sopan santun. Adab.

Seberapa pun pintar, seberapa pun jago dalam satu bidang, kalau attitude parah, gak tau cara menjaga sikap, gak tau bagaimana menempatkan diri, ya susah. Gak usah nunggu terlalu lama, anda ‘habis’. Gak percaya? Coba saja kalo berani.

Nah, jika yang jago dan mumpuni saja bisa lewat dalam sekejap, bayangkan jika kemampuan kita pas-pasan, atau kita masih dalam proses belajar untuk menjadi pintar, tapi udah mau sok-sokan. Kecuali anda sangat sangat sangat beruntung, saya rasa tidak berlebihan jika saya katakan, anda sedang menciptakan lubang jebakan, dan menunggu tubuh anda jatuh terperosok ke dalamnya.

Bicara Asuransi Lagi

Kurang lebih satu tahun yang lalu, Ngerumpi.com pernah mengundang mas Aidil Akbar, financial planner yang gantengnya keterlaluan itu, untuk berbagi sedikit ilmu mengenai asuransi dan produk-produk investasi. Buat masyarakat Indonesia pada umumnya (termasuk saya), ngomongin asuransi rasanya agak-agak gimanaaa gitu. Sedikit serem, karena belum apa-apa, yang terbayang adalah suasana rumah sakit, bau khas yang tercium di ruangan dokter, lalu lalang perawat yang mendorong-dorong brankar di koridor masuk ke ruang UGD. Sumpah serem.

Kalimat pembuka obrolan malam itu, setahun yang lalu itu, saya masih inget banget, adalah ini:

“Udah punya plan kapan pengen pensiun? Udah tau kapan situ mati?”

Aduh, manalah kita tau kapan kita akan sakit dan butuh ke dokter, atau kapan kita akan ‘diambil’. Horor sekali topiknya.

Semakin ke sini, setelah dengan sadar saya merelakan diri menjadi ‘pasien’ mas Aidil, semakin banyak yang saya tau –meski juga gak pinter-pinter dan masih bandel ngatur duit– tentang pentingnya asuransi kesehatan. Terutama nih, terutama banget, untuk pekerja lepas alias freelancer seperti saya dan banyak teman lain di luar sana.

Seorang kawan dekat, beberapa minggu yang lalu, harus menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit di Bandung. Yang membuat saya kaget sekaget-kagetnya, adalah ketika saya tanya berapa jumlah uang yang dia keluarkan untuk biaya operasi dan perawatan sesudahnya. Dia bilang, “sekitar 15 juta, mbok, untuk operasi dan biaya rawat inap selama 4 hari di ruang kelas 3.”

Saya yang seorang ibu tunggal, sontak berpikir jauh. Alhamdulillah sampai saat ini saya dan anak-anak jarang sekali sakit. Sesekali flu, batuk pilek, biasalah. Tapi kalau sakit yang sampai butuh penanganan khusus atau rawat inap, alhamdulillah –amit-amit jabang bayi, semogalah kami semua selalu dilindungi– belum pernah. Jangan deh. Jangan. Tuh kan, serem lagi saya jadinya mikirin ini.

Tapi logikanya, tak ada yang tahu kapan kita atau anggota keluarga kita akan butuh perawatan medis yang butuh dana agak besar, cukup besar, atau bahkan sangat besar seperti yang dialami temen saya di Bandung tadi, kan? Kalau satu saat saya yang sakit dan harus ngeluarin Rp 15 juta, dari mana saya dapet duit segitu gede untuk ukuran saya? Masa harus jual barang di rumah buat nutup biaya rumah sakit? Masa harus merelakan si angkot yang setia nganterin kemana-mana itu ke tangan orang lain? Ah, jangan ya Tuhan, jangan…

Setelah dipikir-pikir, kali ini dengan sedikit takut karena sadar betapa memiliki asuransi itu wajib hukumnya, saya memutuskan untuk mulai memilih-milih produk asuransi apa yang harus saya miliki. Jujur aja nih, bingung juga mau pake yang mana. Karena ternyata produk asuransi pun banyak sekali jenisnya. Bahasa yang digunakan para agen asuransi juga sering mirip dan membingungkan. Ada asuransi yang –katanya– sekaligus investasi, ada asuransi pendidikan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, dan lain-lain. Banyak, dan kalau gak ati-ati, bisa-bisa kita salah pilih produk.

Di Obrolan Langsat dengan topik Berani Bicara Asuransi kemarin, mas Aidil menjelaskan panjang lebar, bahwa intinya, produk asuransi yang paling kita butuhkan adalah asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Karena balik lagi, kita gak tahu kapan kita harus ke dokter karena sekadar batuk pilek atau bahkan karena harus operasi usus buntu, dan kapan kita mati. Soal matinya sih semua orang juga akan ke sana akhirnya. Tapi apa jadinya anak-anak dan keluarga yang kita tinggalkan, kalau kita pergi tanpa mempersiapkan perlindungan finansial untuk kelanjutan hidup mereka yang kita sayangi ini?

Ya sudahlah ya, mulai sekarang, mau gak mau saya harus nurut dan praktekin buku perencanaan keuangan yang udah dibikinin Dini, salah satu associate mas Aidil. Musti disiplin dan strict dengan post-post penting: dana darurat, asuransi, dana pensiun, tabungan, investasi. Entah gimana caranya, tapi saya yakin dan harus bisa ngatur pengeluaran dari sekarang. Kemaren-kemaren masih ngeles kalo ditanya udah punya asuransi atau belum, udah mulai invest atau belum. Sekarang gak berani. Paling tidak, step pertama, saya harus melindungi anak-anak saya dari kemungkinan buruk jika sesuatu yang buruk terjadi pada saya. Sakit, misalnya.

Dan ternyata gak semua produk asuransi itu mahal dengan premi yang juta-juta lhoh. Baru tau, ternyata besaran premi pun bisa kita pilih yang sesuai dengan kebutuhan dan jumlah penghasilan kita. Jumlahnya ternyata gak menakutkan. Di Cigna Indonesia, misalnya, ada yang preminya cuma beberapa puluh ribu rupiah per bulan, tergantung jenis perlindungan, dan tentu saja usia kita saat mulai membeli produk asuransi.

Jadi sudahkan anda punya rencana keuangan yang rapi, termasuk mempertimbangkan untuk memiliki produk asuransi? Saran saya yang ilmunya cetek ini, pinter-pinterlah milih. Jangan yang asal mahal, asal namanya sering kita dengar, tapi belum tentu bisa dipercaya. Kita semua butuh hidup dan bekerja dengan tenang tanpa kuatir dengan kesejahteraan keluarga kita ketika terjadi apa-apa, kan?

Mari.