Sabtu, 26 Maret 2011, mestinya saya bertugas sebagai volunteer untuk meliput momen Earth Hour tahun ini, satu jam tanpa listrik di seputar Bundaran Hotel Indonesia. Semangat untuk berburu foto, sekaligus terlibat langsung dalam program tahunan dari WWF ini, berubah menjadi sedikit kecewa. Yang saya saksikan malam itu, ternyata jauh dari bayangan dan euphoria yang telanjur menyesaki kepala.
Tepat pukul 20.30 WIB, satu persatu lampu-lampu dipadamkan. Beberapa saat sebelumnya, saya sempat terkagum-kagum dengan para fotografer –amatir maupun profesional– yang sungguh terlihat keren dengan peralatan perang mereka. Kamera-kamera ‘beneran’ dan tripod terlihat di mana-mana. Menyenangkan melihat mereka sibuk menyiapkan semuanya, demi satu jam yang berharga, yang akan tercatat sebagai salah satu aksi heroik global seperti ini.
Sayangnya, di beberapa titik, lampu-lampu masih menyala terang. Padahal saya sudah ingin menangkap Jakarta yang gelap total, yang menyisakan tak sedikit pun cahaya, kecuali dari taburan bintang gemintang di atas sana.
Lalu entah karena mood saya terlanjur rusak, atau barangkali karena faktor kamera saku yang saya bawa, atau mungkin memang saya yang gak punya taste bagus soal fotografi, rasanya saya tidak mendapatkan apa pun yang layak muat. Soul-nya gak dapet. Yang ada, saya malah sibuk membayangkan seseorang, dan mulai menulis sesuatu untuknya.
Earth Hour. Tapi yang ingin kulakukan adalah ini: menulis puisi. Tentang kamu yang cerlang di teriknya siang, kemilau di gemerlapnya malam. Akan selalu seperti itulah kamu di mataku, bahkan ketika seantero kota padam.



Ah, itu foto hasil jepretanmu?
Kalo menurutku malah ‘ngesoul’ jhe….
Mengharapkan semua lampu mati di Earth Hour adalah seperti mengharap laut tak berombak, Mbok
Makanya kita patut bersyukur pada PLN yang sering mengadakan ‘earth hour’ serentak
wah di surabaya acara earth hour juga seru, baru pertama sih mbok, semoga tahun depan lebih banyak lg yg berpartisipasi
Bikin aja Cileungsi Hour gitu mbok… hihihi…
dan jika sekitar sudah gelap, bersama dia, aku pun senang… eh, tenang, maksudnya tenang.. gak ngapa-ngapain koq mbok
Dalam malam kelam akan terkuak banyak ilham..
ahaaaiii simbok
Yang pasti Earth Hour itu memberikan pembelajaran bukan hanya kepada kita yang dewasa tapi juga termasuk untuk anak-anak saya untuk menyadari lebih jauh tentang makna lebih menyayangi buki kita yang tercinta ini. BTW puisinya maksdunya bukan kunang2 khan mbak
hehehehe….

embok harapanmu terlalu tinggi berharap jakarta bakal mati lampu total, wkwkwkwkw
emangae “WANI PIRO????”
wah kalo jakarta mati total bisa gawa neh hehehe. tapi paling gak kan bisamenciptakan suasana laen yah…
gak semua listrik dimatikan, podo wae ngapusi mbok
huh
wah aku ikutan yang di Jembatan semanggi loh
di jakarta rame ya earth hournya. hehehe. di kota lain kesadaran sendiri, atau langsung inisiatif dari PLNnya. hehe.
keren tulisannya, pengen blajar nulis dari sini. pertamakali berkunjung kak, salam kenal.
ah kalau org yg sedang jatuh cinta earth hour pun bisa jadi melow
*nyerobot toa masjid*

LAIK DIS, MAZ DIDUT!
ga apa-apalah mbak..paling nggak udah ada yg ikut melaksanakan aksi ini..walau ga semua
wah saya juga jadi volunter loh mbokkk
http://sibair.net/earth-hour-surabaya-26-maret-2011/
Bisa gak yah kalau satu hari tanpa listrik?
kalau pln di kota palu sulawesi tengah udah atur 3 hari listrik mati, 3 hari nyala..
*itu pengalaman waktu masih tinggal di sana*