When it’s this sweet, there’s no saying no
I need you so, I’m ready to go

Through the fire, to the limit, to the wall
For a chance to be with you
I’d gladly risk it all
Through the fire, through whatever come what may
For a chance at loving you
I’d take it all the way
Right down to the wire, even through the fire

Chaka Khan – Through The Fire

Jatuh cinta, katanya, punya kemampuan ajaib untuk membuat seseorang menjadi manusia paling bebal di dunia. Membosankan sekaligus menyebalkan, karena tak satu pun nasihat akan masuk ke telinganya.

Saya tau. Dan parahnya, sayalah si bebal itu. Saya adalah si pandir yang sedang jatuh cinta sejadi-jadinya, kepada laki-laki yang, kepadanya, dua puluh tiga tahun yang lalu, saya pernah jatuh cinta. Barangkali selama 23 taun itu pula, saya tak pernah berhenti mencintainya.

Hidup, dengan segala drama di sepanjang perjalanan saya, mengajarkan satu hal penting. Sesuatu yang dulu gagal saya pahami: bahwa Tuhan ternyata punya selera humor yang luar biasa. Saya pernah merasa bahwa Tuhan telah menjahati saya sedemikian rupa. Sekarang saya mengerti, ini adalah caraNya membuat saya menjadi perempuan yang lebih kuat, menjadi manusia yang dengan tetap tersenyum, sanggup menghadapi pahit yang paling pahit sekalipun.

Tak ada lagi yang saya takuti sekarang. Karenanya, ketika untuk kedua kalinya dalam seminggu ini, lelaki yang saya kasihi ini mengucapkan kalimat yang sama, ‘will you marry me?’, saya memeluknya lama, lalu saya katakan ‘yes, I will’.

Perjalanan sesungguhnya, yang mungkin tak akan mudah, akan segera kami mulai. Tapi kalau lelaki saya saja berani dan yakin, bahwa perahu kami akan selamat hingga akhir perjalanan, kenapa saya tidak? He took his chances to go this far, then why wouldn’t I?

Tak ada yang tahu seberat apa perjalanan kami nantinya. Seperti kami yang tak pernah tahu, betapa panjang jarak yang harus dia tempuh, jarak yang harus saya tempuh, untuk kembali saling menemukan.

Dua puluh tiga tahun.

Bismillah. Saya pasrahkan semuanya hanya kepada Tuhan.