Buat saya, mimpi adalah dari mana segalanya berawal. Tanpa mimpi –orang lain barangkali lebih suka menyebutnya cita-cita atau harapan– kita akan menjalani hidup tanpa rencana apa-apa. Tanpa target dan tujuan yang jelas, tanpa sedikit pun gambaran tentang kemana hidup akan bermuara. Hidup tanpa mimpi, saya mengibaratkannya sebagai ‘ngikut aja kemana angin bertiup’. Definitely not the kind of life i want to live. Halah.
Tapi begitulah. Dari dulu pun saya percaya, bahwa apa dan bagaimana kita sekarang, adalah wujud dari mimpi-mimpi kita di suatu masa dulu. Harapan yang tersirat samar, doa yang kita lantunkan malam-malam, atau sekadar keinginan terpendam yang kita simpan diam-diam.
Januari kemarin, saya merayakan 42 tahun yang sudah saya lewati. Jatuh bangun, manis getir, keberhasilan dan kegagalan, semuanya saya yakin berawal dari harapan dan mimpi-mimpi saya sendiri. Tanpa mengesampingkan peran garis nasib dan takdir, tentu saja.
Sembilan belas tahun dari sekarang, tahun 2030, jika umur saya cukup panjang, saya tahu saya akan berada di kota yang setengah mati saya puja: Jogja. Sudah terlalu lama saya jatuh cinta kepada hampir semua sudut kota ini. Bertahun-tahun tinggal di sana, menemukan cinta yang sesungguhnya, menikmati segala kenakalan masa muda. Jogja adalah kota yang saya impikan untuk menjadi tempat menghabiskan masa tua saya kelak.
Setiap pagi dan petang, saya akan duduk berdua dengan suami saya, di teras belakang rumah. Mungkin saya masih akan sibuk dengan laptop, atau hanya akan duduk diam menikmati hening dan kebersamaan kami berdua. Saat itu, anak-anak pastilah sudah dewasa dan memiliki kehidupan mereka masing-masing. So it would be just us two, sitting, in silence. In love.
Oh, tahun 2030 tentulah saya sudah kaya raya, tinggal menikmati hasil kerja dan investasi bertahun-tahun. Gak ada lagi meeting dengan klien, gak ada lagi begadang setiap malam nguber deadline.
Dan bicara tentang mimpi, apa sih yang kamu bayangkan tentang kamu dan hidupmu di tahun 2030 nanti?
Kalau kamu suka menulis, kalau kamu hobi bermimpi setinggi-tingginya seperti saya, coba tulis ceritamu tentang ini. Caranya gampang. Buka situs http://bit.ly/EFmystory, dan ikuti semua aturan mainnya. Ada 1 (satu) iPad untuk satu pemenang favorit, dan saya bareng Pitra akan memilih 16 (enam belas) tulisan terbaik yang berhak mendapatkan hadiah keren dari EF. Masih ada waktu sampai 31 Maret 2011 buat submit tulisan, jadi buruan.
What are you waiting for? I’ve told you #mystory, now tell me yours.
Selamat merajut mimpi, dan good luck!



ikutan gak ya mbook? hahahaha… mauuuuu ah.
(moga2 sempet buat nulisnya hihi)
Aih, mau pindah ke Jogja…
Saya pengen juga untuk kembali pindah ke sana…
nice info mbak, pengen menulis juga yah
jogja…aku juga mencintai kota itu
semoga impiannya terwujud.
Wah, kompetisinya udah lewat. Telat!
Tapi ngomong soal Jogja, saat ini saya tinggal di Jogja loh…
Jogja memang salah satu kota yg nyaman untuk ditinggali.
Jogja kampung halaman ane yang kedua setelah Solo
keren mbak bahasa persuasinya,,,,, santai,,, tidak memaksa,,,
good article and good jobs. it very beautfully blog from indonesian
Sangat bagus dan inspiratif. salut buat adminnya
Artikelnya menarik untuk disimak
saya suka jogya tapi kapan mimpi saya ke yogya kesampaian
makasih infonya bu, mudah-mudahan ipad jadi milik saya
i love jogja.. banyak kenangan indahku disana..