Repost: Kembang Tercantik

Susah sekali mencari bunga liar di tempat ini
Ini terbaik yang bisa kudapat
Walau bukan edelweis si bunga tangguh seperti dirimu

Selamat ulang tahun
Semoga surat ini bisa nyampe tepat waktu

Repost. Sepertinya ini kali kelima saya upload gambar kembang sepatu dan ucapan selamat ulang tahun dari seorang kawan yang pernah begitu dekat, bertahun-tahun yang lalu. Malam ini, tepat pukul dua belas, orang yang sama mengirim foto dan ucapan selamat lewat email. Tapi entah kenapa, saya lebih suka memajang foto ini, lagi dan lagi, seperti bertahun-tahun yang lalu.

Barangkali karena saya memang suka mendramatisir segala sesuatu. Atau mungkin, karena sejarah yang manis memang akan selalu lekat, tak peduli kemana pun kita pergi. Kemana pun saya pergi.

Jogja. Kamu.

Masih tentang Jogja, kota yang tak pernah bosan kukenang dan kuceritakan.

Dan kamu. Lelaki yang terlambat datang, meremas jemariku diam-diam, memelukku berlama-lama, menciumi setiap inci tubuhku mengatasnamakan cinta dan segala pembenaran, tertawa-tawa berpura-pura bahwa kita bukan siapa-siapa saat pagi menjelang. Begitulah kita seharusnya: bukan siapa-siapa.

Enam belas taun lewat, dan aku bermimpi tentangmu tadi malam. Maafkan, tapi bahkan membayangkan bertemu kembali denganmu sudah membuatku gemetar.

*maukah kau nyanyikan lagu kita sekali lagi jika nanti kau datang?

Surat untuk Mantan?

Beberapa hari yang lalu, saya denger tentang proyek Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars –yang kemudian punya saingan, Surat Untuk Penghuni Venus. Om Warmorning sudah menulis tentang ini di Ngerumpi. Dan rasanya temen-temen semua juga udah denger, malah mungkin udah nulis surat buat mantan (mantan-mantan?), dan sudah mengirim draftnya ke nulisbuku.com untuk diterbitkan jadi buku.

Ide bagus dan lucu sebenarnya. Keren. Saya tersentuh membaca sample surat yang ditulis mbak Nuraini. Dan ngerti banget gimana gak enaknya nyimpen sesuatu yang ingin kita sampaikan kepada seseorang, tapi belum sempat tersampaikan. Seperti ada urusan yang belum selesai. Ganjalan di hati yang…ya gitu deh, gak enak.

Membaca tentang proyek ini, awalnya saya semangat banget pengen ikutan. Buat seru-seruan. Tapi kemudian saya mikir, buat apa ya? Buat APA LAGI ya? Apa gunanya buat saya? Gak ada. Jadi akhirnya saya putusin untuk mundur, yang kemudian diprotes oleh Ollie. “Kenapaaaaaaaa??”

Right. Kenapa. Pertanyaan yang bagus. Dan saya punya jawaban singkat padat jelas untuk pertanyaan itu. “What’s done is done. It’s over. I dont wanna look back.” Saya gak mau mengingat apapun yang sudah terjadi. Itu jawaban dari ‘kenapa’.
 
Seseorang di Twitter menulis, “terima kasih telah memberi kesempatan untuk menjadikan mantan saya istimewa sekali lagi.” Persisnya lupa kalimatnya, tapi kurang lebih begitulah kira-kira. 

Yeah, right. Menjadikan mantan kita seseorang yang istimewa, menulis surat terakhir untuknya, dibukukan pula, buat saya terasa lucu. Akan semakin konyol jika satu saat si mantan yang dimaksud oleh temen di twitter itu membaca surat yang ditujukan buat dia di buku tersebut.

Betul, tentu saja mantan-mantan kita adalah orang-orang istimewa. Pada saatnya dulu. DULU. Sekarang masih? Now when you’re with someone else, apa gunanya mengistimewakan mereka?

I’m seeing someone. Saya gak mau buang-buang waktu mengingat-ingat yang sudah lewat. New life, new love, is out there. Waiting. I have no time for all this shit, this what-so-called memories.

Surat terakhir untuk penghuni Mars? Thanks but no thanks.