Merapi: Perjalanan ke Masa Depan (2)

Agak sulit menulis tentang perjalanan ke Merapi minggu kemarin. Entah kenapa, semakin mencoba menetralkan perasaan dan berjarak dengan apa yang saya lihat di sana, emosi saya rasanya semakin diaduk-aduk. Beberapa kali mulai menulis, dan beberapa kali pula draft yang sudah dibuat, terpaksa dihapus karena terlalu emosional.

Saya ceritakan sebisanya saja ya..

Kamis, 27 Januari 2011.

Kurang lebih pukul 11 siang, temen-temen dari IBU Foundation menjemput saya di hotel. Sesuai rencana, kami langsung berangkat ke SD Darurat Jetis Sumur, Glagaharjo, Cangkringan. Wilayah ini adalah salah satu lokasi yang terparah kondisinya. Ada 3 (tiga) Sekolah Dasar yang karena bangunannya sudah rata dengan tanah akibat letusan Merapi, kemudian disatukan di SD Darurat ini. Jangan bayangkan sebuah gedung sekolah sungguhan. Yang paling sederhana sekali pun. Karena yang saya temui di sana –dan bikin nyesek seketika– adalah tenda-tenda darurat, sumbangan dari Unicef, yang didirikan di halaman wakil Kepala Dukuh.

Beralaskan tanah, dengan bangku dan whiteboard yang terlihat masih baru, anak-anak ini ramai berceloteh ketika kami datang dan memperkenalkan diri. Dan sementara temen-temen berusaha mendekati bocah-bocah ini, saya hanya bisa mengamati wajah-wajah mereka, mengambil banyak sekali foto dengan kamera cupu saya. Ingin sekali menyentuh dan mengajak mereka bicara, tapi saya gak sanggup.

Jangan bilang saya lebay. Anak-anak ini, dengan seragam dan sepatu yang sangat seadanya, membuat saya teringat anak-anak saya di rumah. Membayangkan anak-anak saya yang harus mengalami musibah seperti ini, kehilangan hampir semua yang mereka miliki… Jangan bilang saya lebay kalau saya mendadak kehilangan kata-kata.

Sayangnya, niat awal untuk mengajak anak-anak SD Darurat Jetis Sumur untuk sedikit bermain dan bersenang-senang, gagal. Mereka menolak dan meminta kami semua datang lagi esok paginya. Ah, sudah saya duga. Kami datang terlalu siang, dan mereka sudah ingin pulang. Apa boleh buat. Meski mas Wawan sudah berusaha keras tepat waktu nyampe ke lokasi, dan karenanya dia nyetir mobil seolah-olah kami semua ini hanyalah karung-karung beras, kami menyerah dan menuruti keinginan anak-anak ini.

Dari sana, kami turun ke sebuah titik pengungsian di Pasar Butuh. Ke sebuah rumah yang bangunannya setengah jadi, yang dihuni oleh 5 kepala keluarga, termasuk sebelas anak-anak. Rumah dan ternak yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka, lenyap tak bersisa. Dari penjelasan Pak Tumino, semua yang tinggal di rumah ini berasal dari dukuh yang sama. Dukuh Ngancar, kurang lebih 13 kilometer di bawah puncak Merapi.

Agak tidak mudah menjelaskan apa rasanya berada di tengah-tengah mereka. Beberapa kali saya harus melipir sebentar ke pekarangan untuk merokok barang sebatang, hanya supaya gak nangis. Saking kuatnya berusaha menahan diri, saya merasakan semacam kegelisahan yang tak nyaman, yang membuat saya ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Perasaan yang aneh, antara merasa kosong sekaligus getir yang dalam.

Bayangkanlah ini.

Bu Muji Rahayu, 38 tahun, bercerita tentang peristiwa Kamis tengah malam itu. Pada saat letusan, bersama suami dan anaknya, Jupri (10 tahun), beliau –dalam kepanikan luar biasa– lari menyelamatkan diri dari kampung mereka. Setelah tiba di tempat yang aman, sang suami kembali ke rumah mereka untuk menjemput orangtuanya. Suaminya tak pernah kembali, terjebak gulungan awan panas dan menjadi salah satu dari 16 warga dukuh Ngancar yang meninggal.

Sepanjang percakapan, mata Bu Muji sesekali terlihat berkaca-kaca. Ia tidak lagi menangis, tapi sorot matanya yang sedih dan terluka, membuat emosi saya ngedrop ke titik terendah.

Atau dengarlah kisah Mbah Ponco, yang masih terlihat sehat di usianya yang 80 tahun. Dia kehilangan suami tercintanya yang tertinggal saat semua orang mengungsi. Esok harinya, jenazahnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Setengah bagian tubuhnya –dari perut ke bawah– terkubur pasir panas, habis terbakar, sementara tubuh bagian atasnya masih utuh.

Di akhir perjalanan hari ini, kami sempat naik ke dukuh Ngancar. Sedikit ke atas dari rumah tempat mereka mengungsi tadi. Sebelum letusan 26 Oktober 2010, dukuh ini adalah dukuh dengan kehidupan yang normal. Dan sore itu, ketika temen-temen mengajak saya ke sana, sekali lagi saya tidak tahu harus berkata apa.

Di bawah gerimis, kami berjalan di atas lautan pasir yang terbentang entah berapa kilometer persegi. Di beberapa titik masih terlihat kepulan asap dari pasir dan bebatuan yang baru tertimpa hujan. Bahkan setelah lewat dua bulan setelah awan panas dan lahar yang menghajar wilayah ini, bebatuan yang ada di sana masih terasa panas saat disentuh. Yang mengagetkan dan sama sekali tidak saya duga, di bawah lautan pasir setebal empat meter ini, di bawah kaki-kaki kami, terkubur rumah-rumah penduduk dukuh Ngancar. Di sanalah, jauh di bawah sana, kehidupan mereka yang tadinya bergulir normal seperti di tempat-tempat lain, tertinggal. Dan mati.

Dan mati…

Merapi: Perjalanan ke Masa Depan (1)

Saat pertama kali ditawarin oleh temen-temen IBU Foundation untuk berangkat liputan ke Jogja, saya sempat gak yakin dan berusaha nawar.

Satu, saya bukan wartawan. Kata liputan, meski terdengar keren, buat saya terasa cukup mengintimidasi. Rasanya seperti dituntut untuk jadi wartawan beneran, yang harus nulis artikel dengan gaya jurnalistik yang serius dengan bahasa koran.

Dua, kalo cuma dateng ke lokasi pengungsian dan pulangnya nulis pengalaman yang didapat selama di sana, semua orang pasti bisa. Banyak banget temen blogger di Jogja yang tulisannya bagus dan bisa dimintain bantuan. Gak perlu repot-repot bayarin tiket pesawat dan hotel.

Tapi barangkali, inilah jawaban dari Tuhan atas keinginan yang saya simpan sejak erupsi Merapi yang pertama, 26 Oktober 2010. Saat itu, saya masih ingat, pengen banget dateng ke sana, bergabung dengan temen-temen relawan, dan bantuin apa saja, sebisanya. Setidaknya, saya tidak akan merasa bodoh dan tak berdaya karena cuma bisa sedih dan nonton beritanya di televisi.

Jadi, antara seneng dan deg-degan, pergi jugalah saya ke Jogja.

Rabu, 26 Januari 2011.

Berangkat dengan pesawat pukul 6 petang, nyampe sana, Mas Imot menjemput dan langsung membawa saya ke kantor mereka di Maguwo. Bukan kantor, sih. Lebih mirip rumah tinggal yang dijadikan basecamp yang menjadi pusat kegiatan mereka.

Seru juga ngorek-ngorek cerita dari enam jagoan IBU Foundation tentang apa saja kegiatan mereka, apa yang sedang dan mereka lakukan untuk membantu masyarakat Merapi pasca bencana. Karena memang itulah misi mereka di sana. Bukan memberi bantuan dalam bentuk fisik seperti bahan pangan dan pakaian, tapi lebih ke recovery psikologis. Mengajak mereka untuk belajar menerima, bahwa yang terjadi memang sudah –dan barangkali memang sudah seharusnya– terjadi. Menuntun mereka melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk menghilangkan, atau sekurangnya, mengurangi trauma setelah bencana mengerikan yang mereka alami. Mengajak para korban untuk tetap bersyukur dan berjuang, karena toh hidup terus berjalan. Seberat apapun, sepahit apapun, masih ada masa depan yang layak diperjuangkan. Bahwa mereka tidak sendiri.

[bersambung]