Saat pertama kali ditawarin oleh temen-temen IBU Foundation untuk berangkat liputan ke Jogja, saya sempat gak yakin dan berusaha nawar.

Satu, saya bukan wartawan. Kata liputan, meski terdengar keren, buat saya terasa cukup mengintimidasi. Rasanya seperti dituntut untuk jadi wartawan beneran, yang harus nulis artikel dengan gaya jurnalistik yang serius dengan bahasa koran.

Dua, kalo cuma dateng ke lokasi pengungsian dan pulangnya nulis pengalaman yang didapat selama di sana, semua orang pasti bisa. Banyak banget temen blogger di Jogja yang tulisannya bagus dan bisa dimintain bantuan. Gak perlu repot-repot bayarin tiket pesawat dan hotel.

Tapi barangkali, inilah jawaban dari Tuhan atas keinginan yang saya simpan sejak erupsi Merapi yang pertama, 26 Oktober 2010. Saat itu, saya masih ingat, pengen banget dateng ke sana, bergabung dengan temen-temen relawan, dan bantuin apa saja, sebisanya. Setidaknya, saya tidak akan merasa bodoh dan tak berdaya karena cuma bisa sedih dan nonton beritanya di televisi.

Jadi, antara seneng dan deg-degan, pergi jugalah saya ke Jogja.

Rabu, 26 Januari 2011.

Berangkat dengan pesawat pukul 6 petang, nyampe sana, Mas Imot menjemput dan langsung membawa saya ke kantor mereka di Maguwo. Bukan kantor, sih. Lebih mirip rumah tinggal yang dijadikan basecamp yang menjadi pusat kegiatan mereka.

Seru juga ngorek-ngorek cerita dari enam jagoan IBU Foundation tentang apa saja kegiatan mereka, apa yang sedang dan mereka lakukan untuk membantu masyarakat Merapi pasca bencana. Karena memang itulah misi mereka di sana. Bukan memberi bantuan dalam bentuk fisik seperti bahan pangan dan pakaian, tapi lebih ke recovery psikologis. Mengajak mereka untuk belajar menerima, bahwa yang terjadi memang sudah –dan barangkali memang sudah seharusnya– terjadi. Menuntun mereka melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk menghilangkan, atau sekurangnya, mengurangi trauma setelah bencana mengerikan yang mereka alami. Mengajak para korban untuk tetap bersyukur dan berjuang, karena toh hidup terus berjalan. Seberat apapun, sepahit apapun, masih ada masa depan yang layak diperjuangkan. Bahwa mereka tidak sendiri.

[bersambung]