Inspirasi (2)

Jadi waktu itu di twitter ada yang namanya #EFtalk, semacam interview via twitter seperti rutin dilakukan banyak orang atau account. Berikut ‘rekaman’ wawancara malam itu dengan topik ‘menulis’. Silakan…

03/12/2011

He has found me.

Inspirasi

Aku mengenali sosoknya dari kejauhan. Tenggelam di antara puluhan pengunjung mall yang sibuk, aku tau, dialah yang sedang berdiri di ujung sana. Aku sangat tahu, malam ini dia akan jadi milikku.

Satu jam berikutnya, kami sudah berada di sebuah bar murahan, di deretan tempat-tempat hiburan berbau mesum di pusat kota. Di sebuah sudut, kami duduk, dibatasi meja kecil bundar dengan lilin yang bersinar malas di atasnya. Aku tak banyak berkata-kata. Makhluk cantik di depanku, dengan tangan dan lengannya yang cantik, sibuk berbicara dengan mata yang entah-bagaimana-caranya, selalu terlihat berbinar. Beningnya seperti kilauan bintang.

“Bayangkan ini”, ujarnya, berusaha mengalahkan suara musik yang keras berdentam.

“Ada satu ruangan kosong, dan aku menemukan sepotong pantai di dalamnya. Dengan pasir putih bersih. Seperti perawan, bentang pasir itu begitu menggoda untuk disentuh.”

Sepasang lengannya masih meliuk-liuk cantik, seperti hendak melengkapi kisah absurd yang melayang-layang di udara berbau alkohol di ruangan ini. Perempuan di depanku, yang tak juga berhenti bicara, terdiam ketika dengan ujung jariku, kusentuh hidungnya yang mungil lucu.

“Come here.”

Dia mendekat. Dari seberang meja, dengan sepenuh luka, kulumat bibirnya.

“Kamu boleh pergi besok. Tapi malam ini, seperti janjimu, kamu hanya milikku.”

Inspirasi bisa datang dari mana saja. Seringkali, ia datang tanpa dicari. Di jalanan, di rumah, lewat buku yang kita baca, dari sinetron-sinetron busuk di televisi. Yang harus dilakukan hanyalah membuka mata dan telinga lebar-lebar, dan bersiaplah menerima informasi apa pun. Lalu tangkaplah.