Earth Hour 2011

Sabtu, 26 Maret 2011, mestinya saya bertugas sebagai volunteer untuk meliput momen Earth Hour tahun ini, satu jam tanpa listrik di seputar Bundaran Hotel Indonesia. Semangat untuk berburu foto, sekaligus terlibat langsung dalam program tahunan dari WWF ini, berubah menjadi sedikit kecewa. Yang saya saksikan malam itu, ternyata jauh dari bayangan dan euphoria yang telanjur menyesaki kepala.

Tepat pukul 20.30 WIB, satu persatu lampu-lampu dipadamkan. Beberapa saat sebelumnya, saya sempat terkagum-kagum dengan para fotografer –amatir maupun profesional– yang sungguh terlihat keren dengan peralatan perang mereka. Kamera-kamera ‘beneran’ dan tripod terlihat di mana-mana. Menyenangkan melihat mereka sibuk menyiapkan semuanya, demi satu jam yang berharga, yang akan tercatat sebagai salah satu aksi heroik global seperti ini.

Sayangnya, di beberapa titik, lampu-lampu masih menyala terang. Padahal saya sudah ingin menangkap Jakarta yang gelap total, yang menyisakan tak sedikit pun cahaya, kecuali dari taburan bintang gemintang di atas sana.

Lalu entah karena mood saya terlanjur rusak, atau barangkali karena faktor kamera saku yang saya bawa, atau mungkin memang saya yang gak punya taste bagus soal fotografi, rasanya saya tidak mendapatkan apa pun yang layak muat. Soul-nya gak dapet. Yang ada, saya malah sibuk membayangkan seseorang, dan mulai menulis sesuatu untuknya.

Earth Hour. Tapi yang ingin kulakukan adalah ini: menulis puisi. Tentang kamu yang cerlang di teriknya siang, kemilau di gemerlapnya malam. Akan selalu seperti itulah kamu di mataku, bahkan ketika seantero kota padam.

The Road To Your Heart

When it’s this sweet, there’s no saying no
I need you so, I’m ready to go

Through the fire, to the limit, to the wall
For a chance to be with you
I’d gladly risk it all
Through the fire, through whatever come what may
For a chance at loving you
I’d take it all the way
Right down to the wire, even through the fire

Chaka Khan – Through The Fire

Jatuh cinta, katanya, punya kemampuan ajaib untuk membuat seseorang menjadi manusia paling bebal di dunia. Membosankan sekaligus menyebalkan, karena tak satu pun nasihat akan masuk ke telinganya.

Saya tau. Dan parahnya, sayalah si bebal itu. Saya adalah si pandir yang sedang jatuh cinta sejadi-jadinya, kepada laki-laki yang, kepadanya, dua puluh tiga tahun yang lalu, saya pernah jatuh cinta. Barangkali selama 23 taun itu pula, saya tak pernah berhenti mencintainya.

Hidup, dengan segala drama di sepanjang perjalanan saya, mengajarkan satu hal penting. Sesuatu yang dulu gagal saya pahami: bahwa Tuhan ternyata punya selera humor yang luar biasa. Saya pernah merasa bahwa Tuhan telah menjahati saya sedemikian rupa. Sekarang saya mengerti, ini adalah caraNya membuat saya menjadi perempuan yang lebih kuat, menjadi manusia yang dengan tetap tersenyum, sanggup menghadapi pahit yang paling pahit sekalipun.

Tak ada lagi yang saya takuti sekarang. Karenanya, ketika untuk kedua kalinya dalam seminggu ini, lelaki yang saya kasihi ini mengucapkan kalimat yang sama, ‘will you marry me?’, saya memeluknya lama, lalu saya katakan ‘yes, I will’.

Perjalanan sesungguhnya, yang mungkin tak akan mudah, akan segera kami mulai. Tapi kalau lelaki saya saja berani dan yakin, bahwa perahu kami akan selamat hingga akhir perjalanan, kenapa saya tidak? He took his chances to go this far, then why wouldn’t I?

Tak ada yang tahu seberat apa perjalanan kami nantinya. Seperti kami yang tak pernah tahu, betapa panjang jarak yang harus dia tempuh, jarak yang harus saya tempuh, untuk kembali saling menemukan.

Dua puluh tiga tahun.

Bismillah. Saya pasrahkan semuanya hanya kepada Tuhan.

My Story

Buat saya, mimpi adalah dari mana segalanya berawal. Tanpa mimpi –orang lain barangkali lebih suka menyebutnya cita-cita atau harapan– kita akan menjalani hidup tanpa rencana apa-apa. Tanpa target dan tujuan yang jelas, tanpa sedikit pun gambaran tentang kemana hidup akan bermuara. Hidup tanpa mimpi, saya mengibaratkannya sebagai ‘ngikut aja kemana angin bertiup’. Definitely not the kind of life i want to live. Halah.

Tapi begitulah. Dari dulu pun saya percaya, bahwa apa dan bagaimana kita sekarang, adalah wujud dari mimpi-mimpi kita di suatu masa dulu. Harapan yang tersirat samar, doa yang kita lantunkan malam-malam, atau sekadar keinginan terpendam yang kita simpan diam-diam.

Januari kemarin, saya merayakan 42 tahun yang sudah saya lewati. Jatuh bangun, manis getir, keberhasilan dan kegagalan, semuanya saya yakin berawal dari harapan dan mimpi-mimpi saya sendiri. Tanpa mengesampingkan peran garis nasib dan takdir, tentu saja.

Sembilan belas tahun dari sekarang, tahun 2030, jika umur saya cukup panjang, saya tahu saya akan berada di kota yang setengah mati saya puja: Jogja. Sudah terlalu lama saya jatuh cinta kepada hampir semua sudut kota ini. Bertahun-tahun tinggal di sana, menemukan cinta yang sesungguhnya, menikmati segala kenakalan masa muda. Jogja adalah kota yang saya impikan untuk menjadi tempat menghabiskan masa tua saya kelak.

Setiap pagi dan petang, saya akan duduk berdua dengan suami saya, di teras belakang rumah. Mungkin saya masih akan sibuk dengan laptop, atau hanya akan duduk diam menikmati hening dan kebersamaan kami berdua. Saat itu, anak-anak pastilah sudah dewasa dan memiliki kehidupan mereka masing-masing. So it would be just us two, sitting, in silence. In love.

Oh, tahun 2030 tentulah saya sudah kaya raya, tinggal menikmati hasil kerja dan investasi bertahun-tahun. Gak ada lagi meeting dengan klien, gak ada lagi begadang setiap malam nguber deadline.

Dan bicara tentang mimpi, apa sih yang kamu bayangkan tentang kamu dan hidupmu di tahun 2030 nanti?

Kalau kamu suka menulis, kalau kamu hobi bermimpi setinggi-tingginya seperti saya, coba tulis ceritamu tentang ini. Caranya gampang. Buka situs http://bit.ly/EFmystory, dan ikuti semua aturan mainnya. Ada 1 (satu) iPad untuk satu pemenang favorit, dan saya bareng Pitra akan memilih 16 (enam belas) tulisan terbaik yang berhak mendapatkan hadiah keren dari EF. Masih ada waktu sampai 31 Maret 2011 buat submit tulisan, jadi buruan.

What are you waiting for? I’ve told you #mystory, now tell me yours.

Selamat merajut mimpi, dan good luck!