Tulisan ini adalah bagian terakhir dari rangkaian laporan perjalanan ke lokasi pengungsian Merapi, akhir Januari kemarin.

Jumat, 28 Januari 2011.

Hari ini seharusnya saya udah bisa ngopi-ngopi cantik bareng temen-temen, atau jalan-jalan keliling Jogja dan belanja aksesoris di Malioboro *halah*. Rencananya begitu. Tapi seperti saya ceritakan di tulisan sebelum ini, semua janji harus dibatalkan. Hari terakhir di Jogja, saatnya bersenang-senang, tapi ada satu hutang yang belum terbayar: melihat langsung program Body Movement dari rekan-rekan IBU Foundation di SD Darurat Jetis Sumur, di lereng Merapi.

Setelah hari sebelumnya dipaksa terharu biru, saya berharap hari ini akan menjadi semacam penutup perjalanan yang manis. I want to see, I wanna feel something good today.

Berangkat tepat pukul 7.30 pagi, beberapa puluh menit kemudian rombongan kecil kami nyampe ke lokasi. Dan sesuai janji, dibantu oleh bapak dan ibu guru di sana, anak-anak SD Darurat Jetis Sumur langsung kami giring, eh bawa ke halaman rumah salah satu warga di situ.

Dibagi dalam dua kelompok, kelas 1-3 dan kelas 4-6, terasa sekali betapa repotnya mengurus sekian banyak anak. Butuh kesabaran ekstra, terutama menghadapi anak-anak yang lebih besar, untuk melakukan sesuatu secara bersamaan seperti Body Movement ini. Ada yang gak berenti lari-larian ke sana kemari, ada yang sibuk ngobrol, ada yang sama sekali menolak untuk sekadar tetap berdiri di dalam barisan.

Jadi pada prinsipnya, seperti yang tertulis di agenda, Body Movement ini adalah bagian dari program Emergency Relief: Pendampingan Psikososial Anak dan Masyarakat Merapi Tahun 2011 dari IBU Foundation. Bahasanya susah, ya?

Penjelasan gampangnya adalah, ini adalah salah satu terapi menggunakan gerakan-gerakan tertentu, yang diharapkan akan bisa membuka simpul-simpul di otak bagian belakang, dan tujuan akhirnya adalah membantu meringankan trauma pascabencana. Waktu saya tanya apakah Body Movement ini memang terbukti menyembuhkan, temen-temen bilang ‘iya, setelah beberapa kali sesi pertemuan, mulai terlihat perkembangan signifikan terhadap sikap dan perilaku para korban.’

Sungguh menyenangkan melihat langsung anak-anak SD Jetis Sumur mempraktekkan gerakan-gerakan sederhana yang dipimpin oleh temen-temen ini. Meski awalnya males-malesan, bocah-bocah lucu ini lama kelamaan terlihat menikmati dan melakukan gerakan-gerakan senam (ke mereka, kami menyebutnya ‘senam’ supaya lebih gampang) selama kurang lebih 20 (dua puluh) menit.

Dari hasil ngobrol dengan Sarce –salah satu relawan– saya jadi tau bahwa ada 3 (tiga) hal penting: basic body movement, advanced, kemudian relaxing.

Di halaman rumah orang yang cukup luas ini anak-anak diajak melakukan beberapa gerakan dasar yang foto-fotonya saya sertakan di sini. Ada tiga jenis gerakan yang menarik perhatian saya.

Yang pertama adalah gerakan seperti sedang menarik anak panah, membidik sasaran, kemudian melepaskannya dari busur sambil berteriak lepas. Kedua, ketika mereka diajak untuk menatap langit, membayangkan bintang-bintang di atas sana, kemudian bersama-sama melompat tinggi-tinggi memetik bintang itu sambil –sekali lagi– berteriak sekuatnya. Bahkan tanpa penjelasan medis yang ribet pun, saya percaya gerakan-gerakan ini akan sangat membantu melepaskan beban dan trauma yang mereka rasakan, meski secara alami, mereka mengingkari rasa tidak aman yang masih mereka simpan.

Yang mengharukan adalah ketika mereka diajak untuk berkonsentrasi, memejamkan mata, dan meletakkan telapak tangan kanan tepat di atas jantung. Mereka diajak untuk merasakan denyut jantung, yang akan membuka kesadaran mereka bahwa mereka masih hidup dan selamat dari bencana. Bahwa kita semua harus bersyukur atas kesempatan menikmati hidup yang diberikan oleh Tuhan. Juga betapa banyak yang bisa dilakukan untuk menata kembali hidup mereka yang sempat berantakan setelah bencana. Bagaimana pun juga, betapa pun besar kehilangan yang pernah mereka alami, hidup terus berjalan, dan harus tetap diperjuangkan.

Senang sekali melihat wajah-wajah polos di depan saya tersenyum ketika sesi pertemuan selesai. Bahagia sekaligus terharu mendengar celoteh riang mereka saat berbaris kembali ke sekolah. Dan dengan berakhirnya kegiatan di SD Darurat Jetis Sumur, berakhir pula perjalanan mendebarkan ke Jogja kali ini.

Satu catatan penting. Pada saat berangkat, saya pergi dengan harapan bisa sedikit membantu kawan-kawan di IBU Foundation dengan menuliskan kisah ini. Saya salah. Merekalah yang membantu membuka mata hati saya. Menyadarkan bahwa seperti setiap pesta, kehidupan harus selalu dirayakan.

Jadi, mari rayakan kehidupan. Teruslah berdansa, bergerak bersama semesta.